Tuesday, March 28, 2006

Kejutan Hari Ini


Ini beneran kejutan. Waktu habis beli sabun cuci di AH, saya putuskan untuk menyantap bekal saya di salah satu bangku di lapangan depan AH di daerah Ceramique. Sedang asyik gitu tahu-tahu ada bapak-bapak bule yang tampaknya juga baru keluar dari AH. Membawa seikat bunga tulip dan menuntun seekor anjing. Si om itu tersenyum terus bilang "smakelijk" (selamat makan), saya balas dengan senyum juga "dank u". si Om itu terus terdiam dan memandang saya sejenak. Dan guess what, dia lalu menyerahkan bunga tulipnya untuk saya!"dit is voor jouw" (ini untuk kamu) Hah?! gelagapan saya terima bunganya "really? for me? waarom ? (mengapa)" sambil berlalu dia mengatakan sesuatu dalam bahasa belanda yang saya tidak mengerti artinya. Saya cuma bilang terima kasih sekali lagi. si Om melambaikan tangan.

aneh...

tapi

ya senang juga, soalnya dari kemarin-kemarin memang niat ingin beli bunga baru untuk dikamar.

Ma kasih ya Allah untuk bunganya...
*ternyata dikasih bunga itu memang membahagiakan yah =b*

Monday, March 20, 2006

yeap.. mereka datang...

Seminggu kemarin kalau pulang, yang pertama ditanya pasti "ada kiriman yang datang ?". Atau ga kalau kebetulan dirumah, langsung melototin tukang pos yang biasanya datang sekitar jam setengah dua belas siang. dan yup! akhirnya mereka datang!

Yang pertama sekali adalah bukunya teks Health Promotion dari Jeanie Naidoo. Dikampus sebenarnya pakai Keith Tones. Tapi begitu baca resensinya saya pikir saya perlu buku ini juga untuk melengkapi Keith Tones yang levelnya lebih advance. Kemudian bukunya Marc Buellens menyusul. Agak sedikit ber-'doggy ears' mungkin karena paketnya tidak rapi. Sebel, tapi begitu lihat data penjualnya,.. ooh penjual baru toh, ya sudah lah. masih amatir soal bungkus-bungkus mungkin. Tinggalin feedback aja. Bukunya punya doggy ears tapi sampai tepat waktu, saya puas.

Besok-besok buku Nursing Research sampai, bersamaan dengan The Case of Islamo-Christian Civilization-nya Richard W Buellet. Yang terakhir ini bukan buku teks, tapi tertarik aja untuk baca dan tambah senang waktu saya baca reviewnya sedikit di resonansi Republika. Yiiha! pas deh!

Niatan beli buku teks ini akhirnya dilaksanakan setelah menimbang-nimbang, kok buku-buku yang saya punya fotokopian semua yah? ga keren banget sih. Bisa-bisa anak saya nanti (kalau nanti punya anak, maksudnya*tersipu*) komen "mom, you're so uncool, all of them are fotokopian?"

Dan sekarang yang dinanti-nanti adalah Through The Lens, National Geographic Greates Photographes! kumpulan foto dari National Geographic. Terus terang beli buku ini dengan merem. Habisnya serem juga melihat jumlah pounds yang terus merangkak di daftar buku yang saya beli dari amazon.co.uk. Hitung-hitung, konversi ke rupiah... yaah, harga segitu untuk buku hardcover, 504 halaman pula, dan National Geographic bo! National Geographic gitu loh! pantas lah. Buku kerudung cantik 75 halaman punya ratih sang yang 'haw-haw' gitu aja 75 ribu, ini National Geographic!? akhirnya diputuskan lah untuk diambil saja.

Dan tagihan itu terus merangkak. Tinggal nangis akhir bulan nanti. Belum lagi janji sama beberapa orang untuk membelikan buku sebagai oleh-oleh. Susah juga kalau oleh-oleh punya strata. Yang umum-umum aja sudah disiapkan coklat, yang istimewa disiapkan barang-barang tahan lama (gantungan kunci, dsb), yang istimewa sekali saya pilihkan buku.

Kalau dulu suka ngeluh-ngeluh betapa mahalnya buku di Indonesia, sekarang tahu rasa! contohnya waktu mau beli The Adventures of Ibnu Battutah-nya Rose E Dunn, harganya bisa sampai 10 ponds termasuk pajak dan ongkos kirim. Eh, waktu lihat ke site punya penerbit obor, buku yang sama harganya 42 ribu rupiah saja! huaaa, sebel banget. Cuma payahnya, begitu saya tanya ke penerbitnya, buku itu masih ada stoknya atau ga, sampai sekarang ga dijawab tuh. Dan Ibn Batuttah masih dengan setia mengisi wish list saya.

Jadi...
Indonesia itu tetap 'surga' kayaknya...
setidaknya untuk beberapa hal macam gini.

Sunday, March 19, 2006

Little House on The Prairie

Dapat postingan ini di bulletin board Friendster. Kayaknya sih dari blog seseorang... jadi yang merasa nulis, kalau suatu saat nyampe juga ke blog ini, saya minta ijin yah buat naruh tulisannya di sini (dah difait accompli duluan he he)

Dulu kayaknya ini tonotnan wajib banget tiap hari minggu. Pake punya bukunya pulak. Koleksi saya berhenti sampai Laura Ingalls menikah sama Almanzo Wilder dan beranak pinak....

Jadi gini tulisannya :

Sebuah karavan sederhana berjalan pelan-pelandengan ditarik seekor kuda. Terseok-seok di atas jalan tanah berdebu. Siang yang panas di sebuah bukit landai berpadang rumput luas. Seorang lelaki kekar berwajah ramah menarik-narik tali kekang kuda yang menghela karavannya. Istrinya yang cantik semampai duduk mendampinginya dengan selalu menyunggingkan senyum manis...
Tiga orang gadis kecil berbeda usia berlarian menuruni lereng bukit yang dihampari rumput-rumput tinggi menghijau. Bunga-bunga rumput berayun-ayun riang mengikuti hentakan kaki-kaki mungil melompat-lompat turun. -- Halah, bahasamu toh ...---.Didahului oleh seekor anjing berbulu lebat yang lincah menderap menuju ke bawah. Gadis yang berkepang dua tak kalah lincah segera mengejarnya, diikuti kakaknya yang berambut panjang indah. Sedangkan si adik terkecil tertatih-tatih di belakang berusaha mengikuti lompatan-lompatan kedua kakaknya... Ups,kaki mungilnya tersandung dan jatuh tergulingbeberapa depa di lereng bukit. Tapi untunglah lapisan rumput itu cukup empuk, sehingga si kecil bisa segera bangkit dan kembali tertawa riang...(hehehehe.. begitu katanya.. kali :D) ---- sumpe loh deskripsinya ga nahan...

Acara hari minggu di 80-an bagi yang ingin tinggal di rumah saja sambil menonton tivi tampaknya sudah tercetak di sebuah prasasti batu yang tidak mungkin diubah lagi. Nonton Unyil, Ria Jenaka, dan Album Minggu. --oh iya, album minggu, album minggu kitaa... dengan penyiar wanita masih berambut singa...

Lalu sebagai penutup menjelang waktu tidur siang di hari yang terik, suguhan tetap setiap akhir minggu adalah kisah tentang keluarga sederhana yang hidup di kota kecil dengan berbagai intrik dan kejadian menyentuh. Keluarga Ingalls dalam serial LITTLE HOUSE ON THE PRAIRIE.Film ini diangkat dari buku karya Laura Ingalls Wilder (Laura Ingalls yang beneran, bukan yang dipelem ini) tentang suka duka kehidupannya diWalnut Grove. Jadi critanya Keluarga Ingalls ini asalnya dari Kansas, trus pindah ke Walnut Groove mencoba mencari peruntungan baru di kota yang baru tumbuhini. Si Pa Charles Ingalls yang rambutnya gondrong megar---tapi ganteng loh,bo!---, bersama Emak Caroline yangberwajah manis tapi teduh, memboyong tiga anakgadisnya Mary, Laura (dengan kepang dua dan gigi kelincinya), dan Carrie tinggal di rumah sederhana. Eh.. ada yang ketinggalan, anjingnya si Jack (wuih!,anjing dikasih nama 'Jack'! )

Kehidupan di Walnut GroveWalnut Grove ini kota yang sangat kecil, mungkin lebih pantes dibilang desa kali. Punya satu gereja kecil dengan pendeta Alden sebagai pemukanya.Gereja ini juga dipake buat sekolah anak2. Yanga ku heran, itu sekolah kelasnya cuma satu ya diruangan gereja itu. Semua anak Walnut Grove dengan berbagai usia diajarnya yang nyampur disitu.Gurunya juga cuma satu, Ms. Beadle. Jadi nggak ada tingkatan kelasnya dong ya? ato gimana?-- yah kayak gitu memang...--

Ada satu toko kelontong dengan beraneka ragam dagangan yang dimiliki keluarga kaya Oleson.Keluarga Oleson ini menjadi bagian yang paling banyak disorot di serial ini, tentunya setelahpara Ingalls. Tapi mereka lebih sering kebagian sosok antagonis sih. Pasti nggak ada yang bisa lupa sama tampang kejamnya Mrs. Harriet Olesonyang ala nenek sihir jahat. huh... galak dan jutek bener! pengen deh nimpuk :D -- iya, beneran sebel banget, hebat tuh artis yang jadi Mrs.Harriet---Eh, setelah aku liat gambar2 Nyonya Harriet Oleson ini.. aku jadi bertanya2, kenapa sih para antagonis cewek yang licik sering digambarkan suka pake aneka macam topi aneh? Apa topi2 aneh itu identik dengan karakter congkak dan culas ya? --masa sih ? Cruella de Ville.. nggak tuh---Bandingin deh ama Jilly di Return To Eden. Cuman tentu saja Jilly jauh lebih muda dan cantik ;) Mrs. Harriet ini punya suami Nels Oleson. Orangnya sebenernya baik sama semua orang para tetangga diWalnut Groove, tapi karena pak Nels ini tergabung dalam ISTI (Ikatan Suami Takut Istri) ya jadinya sering kali dia harus mengikuti kehendak istrinya yang pelit dan sombong sama orang sekitar.Melengkapi keculasan Mrs. Harriet, adalah anak perempuannya Nellie Oleson. Sama kayak emaknya,congkak, culas dan manjanya nggak ketulungan. Suaranya sering diset di oktaf tertinggi. Tapi mendinglah, masih cantik :D. Yang paling diingat dari Nellie ini, selain sikapnya, adalah rambutnya yang pirang bergulung-gulung... --diem-diem saya pikir rambutnya cool loh kayak gitu---Ada lagi adik laki2nya Willie Oleson. Ini anak juga bandelnya minta ampun. Pokoknya keluarga Oleson ini seringkali bikin keluarga Ingalls dan warga Walnut Grove lainnya makan ati. Penonton juga paling kesel ama kombinasi Emak dan 2 anak bandel itu.

Ada lagi keluarga Mr. Edwards dengan anak2 angkatnya. Juga keluarga Garvey. Jonathan Garvey dan Pa Charles sohib-an banget. Terus ada Doctor Baker, satu2nya dokter yang siap dihubungi kapan saja kalo ada warga yang sakit.Rumah Mungil Keluarga Ingalls Rumah yang ditinggali keluarga Ingalls memang kecil dan sederhana. Terbuat dari kayu, berdiri ditengah2 padang rumput yang nyaris gersang. Ya iyalah, cocok sama judulnya kan. Perabotannyasemua juga dari kayu. Ruang utamanya cuma dilengkapi dengan perapian dan satu set meja makanyang merangkap meja tamu dan meja belajar anak2.Mary dan Laura tidurnya di loteng atap yangnaiknya pake tangga vertikal. Di samping rumah adapompa dragon (hehe) tempat anak2 cuci muka sebelum berangkat sekolah (jorok deh, gak pake mandi :D )

Si Pa kayaknya kerja serabutan gitu. Kadang dipabrik penggilingan yang ada kincir airnya itu,kadang ngangkut2 karung atau jerami di pertanian,kadang juga sibuk membajak ladangnya sendiri. Yang jelas dia bekerja keras sepanjang hari untuk menghidupi keluarganya. Bahkan waktu tulang iganya ada yang patah karena jatuh dari pohon, dia tetap memaksakan diri mengangkat karung2 jagung :( ..duh, babe) ..---iya, saya ingat episode ini... sampe terharu nontonnya---Sedangkan si Ma Caroline adalah tipe ibu rumah tangga sejati yang sabar dan setia. Dan anak2 gadisnya adalah anak2 yang penurut dan baik hati.Saat si Pa sakit tapi ada kerjaan yang harus diselesaikan, mereka lah yang bergotong royong memanggul karung2 jagung. Sekali2 emang suka bandel, terutama Laura, tapi itu karena dorongan keingintahuan seorang anak2 yang dapat diluruskankembali.Pokoknya keluarga kecil yang meskipun tidak berkelebihan tapi hidupnya saling mencintai dan harmonis lah...

Ingalls vs Oleson
Walaupun keluarga Ingalls adalah pendatang di Walnut Grove dan bukanlah siapa2, tapi mereka mendapat tempat di hati masyarakat Walnut Grove karena ketulusan mereka. Berbeda dengan keluarga Oleson yang kaya raya dan seolah menjadi penguasaWalnut Grove, tapi sering membuat para tetangganya sakit hati karena kecongkakannya.Mrs. Harriet sempat bernafsu menguasai seluruhkota, juga sempat mengusulkan agar Walnut Grove memiliki walikota dan mengajukan Nels sebagaicalonnya. Dia juga suka mengatur2 kurikulums ekolah bahkan sempat memaksa jadi guru pengganti.Nellie nggak beda jauh dengan emaknya, cuman dia lebih fokus untuk menjadi penguasa sekolah.

