Wednesday, November 30, 2005

Lewat Lebaran ...

Iedul Fitri kemarin jelas momen yang istimewa. ini sebagian fotonya. Pukul delapan pagi, saya sudah ke El Fath Moskee. Teman-teman juga ternyata sudah ada disana duluan. Masjidnya dua lantai, kami yang perempuan shalat dilantai atas. Bapak-bapak dilantai bawah. Menjelang pukul sembilan orang semakin banyak yang berdatangan. Paling banyak sih kayaknya yang dari Maroko. Tapi yang dari Afrika juga banyak. Wanita keturunan Maroko menggunakan mantel (abaya?)dengan semacam kapucin (tutup kepala) diujungnya, saya perhatikan demikian pula dengan kaum lelaki. Bedanya yang perempuan menggunakan warna-warna seperti merah muda dan biru, sementara bapak-bapak warnanya lebih netral seperti putih atau abu-abu.Pukul setengah sepuluh shalatnya dimulai. Dan seperti biasa, pasti ada anak kecil yang nangis he he he, biasanya saya dan kakak saya pulang shalat akan menghitung-hitung berapa bayi yang nangis Iedul Fitri ini. Habis shalat Ibu-ibu membagikan kue-kue manis. Makanya Iedul Fitri di Belanda juga dikenal sebagai Pesta Gula (bahasa belandanya lupa) karena kebiasaan mereka masak yang manis-manis. hmmm, di Indonesia berati mestinya Pesta Santan dong yaa...
Pulangnya ke Wisma Duta di Wassenar. Dan malamnya makan-makan ala Lebaran di tempat Bang Hasanul. Dan akhirnya foto-foto ...

Sunday, November 27, 2005

lontong sayur! akhirnya ...


yes! akhirnya sukses juga masukin foto! dari kemarin2 gitu loh nyobanya... oh ya ini foto lontong sayur yang dirindu-rindukan itu. Waktu mau main ke Delft, sudah request sama Uni Rini buat dibikinin lontong sayur. dan Uni yang baik hati itu mengabulkannya dengan senang hati. Eh, waktu kita main ke Den Hague, things just get better karena 'orang pentingn sedunia' ternyata sudah menyiapkan gule. subhanallah, hebat juga si Bapak!

Hmmm ...yummi

winter time

Cuaca makin buruk. Kemarin-kemarin saya masih bersimpati sama ikan atau daging yang disimpan di kulkas. Betapa menderitanya mereka tinggal dalam suhu seperti itu. Tapi sekarang saya merasa mereka jauh lebih beruntung dari manusia di Belanda. Karena disini, cuaca dengan suhu sedingin kulkas itu masih ditambah dengan angin yang saya jamin bisa merontokkan payung paling tangguh sedunia. Untuk pertama kalinya saya beryukur bahwa berat saya … kg. karena kalau lima kilo saja kurang dari itu, saya pikir selalu ada kemungkinan saya terbawa terbang. Matahari ada, namun tidak berfungsi dengan baik. Jadi dalam terang benderang, saya mengepul-ngepul seperti es krim tiap kali menghembuskkan napas.

Dan akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa ketahanan fisik yang saya andalkan untuk menghadapi dingin dan hujan selama ini,sudah mencapai level maksimal. Jadi, pulang pergi menyebrangi sungai Maas, bersepeda bersama traxxy, bagaimanapun bukan pilihan yang paling bijak. Naik bis? Aduh, ga tahu kenapa yah setiap kali naik bis disini saya bawaannya kok mau m*****h. Padahal tentu aja bis disini lebih bagus lah appearance-nya dibanding 510 yang dekil bin dekumel itu. Alergi sama supir yang rapi kali ya ? he he. Dan sebenarnya naik sepeda itu sangat membantu dalam lift up my mood yang kadang suka kebawa bete sama cuaca. Jadi naik bis setiap hari juga bukan favorit saya. Alhamdulillah ada Daru yang dengan baik hati membolehkan saya ikut tidur di kamarnya di Hotel Randwijk yang terletak pas didepan kampus. Kamarnya Daru double room, ada dua ranjang tapi Daru hanya tinggal sendiri. Jadi lah saya—apa tuh namanya?—kommuter ? baru pulang ke kamar dua hari sekali.

Cuaca memang topik yang menarik. Saya tidak bisa membayangkan pedihnya jadi orang miskin atau tuna wisma disini. Saya yakin menggelandang tanpa rumah, atau tinggal di rumah kardus yang tiap hujan bocor dimana-mana, pasti tidak menyenangkan. Tapi setidaknya di Indonesia tidak ada cuaca ‘sekejam’ ini. Kita tidak dipusingkan dengan outfit dan segala persiapan menghadapi musim dingin. Tiap kali keluar rumah harus bersiap dengan mantel, pakaian dua lapis (jangan lupa long jhon), sepatu boot, tutup kepala hingga telinga karena dinginnya cuaca bisa bikin pusing, sarung tangan dan syal untuk menutupi hidung dan mulut dari terpaan angin. Waktu masih naik sepeda, seringkali saya sampai dikampus dengan wajah kebas karena dingin.