Romantika Gadis Remaja
Laura kalo pergi ke sekolah biasanya pake rok lebar, sepatu boot (tapi gak pake ransel, entarjadi Dora dong :D), bawa buku dan bawa kaleng.Kaleng? buat apa?... nah itu juga yang sering aku bingung. Bawa kaleng ke sekolah? mungkin buat ngguyur si Nellie yang suka ngejek dia sebagai'gadis desa' (country girl) :D.. Tapi kayaknyasih, ni kaleng buat tempat apel yang entar bakal buat makan siang. Tapi kenapa kaleng? emang nggak ada tas kresek ato kotak bekal gitu... yo embuh,mungkin emang trendnya lagi gitu :p

Satu kali, pas Mary udah mulai tumbuh remaja,Laura ngiri sama pertumbuhan kakaknya. Demi agar bisa terlihat lebih dewasa dan dikagumi cowok2 disekelilingnya, dipasanglah dua buah apel bekal makan siang di dadanya :D ... dan ketika dia disuruh maju ke depan kelas... melorot aja tuhapel ke bawah .. hehehe... Seisi kelas terbahak2dan Laura langsung lari pulang dengan berderai airmata :D ...Mary dari awal punya masalah dengan penglihatannya. Hingga sampai satu saat dia tidakbisa lagi membaca tulisan di papan tulis.Selanjutnya dia harus memakai kacamata, walaupundia harus tahan dengan ejekan teman2nya sebagai si"Mata Empat". Namun Mary tidak menjadi minder,bahkan sempat mewakili kotanya mengikuti kompetisi matematika se-negara bagian dan berhasil menjadijuara kedua. Mary juga sempat ikut mencalonkan diri jadi "school president" (kayak ketua OSISgitu kali ya.. ) menantang Nellie dan seorang lagibernama Elmer, meskipun akhirnya mengundurkan diri.

Soal kisah cinta remaja, sudah tentu ikut menjadibumbu penyedap film ini. Mary sempat jatuh cintadengan John anak angkat Mr.Edwards walau akhirnya harus terpisah. Sementara Laura sering saingan sama Nellie soal rebutan perhatian cowok. Nellie emang lebih wah dandanannya, tapi Laura meskipun tampak lugu dengan gigi kelinci dan rambutkepangnya lebih bisa memikat hati cowok dengan hati emasnya (halah.. bahasanya :p) Episode saat Mary kehilangan penglihatannya,adalah episode yang paling mengharukan. Semuanya sedih, termasuk penonton. --iya ampe kaget gitu, kok bisa dia sih dibikin sedih ceritanya, mestinya dia bisa jadi pengacara atau apa---Mary yang depresi didaftarkan di sekolah khusus tunanetra di Iowa.Untunglah ia mendapat guru yang sangat bersemangatwalaupun tunanetra juga, Adam Kendall. Mary mulai mampu hidup kembali.

Gadis2 itu pun Menikah
Mary akhirnya jatuh hati dan menikah dengan gurunya Adam Kendall. Sementara pada season 6,Laura yang sudah remaja matang terpikat pada saudara laki2 dari guru barunya Ms. Wilder yangbernama Almanzo. Sempet rebutan lagi sama si Nellie. Namun akhirnya Almanzo memilih Laura,bahkan kemudian melamarnya. Pa Charles yangmenganggap Laura masih kecil, masih 16 tahun,memintanya menunggu 2 tahun lagi. Berkat ketulusanAlmanzo syarat itu dikurangi menjadi 1 tahun saja..Adam Kendall, suami Mary, secara mengejutkan bisa melihat setelah pingsan akibat suatu ledakan (aduh.. sinetron banget sih =b). Selanjutnya ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah hukum. Setelah lulus, Adam pun membuka praktek sebagai pengacara di Walnut Grove.

Laura setelah menikah tidak lagi berkepang dua (yaiyalah, masak mau culun terus). Rambutnya digelungala ibu-ibu dan warna rambutnya berubah jadi kemerahan (udah ada ya semir rambut merah di jaman itu?). Dia kemudian diangkat menjadi guru diWalnut Grove. Sementara Almanzo kerjanya nggak jauh beda ama Pa Charles, apa aja dikerjain.Sedangkan Nellie jatuh cinta pada Percival Dalton yang dipekerjakan Mrs. Harriet untuk mengurusi restoran miliknya. Merekapun juga akhirnya menikah. Masalah muncul ketika Nellie hamil.Keluarga Percival yang Yahudi menginginkan si anakmenjadi Yahudi, sementara Oleson menginginkannya menjadi Kristen. Semuanya terselesaikan ketika ternyata Nellie melahirkan kembar laki-perempuan.Bagi deh atu-atu :D

Tema2 dari Abad ke-19
Setting akhir abad 19, tentunya bersinggungan dengan masa2 koboi dan bandit berkuda berjaya.Juga masa2 bangsa indian menjadi musuh dan diperlakukan secara diskriminatif oleh warga kulitputih. Meskipun jarang banget, tapi ada satu dua episode yang menggambarkan suasana itu. Pernah ada pelarian indian yang minta perlindungan di WalnutGrove. Dan pernah juga penjahat besar Jesse James mampir ke kota kecil ini dan sempat menyanderabeberapa orang.Pada masa itu, teknologi2 baru juga mulai bermunculan dan diperkenalkan dalam kehidupan masyarakat Walnut Grove. Sering kali sih yangdapat kesempatan pertama memanfaatkan adalah keluarga kaya Oleson. Mereka yang pertama kali punya telepon, yang sering dipinjam oleh tetangga2 dan dimanfaatkan oleh Mrs. Harriet untuk menguping demi mendapat gossip2 baru :D. Oleson juga sempat mencetak koran lokal, yang dipakai Mrs. Harriet untuk propaganda kepentingan pribadi dan menjelek2an orang lain. Kereta Api juga nyaris masuk ke Walnut Grove dan beberapa pemukiman hampir digusur untuk jalur kereta, tapi nggak jadi karena warga menolak.Tema diskriminasi terhadap warga kulit hitam jugacukup sering diangkat.Yang paling benci ama kulit hitam ya sapa lagi kalo bukan Nyonya besar HarrietOleson. Dan serial ini memposisikan diri di pihakyang anti diskriminasi rasial.

Tuna Netra dan Anak Angkat
Dari season ke season, tampaknya penulis serial ini (nggak tahu apakah orangnya tetap atau ganti2)suka bikin tema cerita tentang tuna-netra dan anak angkat.Selain Mary yang tunanetra dan kemudian menikah dengan Adam yang awalnya juga tunanetra, di Walnut Grove akhirnya juga dibuka sekolah Tunanetra dengan Mary dan Adam sebagai gurunya. Selanjutnya banyaklah cerita tentang anak2 tunanetra yang berbakat, atau yang kehidupannya tragis. BahkanLaura juga sempat dikisahkan buta saat WalnutGrove terserang wabah Anthrax. Untunglah cuma sementara... sempat ketar-ketir juga sih, takut kalo Laura akhirnya buta kayak Mary.. :(Soal anak angkat, wah banyak banget. Keluarga Ingalls mengangkat remaja Albert menjadi anaknya saat Mary pergi untuk bersekolah di sekolah tunanetra. Terus di season selanjutnya ada sepasang anak James dan Cassandra yang juga diangkat anak oleh keluarga Ingalls.Waktu Nellie menikah dan boyong dari Walnut Grove,keluarga Oleson mengangkat Nancy dari rumah yatim.Nancy ini mirip banget ama Nellie kecil, bahkan lebih bandel. Cocok banget jadi keluarga Oleson.

Sedangkan Laura selain mengasuh anak kandungnya sendiri Rose, juga mengasuh anak dari iparnya yang telah meninggal, Jenny. Bener2 deh.. kota itu dihuni orang2 yang berbudi luhur yang tidak tegaan dengan anak2 telantar :)Ada lagi peristiwa yang terjadi berulang. Caroline pernah kehilangan bayi laki2nya sebelum kemudiania melahirkan putri ke-empatnya, Grace. Mary juga kehilangan bayi-nya yang tewas dalam kejadian kebakaran sekolah tunanetra. Selanjutnya Laura juga tidak berhasil mempertahankan bayi yang bakal jadi adik dari Rose.Berakhir di Season ke-9 Di negara asalnya sana, serial ini season pertamanya diputar pada tahun 1974. Per season rata2 ada 21 episode. Season ke sembilan yangmenjadi season terakhir diputar pada tahun 82-83."Tersanjung" yang cuma sampai 6 itu ya masih kalahlah... :D Nggak tahu mulai tahun berapa diputar diTVRI, kayaknya sih mulai 70-an akhir. Dan season terakhirnya diputar di TVRI sekitar tahun 85-an.Season terakhir ini ditandai dengan keluarnyaMichael Landon dan digantinya judul serial menjadi"Little House: A New Beginning". Karena emang rumah mungil di tengah padang rumput itu tidak didiami lagi oleh keluarga Ingalls. Michael keluar, Leslie Landon anak perempuan kandungnya masuk berperan sebagai Etta Plum, ibu guru baru.Namun tampaknya penonton sudah mulai jenuh dengan serial ini, dan season ke-10 pun tidak diproduksi.Bosen juga sih nonton serial yang sama selamabertahun2. Tapi apa daya... wong saat itu nggakada pilihan lain. Ya kalau hari minggu siang nggak ada acara dan kerjaan mau nggak mau nongkrong didepan tipi nonton Laura.

Setelah Little Househabis masa tayangnya, kita masih bisa nontonaktingnya Michael Landon yang tetap dengangondrong megarnya sebagai malaikat yang turun kebumi dalam Highway to Heaven. Tapi rasanya udahbosen ngeliat tampangnya Michael Landon bertahun2gitu terus :DBerita TerakhirMichael Landon yang di tahun 60-an tampil lebih klimis dalam serial yang juga terkenal dijamannya, "Bonanza",--jadi little Joe yah, imut kayak anak kelinci... tapi seingat saya dulu malah naksir sama abangnya yang lebih macho he he he, sadis.. tua banget sih seleranya--- meninggal pada Mei 1991 karena kanker pankreas. Dia sudah sempat meninggalkan jejak di Hollywood Walk of Fame yang menandai bahwa eksistensinya cukup dihargai dalam dunia perfilman.

Melissa Gilbert juga telah mendapat penghargaan dia badikan di Hollywood Walk of Fame baru2 initahun 1998. Meskipun jarang lagi kita tonton aksinya diputar di Indonesia setelah Little Houseini. Sempat menjabat sebagai presiden dari lembaga Screen Actors Guild selama dua periode. Dan dia menikah dengan aktor Bruce Boxleitner, yang kita kenal dalam serial "Bring 'em Back Alive" dan"Babylon 5". Kebetulan di Babylon 5 Melissa jugaikut main sebagai istrinya Bruce. Cinlok dong... ;)Pemeran yang lain? auk deh... nggak sempet googling lagi, soalnya udah deadline harus segera diposting sih. Kalau nggak mau ditagih terus ama para pengunjung setia blog ini :D...--sapa sih nih yang punya blog, sok tenar amat --- hehehehehe...Tapi kayaknya sih pada nggak terlalu kedengeran lagi setelah main di serial sempat diproduksi selama 8 tahun terus menerus ini.

Yang jelas, serial ini banyak membawa nilai-nilaimoral yang tinggi untuk diserap oleh penontonnya.Tentang persahabatan, kekuatan keluarga yang harmonis, tentang rasa sosial yang tinggi terhadap sesama, pokoknya yang sesuai dengan butir2Pancasila deh :) Nggak pernah ada adegan yang menjurus ke pornoaksi atau pornografi :p tontonan seluruh keluarga deh pokoknya. Meskipun begitutokoh2 utamanya juga digambarkan sangat manusiawiyang tidak lepas dari kesalahan, walaupun padaakhirnya bakalan menyesal dan happy ending.

memang keren abis tuh film--menghela napas--ma kasih yah sudah menulis resume yang menarik =)

Saturday, March 18, 2006

Kenalan Baru

Waktu mobil kami tiba didepan rumah orangtuanya, wajah indo-nya yang khas sudah bersinar cerah di depan jendela. Kalau di Indonesia, anak perempuan secantik ini mungkin sudah ditawarkan orangtuanya untuk jadi bintang iklan. Namanya siapa ? tanya saya "Laura." jawabnya malu-malu. Usianya baru sepuluh tahun dan duduk di kelas enam. Bahasa Indonesianya, seperti umumnya anak Indo, bahasa indonesia yang baku dan patah-patah. Adik laki-laki kecilnya baru berumur sekitar satu tahun. Namanya Nurul. dengan pipi tembam dan wajah bule, lucu sekali mendengar dia bicara "ndoong"(gendong).

Orang tua mereka, kak Lena dan Frank kenalan baru kami. mereka tinggal di pelosok Gulpen, sekitar dua puluh kilometer dari Aachen. Kak Lena orang Bangka Belitung yang sudah hampir lima belas tahun tinggal di Belanda. Pertemuannya dengan host family saya benar-benar merupakan sebuah hal yang menggembirakan buat kak Lena. waktu pertama kali bertemu, dia sampai menangis dan tak henti-hentinya berkata, doa saya akhirnya dikabulkan.

katanya dia udah lama cari-cari orang Indonesia yang muslim, yang bisa mengajaknya untuk kumpul-kumpul ikut pengajian. belasan tahun tinggal di Belanda, terpisah dari akar kehidupan dan keyakinannya, siapapun pastinya gelisah. Melihat kami yang berjilbab, kak Lena bilang bahwa dulu dikampunganya diapun memakai jilbab dan disini dia ingin sekali bisa memakai jilbab lagi. "Kalau kami tinggal dikota tidak jadi masalah, banyak muslim disana. tapi dikampung kecil seperti ini susah sekali. mereka tahu Frank dari kecil dan tidak ada yang tahu kalau Frank sudah masuk Islam. yang tahu cuma keluarga aja." Saya ingat waktu masuk ke 'kampung' ini, orang-orang tampak berbondong-bondong baru keluar dari gereja. Sesuatu yang sangat jarang saya lihat di Maastricht. Saya pikir saya bisa mengerti kekhawatiran Kak Lena. Pastinya jadi muslim dalam komunitas kecil yang taat seperti ini sama rasanya seperti menjadi orang kristen di kampung kecil di minangkabau atau di aceh sana.

Laura juga ingin pakai jilbab, kata kak Lena. "Suatu hari dia tanya, mama bagaimana kalau nanti kita mati tidak pakai kerudung?". Tapi mamanya lebih memilih untuk meminta dia bersabar dulu.Khawatir pada reaksi teman dan orang-orang disekelilingnya. Waktu bulan puasa kemarin, kata Kak lena, teman-teman Laura tidak ada yang tahu kalau selama sebulan itu dia puasa. Suatu hari pulang dari sekolah, Laura mengadu pada mamanya. Katanya ada pemutaran film disekolah tentang muslim dan teman-teman menertawakan cara shalat orang Islam yang 'nungging-nungging'. Tidak ada muslim yang Kak lena kenal? ada, tapi yah mereka sudah jadi orang Belanda, sudah beda sekali. Kalaupun ada kumpul-kumpul yang ada cuma gosip, keluhnya.

Sambil mendengar mamanya bercerita, sesekali saya memergoki Laura menatap saya. Kemudian, kalau sudah kepergok seperti itu dia akan tersenyum malu-malu dengan dua lesung pipit di pipinya. "Kapan-kapan kalau kita ngaji lagi, Laura diajak saja ya Kak." kata saya. Waktu pulang saya cium pipi gadis kecil itu sambil berkata "Assalamualaikum", dengan cerah Laura menjawab "wa alaikum salam". Entah, saya punya keyakinan dia, mereka, pastinya merindukan doa sederhana semacam itu. Saya ingat pupil mata saya tiba-tiba rasanya selalu membesar setiap kali ada yang menyapa dengan salam. entah tukang sapu di stasiun, entah orang yang sekedar papasan dan kemudian mengucapkan salam, lalu bertanya "You are moslem?" saya akan bilang "Yes, I am, alhamdulillah" lalu dia juga akan bilang "alhamdulillah" lalu ngeloyor pergi lagi.

Seusai makan malam, sekeluarga mereka mengantar kami keluar. Berdiri di halaman, ditengah malam musim dingin. Waktu mobil kami memasuki tikungan, saya masih sempat melihat Laura melambai-lambaikan tangan.

Sampai dirumah, berbaring sambil menatap kegelapan langit dari jendela kamar, saya terpikir tentang mereka. Hidup dalam lingkungan terpencil semacam itu di Belanda. Ditambah lagi tidak familiar dengan internet, fasilitas yang sebenarnya bisa mengenalkan mereka pada silaturahim di alam maya, membuat mereka terkucil dari komunitas muslim lainnya di Belanda. Saya berpikir tentang Laura dan adiknya. Lalu membanding-bandingkan dengan anak-anak muslim lainnya di Indonesia. rasanya begitu mudah untuk belajar untuk menemukan dan mengenal konsep-konsep keislaman. Di buku cerita, di CD, di madrasah, dimushalla, di sekolah, di rumah, di televisi (kalau lagi 'beres').

Mudah sekali tampaknya 'menemukan' Allah.

Dalam keterkucilan dan keawaman semacam itu? saya berharap semoga Dia menjaga dan membantu mereka menemukan-Nya.

Tuesday, March 14, 2006

Masuk Angin

"What is masuk angin ?" this might the first question likely to emerge from my non-Indonesian friends if i told them that i am not feeling well, "I think i am masuk angin..."

Literal translation of the term "masuk angin" perhaps is a draft or wind has entered your body, they who came from medical background prefers to say that you have a slight cold. As the symptoms of masuk angin are: feeling dizzy, body temperature is above normal (but you feel cold, like a fever), you feel sick inside your stomach (wanting to throw up, similar to feeling seasick if you've ever been in that situation), and cold sweats.

I believe I am part of them whose are vulnerable to changing weather, in Indonesia usually i'll get masuk angin easily during pancaroba (weather changing from dry season to rainy season), for example. Or if you hang out all night long (begadang with no use as it said by Rhoma Irama), short of sleep/rest, you can get angin into your body (night wind) and tomorrow morning you could catch masuk angin and feel unwell. Well, this one never be my reason since I am not part of 'anak gaul' and I never be the part of' ngeronda' team in my neighbourhood. In my recent case, winter season has become the most rational underlying reason why i get masuk angin. As far as I remember my masuk angin start to visit me when this country start to freezing at the end of autumn ('herfs' in Dutch language).

If i forget to wear my thick winter jacket--well, this stupidity never happen,what come to my experience is I change my bulky thick jacket to more light one or you can say 'mantel cantik' for the sake of style--, or not put my syal around my neck or neglect my breakfast - my first 'for your own good, heaven forbid' list-and late for my lunch, voila...i start to 'bebangkis' (sneezing) as the early sign of masuk angin. Unfortunately, the best remedies for this situation for me is to have massage or kerokan. usually my mother will perform 'kerokan' for me (mom, how i miss you ...) or we would call an old woman from our neighbourhood-we called her 'nenek'-who renown for her skill in massage. there, i still remember how unconvenient to spend about two and half of hours lying in 'tikar' with greasy feeling all over your body. But soon the rituals ended and you finished your bath, you felt warmth and cozy. You might have a good night sleep afterward. It is hard to find such skill in Netherlands. One of our MPH officer who's married with an Indonesian told us that her mother in law did kerokan for her. And when she visit her huis arts (GP) , her GP asked whether she had expeienced abuse from her husband for the red strips marks on her back (ha ha ha).

Another remedies is of course 'minyak kayu putih' or 'obat gosok vic'combined with 'jamu tolak angin'. I use it only when I preparing my self to sleep. During the day ? i believe it could bring some smell disaster to 'bule' nearby. You may think this is a very not-classy solutions or typical backward developing countries people to overcome their sickness. But, hey.. it works?!

Anyway this masuk angin thing, I believe is a part of our cultural poin of view how we see illness. You believe that angin could bring harm to your health. beside masuk angin we also familiar with term of 'angin duduk' and 'buang angin' as reflection how our culture perceived angin as factor influences our health. the last one is short of dillema since if you keep the angin inside your body, it causes a stomachache, but if you let it out (keluar angin), it causes other people to be sick.

Sunday, March 12, 2006

About Someone

I took this from my lil brother's friendster blog. Nothing related to my own personal current situation (rrr...well, yaah...*murmuring*). Only some sweet silly retrospection on how funny it was to be in the phase of 'anak-hare-gene' and perhaps some reminder to not underestimate your lil brother sense of 'nyeni' though sometimes you looked at him with question echoed in your mind: who on earth this 'norak' boy anyway? my brother? he he

About Someone

I run to the forest then I sing along
I run to the beach then I shout aloud
Silent... silent...
I hate to be lonely
I want to hear such noise
Like market by chattering voice
I'm bored of being so weary
Thickness, go away from me!
I'm alone with soot around...
Break the glass, let it blast!
Let it squeak to the peak!
There's an angel embroider stripe spider web on white castle's wall
Why doesn't she shake the bell to wake the hell?
Or, should I run to the forest, then turn to the beach?

sounds familiar?

Friday, March 10, 2006

curhat soal RUU anti pornografi

Ini gara-gara postingan soal pro-kontra RUU anti pornografi dan pornoaksi ...

Waktu kuliah dulu, saya masih ingat betapa terheran-herannya saya sebagai mahasiswa komunikasi massa ketika membandingkan betapa 'liberal'nya media Indonesia dan betapa 'konservatif" nya media Amerika berkaitan dengan soal peraturan perundangan materi pronografi. Contoh sederhananya akses pembelian terhadap majalah dewasa seperti Playboy dibatasi dan diatur dengan ketat. Bandingkan dengan Indonesia mana siapapun dengan mudah membeli media dengan muatan dewasa (masih ingat kan kondisi di lampu merah atau diperempatan jalan di Jakarta? come on .. berapa tahun sih udah ninggalin Indonesia?)

teman saya yang berkerja sebagai konsultan di Pusat Krisis Terpadu RSCM sampai geram dengan banyaknya kasus kekerasan seksual pada anak yang harus dia hadapi. Dan pedihnya itu banyak dilakukan oleh orang terdekat (tetangga, om, teman) dengan salah satu alasan pemicu biasanya karena terangsang oleh VCD porno. Dan ini bukan isapan jempol dengan dalih "tergantung siapa yang nonton, kalau udah ngeres ya ngeres aja" kita bukan bicara soal kita, sepersekian persen masyarakat Indonesia yang terdidik tapi kita bicara soal 200 juta masyarakat Indonesia lainnya yang terdiri dari anak-anak, abg, orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan ga beres di Indonesia yang ga menjamin seseorang bisa mengendalikan diri untuk melakukan perbuatan yang diterima atau tidak diterima di masyarakat.
.
Tentu tidak ada yang suka dikekang, tapi siapapun yang tahu betapa kacau balaunya arus informasi yang berkaitan dengan muatan pornografi di Indonesia, pasti sadar bahwa hal ini butuh sebuah regulasi. Amerika sebagai negara yang kita jadikan acuan (herannya banyakan yang jelek2nya) sudah lama sadar akibat yang ditimbulkan dari ketiadaan peraturan dalam hal ini.

Tentu kita bisa bilang setiap orang punya kebebasan berekrpresi, tapi kemerdekaan berekspresi yang dalam pelaksanaannya melanggar hak orang lain adalah penghinaan terhadap arti kebebasan itu sendiri. Kita butuh sebuah peraturan yang memastikan setiap orang bisa mendapatkan haknya tanpa harus melanggar hak-hak orang lain.

Hak orang lain ini bisa berarti hak bagi orang tua untuk membesarkan anak dalam lingkungan yang sehat secara sosial, hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang baik.

Munafik ? well, setiap orang pasti pernah--maaf-- kentut, tapi apakah orang yang kentut di kamar mandi dalam rangka tidak mengganggu orang lain dalam sebuah ruangan akan kita bilang munafik ?(mengacu pada tudingan munafik yang selalu diajukan pada mereka yang menentang pornografi-- "kayak lo nggak suka aja ama seks")

saya yakin ini regulasi dalam hal pornografi di Indonesia akan jadi agenda siapapun yang peduli terhadap keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah masyarakat. agenda orang tua, mereka yang akan jadi orang tua (saya contohnya =b) agenda dokter dan praktisi kesehatan yang prihatin dengan semakin merebaknya kasus HIV/AIDS di Indonesia. Dan seperti seorang teman bilang yang jelas ini bukan agenda para kapitalis, para artis, pengusaha entertaimen, pemilik saham Playboy dan pengusaha VCD bajakan di glodok sana (semoga Allah mudahkan para penguasa mencarikan mereka jalan keluar mencari rejeki yang halal dan berkah)

yang harus kita lakukan saya pikir adalah mengawal proses penggodokan RUU itu jangan sampai jatuhnya pada pengaturan 'hal-hal nggak jelas", "hal-hal nggak penting" dan "hal-hal nggak essensial" yang selama ini jadi kebiasaan mereka yang punya otoritas dalam membuat "hal-hal beginian". sehingga tidka sampai menyentuh hal-hal yang levelnya teknis dalam keseharian. UU ini harus Lebih dari sekedar mengatur apakah pegangan tangan atau ciuman di muka umum dilarang atau tidak (itu mah hal ecek-ecek pak dewan). Kita juga harus bisa memastikan bahwa UU ini juga punya kesensitifan terhadap kultur Indonesia yang drai sananya sudah beraneka ragam, beraneka nilai.

Tapi toh darii semua keaneka ragaman itu, pastinya ada hal-hal yang bisa kita sepakati, antara lain kita ingin agar kelak kita bisa jadi bangsa yang bermartabat.

gitu deh curhatnya ...
jadi, regulasi soal pornogarfi ? yah..., karena saya ingin suatu saat anak saya bisa tumbuh dalam lingkungan yang sehat maka saya bilang: itu perlu!

Monday, March 06, 2006

Untuk sebuah penyegaran ...

08.30
Hampir kesiangan! terburu-buru saya menyambar jus dalam kulkas dan mie goreng yang sudah tersaji di meja. Hari ini agendanya saya sudah sampai di Delft setidaknya pukul dua belas. Sambil jalan, saya mempelajari lagi rencana perjalanan yang sudah saya salin di selembar kertas. Jam 09.23 naik kereta dari maastricht randwijk dan pukul 09.26 saya sudah sampai di Maastricht centraal station. lalu ganti kereta yang ke Harlem yang berangkat jam 09.29. ganti kereta lagi di Eindhoven pukul 10.33 dan jam 12.02 saya akan sampai di Delft. Dari situ naik bis ke tempat tujuan.

Eh lagi menunggu kereta gitu, lewat kereta jelek yang menuju Liege dan tebak siapa didalamnya; Ayako! dia langsung loncat-loncat melambaikan tangan dari dalam kereta, didepannya juga ada seorang gadis jepang. Saya langsung kirim sms: hey! mau ke paris ? itu adikmu yah ? senangnya ketemu kamu!!! dia langsung balas; kami mau ke brugge! dan yah itu adik saya! senang juga lihat kamu! kejutan banget!