Melihat musim dingin seperti ini, jadi ingat pada cerita Gadis Kecil Penjual Korek Api-nya Hans Christiaan Andersen. Saya tidak pernah habis pikir kenapa cerita semuram itu bisa masuk kategori dongeng untuk anak-anak. Bukannya dongeng harus membuat pembacanya bahagia? Gadis miskin akhirnya jadi permaisuri bersepatu kaca ? makhluk buruk ternyata pangeran tampan nan baik hati? Hidup bahagia selamanya? Dan mati pelan-pelan di tengah dinginnya salju dalam pengharapan akan makanan dan kehangatan, sama sekali tidak masuk kategori itu. Ada disini, semakin membuat saya mengerti penderitaan anak kecil penjual korek api itu.

Saya terkejut waktu merasakan sesuatu yang menyesakkan dada ketika main ke Achen. Menggigil dalam mantel wol dan bersarung tangan ditengah suhu 9 derajat celcius, saya melihat seorang bapak-bapak berdiri berjualan makanan yang tampaknya seperti hotdog. Tidak memakai ‘gerobak’ dorong atau kedai jalan, tapi berdiri dengan tabung gas di punggung, dan tubuh yang menyangga kompor yang didesain melingkari pinggangnya. Orang itu jadi kios berdiri dengan payung besar yang juga disangga tubuhnya. Berdiri dalam dingin, membolak-balik hotdog seharga 80 sen ditengah-tengah hilir mudik orang berbelanja. 80 sen!tidak sampai satu euro! Entah kenapa rasanya kasihan sekali. Saya tahu tidak semestinya saya mengasihinya. Orang itu melakukan pekerjaan terhormat dan sama sekali tidak tercela. Pastinya juga menerima tunjangan dari negara seperti umumnya di negara kaya. Tapi saya merasa tenggorokan saya tersumbat melihatnya berdiri membolak-balik hotdog ditengah kelimpahan materi. Negeri ini kaya, pendapatan per kapitanya melimpah, tidak semestinya ada warga negara mereka yang berdiri dalam dingin yang menggigit tulang seperti ini, menjual makanan seharga 80 sen. Semestinya tidak boleh ada wanita tua duduk ditengah dingin tanpa mantel, syal dan sarung tangan yang melindunginya dari dingin, mengemis meminta belas kasihan. Mestinyakan sekolah disini tidak terlalu susah, sistem sosialnya menunjang seseorang untuk berprestasi sebaik mungkin dibidang apapun yang mereka suka, sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang lebih besar manfaatnya daripada menjual hotdog 80 sen ?

Ah, jadi ingat juga bahwa saya merasakan hal yang sama ketika suatu kali seorang tukang cobek lewat didepan rumah, lalu bapak saya berkata, “coba bayangin,berapa orang yah yang butuh cobek hari ini ?” waktu itu saya tidak mengerti mengapa saya sedih melihat tukang cobek atau tukang patri. Mungkin juga karena pertanyaan bapak saya itu. Iya, ya... seberapa besar harapan hidup dari menjual barang yang mungkin diganti lima tahun sekali ? berapa orang yang pancinya bocor hari ini ? sementara mereka harus makan tiap hari dan bayar kontarakan setiap bulan. Saya ingat waktu SD dulu saya suka membeli jajanan yang namanya Cilok. Itu makanan yang terbuat dari sagu kenyal, di makan dengan saus kacang bercampur saus sambal yang kental. enak tapi tentu aja ga sehat he he. Dan tenggorokan saya juga tercekat ketika melihat bapak-bapak yang sama, dengan sepeda yang sama, masih menjual cilok yang sama, sementara saya sudah lulus SMA, kuliah ditempat idaman saya, kerja, dan yang lainnya. Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidup saya dan bapak itu kok masih juga menjual cilok ? tidak kah waktu berbaik hati menawarkan kesempatan lain ? mobilitas lain ?

Mereka yang tahu betapa kayanya Indonesia pasti juga merasakan sesuatu yang menyesakkan dada kalau melihat kemiskinan yang berserakan. Mereka mungkin berpikir, negeri ini begitu kaya. Dengan gunung, laut dan hal-hal indah lainnya, mestinya mereka bisa cukup kaya untuk membuat waktu menciptakan kesempatan bagi penduduk mereka untuk tidak terjebak melakukan hal-hal yang ‘putus asa’ seperti berkeliling menjual cobek, cilok, mencuri jangkar kapal atau mempreteli marka jalan untuk bertahan hidup ?

Dan mungkin juga mereka berpikir, untungnya, Tuhan memberi orang-orang kulit perunggu ini matahari yang setia

*kemarin salju turun buat yang pertama kalinya. waktu Oktober, mereka bilang kami beruntung karena Oktober yang biasanya banyak hujan, tahun ini hangat dan bersinar. dan mereka juga bilang kalau kami beruntung, musim dingin ini juga akan ada salju. hmmm.. we're so lucky then*

Friday, November 18, 2005

puisinya faiz

masih ingat kan anak kecil yang menang lomba menulis surat untuk presiden itu ? saya paling suka main ke tempatnya. main deh. ini salah satu puisinya (izin ya faiz, puisinya kakak pinjam, abis bagus sih!)

PERTANYAAN TENTANG CINTA

Apakah cinta
selalu menyediakan airmata?

Apakah cinta
selalu menyediakan harapan?

rindu yang berdenyut di nadi
rela dan maaf di sanubari,
uluran tangan tanpa pamrih
kurasa itu cinta

dan ketika kau memutuskan
untuk memeluk Tuhan
di sepanjang jalan berliku
kurasa itu paling cinta

(Desember 2003)

Thursday, November 17, 2005

anggur masam ...

Ini copy paste dari blognya Poppy

CASE 1 Getting married is like going to a restaurant with friends. You order what you want, then when you see what the other fellow has, you wish you had ordered that.
CASE 2 At the cocktail party, one woman said to another, "Aren't you wearing your wedding ring on the wrong finger??" The other replied, "Yes, I am. I married the wrong man."
CASE 3 Before a man is married, he is incomplete. Then when he is married, he is finished.
CASE 4 Marriage is an institution in which a man losses his bachelor's degree and the woman gets her master's status.
CASE 5 A little boy asked his father, "Daddy, how much does it cost to get married??" And the father replied, "I don't know son, I'm still paying for it."
CASE 6 Young son : "Is it true, Dad, I heard that in some parts of Africa, a man doesn't now his wife until he marries her?" Dad : "That happens in most countries son."
CASE 7 Then there was a man who said, "I never knew what real happiness was until I got married, and then it was too late."
CASE 8 A happy marriage is a matter of give and take; the husband gives and the wife takes
CASE 9 When a newly married man looks happy, we know why. But when a ten-year married man looks happy, we wonder why. Affair ?
CASE 10 Married life is very frustrating. In the first year of marriage, the man speaks and the woman listens. In the second year, the woman speaks and the man listens. In the third year, they both speak and the neighbours listen.
CASE 11 After a quarrel, a wife said to her husband, "You know, I was a fool when I married you." And the husband replied, "Yes, dear, but I was in love and didn't notice it."CASE 12 A man inserted an 'ad' in the classified : "Wife wanted". The next day, he received hundreds letters. They all said the same thing "You can have mine."
CASE 13 When a man opens the door of his car for his wife, you can be sure of one thing : either the car is new or his wife is new.
CASE 14 A woman was telling her friend : "It is I who made my husband a millionaire." "And what was he before you married him?" the friend asked. The woman replied, "A multimillionaire."

---
he he, kok jadi bahas tema2 kayak gini sih dari kemarin? he he ga tauk juga kenapa. joke diatas ga familiar sih sama kehidupan orang Indonesia. kalau baca itu kan kayaknya married itu suck banget. tapi dalam kenyataan di kehidupan saya jarang sekali tuh nemuin kehidupan pernikahan yang pelakunya depress sampe muncul joke kayak gitu. rata-rata yang saya tanya--termasuk yang saya copy paste blognya--pasti bilang menikah itu enak, ibadah dan belajar ikhlas terhadap satu sama lain. see...

saya ingat waktu nenek saya meninggal, kakek saya begitu terpukul sampai-sampai kesehatannya ikut drop, ingatannya, psikisnya juga melorot drastis dan sekitar satu tahun berselang, beliau menyusul nenek.

Disini, yang suka bikin saya feelin blue bukan pasangan muda yang bersemangat memamerkan api cintanya membara dimana-mana, tapi saya suka terharu kalau papasan sama pasangan kakek-kakek dan nenek-nenek yang berbelanja, nyebrang jalan, atau sekedar duduk di halte menunggu bis, dalam diam sambil berpegangan tangan. isn't that sweet ? maksudnya, bangun tiap pagi dan melihat satu wajah yang sama for the rest of your life ? i dunno ...pasti namanya bukan lagi cinta. entah, persahabatan ? persaudaraan ?