Lucu juga. sejak saya pindah, kami cuma saling berkirim email. Saling mengeluh betapa sulitnya ketemu padahal kami tinggal di kota yang sama, cuma dipisahkan sungai tapi kayaknya jauhnya minta ampun

Dikereta
Seperti di Indonesia, disini juga ada masinis (kondektur) yang bulak-balik memeriksa tiket. Biasanya dalam perjalanan Maastricht- Delft, bisa sampai ada tiga kali pemeriksaan. Saya ingat waktu arrange perjalanan tadi di situs ns.nl ada tanda vertragging di Delft. Dan mengingat pengalaman transfer-tranfer yang nyebelin, saya nanya ke kondekturnya. "Alles in orde? ik will graag naar Delf gaan " si kondektur berunding dengan rekannya. Lalu dia menjawab dalam bahasa Belanda juga (nah,lo! iseng sih pake bahasa Belanda segala) tapi saya menangkap,'ganti kereta', 'rotterdam centraal'. Wah ? do you mean i have to transfer in Rotterdam ? ada masalah ? si kondektur berunding lagi. Lalu dia bilang, kali ini terbata-bata dalam bahasa Inggris (inilah salah satu enaknya tinggal di Belanda, orang lumayan gampang diajak pindah-pindah bahasa). Ya, di Eindhoven juga bisa, di peron sisi lain.

Saya pikir semuanya lancar sampai beberapa menit kemudian si kondektur datang lagi sambil membawa PDA ditangannya.Dia memastikan lagi saya mau kemana lalu mengutak-ngutik PDA-nya kemudian menjelaskan dalam bahasa Belanda yang cuma bisa saya tangkap, 'niet Eindhoven', 'anders station', 'vertragging', 'naar Tillburg' Saya mengeluarkan kertas yang berisi rencana perjalanan. "saya harus berhenti di stasiun lain setelah Eindhoven ? lalu ke Tillburg setelah itu ke Delft ?" si Kondektur mengangguk. Dia lalu mencatatkan nama-nama station dan nomor peronnya dikertas saya. Dia bilang, saya akan terlambat setengah jam dari jadwal yang saya tulis. Oke, ga pa pa. Janjiannya juga pas setengah satu.

Alhamdulillah, senang kalau dapat kemudahan-kemudahan seperti ini di jalan. Waktu pertama kali ke Delft, naik kereta sendiri untuk yang pertama kali, saya juga harus dioper-oper. Pihak stasiun Belanda biasanya memang banyak melakukan perbaikan di akhir pekan seperti ini. Saya tidak akan tahu kalau saya harus pindah ke bus yang menunggu penumpang yang ingin ke Eindhoven seandainya saja tidak ada mahasiswi Belanda yang berangkat bersama saya. Dari dia saya tahu bahwa kami akan dioper sebelum Eindhoven dengan naik bus yang sudah disediakan pihak stasiun. Waktu itu dia bilang, "ikutin saya aja, saya juga lewat Eidnhoven".

Akhirnya kereta berhenti di s'Hertogenbosch. Begitu keluar kereta saya bingung mencari peron yang dimaksud. Ada kondektur yang tadi berdiri mengawasi penumpang. Rupanya dia tahu kalau saya bingung, karena begitu saya mendekat dan baru bilang "Meneer,..." dia langsung mengarahkan ke peron yang saya cari.

15.30
Sesudah acara. Rencananya ingin menghabiskan waktu lebih lama. Cuma sebulan sekali kopi darat, selebihnya ym jelas tidak mencukupi untuk menumbuhkan ikatan hati. Hal-hal beginian kan bukan semata persoalan 'materi-alistik' tapi juga dimensi-dimensi lainnya. Dari ujung mata saya bisa melihat bis yang menuju stasiun Delft sudah lewat. Sudahlah, berarti harus menunggu setengah jam lagi disini. Tak apa, daripada setengah jam menunggu sendirian dalam suhu minus, rasanya pasti seperti seabad (hiperbolik mode ON).

Stasiun Delft
Menunggu bis limat menit dan akhirnya sampai ke stasiun Delft. Setelah menunggu 20 menit di stasiun, pukul 17.02 kereta Intercity yang langsung ke Eindhoven datang juga. Jam setengah tujuh mestinya saya akan sampai dan ganti kereta yang langsung ke Maastricht. Jam setengah delapan semestinya saya sudah dirumah

Di Eindhoven
Lihat jadwal kereta, loh yang langsung ke Maastricht ternyata baru datang jam 18.59. Ah, begini rentetannya kalau telat. Suhu yang dingin semakin membuat saya menggigil. Menunggu di peron terbuka jelas tidak nyaman. Saya memutuskan untuk turun ke basement stasiun. Di stasiun Eindhoven yang besar, ada banyak toko mulai dari makanan, bunga, toko buku sampai toko besar semacam Albert Heijn. Kayaknya enaknya minum yang hangat. Melewati sepasang manusia yang tampak sibuk dengan bibir pasangan masing-masing, saya menuju kios terdekat. Satu gelas cokelat hangat, alstublieft. Melewati pasangan itu kembali yang masih sibuk saling memagut. Ya, ampun belum selesai juga ? get a room! ga punya uang buat beli yang hangat-hangat apa ?!

Cultural competency mudah-mudahan tidak sama dengan kematian hati. Dulu saya suka terkaget-kaget dengan hal semacam ini. Saya pernah terdiam seharian karena melihat 'pengaman' tergeletak di meja Irene. Atau waktu suatu pagi keluar ke kamar mandi, masih terhuyung-huyung antara sadar dan tidak saya melihat seorang lelaki bercelana pendek keluar dari salah satu kamar. Terkantuk-kantuk saya bertanya dalam hati, memang ada cowok dikoridor ini ? Dan saya langsung berjengit waktu sadar dari mana laki-laki itu keluar. Itu kan kamarnya Callista. Lalu suara Karen terngiang-ngiang di telinga "Her boy friend will spend some nights in our room, so i had to move to Mei Ting's room." saya terhenyak di kloset. Jadi ?!ternyata?!ya, ampun?! astaghfrullahaladzhim! saya buru-buru memberikan 'pernapasan buatan' buat yang terpingsan-pingsan di kepala saya. oke, tenang, ini Belanda, ini Belanda ...

Terus terang, makin lama disini saya khawatir saya bisa kehilangan sensitifitas dalam hal-hal semacam ini...

Kini, yang suka terpingsan-pingsan itu mulai mafhum dengan hal-hal seperti itu. Cuma bisa beristighfar dan memalingkan muka. Mudah-mudahan selemah apapun, iman itu tetap ada.

Tiga menit sebelum kereta datang saya naik ke atas. Yah, ternyata vertraging lagi 15 menit. empat puluh lima menit berarti menunggu. Dan akhirnya keretanya datang. Hampir jam setengah sembilan malam akhirnya keretanya tiba di stasiun Maastricht. Mau terus ke Randwijk ? berarti saya harus ganti kereta dan dari situ masih jalan empat puluh lima menit ke rumah. Atau mau naik bis saja, turun di halte dekat rumah. Dari situ mungkin hanya dua puluh menit jalan kaki. Akhirnya saya putuskan naik bis. Menunggu lagi dalam dingin. Dan akhirnya bisnya datang.

08.45
Akhirnya sampai dirumah.
Jadi ingat dulu sebelum berangkat saya bertanya pada yang punya wewenang dalam 'hal-hal beginian" bagaimana seandainya ke Achen saja ? lebih dekat dibandingkan harus tiga jam melintasi separuh negeri datar ini. Dan bla,bla beliau mengingatkan kondisi yang lain yang lebih susah demi sebuah pencerahan. Saya pernah tanya yang lain yang tinggal di Jerman. Berapa lama waktunya untuk hal-hal seperti ini? si mas bilang "enam jam"
hiks. Ternyata ...
ini belum seberapa
ini ga ada artinya.

Thursday, March 02, 2006

Vasteloavend

Itu artinya 'carnival' dalam dialeg Maastricht. Jadi menurut mereka yang mengerti bahasa Belanda, orang-orang Maastricht atau bisa juga dibilang provinsi Limburg ini punya dialeg yang berbeda dengan orang Belanda secara umum. Jadi jangankan kita yang tidak mengerti atau cuma mengerti sepatah dua patah kata dalam bahasa Belanda, bahkan orang Belanda totok sendiri mengaku kesulitan menangkap arti bahasa Belanda yang diucapkan dalam dialek Maastricht ini.

Saya yang mendengar cuma bisa bilang bahwa cara bicara orang Maastricht itu terdengar lebih melodius dan lembut aja dibandingkan dengan umumnya orang Belanda yang bicara dalam intonasi 'bergemuru' (biasanya yang cowo atau bapak2). Intonasi yang melodius ini kadang diiringi ayunan kepala mengikuti intonasi kalimat. Jadi kalau orang Belanda biasa bilang "doei!" (baca: duy) kalau pisah sama orang, maka kalau orang Maastricht yang bicara akan terdengar "duuuu--uy"

Saya sudah pernah cerita bahwa walaupun secara umum Belanda penganut protestan, khusus untuk Maastricht, masyarakat disini umumnya tercatat sebagai orang katolik. Walaupun tentu seperti umumnya masyarakat Barat, agama cuma tempelan status aja.

Berkaitan dengan agama katolik, setahun sekali di Maastricht diselenggarakan karnaval (vastenavend) menjelang Paskah. Walaupun tidak seheboh carnaval serupa di Venice atau Brazil, karnaval di Maastricht ini jadi atraksi menarik juga. Banyak warga kota lain di Belanda yang sengaja datang ke Maastricht untuk melihat karnaval. Karnaval dimulai sejak hari Jumat hingga Selasa malam (berakhir tepat sebelum Rabu Abu). Saat-saat itu katanya adalah saatnya bagi warga Maastricht untuk bersenang-senang sebelum mereka puasa (waktu itu saya tanya sama Arno Van Raak, "mereka akan puasa, gitu ?" dia bilang "Yaaah, they used to" he he). Jadi kalau di Indonesia mungkin semacam acara 'boboran shiyam' di jawa barat, atau parade kecil-kecilan dalam menyambut bulan Ramadhan.

Dari jendela rumah, sejak jumat saya sudah melihat orang hilir mudik ke arah Centrum dengan kostum aneh-aneh. Umumnya didominasi warna hijau, kuning, oranye yang merupakan warna bendera provinsi Limburg. Selama karnaval, hampir semua fasilitas umum di Maastricht (mungkin juga sleuruh Limburg) di liburkan. Lalu pada hari rabu yang merupakan Rabu Abu ada tradisi harring happen, itu acara makan ikan harring ramai-ramai di Markt. Tapi di Maastricht yang ikut cuma civil servant aja. Ga ngerti juga kenapa cuma pegawai negeri yang makan harring ramai-ramai.

Aneh juga karakter orang Maastricht ini kalau dibandingkan dengan orang Belanda secara umum yang katanya kaku dan kurang menikmati hidup. Katanya sih karakter orang-orang yang hidup ditepian sungai atau pantai itu memang cenderung lebih santai dan merdeka. Yah bandingkan aja antara orang Surabaya atau Betawi yang easy going, blak-blakan dibandingkan dengan orang Yogya atau orang Sunda yang cenderung jaga image bin unggah-ungguh.

Begitu juga dengan orang Maastricht ini. Dibandingkan dengan orang Belanda umumnya, mereka dinilai lebih santai dan menikmati hidup. Tutor statistik saya pernah cerita joke tentang orang-orang Limburg (Maastricht) ini. Pertanyaannya adalah bagaimana cara meningkatkan rata-rata IQ orang Belanda dan orang Belgia secara bersamaan ? jawabannya adalah dengan memindahkan orang Limburg ke Belgia. Garing kan ? ga ngerti ? pikir sendiri yah he he

Kembali lagi ke soal karnaval, karena sejak dulu sudah diwanti-wanti untuk tidak melewatkan karnaval, maka pada hari minggu (bukan ku turut ayah ke kota) saya dan beberapa kawan berencana pergi ke Centruum untuk melihat karnaval. Sepeda di parkir di Heugemerweg, tempat Astri dan Elida. Kami sudah dianjurkan untuk berjalan kaki karena jalan akan padat sekali. Walaupun ada saran untuk memakai setidaknya pernik-pernik karnaval, kami memutuskan untuk menikmatinya sebagai turis saja. Lagi pula saya pikir akan jadi penghinaan buat diri saya sendiri maupun buat agama itu sendiri kalau kita berpartisipasi dalam sesuatu yang tidak kita yakini.

Walaupun suhu saat itu minus dua ditambah lagi kadang ada hujan salju, jalan sudah penuh sejak dari arah stasiun kereta api. Kami berpapasan mulai dari nenek sihir, marie antoinette, orang purba, orang scotland, wanita bunga, bayi ungu sampai yang ga tahu lagi itu manusia atau alien yang juga sengaja turun mau nonton karnaval. Beneran deh, serius banget orang Maastricht untuk urusan karnaval ini. Kata Arno, bahkan banyak yang menyiapkan kostum untuk karnaval ini hingga setahun sebelumnya. Jadi seriuz abeeeezz-lah.

Asyik juga kalau sekali-kali dalam hidup kita bisa jadi siapapun yang kita inginkan.
hmm... kalau saya mau milih saya akan jadi siapa yah ?
Mungkin jadi orang India, jadi dandannya seperti Aishwarya Rai ha ha ha ha

Secara keseluruhan, kesannya: sangat menarik =) (iyalah, saya sampai rela naik-naik jembatan buat ambil foto), tapi berhubung yang nge-blog sudah ngantuk, cari sendiri aja yah informasi terkait lainnya. Mardi gras, juga serupa dengan even ini.

Monday, February 27, 2006

Milad!