Yang nyiptain joke itu mengingatkan saya sama cerita srigala dan anggur masam. tau ceritanya ? ada srigala yang ingin makan anggur. tapi sayang pohon anggur terlalu tinggi buat dicapai. makanya, karena kesel, dia ngedumel ke semua binatang yang dia temuin, "anggurnya asem,anggurnya asem... pahit, ga enak" ha ha ha. kayaknya yang bikin joke diatas salah satu contohnya.

karena kalau semua married beneran kayak gitu, ga mungkin poppy kasih komen diujung joke seperti ini :
...anyway married is not too bad like all points laaa...Wanna Try ?

wanna sih pay, tapi merindukan lontong sayur dan sate ayam aja udah cukup membuat menderita. menambah satu orang lagi didaftar 50-hal-yang-saya-harap-ada-disini?
let me think about it =)

*but of course, hidup kita, kadang sama seperti bajaj di Jakarta. Cuma Tuhan dan sopir bajaj yang tahu dia mau belok kemana ha ha*

Wednesday, November 16, 2005

Who's talk about lonely ?

Loneliness Quotient: 28%

Your Personalized Assessment Report:

An LQ of 28 is on the lower end, and this is quite a good thing. You may experience occassional loneliness, but you are definitely on the healthier side of the spectrum. Your relationships with friends are not a source of loneliness for you. You are doing well in this area. Your family is also not a source of loneliness for you. Sometimes family can put a strain on your life, but in your case things seem to be okay. Your romantic life, however, is a source of some dissatisfaction. It is imperative that improvements be made in this area to lower your LQ. Finding a guy to share your life with will help. You're a bit shy, which will be an obstacle in finding satisfying romance, but you should overcome this. Thankfully you live in an area where there are your type of people around. Finally, a bright spot for you is that you don't suffer any major insecurity issues. This fact helps keep your LQ lower than what it might have been.

Take the Loneliness'>http://www.datingdiversions.com/lq.html">Loneliness Quotient Test at Dating Diversions


Your dating personality profile
You matched the following traits:
Religious - Faith matters to you. It is the foundation that you build your life upon. You trust that God has a plan for you.--yeap.couldn't say more about it
Practical - You are a down-to-earth individual who is not impressed with material excess. You care about the stuff of like that really matters.--that so me
Big-Hearted - You are a kind and caring person. Your warmth is inviting, and your heart is a wellspring of love.--aaaaaah.... ga segitunya... but hey, thanx

Your date match profile:
You match with men who have following traits:
Practical - You are drawn to people who are sensible and smart. Flashy, materialistic people turn you off. You appreciate the simpler side of living.--wow,you know alot didn't yah ?
Religious - You seek someone who is grounded in faith and who possesses religious values. You believe that a religious person can enhance your life.--setuju.
Traditional - You aren't looking for someone who is sexually repressed. You want someone who is adventurous under the covers.--hmmm...you mean someone like Batman? hehe ..

Your Top Ten Traits, Ranked
1. Religious
2. Practical
3. Big-Hearted
4. Conservative
5. Traditional
6. Intellectual
7. Wealthy/Ambitious
8. Adventurous
9. Outgoing
10. Sensual

Your Top Ten Match Traits, Ranked
1. Practical
2. Religious
3. Traditional
4. Big-Hearted
5. Shy
6. Intellectual
7. Adventurous
8. Funny
9. Romantic
10. Sensual

I have met that kinda guy as i recall. it's Charles Ingalls from Litle House on The Prairie. O boy, I am hopeless. that man was already dead.

Saturday, November 12, 2005

Orang Islam di Eropa

Tanggal 15 nanti insya Allah ada studium generale dari Prof.Dr.Tariq Ramadan. Tempatnya di collegezaal-nya UM yang di Tongersestraat. itu dekat tempat saya. wuah, seneng banget dan mudah-mudahan bisa datang buat lihat beliau. Pertama kali baca tentang bapak ini seingat saya di majalah Hidyatullah dan dari situ langsung terkagum-kagum dan ingin tahu lebih jauh tentang pemikirannya. beliau itu cucunya imam syahid Hasan Al Banna tea (kata Astri, oh yang bikin al ma'tsurat itu yah ?*dezig!*).

Ga tahu deh apa kedatangan beliau itu ada hubungannya dengan kejadian kerusuhan di Paris beberapa waktu lalu. Tapi yang jelas, mengamati perkembangan Islam di Eropa itu memang menarik. Saya kaget waktu baca sebuah artikel tulisan Christiato Wibisono di Suara Pembaruan yang diposting di milis. kaum imigran Timur Tengah justru berani menuntut hak eksklusif, separatis dan sektarian secara agama, sosial dan budaya. Mereka memberlakukan syariah di kota-kota, di mana Islam adalah mayoritas dan tidak mengakui hukum perdata yang sudah berlangsung sejak zaman Napoleon. wuah ? masak sih ? kok ga pernah dengar yah ada kota di Eropa yang memberlakukan syariat Islam ? minta daging ada label halalnya aja ga bisa. Yang jelas kemudian ada reaksi dari bang Anto yang menjawab rasa jengah saya waktu baca artikel ini. karena merasa ada sam ting wong aja sama analisanya kalau mengkait-kaitkan antara pembunuhan Theo van Gogh di Belanda beberapa waktu lalu, bom di Madrid, London sampai kerusuhan di Paris sebagai mata rantai mikro dari jihad global kelompok garis keras Islam di seluruh dunia. Ah gak segitunya kaleee...itu menyederhanakan persoalan namanya. Tapi sudah, yang jelas ga tertarik buat bahas tulisan ngaco gtu.

Waktu akan berangkat ke sini,ada yang bilang ga usah khawatir di maastricht itu banyak orang maroko dan turki kok, orang ga aneh lagi melihat perempuan berjilbab. dan betul juga. di kampus saya berseliweran anak-anak kedokteran dan kebidanan yang berjilbab. satu dua saya kenal juga akhirnya. mereka rata-rata dari belgium atau ga jerman. biasanya sudah generasi kedua atau ketiga imigran dari Turki. Kalau yang Maroko, rata-rata warga negara Belanda. salah satunya mba-mba resepsionis di guesthouse saya.

Tadinya ga tahu kalau dia itu muslim, sampai suatu ketika waktu Ramadan kemarin, saya komplain karena kulkas dan lampu dapur saya mati. "im fasting this month, i had to take breakfast very early in the morning, n i dont want to disturb my roomate by turn on the light." dia trus bilang "Oh, ya.. saya juga puasa!" ya, jadilah tahu kalau si mba itu muslim.

Waktu ke Gementee juga saya dilayani sama mba-mba yang cantik sekali seperti Nova Eliza. saya tanya anda asalnya darimana? karena pasti bukan belanda. dia bilang dia orang Maroko dan balik tanya kamu muslim (ya, ampun si mbak! gak lihat nih kudungan ?) dan dia bilang dia juga pakai jilbab sehari-hari, tapi tidak ditempat kerja.

Di kampus saya sendiri, tidak ada kesulitan untuk menunaikan shalat. karena kami bisa shalat di masjid (buat definisi orang indonesia mah, itu mushalla) rumah sakit yang nyambung dengan kampus. Biasanya saya akan bertemu kaum lelaki kalau saya shalat during peak hour, yaitu waktu awal shalat. karena mushalanya kecil (mungkin untuk 10-15 orang) dan tempat wudhunya satu, yang perempuan biasanya akan datang setelah peak hour tersebut.

dan tentu aja, momen terbaik untuk bertemu dengan komunitas islam di maastricht adalah waktu shalat idul fitri kemarin. aduh, jadi bungah aja melihat mereka semua. Waktu itu saya shalat di Al Fath Moskee, masjidnya orang Maroko.Orang Turki shalat di masjid turki yang letaknya berdampingan dengan Al Fath. aneh banget kan ? waktu saya tanya kenapa, ternyata di masjid turki mereka khutbah dengan bahasa turki, dan di masjid maroko, khutbah dalam bahasa arab. Jadi yang orang turki lebih comfort buat shalat di tempat yang pake bahasa merekalah. Kalau bacaan alquran sama aja, pakai bahasa arab. hanya beda dalam pelafazan kayaknya.

Namanya minoritas, diawal-awal saya punya expektansi yang tinggi. mengingat kalau di Indonesia, kalau ketemu yang jilbaban pasti seneng banget. langsung tukeran salam, tanya-tanya. Dan begitu disini, saya berharap saya dapat kondisi yang serupa. tapi .... ternyata nggak tuh. Paling mentok kalau papasan ya bilang assalamualaikum, ada yang cukup sampai senyum, dan ada juga yang bikin senyum kita ga selesai dan menguap diudara karena ga ada sambutan. Tapi kalau ketemunya waktu shalat biasanya akan lain. bapak-bapak biasanya akan menyapa "sister, do you want to take wudhu?", "sister,have you finished your shalat?" dan ada satu pertanyaan yang lama-lama bikin kesel, yaitu "sister, are you from Malaysia ?" arrrgh,c'mon, walaupun bagaimanapun meskipun apapun yang terjadi, indonesia itu negara dengan populasi muslim terbesar gitu loh, masa tidak kepikiran?