Pagi ini, dari kaca jendela kamar saya memandangi kepingan-kepingan salju yang melayang-layang dari langit. di layar YM dan sms, pesan-pesan dari sahabat-sahabat tersayang menyapa

hey! 26 tahun yah ?
waw!
subhanallah!
gile!
26 tahun!

waw....

mau bilang apa yah ?
alhamdulillah pastinya buat satu hari lagi kesempatan memperbaiki diri. Saya banyak diberi, sehingga tak akan bisa diurai lagi satu-satu. hmmm.. 26 tahun. Tua? ga tahu yah, saya susah tuh ngerasa tua. Mungkin karena pengarus status sebagai anak perempuan paling kecil dikeluarga atau juga karena disini rata-rata banyak yang lebih tua dari saya ? atau mungkin perasaan bahwa no matter how old i am, the world still too much too learn n sometimes i felt like eight years old girl stand with wide eyes open for many wonders that world could offer. Selalu ada momen dimana saya tetap bisa dibuat terkesima dan ber'waw' ria-- cuma karena dah ngaji jadinya ditambah 'subhanallah' he he he. Cuma mungkin skalanya, momennya, efeknya, ibrahnya, berbeda dari masa ke masa.

Ditambah lagi, prinsip saya adalah kalau buat hal yang ga enak, liatnya ke bawah.. jadi dalam masalah tua menua ini... masiiiiih baaaaaaanyak orang yang jauh lebih tua dari saya. Jadi apalah artinya menjadi 26 tahun buat seorang saya selama masih ada Titik Puspa (lhaa?). Masih single fighter ? wuah, jangan kata saya yang manis dan menawan hati, Siti Nurhaliza aja belum ada menjatuhkan pilihan (wa ka ka ka...).

jadi, 26 tahun, hah ?
single,old and unhappy ?
naah, i would prefer : independent, wise and full of bless (ha ha optimis bangat euy!)

oh, ya tag dibawah yang dari liliepy itu, kekanak2an bukan ? sebenarnya dipasang karena penasaran apa yang akan terjadi di web saya kalau pas hari H, ada apa gitu,balon meletus, confetti berjatuhan atau apa lah... tapi ternyata gitu doang. Udah gitu anak cewe berambut kriwil2 model begitu bukan saya sekali (sampe sekarang mengidam2kan sih punya rambut kriwil2 kayak meg ryan, kayaknya seksi aja he he he).

Bagaimanapun, saya harap, semoga saya selalu punya cukup kesyukuran untuk berbahagia berapapun usia yang Allah akan titipkan untuk saya. Ada tahun-tahun dimana saya merasa bodoh, ga punya ide hidup saya mau dibawa kemana, tapi insya Allah ada banyak tahun-tahun kayaknya hidup tersenyum dan diciptakan memang untuk saya dan kadang agak2 ngelunjak sama yang punya hidup dengan berkata dalam hati "i am the master of my own destiny"padahal ya ga gitu-gitu amat, tapi ga peduli berapapun umurnya, i will love it anyway.
jadi, ayo ... mainkan lagunya

selamat hari lahir
iringan doa ku hulur
bersyukur kepada-Nya
atas nikmat usia

*dulu, biasanya suka nyanyi nasyid ini adalah inggrid, sahabat saya yang mengklaim dirinya punya suara bagus (huek wek wek...) wah, pa kabar bu di negeri jiran sana *

Tuesday, February 21, 2006

membesarkan hati ...

Ini soal kuliah. Baru terima hasil ujian policy analysis kemarin dan saya cuma dapat nilai tujuh. Dan untuk pertama kalinya saya merasa ga puas dan terganggu. Kayaknya kemarin saya mengerti konsep yang didiskusikan, kayaknya pemahaman saya sama bagusnya dengan yang lain, trus apa yang salah?

Heran juga. Biasanya perkara nilai ini ga akan menganggu saya selama saya merasa sudah bisa menangkap esensinya dan bisa menggunakannya dalam melihat dan memaknai realitas yang saya hadapi. Bagaimana yang saya pelajari dapat menerangkan apa yang melatar belakangi sebuah fenomena dan bagaimana solusinya, saya akan puas. Perkara dapat berapa ga begitu penting lagi. Begitu mikirnya. Dan kebetulan nilai yang saya dapat selama ini ga begitu jauh dari perkiraan saya.

Tapi kok yah yang ini jadi terganggu sampai-sampai saya curhat dengan seorang teman dan dengan sengaja kirim email ke seorang teman lainnya soal ini. i am questioning my ability, keluh saya. Teman saya bilang, ur good. Dia juga heran biasanya saya stay positif aja dalam menilai segala sesuatu. Saya minta sama teman lain untuk melihat jawaban ujiannya. Yah, ketemu deh masalahnya. Cuma beda masalah stressing aja rupanya. Jawabannya intinya sama tapi saya lebih berat membahas pada siapa yang muncul sebagai agenda setter, sementara kayaknya perspektif pak tutor lebih pada apa yang akan muncul sebaga agenda. Saya jawab juga soal itu tapi tidak dengan pembahasan lebih dalam.

Ikhlas itu, menerima hasil akhir, ternyata kadang-kadang sulit yah. Setelah kita menjalaninya dengan proses yang maksimal, adalah kewajaran kalau kita juga menuntut hasil yang maksimal. Saya ingat waktu mau berangkat ke sini, ada teman, namanya Zulfikar. Dia itu kordinator OB di kantor saya. Dia mengeluh, mba attin sih enak, semuanya kayaknya semua tercapai aja. Saya tuh gagal melulu mba. Dia bercerita tentang cita-citanya, usahanya daftar ini daftar itu ke sekolah ini ke sekolah itu, dan disinilah dia berakhir, jadi OB. Dia belum menyerah, malamnya dia kuliah lagi disebuah universitas swasta. Waktu itu saya bilang apa yah sama dia ...jangan kecil hati zul, ikhtiar kita itu sudah dicatat jadi sebuah amal kok, punya cita-cita tinggi aja udah sebuah prestasi (or something like that).

Dan saat itu saya jadi ingat, bahwa mimpi-mimpi, keinginan-keinginan yang terkabulkan adalah anugerah luar biasa yang tak cukup dengan hamdallah saja kita mensyukurinya. Di luar sana, ada berapa juta orang yang patah hatinya dibenturkan dengan kenyataan bahwa takdir tak selalu berkesusaian dengan harapan dan ikhtiar. Maka kalau saat ini kita berdiri sesuai dengan keinginan hati, duh alangkah besar nikmat itu.

Dan saya sekarang misuh-misuh, mengeluh tentang semestinya setelah segala usaha yang saya lakukan, saya bisa mendapat lebih dari tujuh ....

teman lain bertanya, "jadi kamu mengejar ngerti apa ngejar nilai?" nah, lo...

come on gal ...
bukan anak smu lagi ... sebentar lagi mau genap 26 tahun
jangan memandang nilai dengan ke kanak-kanakan seperti beberapa orang yang kamu kenal. Tanpa kerendahan hati dan kedalaman menghargai. Nanti seperti itu pula cara kamu menilai segala sesuatu. Lupada pada esensi dan lebih terkesima pada yang artifisial.

kita tidak mau jadi orang seperti itu, bukan?

Sunday, February 19, 2006

Mau Pulaaaang ...

Sari pulang! huhuhu... soalnya dokter Unpad ini cuma ada di Maastricht selama enam minggu. Di Maastricht, ibu ini terdaftar dalam program MHPE yang diperuntukkan buat tenaga pendidik kesehatan. Programnya sandwich gitu deh. Jadi setahun sekali selama enam minggu akan tinggal di Maastricht. Ini yang kedua kalinya Sari datang, tahun besok mestinya jadi tahun terakhir.

Wah, jadi sepi lagi deh. Walaupun disini saya menikmati proses belajarnya, kesehariannya, tapi kalau melihat orang pulang begitu bawaannya jadi pingin pulang juga...
huhu masih tujuh bulan lagi ...
sabar yah ...
mudah-mudahan waktu itu memang benar-benar terbang

*waktu itu Daru sms dari Surabaya, "Enakan tinggal di Maastricht lagi Tin, di Indo ga enak, banyak bencana"

Tuesday, February 14, 2006

Jalan-jalan

Huaaah... alhamdulillah akhirnya ujiannya dah lewat. Dah belajar bareng, dah belajar sendiri, dah tidur telat, dah maksimal usahanya. Apapun hasilnya (kecuali failed) buat saya dah ga terlalu penting lagi.

Sekarang cerita soal jalan-jalan keliling Eropa (haiya! gaya banget keliling Eropa, padahal cuma ke Jerman, Belgia dan Perancis) beberapa waktu yang lalu. Beberapa teman sudah ada yang mulai perjalanan keliling-keliling ini lebih awal. Dulu waktu di guesthouse, teman-teman saya yang dari Asia ga pernah ada dikamar tiap weekend karena sibuk keliling-keliling. Ya ke Venice, ya ke Praha atau kemana lah. Saya, berhubung modalnya ga sekuat mereka (beasiswa, tauk dirilah) cuma cengengesan kalau ditanya weekend ini mau kemana. Ayako juga sering nanya sudah pernah ke Thailand belum? sudah pernah ke Paris? sudah pernah ke Munich ? kayaknya dia pikir travelling all around the world itu buat saya sama gampangnya dengan naik bus 510 Kampung Rambutan-Ciputat.

Tapi selain itu, faktor adaptasi dengan ritme belajar dan beban kuliah juga jadi pertimbangan. Belum lagi musim yang tahu-tahu sudah musim gugur, tahu-tahu sudah musim dingin. Apalagi yang paling enak kalau nggak tinggal dikamar, menggelung dalam selimut dekat-dekat vervarming. Sambil nge-bakso kalau bisa. Ada teman anak asia yang permulaan musim dingin kemarin main ke negara kawasan scandinavia. Saya sampai bingung sendiri, ga mau ke tempat yang lebih hangat apa? Tapi waktu turun salju kemarin jadi sadar, ya bedalah interes anak pulau matahari dengan orang-orang muka pucat. Buat mereka yang menarik yang hangat-hangat, buat kita lihat salju turun itu pemandangan luar biasa.

Jadi begitulah, setelah dirasa cukup adaptasi, dikombinasikan dengan teman-teman seperjalanan, plus musim korting transportasi disana-sini, jadilah saya jalan-jalan ke daerah yang agak jauh sedikit. Pertama,ke Heidelberg di Jerman. Tidak Jerman pinggiran seperti Aachen yang jadi surga belanjanya orang Maastricht, tapi ini jauh ke pelosok Jerman sana. Butuh waktu sekitar enam jam lah naik bis lalu bersambung dengan kereta api. Jadi ini Jerman serius lah.

Jauh!
Ternyata Jerman itu luasnya minta ampun. Pegel banget di kereta. Dan kami harus ganti kereta sekitar empat kali di Koln, di Beltz (?), Manhein dan akhirnya ke Heidelberg. Dan ganti kereta itu ya kok ternyata makin jauh ke Jerman kualitasnya mengalami penurunan. Dari stasiun Aachen kami naik kereta yang lumayan sama bagusnya dengan kereta intercity di Belanda yang besar-besar. Lalu berhenti di Koln. Di kota ini sempat lari-lari demi foto session dulu depan gereja terbesar di Jerman yang ternyata benar kata teman-teman saya ("Wah, Gede Banget!") dari Koln lalu nyambung dengan kereta yang mulai agak-agak sempit, lalu dipemberhentian selanjutnya; loh, kok keretanya pendek? stasiunnya juga kok kayak stasiun terbengkalai begini,beberapa menit masuk kok rasanya sumuk, vervarmingnya disetel terlalu panas ternyata, mau pipis; wc-nya kapot (rusak). Wuah, jangan-jangan di pemberhentian selanjutnya keretanya sama parahnya dengan kereta diesel di Sukabumi. tapi ternyata nggak. Cuma kami kebagian gerbong dengan bau alkohol menusuk. Lantainya juga becek dan sampah berserakan. tapi alhamdulillah akhirnya sampai juga ke Heidelberg Haufbanhof (main station)

Heidelberg ?
Nah, ini juga yang menandakan saya ga serius jalan-jalan. Sebab kalau ditanya mau ngapain atau mau lihat apa, terus terang saya ga tahu. Yang saya tahu disana ada Mba Titut dan Mas Tomi yang bisa kasih tumpangan nginap gratis (sekalian silaturahmi juga dong!). Jadi waktu sampai dikawasan Centruumnya, dalam hati sih agak-agak kuciwa. Ya, ampun kalau cuma belanja-belanja mah di Maastricht aja atau ke Aachen sekalian. Jadi ngapain nih? di depan sebuah mall besar yang ada liftnya Sari bilang, kita naik lift yuk! (gubrak!) tapi ide norak ini langsung di amin-kan sama semua anggota rombongan "naek aja, nanti kan berabe kalo di tanya lo udah pernah ke Heidelberg belum? naik liftnya kagak? wah, lo belum ke Heidelberg namanya kalo belum naik lift-nya," Jadilah delapan orang mahasiswa yang terdiri dari dari para calon master dan seorang calon PhD itu berebutan naik lift dengan noraknya. Setelah ber-''Uuuh", "aaaah" menikmati pemandangan Centruum Heidelberg dari lift kaca lalu... ya turun lagi.

Untungnya Sari berinisiatif membeli peta dan buku panduan turis jadinya yah ga blank-blank amat. Masuk ke kawasan centruum, ada beberapa situs sejarah yang sebagaimana umumnya di negara barat, terjaga dengan baik. termasuk gereja besar The Holy Spirit dengan lima jendela besar yang katanya melambangkan Bunda Maria (ga ngerti sih apa maksudnya, Beni kali yang tahu). Dari situ kami semua belok menuju jembatan besar yang membelah sungat Rheine. Targetnya: foto-foto! langsung deh Mas Ari yang jadi seksi dokumentasi pasang kamera. Beneran deh anak-anak Maastricht ini banci foto semua!