Tapi jangan berpikir juga kalau semua orang Islam disini taat semua. waktu puasa kemarin Irene bilang kalau dia punya banyak temen Turki yang muslim but they did not practice. contohnya si syahid. Syahid bilang alasannya ga puasa karena dia badannya kurus, nanti kalau puasa dia bisa sakit. saya pernah ketemu sama si syahin ini dan ... kalau dia kurus, aming apa dong namanya. Atau tukang doner kebab halal yang ga tahu kapan waktu buka puasa tiba karena dia ga puasa. padahal secara penampakan arab sekale.

Dan ga semua juga warga imigran itu punya status sosial terhormat seperti dokter atau perawat. Karena sejarah datangnya imigran ke Eropa itu karena kebutuhan tenaga buruh, Sperti di Perancis itu, yang cuma jadi tukang bangunan, penjaga wc atau kriminil juga banyak.

Kalau baca tulisan CW itu, kesannya umat Islam di Eropa gimanaaa gitu.saya jadi ingat waktu ikut acara buka puasa bersama di pusat budaya unimaas. aduh, anak smu bisa bikin acara buka puasa yang lebih mutu daripada ini deh. Kalau soal makanan sih ga masalah, tapi konsep acaranya itu loh yang ga jelas. mereka mau ngapain sih ? berhubung waktu itu yang datang bukan cuma orang Islam, tapi ada juga mahasiswa belanda, itali dan lainnya, mbok yah acara intinya dipakai untuk mengenalkan Islam gitu loh. saya ingat, cuma ada cowok manis (ehem!) yang ngebuka acara itu selama lima menit dengan menjelaskan islam berlandaskan ayat pertama surat Al-Alaq: Iqra! dari penjelasan yang cuma sebentar itu terus diem deh, nungguin maghrib. pas maghrib datang ya makan-minum. Kami yang dari Indonesia terus menunggu-nunggu kapan dipanggil untuk shalat. sampai akhirnya lamaa banget baru kami bertanya sama salah satu anak Maroko kenalan bang Hasanul. Ga ada acara shalat maghrib ? eh dia balik nanya, memang biasanya gimana? lhoo? gimana si mas ini...walhasil akhirnya kami shalat maghrib juga.

Setelah itu acaranya putar filem dokumenter. film yang pertama lumayan, ceritanya tentang tiga orang muslimah di Belanda yang pergi kemping di pinggir pantai.Tapi selama film itu berlangsung dan sesudahnya ga ada diskusi mendalam soal isu-isu yang ada didalam film tadi. saya malah lebih asyik diskusi dengan mahasiswa psikologi asal belanda yang tanya-tanya soal jilbab dan sebangsanya. dia kaget waktu saya bilang muslimah di Indonesia bisa menikmati hidup seperti apa adanya. Kemping doang mah biasa banget, kami bisa pergi ke gunung berhari-hari menggembol carrier yang beratnya lebih dari 5 kilo. Masa sih ? menurut kami memakai jilbab itu mengekang kalian, makanya melihat mereka (muslimah2 di film itu) kemping seperti itu aneh sekali. Wah, dia ga tahu kelakuan akhwat di Indonesia seperti apa (wink2).

Begitulah, sepanjang film kami bisik-bisik soal apa arti memakai jilbab dan betapa buat kami itu adalah sebuah kebebasan dan kontrol sepenuhnya terhadap tubuh kami sendiri. Setelah film yang menarik tadi, dilanjutkan dengan film yang muram soal perang di Chechnya. aduh, saya ga ngerti apa maksudnya mereka pasang film itu. dan saking bosannya, rombongan dari Indonesia memutuskan untuk pulang duluan sebelum acara selesai.

Dan sepanjang perjalanan pulang, sambil kehujanan dan kedinginan saya bertanya-tanya, masyarakat muslim di sini bagaimana sih, ngapain aja sekian lama mereka disini ? Tapi begitu baca latar belakang kehadiran mereka di Eropa paska PD II (terpicu oleh tulisan CW tadi) jadi ngerti deh, bahwa perjalanan umat islam di Eropa itu masih jauuuuh dan panjang buat sekedar memberi makna yang signifikan pada masyarakat Eropa.

Makanya terkaget-kaget membaca tulisan itu, karena kalau melihat kenyataan disini, kayaknya analisa model CW begitu omong kosong banget. Jauh panggangan dari sate! mas Anto bilang: tidak reliable dan tidak valid.


mimpi itu datang juga

Tadi malam mimpi pulang ke Indonesia!! dalam mimpi itu saya dah pesan tiket, mau pulang buat liburan, dan telepon mamah, teteh, mba dan aa buat sediain semua menu ala lebaran, ketupat sayur, semur daging, kerupuk udang, sambal goreng ati, siomay, pempek, sate ayam di gang tiga, es cendol elizabeth dan semuanya dan ternyata (dalam mimpi itu) tiket saya ketinggalan, lalu ceritanya naik sepeda dari Schipol, Amsterdam ke guesthouse ambil tiket, balik lagi, eh paspornya ketinggalan, balik lagi ke guesthouse dan sebelum ketahuan KLM-nya masih menanti atau tidak, saya udah bangun duluan ....

huhuhu ....

lalu paginya dapat quetioner dari Catherine, temanya: MPH Homesickness

just right about the time ....huhu... huhu ...

ketupat sayur, sambal goreng ati, rendang, semur, kerupuk udang, pempek Arundina, nasi uduk mpok marni, cakwe lampu merah cibubur, siomay dan batagor dimana saja, bakso atom ciputat, sate ayam gang tiga, lontong sayur betawi di deket pom bensin depan LKC,boloo2, bu gendong, warung steak and shake...

i miss u all DESPERATELY .....

*the end of honeymoon phase between me and netherland*

Wednesday, November 09, 2005

Pertanyaan yang aneh ...

Pertanyaan ini dilontarkan Lozan, anak Irak warganegara Jerman yang ambil biomedik di Unimaas.

dia: "are you married ?"
saya: "No, not yet, but I will" (nyengir)
dia: "so you have a boy friend?'
saya: (Hah?nah lo! lagi sih pake ngomong gitu) "ayyyyy ...Im not sure.NO! I dont have a boyfriend"
dia: "so you have someone on your mind?"
saya:*menyipitkan mata--n then garuk2 kepala--duh, coba saat ini saya bisa manjat dan lihat isi kepala saya sendiri--garuk2 dagu--rolled my eyes--garuk2 kepala lagi---akhirnya ....*
"No. I dont think so"

heran juga, susah amat jawabnya.

Jadi ingat kalau pernah dapet pertanyaan serupa lebih kurang tiga tahun yang lalu dari 'orang penting se-dunia' waktu harus memutuskan 'perkara penting se-dunia'.

dan masih sama aja cara menjawabnya.

payah.


Monday, November 07, 2005

nyuri2 waktu

Lagi dikelas Epiinfo. kita lagi break setengah jam karena Martien baru nyadar materi pelatihan yang tadi dibagi2in ke kita terlalu complicated *alhamdulillah! akhirnya nyadar juga!* pusing karena kedinginan, rok, celana panjang, sepatu dan kaus kaki semuanya basah! (pagi ini hujan dan menurut perkiraan cuaca akan terus begitu selama satu minggu) dan kayaknya akan seperti ini karena seminggu ini training epiinfo dimulai dari jam 9 sampai jam 5 sore. tewas deh!

wuah, om martien dah datang dengan modul baru...
break is over!
kembali dalam penderitaan sampai jam lima sore nanti..

Tuesday, November 01, 2005

Bahasa Pengingatan

Ahad kemarin ikut pengajian online lagi. Saya bisa bilang, ini salah satu hiburan ruhani saya disini. Selalu ada yang rasa yang menyusup ke relung hati tiap kali punya kesempatan 'hadir' dimajelis-majelis seperti ini. Tak peduli materi yang disampaikan sudah saya dengar, sudah saya baca puluhan kali.

Manusia itu pelupa, makanya ripitasi pengingatan itu penting dalam kehidupannya. Allah, Yang Maha Tahu, menunjukkan betapa mudahnya kita lupa lewat pengingatan berulang-ulang soal janji indah tentang surga dan ancaman neraka. ripitasi, pengingatan, dari berbagai sudut dari berbagai sisi, dan akhirnya kita bisa temukan, Islam itu bak kristal yang dari sudut manapun kita pandang, selalu ada perspektif baru, selalu ada keindahan baru yang kita temukan. Tak akan pernah bosan.

Maka, seperti yang dikatakan Jeffrey Lang di bukunya Struggling to Surrender, Al Quran itu seolah-olah tahu pikiran dan suara hati orang yang sedang membacanya. satu ayat bisa jadi begitu personal dalam situasi yang kita hadapi. pernahkan mengalami seperti itu ? lagi bingung, frustasi, bete, buka Al Quran dan kita dibuat terheran-heran dengan betapa ayat yang disaat lain 'ga bunyi', tiba-tiba pada momen itu rasanya 'nyesss' aja di hati.