Waktu di jembatan Mas Tomi telepon, makan dan shalat disini aja. Oke, akhirnya semua bergerak ke tempat mereka. Makan malam, Shalat, ngobrol-ngobrol, yang bapak-bapak jalan ke Hostel, yang ibu-ibu (saya dan Sari) tinggal di tempat MbaTitut dan Mas Tomi.

Besoknya pagi-pagi kami berencana untuk mendaki Kastil (schloss) Heidelberg yang letaknya ternyata ga jauh dari kediaman mereka berdua (tepat dibawahnya kalau mau mau dibilang begitu). Mas Tomi yang baru datang dari Jakarta sekitar semingguan dan masih menggigil menyesuaikan diri akhirnya berhasil dibujuk-bujuk buat ikutan.

Kastil ini didirikan pertama kali oleh Prince Elector Ruprecht III (1398 - 1410). Beberapa kali ditambah sana-sini sayap-nya sampai akhirnya kastil ini salah satu bangunan penting dalam sejarah arsitektur Jerman. Didalamnya juga ada museum fermentasi anggur dan museum Farmasi. Duh, sakit hati deh ngelihat isinya. Bagaimana bahan-bahan untuk ramuan itu mereka datangkan dari negara 'Belanda' yang ternyata dari petanya itu adalah our very own Indonesia! makin lama saya di eropa ini, makin sadar betapa kaya-nya kita dan betapa 'tidak punya apa-apanya' orang barat ini.

Perjalanan ke kastil Heidelberg itu beneran buat asyik-asyikan banget. Habis deh waktu buat foto-foto.Waktu chatting sama kakak saya dia tanya, jadi lihat manusia cro magnon ga disana? saya langsung bingung, oh iya yah? baru ingat kalau memang di situ ditemukannya? he he habis ga ingat sih. Di toko souvenir saya beli beberapa gantungan kunci dan cendera mata piala dunia 2006 yang khusus saya alokasikan buat teman-teman office boys di LKC.

Terima kasih juga dong buat keluarga Titut-Tomi atas sambutan hangatnya. Kapan-kapan main ke Maastricht yah...

Shalat
Menempuh perjalanan jauh, apalagi di negara Barat seperti ini jelas sangat sulit untuk menemukan masjid atau mushalla terdekat. Jadi konsekuensinya saya sudah terbiasa untuk shalat di kereta atau di dalam bis kalau menempuh perjalan jauh. Waktu mau ke Heidelberg ini saya mengingatkan Sari untuk bawa perlengkapan shalat. "Aku punya kerudung kaos kalau kamu mau," kata saya menawarkan. Si ibu lebih memilih untuk membawa mukena. Agak ga setuju sih sama idenya tapi kalau doski pede aja, ya sok lah. Dan ternyata benar juga prediksi saya. Waktu shalat di kereta menuju Manheim, didepan kami duduk bule perempuan yang tampangnya langsung panik waktu melihat sari mulai bongkar-bongkar tas dan memakai mukena (cuma atasannya aja). Seusai shalat Sari bilang, "Tin, lo liat ga bule yang didepan kita. Kasihan banget yah, tampangnya tegang begitu." terkekeh-kekeh kami mencuri pandang ke bule malang yang dengan cemas mencengkeram tas dipangkuannya. Matanya terpaku pada layar di dalam kereta yang menginformasikan pemberhentian berikutnya (waduh,kapan nyampe sih, kapan nyampe sih...) . saya lalu usul," ya udah, supaya dia tenang dikit gimana kalau kita tunjukan perilaku manusia normal lainnya? ngupil ?" he he he. Begitu kereta berhenti, si bule langsung buru-buru kabur.

Obrolan Ga Penting Para Dokter
Ini waktu Beni sama Doni (baca:de-ho-ni)ngobrol soal main-main ke Amsterdam sambil menunggu kereta ke Mahheim. Dua-duanya orang Jawa, jadi kebayang lah betapa lucu dialog mereka. Satu dengan logat Suroboyo dan satunya lagi Yogya yang kental
Beni : Kamu ke red lightnya ga, Don ?
Doni: Oh, iya aku dah kesana
Beni: cantik-cantik yah (atau komen sejenis ini lah)
Doni: Opo toh,ora! Lemu-lemu (gemuk-gemuk) masih bagusan juga pasien, Ben!
pendengar: Gila lu Dooon!!!!????
Huaaa! tolong dicatat yah oleh IDI, ini ada anggotanya namanya dr. Doni Widiandana kelakuannya ga beres! ga bakal deh berobat ke Doni kalau gitu (ha ha ha)

Brussel dan Mannekin Pis
Seminggu setelah pulang dari Heidelberg, saya dan Sari memutuskan untuk main ke Paris. Sebenarnya dah lama ingin kesana dan jelaslah Paris itu kota wajib kunjung. Tapi ya itu tadi, menunggu waktu yang tepat. Kalau ada teman jalan yang asyik itu lebih cool lagi. Naah, kebetulan ada famili Sari yang bekerja di KBRI Perancis. Tapi si ibu ini dah pernah ke Paris tahun kemarin, "Masak gue ke Paris lagi, Tin," huaaa! sombongnya hihihi...jadilah saya merengek-rengek ayo dong ke Paris, temenin aku. Tahun kemarin kan kesana ga sama aku, jadi beda dong!

Tapi akhirnya memang kalau jodoh ga kemana, kalau memang harus ke Paris ya ke Paris juga akhirnya. Sari akhirnya setuju buat ke Paris (entah karena rayuan maut saya berhasil atau justru dah muak diajak-ajak ke Paris melulu yah ?) . Kebetulan lagi ada promosi dari bus Eurolines. Untuk ke Paris dari Maastricht, kami naik kereta ke Liege selama satu jam. Lalu dari stasiun Liege Guillemain, naik kereta ke Brussel Noord untuk nyambung dengan bis Eurolines. Tapi karena ingin jalan-jalan di Brussel, kami memutuskan berhenti di Brussel Midi.

Keluar dari stasiun Brussel Midi kami menuju Grand Place, buat lihat bangunan-bangunan tua seperti City Hall yang selamat waktu Louis ke XIV membumi hanguskan Brussel tahun 1695. Tujuan utama jalan-jalan di Brussel Midi juga adalah buat melihat Manekin Pis, patung anak kecil yang lagi pipis, yang jadi trade marknya Belgia. Susah payah menelusuri jalan dengan tanda panah bertuliskan "manekin pis" dari semua penjuru Brussel yang mengarah pada satu pojokan. Pas ketemu sama patung anak Pipis yang konon katanya bernama Juliannske yang menyelamatkan Brussel dari kepungan musuh itu, langsung sebel gitu. Habis ya ampun, ternyata cuma begini doang yang namanya manekin pis itu! mencil di pojokan kayak ga ada tempat lagi yang lebih layak. Pokoknya kecele berat deh. Beberapa turis dari Jepang kayaknya juga merasakan yang sama karena mereka langsung cekikikan dengan ekspresi "ya ,ampun males banget deh" begitu sampai ditempat yang sama.

Disamping site manekin pis itu (pas nempel,makanya saya bilang kayak ga ada tempat yang lebih pas lagi buat bangun gitu-gituan) ada toko coklat dengan pelayan perempuan yang dengan sabar menanti turis-turis kecele foto-foto dengan manekin pis. Mleihat kami sudah selesai, dengan ramah dia mengundang kami masuk ke toko cokelatnya. Menawarkan beberapa potong coklat untuk dicoba terus berpromosi menawarkan beberapa paket coklat. Wuah, pokoknya tokcer abis deh tuh mba-mba, sampai-sampai saya langsung beli satu dus cokelat Belgia seharga 25 euro berisi 12 paket. Kalau saya punya toko, boleh-boleh deh si mba itu kerja sama saya. Setelah beli beberapa cendera mata, foto session dong di depan Old House dan Royal Palace di kawasan Grand Place itu.

Eh, lupa... ingat Belgia pasti ingat Tintin kan? tokoh anak cowok detektif berjambul tea?! nah, pas jalan-jalan di kawasan Grand Place itu, nemu deh butik Tintin. Lihat-lihat barangnya akhirnya sepakat buat beli tempat pensil dengan label asli 'Herge'. Bagus tapi terus mikir-mikir ini mau dipakai sendiri atau buat seseorang yah? hmm... tergantung juga, 'seseorang' itu suka Tintin atau nggak, kalau nggak ya sayang dong!

Dua jam di Brussel Midi, kami naik kereta balik lagi ke Brussel Noord untuk check in bus Eurolines, menukar reservasi yang sudah kami buat via internet. Jam satu bis sudah datang dan akhirnya berangkatlah kami berdua ke Paris.

Bienvenue A Paris!
Jam lima akhirnya bis kami memasuki kawasan Paris. Hmm... kesan pertama memasuki kota penting dalam banyak titik sejarah kebudayaan Eropa ini adalah: 1.ternyata ga bagus-bagus amat 2. jalan tol lingkar luar Jakarta ga kalah keren deh kayaknya 3.ini karena efek lima bulan tinggal di kota tenang dan damai seperti maastricht maka-ya ampun! orangnya banyak amat yak?! Di Terminal Eurolines kami dijemput Rudi,salah satu kerabat Sari di Paris.

La Ville Le Lumiere (kota cahaya) yang konsep modernnya dikerjakan oleh Haussman dibawah pemerintahan Napoleon III tahun 1840-an ini dibangun dengan tata kota menyerupai cangkang keong. Jadi seperti spiral yang memusat kedalam. Ada dua puluh distrik dalam lingkar spiral ini. Yang paling luar, Paris 20 kalau ga salah namanya Bagnolet. Paris 1 itu ada di ...pasti nyangkanya di Eiffel, tapi ternyata tidak tuh. Eiffel itu terletak didaerah Paris 16.

Karena itu makanya dari lingkar luar-nya Paris itu ga terlalu mengesankan, tapi begitu masuk semakin dalam ke kota, ditambah hari yang meranjak malam, lampu-lampu menyala termasuk lampu di Eiffel, Paris pun jadi nyata indah. duh ternyata terasa nuansa romantisnya. Sayang, perginya sama Sari sih coba kalau sama ....he he (Sar, kalo baca ini jangan sebel ye).Tapi langsung lupa begitu dibawa ke restoran Vietnam dekat Champs Elysees buat makan malam. Nyam,nyam...

Belanja di Champs Elysees
Ini beneran belanja loh! jadi karena tante-nya Sari punya bisnis jual beli produk fashion dengan beberapa butik di Jakarta, jadilah kami diajak belanja. Dan karena Louis Vuitton, Guchi dan kawan-kawannya itu termasuk barang mewah, ada aturan bahwa turis tidak boleh membeli lebih dari beberapa item. Mereka harus menunjukkan paspor dan terdaftar di Louis Vuitton sebagai pembeli.

Maka jadilah si tante belanja dengan menggunakan paspor kami berdua. Jadi coba yah, nanti kalau ke Louis Vuitton di Champs Elysees, tolong dicek pasti ada nama mademoiselle A.Parihatin berbelanja dua tas seharga masing-masing 950 euro! saya lihat bill atas nama Madame Sari, gila! 2.800-an euro! So, karena momen-kapan-lagi-belanja-ke-Louis Vuitton ga datang tiap satu tahun sekali, saya dan sari bisik-bisik " habis ini didepan butik foto-foto yah"kudu itu, pan bukan orang Indonesia kalau ga banyak gaya, he he he

Jadi begini yah rasanya ada dipusat kapitalis mode dunia. Saya berdiri didepan sepatu seharga 700 euro di Lousi Vuitton itu. Lalu memandang sepatu berhak 5 centi di kaki saya yang saya beli di Schoenen Reis, toko sepatu di Maastricht waktu Opruiming (cuci gudang). Dari 22 euro dipotong hingga 6 euro saja saudara-saudara. Sepatu saya memandang balik dengan galak. Kenapa?! ga pede?! saya nyengir. Siapa bilang, neither minder nor ga pede, sebaliknya, saya masih tetep ngerasa keren tuh!

Tapi melihat bisnis si tante jadi miris juga sama kelakuan orang Indonesia. Ga sopan banget ternyata orang-orang Indonesia itu. Sekalinya kaya bisa menghabiskan 10 juta hanya untuk sebuah tas? yaaa, bolehlah orang bicara soal loh itu hak gue dong sebagai orang kaya. Iya sih, jadi kaya itu ga dilarang, tapi kalau jadi orang kaya dalam sistem yang membuat disparitas sosial begitu besar, apa bisa bahagia gitu ? Saya ga habis pikir, pasti susah yah untuk bersyukur atas hal-hal kecil dalam gaya hidup tas 10 juta seperti itu.

Akhirnya kami pulang ke rumah tante di rue d homme (kalau ga salah). Setelah berkutat cari parkiran startegis, dengan dibantu seorang pemuda bertampang arab pemilik toko kelontong depan flat, akhirnya kami berhasil parkir. Eh si tante bilang, "dia (yang bantu parkirin) nanya tuh, yang pakai jilbab siapa madame? saya suka kalau melihat perempuan Indonesia memakai jilbab" huaa! langsung pada cekikikan. Gimana kalau besok saya beli jeruk di tokonya, siapa tahu bisa dikasih murah ha ha

Jadi Pietons
Esok paginya cuaca cerah dan hangat (10 derajat). Diantar tante, kami turun di Trocadero untuk memulai penjelajahan di Paris sebagai pietons (pedestrian). Dari Trocadero, tempat dua museum (musee d'cinema dan musee d'homme) dan sekaligus landmark strategis untuk mengambil view Eiffel secara keseluruhan. Dari situ kami berjalan ke arah Eiffel di Champs de Mars, menara yang dibangun Gustave Eiffel tahun 1889 ini dulunya pernah dicela-cela oleh warga Paris sebagai monster 'nggak jelas' yang merusak keindahan Paris. Tapi rupanya setelah jadi dilihat-lihat bagus juga kali ye. Menara Eiffel ini tercatat sebagai bangunan tertinggi didunia sampai tahun 1930 ketika menara Chrysler di New York selesai di bangun. Jalan-jalan di Paris itu lebar-lebar. Katanya dulu waktu atas permintaan Napoleon, Haussman diminta mencari jalan buat mengakali gejolak politik di Perancis yang rawan demo dan revolusi. Untuk mengatasi masalah pertahanan dan keamanan akhirnya didesainlah jalan-jalan yang besar. Alasannya ini untuk memudahkan gerak pasukan jika sewaktu-waktu terjadi kerusuhan.

Tapi yang lalu lintasnya sembrononya minta ampun! terbiasa selalu didahulukan sebagai pejalan kaki di Belanda (saya dan sari suka sengaja excercise of power dengan para pengemudi di Belanda kalau menyeberang-ayo, berhenti ga lo,berhenti ga) disini gila deh! Karena banyak orang asing, lampu merah juga kadang dianggap angin baik oleh pejelan kaki maupun pengemudi.

Dari Champs de Mars (tempat yang dulunya dipakai pasukan Perancis buat baris-berbaris) kami berjalan kaki mengikuti peta ke 'hopital les invalides yang dibangun raja Louis XIV untuk rumah sakit bagi orang cacat dan prajurit (maklum dulu kan Perancis suka perang kesana kemari). Tempat ini sekarang jadi tempat dikuburkannya (peti mati ) beberapa orang yang dianggap berjasa dalam sejarah militer Perancis seperti Joseph Bonaparte (kakaknya Napoleon) dan Napoleon II. Dari situ terus ke geraja tempat peti mati Napoleon Bonaparte. Tidak masuk ke gerejanya (habis harus bayar sih) jadi tidak lihat de la fosse allegories, lukisan di dome gereja yang katanya bagus.

Dari kawasan Invalides itu kami terus ke arah sungai Seine. rencananya mau ke museum Rodin (inget kan patung the thinker ? nah itu dia yang buat). Tapi begitu sampai di museum ternyata untuk masuk tiketnya seharga 7 euro. Ga jadi deh. Tapi mau pipis nih, akhirnya tanya sama bertugas jaga pintu, ada WC ga ? katanya ada. Eh, terus ditanya, anda mau masuk museum atau cuma mau pipis? dengan tampang tidak bersalah saya bilang mau pipis aja he he.. dengan pandangan harap-maklum-ini-turis-kebelet si petugas dipintu kordinasi dengan yang jaga pintu tiket untuk menunjukkan kami posisi toilet. Habis pipis, foto lagi... yah kalau pun ga masuk setidaknya ada foto yang menandakan kami pernah punya niatan yang nyeni.

Dari Rodin kami terus menyusuri sungai seine melewati jembatan Alexander III yang disebut-sebut sebagai jembatan terindah di dunia. Kalau ga salah dibangun khusus untuk menghormati kedatangan kaisar Alexander. Ga jelas sih Alexander yang mana, yang dari Macedonia itu? ga tahu deh. Tapi jembatannya oke lah (kasihan banget yah arsiteknya kalau semua orang cuma komen begini). Rencanany dari situ mau ke museum d'Orsay. Museum ini punya koleksi karya seni dari zaman yang lebih baru dari yang ada di museum Louvre. Tapi hari sudah sore dan saya lebih tertarik buat ke Louvre yang terletak tepat didepan d'Orsay.

Dari sini saya dan sari berpisah. Sari lebih tertarik buat melihat catacomb de Paris karena tahun kemarin dia sudah ke Louvre. Catacomb de Paris itu terowongan yang dulu digunakan sebagai pemakaman (travelling in the most artistic city in Europe to see a mass burial place ? what a romantic idea deh sar!) dan saya terus ke Louvre. Jam empat kami janjian untuk ketemu kembali di Trocadero.

Akhirnya; Louvre!
so, here I am. In one of the largers and most famous museum in the world. Dari depan carrousel (arc de triumph mini), tiga piramida kaca yang dibangun IM Pei sudah kelihatan. Bener juga kalau orang Perancis dulu agak-agak ga rela pemdanya bikin rencana menambah piramida kaca seperti itu. Kalau dilihat memang agak-agak ga matching aja dengan lingkungan sekitar. Dikompleks Louvre yang antik itu para piramida yang jadi pintu masuk ke museum jadi seperti bangunan yang nggak jelas apa perlunya ada disitu.

Setelah beli tiket seharga 8 euro, saya mengambil peta museum di meja infomasi. Cuma punya waktu satu setengah jam buat lihat-lihat. Bahkan sekedar skimming pun jelas tidak bisa. Akhirnya dari tiga sayap utama yang ada di Louvre (Richeulieu, Denon dan Sully) saya langsung memutuskan untuk ke Denon. Alasannya, disini ada monalisa-nya Leonardo da Vinci itu (he he he alasan penting dong, nanti kalau ada yang nanya "lo udah ke Louvre belum? lihat lukisan monalisa nggak? wah, lo belum ke Louvre kalau belum lihat monalisa," kan berabe).

Di Hall utama Denon yang jadi pusat perhatian adalah patung Victory of Samothrace, pahatan yunani yang ditemukan tahun 1863 yang melambangkan kebebasan. Karena waktunya sempit saya langsung ke koridor tempat lukisan Itali, yang jelas karya-karya awal didominasi cerita-cerita dari Injil. Banyak lukisan penting, para pelukis penting (ada Botticelli di pintu masuk) yang sayangnya ga bisa dililhat lama-lama dan voila! sampai di deretan lukisan karya Leonardo da Vinci lalu disambung dengan karya Raphael yang mirip abis tekniknya dengan Leonardo da Vinci lalu ke Cavaggio yang mengingatkan saya pada lukisan siapa tuh, yang gambarnya perempuan-perempuan Polinesia itu ? ah, ya:Gauguin.

Dari koridor itu terus berbelok masuk ke tempat lukisan Perancis. Ga familiar dengan lukisan nya kecuali lukisan The Coronation of Napoleon I karya Jacques Louis David dan lukisan Liberty Guiding People karya Eugene Delacroix yang pernah saya lihat di munjid (ensiklopedi bahasa Arab)kakak saya. Lihat jam di HP, waduh sudah jam setengah empat! terburu-buru saya mencari pintu keluar. Waduh, jalan kaki ke Trocadero kayaknya nih. Soalnnya lupa untuk ngecek dimana tempat Metro (trem bawah tanah) dari Louvre ke Trocadero. Ga tahu pula gimana cara naiknya!

Telat setengah jam, huaa Sari dah 'mencak-mencak' lewat sms karena kedinginan. Tapi akhirnya sampai juga. Fiuh!

Skimming Paris
Hari berikutnya agendanya adalah pulang karena kami harus sudah chek in di terminal bus eurolines sebelum jam 11. Alhamdulillah ada si Om yang setuju untuk mengantar kami ke beberapa site yang kemarin belum ditengok. Jadi mampirlah kami ke Arc de Triumph. si Om menganjurkan untuk mengambil foto ditengah-tengah penyeberangan. Boleh gitu om ? "boleh, aja.. turis-turis kalau foto memang disitu" ya sud, karena merasa turis dan turis adalah raja jadinya ga masalah lah foto-foto ditengah lalu lintas gitu.


Dari situ terus diantar lagi ke Louvre untuk foto-foto (kemarin kan sendirian, ga bisa puas foto-foto). Dari situ ke Concorde de lafayette, tugu peringatan (obelisk dari Mesir) tempat louis ke XVI dan Marie Antoinette di guilotinne waktu Revolusi Perancis 1789. Dari situ melewati penjara Conciergerie yang dulu dipakai untuk memenjarakan Marie Antoinette sebelum dipenggal, menuju Notre Dame. Di gereja terpenting dalam sejarah Perancis ini (Napoleon di angkat disini) ada titik yang namanya zero point. Takhyulnya sih kalau menginjak titik ini Insya Allah bisa balik lagi ke Paris. Percaya ga percaya injak ajalah, lha wong ada ditengah-tengah gitu kok, gimana ga keinjak. Tapi yah siapa tahu seandainya Allah mengijinkan bisa lagi lihat-lihat Paris. Bersama xxxx a.k.a "ehem"... mungkin? he he he. Dari Notre Dame, si Om membawa kami ke tugu peringatan tempat dulu berdirinya Penjara Bastille yang terkenal itu. Sekarang penjaranya memang sudah ga ada, tapi katanya kalau malam orang-orang yang mau naik metro dibawah tanah dikawasan mantan Penjara Bastille itu, suka mendengar suara orang menangis atau kisah-kisah penampakan gitulah. Hmm.. Harry Panca kayaknya harus datang tuh ke situ.

Pulang...
Dan akhirnya pulang juga. Ternyata menjalani identitas sebagai musafir itu penting buat refleksi diri. Waktu mengeluhkan fasilitas umum di Jerman yang tidak sebagus di Belanda (duh, kalau di Belanda keretanya ada tatakan makannya, lampu merah ada tombol yang dipencet buat nyebrang, papan nama stasiunnya bagus dan seragam dan bla,bla,bla) hati saya tiba-tiba menegur, apa toh mba, kok membangga-banggakan sesuatu milik orang lain. Saya jadi ingat kalau mau mengeluh tentang pelayanan atau fasilitas yang tidak memuaskan di Universitas saya suka malu sendiri dalam hati. Lha, bisa ada disini aja semua fasilitas dari mereka, bukan punya sendiri. Uangnya juga uang mereka, sudah bisa sekolah gratis juga alhamdulillah.

Dalam hidup kita juga suka seperti itu kan? mengeluhkan hal-hal nggak penting dan lupa, dikasih semua fasilitas kehidupan, itu juga bukannya semua pinjaman dari Allah. Kalau mau membangga-banggakan fisik yang bagus atau kepintaran, loh bukankah semuanya punya Allah ? kok kita dengan belagu-belagunya membangga-banggakan apa yang bukan milik kita ?

Selalu ingat bahwa kita saat ini ada di negara orang juga membuat kita banyak berhati-hati. Kalau mau membeli mantel, membeli sepatu pasti bertanya dulu dalam hati, kira-kira ini akan bermanfaat ga yah di Jakarta? akan menuh-menuhin koper doang ga yah? nanti malah excess baggage, harus bayar denda dsb.

Saya pikir, kalau semua orang ingat prinsip itu. Maka bisa jadi manusia itu tidak akan membuang-buanng diri dalam kenikmatan yangn tidak diperlukan diakhirat nanti. Subhanallah, mungkin itu sebabnya setidaknya sekali dalam kehidupannya, seorang muslim diperintahkan untuk naik haji jika memiliki kemampuan. Sekali dalam kehidupannya, dia berefleksi bagaimana seharusnya seorang musafir dalam kehidupan.

Tuesday, February 07, 2006

Tuesday, January 31, 2006

in a rush ...

Jadinya cuma ingin mengekspresikan kegembiraan dan mengucapkan selamat untuk Hamas (Harakatul Mukawwamat Al Islamiyah) atas kemenangannya dalam pemilu legislatif tanggal 25 Januari kemarin di Palestina.
Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan kekuatan untuk terus berjuang merebut kemerdekaan tanah Palestina. Amin =)

Thursday, January 26, 2006

In memoriam Clara Ejoru

To our bewilderment and unspeakable sadness last Thursday our dear friend and beloved student, Clara Ejoru passed away at the intensive care unit of the Maastricht Academic Hospital.
Last September, at the age of 54, Clara, mother of four children, grandmother and an experienced Primary Health Care Nurse left the Ugandan district where she was working to join this years Master of Public Health course.

She stood out from the beginning as a woman of great strength and ability - with life and work experience matched by nobody in her group. When Clara spoke, everyone was interested. She talked about the reasons she was so determined to complete this study. One reason was her commitment to finding the best ways for Uganda to fight malaria. Another reason was to set an example for her children, about whom she spoke often, as well as for the people of Uganda. She wanted to show that a person should never stop striving for knowledge and new insights, especially when there is the chance to diminish the suffering of one’s people.

Clara had no difficulties with ‘people skills’. In the MPH groups she was open and cheerful and committed; she warmed to people very naturally, and they warmed to her. Her main challenge was not the people, not the MPH course - but computers. She had virtually no previous experience with the use of computers and had to learn it all ‘from scratch’. She did this with humour and determination, though it added an extra challenge for her along with the heavy schedule of the MPH. At each new achievement she shared her joy and pride with those around her. Her positive way of overcoming difficulties set an example for all of us. She taught us that there is no end to the strength of a dedicated woman.

Clara was not only devoted to her study and her people. She was a devoted to her religion as well. She was a Roman Catholic and an active member of the Christian Charismatic Movement, who also showed a deep respect and interest in other religions and other ways of life. Remembering Clara’s deep faith consoles us, who remain behind. We are sure that even though far from her home and the people she loved, Clara would have felt close to God during her last hours.

Clara, we will miss you. Our memories of you - your commitment, your energy and personal warmth will remain with us. You will not be forgotten. Our thoughts are with you and with your family.

Students and staff of the International Master of Public Health

The funeral service will take place in Uganda. We invite you to a service in Clara’s commemorance on Wednesday January 25th at 2 p.m. in the Meditation Centre (Stiltecentrum) of the Academic Hospital Maastricht. Prior to the commemorance service, between 13.30 and 14.00 hours, is a possibility to pay a last respect to Clara in the mortuary of azM.


*fotonya saya yang ngambil di depan gedung Prof.Debylan. waktu itu saya bilang "lihat, kamu cantik sekali Clara." Hiks, ga nyangka kelak akan dipake untuk upacara pemakamannya. Ga mau lagi deh ngambil-ngambil foto close up gitu ....

Wednesday, January 25, 2006

ekonominya kesehatan ...

Berjalan dalam pagi yang hampir membuat hidung saya beku, ada kesyukuran yang menyelinap halus dalam diam. Tidak terbayang bagaimana rasanya jika masih harus bersepeda menyeberangi sungai atau menunggu bis dalam cuaca seperti ini. Sekarang hanya butuh sepuluh menit berjalan (ala Belanda) dari rumah ke kampus. Gym unimaas juga sama dekatnya. Bisa ikut aerobik atau bulu tangkis seminggu dua kali. Hmm... kalau begitu terus-terusan kemungkinan saya balik ke Indonesia dengan perut kotak-kotak nampaknya besar sekali, yah ?

Unit yang baru sudah dimulai. Tentang economic analysis of health care system. Walaupun tentunya punya peran yang vital, tapi secara personal ini unit non-favorit kedua setelah epidemiologi buat saya. Kuliah pertama diberikan oleh koordinator unit ini, Prof. Wim Groot. Saya pikir sebagai kuliah awalan saya akan dapat sesuatu yang lebih fundamental seperti bagaimana hukum ekonomi memainkan perannya dalam pelayanan kesehatan. Tapi ternyata beliau lebih banyak bicara masalah imbas (impact=imbas ?) ekonomi terhadap sektor pelayanan kesehatan.

Ideal. Jelas banget. Lihat aja aktor yang terlibat; pasien, penyedia pelayanan kesehatan dan perusahaan asuransi. Maka pasar (market) dalam ekonomi kesehatan adalah interaksi dari ketiga aktor tersebut. Dan sistem pasar ini bisa mengalami kegagalan ketika terjadi perbedaan kepentingan antar aktor yang terlibat atau dikarenakan ketidaklengkapan atau informasi yang tidak simetris antar aktor. Entah apakah dalam relasi pasien-pelayanan kesehatan, atau pelayanan kesehatan-asuransi, atau pasien-asuransi.

Contohnya begini; sebagai pasien tentu yang diharapkan adalah pelayanan kesehatan yang optimal. Penyedia pelayanan kesehatan punya kepentingan untuk memberikan pelayanan sekaligus tetap bisa mengambil keuntungan, sementara pihak asuransi punya kepentingan untuk mempertahankan klaim serendah mungkin.

Untuk pihak asuransi, kegagalan pasar terjadi dalam bentuk adverse selection (seleksi kepentingan) dan moral hazard (kecurangan kali ya?) yang berupa tindakan curang atau informasi yang disembunyikan. Adverse selection itu terjadi sebelum kita sebagai konsumen membeli sebuah produk asuransi. Misalnya, karena saya merasa sehat, masih muda, makan teratur, rajin olahraga, baik hati pula, maka saya merasa tidak perlu untuk memiliki asuransi. I will voluntarily refuse to joint in an insurance. Atau justru misalnya karena kita penderita AIDS atau punya potensi terkena diabetes secara keturunan, kita akan memutuskan untuk punya asuransi.

Tapi moral hazard itu terjadi setelah kita memutuskan untuk membeli asuransi. asumsinya bisa dilihat dari sebuah penelitian bahwa pengemudi Volvo itu cenderung punya kebiasaan mengebut (kecelakaan) dibanding mereka yang naik mobil biasa-biasa aja (fiat, misalnya). Faktor kenyataan bahwa Volvo adalah sebuah mobil yang diklaim punya tingkat keamanan yang tinggi, nilai klaim asuransi yang besar, jadi faktor pemicu yang signifikan terhadap perilaku pengemudi.

Adverse selection ini bisa menimbulkan kesulitan bagi perusahaan asuransi karena ... (hmm.. gimana yah dia bilangnya..) harga asuransi itu sama untuk setiap konsumen (involved cost), sementara perusahaan asuransi tidak tahu secara pasti berapa pengeluaran untuk pembiayaan kesehatan untuk tiap individu (expected cost). Karena asuransi itu pada dasarnya adalah berbagi beban, tentu saja ini bisa mengakibatkan beban besar pada pembiayaan kesehatan yang ditanggung asuransi (preminya juga jadi besar). Cara mengatasinya bisa dengan menerapkan compulsory insurance sebagaimana yang terjadi di Belanda, dimana tidak punya asuransi adalah sebuah pelanggaran hukum, atau bisa juga membuat paket-paket asuransi dengan harga yang berbeda untuk pasar usia, kelompok, yang berbeda.

sementara moral hazard dalam skema asuransi muncul dalam bentuk pengabaian terhadap tindakan preventif dalam kesehatan atau bisa juga dalam pemborosan pelayanan kesehatan. Tindakan ini bisa muncul dalam situasi dimana ada konflik kepentingan, ada potensi keuntungan dalam relasi 'perdagangan' jasa kesehatan, dan ada biaya besar yang harus dikeluarkan dalam mencari informasi yang relevan dengan kondisi konsumen asuransi. Maka solusinya yang pertama tentu mengalokasikan dana untuk pengawasan perilaku, ada juga dengan yang namanya risk sharing- and partial insurance (co-payments) atau dengan reward di masa akhir perjanjian berupa bonus bagi konsumen ketika tidak ada klaim atau minimum klaim selama masa perjanjian.

moral hazard juga bisa terjadi dari sisi penyedia jasa kesehatan. Sebagai pihak yang paling tahu tentang kondisi pasien, moral hazard bisa terjadi dalam bentuk intervensi medik yang tidak perlu. Maka untuk mengontrolnya, kita perlu melihat pada skema pembayaran tenaga medik yang digunakan.

Selama ini, ada tiga jenis sistem pembayaran yang digunakan; fee for services (apa bahasa indonesia gampangnya ?), kapitasi dan gaji. Ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam skema pembayaran ini. Yang ffs misalnya. keuntungannya adalah adanya insentif untuk produktifitas physician a.k.a dokter, penghargaan secara finansial-lah. Kerugiannya bisa mendorong dokter untuk melakukan intervensi medik sebanyak mungkin, membuat dokter tergoda untuk melakukan intervensi medik seorang diri tanpa me-refer pasien ke pelayanan lanjutan, pada akhirnya kuantitas yang dinilai, bukan kualitas. Sistem semacam ini yang bisa membuat anda dan saya sebagai pasien, cuma kebagian lima menit bahkan kurang untuk curhat pada orang asing berjas putih itu tentang hal-hal pribadi. Sementara kita sebagai pasien dituntut untuk pintar berkeluh kesah dalam waktu sesingkat itu, membedakan mana yang batang (keluhan utama) dan mana yang cabang (keluhan sampingan) in order he can see what's wrong with you.

Lalu ada sistem kapitasi. Dimana yang jadi ukuran adalah pasien. Contohnya di Belanda, setiap huisarts (GP) punya jatah untuk menangani pasien dalam jumlah tertentu dengan jatah harga pengobatan (plafon) tertentu dari asuransi. Setiap orang terdaftar sebagai pasien pada seorang arts (dokter). Saya punya dokter sendiri dimana ketika saya sakit, ke dokter itulah saya datang. Bahkan ketika saya dalam keadaan emergensi datang ke rumah sakit secara go-show(Ini cuma bisa dilakukan setelah jam lima sore atau pada akhir pekan), dokter dirumah sakit tetap akan merefer saya untuk kembali dulu ke GP pada akhirnya setelah memberikan pertolongan seperlunya.

Keuntungannya adalah secara administasi ini sistem yang sederhana untuk dimasukan dalam budget pemerintah atau perusahaan asuransi, juga jadi keuntungan bagi dokter yang melakukan tindakan berbeda (tidak semua tindakan dihitung secara terpisah). Negatifnya adalah mendorong untuk mengumpulkan pasien sebanyak mungkin dan juga mendorong dokter untuk melakukan tindakan seminimal mungkin dan merujuk ke pelayanan lanjutan secepat mungkin (toh, mau dikasih tindakan banyak atau sedikit, dapatnya sama aja).

Lalu ada skema penggajian. Secara administratif dan budget ini mudah dan sederhana. Tapi negatifnya lebih banyak dibandingkan yang lain, dalam skema semacam ini, dokter-dokter bisa tergoda untuk lebih abai lagi karena tidak ada insentif untuk menjamin ketersediaan pelayanan yang mencukupi dari dokter, mendorong dokter untuk melakukan tindakan medik seminimal mungkin, kemungkinan mendorong dokter untuk merujuk pasien ke pelayanan lanjutan juga lebih besar dan yang paling menyedihkan adalah tidak relasi antara 'prestasi' dengan reward bagi dokter.

jadi bagaimana untuk mencapai 'neraca keseimbangan' pasar dimana kondisi itu diartikan sebagai jaminan tersedianya pelayanan yang optimal bagi pasien (kepentingan pasien) dengan biaya yang memuaskan semua pihak (jasa kesehatan-asuransi-pasien) ? ini kan artinya sama saja dengan tidak ada intervensi medik yang berlebihan, tapi juga tetap ada intervensi medik yang dibutuhkan. Tahu kapan waktunya merujuk pasien ke pelayanan lanjutan dan tahu kapan saatnya untuk tidak, dan tentunya kualitas pelayanan kesehatan yang optimal.

maka katanya (Prof.Wim Groot), sistem yang optimal itu merupakan perpaduan dari skema kapitasi (fixed amount per patient) dan fee for services. Kombinasi kedua sistem ini diharapkan bisa menjamin pelayana kesehatan yang optimal. Kapitasi akan mendorong dokter untuk melakukan sesedikit mungkin tindakan dan mendorong rujukan, sementara fee for services mendorong dokter melakukan sebanyak mungkin tindakan dan seminimal mungkin aktifitas rujukan. Sistem kesehatan di Belanda menggunakan kombinasi ini. Misalnya, secara sederhana seorang GP mendapat bayaran sekitar 45 euro per year per patient dan 9 euro per tindakan.

Hmm... dari situ salah satu dasar darimana datangnya tindakan 'konsultasi kejar setoran' atau 'merujuk yang ga penting' yang selama ini banyak kita alami. Ini yang namanya permasalahan sistem. Saya tidak familiar dengan terminologi yang dipakai di ilmu kedokteran. Tapi untuk Eropa, nama Kleinman adalah nama yang populer sebagai orang penting dalam kedokteran yang mengembangkan doctors-patient relationship. Saya bisa bayangkan betapa terdengar sangat idealnya itu di bangku kuliah tapi tidak ketika duduk menghadapi pasien dalam sebuah sistem ekonomi yang tidak tepat.

Jadi ingat juga dengan tempat kerja saya. Indonesia bisa dibilang adalah pasar kesehatan yang tidak lengkap.Mungkin bagi pasien kami, tempat kami adalah sebuah insurance yang tidak mungkin mereka bisa raih dalam kondisi biasa. Ketidaktahuan, antusiasme (?) bisa membuat seorang pasien datang sebulan sekali atau dua kali ke klinik dengan keluhan yang ga jelas. Dengan pasien sebanyak itu saya akan apresiate (eh,ini bahasa indonesia bukan?) sekali pada mereka yang berusaha bertahan untuk meberikan pelayanan secara sungguh-sungguh. Tapi jadi penasaran juga sih, kemarin-kemarin kok kayaknya angka rujukan dan kunjungan yang tinggi jadi semacam 'modal' untuk unjuk gigi seberapa besar tingkatan pencapaian yang sudah dilakukan. Hmm... mudah-mudahan memang karena kasusnya memang harus dirujuk.

*oaahm.. bobok ah...*

Oke ini lanjutan yang kemarin, tapi saya pikir skema pembayaran kombinasi ini bisa dicoba di LKC. Mengingat ada kondisi dimana fixed income mungkin dah mulai tidak sebanding dengan jumlah kepesertaan yang terus meningkat. Setiap pasien dapat jatah first fisit untuk datang satu bulan sekali misalnya--kecuali emergensi, atau berdasarkan pemantauan dokter memang butuh datang lagi setelah kunjungan pertama, dan mungkin untuk beberapa kasus penyakit--tbc ? diabetes ? dunno (butuh analisa epid dan hitung-hitungan yang lebih valid buat tahu angka kunjungan ideal, tapi ini kan andaikan), dalam satu tahun. Kebijakan ini gunanya agar kongruen dengan program edukasi promotif dan preventif, memberikan informasi kesehatan yang peka kultur (butuh community assesment dulu untuk dapat gambaran sosial demografi yang lengkap--optimalisasi tim survey dan kepesertaan--n baca lagi unit 1 soal community assesment dan unit 2 soal research methodology) untuk bisa secara bijak memanfaatkan pelayanan pengobatan dan berperilaku hidup sehat secara bersamaan (hmm,... perlu baca lagi masalah critical anthropology di unit kemarin). Entah, mungkin harus ada pembagian kategori pasien berdasarkan waktu berobat (adopsi dari sistem kapitasi dimana dokter bertanggung jawab atas sejumlah pasien yang terdaftar sebagai pasiennya) sehingga tiap dokter jaga (pagi-siang-malam) bisa memantau kondisi pasien lebih intensif. juga untuk menghindari kejomplangan jumlah kunjungan ? is it a good idea ? atau malah jadi rumit ? terus bagaimana dengan skema pembiayaan dengan asuransi keluarga miskin ? hmmm...gimana kalau konsultasi sama Anya soal kemungkinan ini jadi salah satu usulan master thesis ?