Jadi, begitulah bahasa pengingatan. Bermain melalui simbol, tanda, momen. Saya pernah ingat satu pertanyaan yang diajukan seorang sahabat, pada seorang sahabat lainnya yang juga menuntut ilmu di negeri ini, sebelum saya. "Apa yang mengingatkan kamu tentang kami ketika ada disana?". itu pertanyaan yang manis sekali. Dan saya ikut terpikir iya, yah, apa yang akan mengingatkan saya tentang mereka jika suatu saat saya akan terpisah ribuan mil jauhnya.dunia ini penuh bahasa simbol.

saya ingat saya selalu suka bau tanah kering yang tersentuh hujan karena itu mengingatkan saya pada kesenangan mandi hujan waktu kecil, jika main ke daerah puncak, bau asap yang sangat khas dari tungku masak di dapur tradisional rumah-rumah penduduk, mengingatkan saya pada liburan sekolah dirumah nenek di Garut.Dan ketika disini, air mata saya meleleh ketika pada suatu kumpulan majelis ilmu, tiba-tiba saya mengingat mereka, wajah-wajah mereka, senyuman, taujih, nasihat, senda gurau, keseleboran, kegilaan tapi balik lagi saling mengingatkan untuk beristighfar.Ah, betapa saya merindu mereka ...

namun tentunya yang membuat saya terenyuh adalah kesempatan yang Allah berikan. Dalam jarak ribuan mil jauhnya dari sebuah tempat yang saya namakan rumah, tempat iman ditanam dan disemai, Dia masih mengumpulkan saya kembali dalam majelis yang penuh keberkahan kasih sayang-Nya. Mengingatkan saya pada sebuah kenyataan yang menenangkan, bahwa seasing apapun semua ini bagi saya, tanah ini adalah kepunyaan-Nya, kekuasaan-Nya. tak ada satu inchi pun yang lepas dari pengawasan-Nya. saat itulah saya ingat, saya tidak pernah sendirian dan tidak semestinya merasa kesepian...

"Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah) dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu ...Bukankah dia mendapatimu sebagai seorang yatim dan Dia melindungimu ? dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk ?" (QS.Ad-Dhuha)

Thursday, October 27, 2005

Sepuluh Hari Yang Tak Terhitung Lagi ...

Tadi pagi melongok kalendar. Saya mengernyitkan kening. Berapa hari lagi ? tadi malam, malam keberapa ? ganjil ? genap ? Betapa mudahnya waktu menyublim dalam hitungan jam kuliah, exam, jadwal belanja dan perpustakaan.

beberapa waktu kemarin saya kirim sms kepada sepada seorang sahabat di jakarta. Saya bilang, aku mulai 'capai' dikau tahu apa obatnya ? Yah. capai. bukan kelelahan fisik, tapi entah apa namanya. yang jelas lebih sulit daripada berkilah ini fase pre period yang memang biasanya bikin mood jadi jelek.

dan suatu pagi, dia kirim balasan :bagaimana hari ini ? merasa lebih baik atau capek? saranku, ketika dikau merasa lelah, pikirkan bahwa sekarang ini kau sedang menjalani apa yang menjadi impian-mu, yang tidak semua orang diberi kesempatan sedemikian. Jalani dengan kegembiraan, hei, kau kan attin kami yang ceria,lucu, dan cerdas. Diatas semua itu ALLAH ada bersamamu, doa kami-orang2 yang mencintaimu-selalu menyertaimu. BERSEMANGAT!ALLAHUAKBAR!

katanya, sabar itu dilahirkan dari jiwa yang senantiasa bersyukur.

terbaring di mushalla rumah sakit akademi, berpikir tentang syukur dan sabar

Wednesday, October 26, 2005

sukses!

Alhamdulillah, akhirnya proposal research selesai, dan kemarin baru presentasi. Ini exam untuk unit research. Heran juga, secara sederhana sih belajar bikin tesis. tapi karena sejak menulis hingga persiapannya dirancang serius, mau ga mau bawaannya serius juga mengerjakannya. Dan hari-hari terakhir menjelang presentasi jadi rada senewen karena semua dosen maupun teman yang kuliah tahun kemarin semua bilang " Wah, selasa kalian presentasi yah ? gud lak yah.", "mudah-mudahan sukses." dan sebangsanya yang malah bikin senewen karena jadi mikir, aduh, memang segitunya yah? ini kan cuma presentasi power point biasa gitu loh.

Tapi karena beberapa hari sebelumnya Hannerieke mendatangkan seorang profesor muda nan pandai (iyalah, profesor) a.k.a suaminya khusus buat ngelatih kita presentasi, saya jadi menangkap pesan, oh, dia mau kami benar-benar serius soal ini. Ditambah lagi Clive Lawrence, guru kursus bahasa inggris (gampangnya gitu) anak MPH juga sudah minta kami presentasi di pertemuan. Mengkoreksi grammar , suara, lafal ('health' should be using your tongue) mengingatkan untuk tidak lupa 'to put emotion on your presentation' ah, dibikin gila deh dengan semua ini. Saya ga akan se-senewen ini kalau aja semua orang tidak bikin kesan ini penting. Ditambah lagi hannerieke bilang Anya Krumeich, Math Candell dan mungkin juga Mickey Chenault akan datang. Mau ngapain lagi kalau nggak nanya-nanya. dan mereka semua orang-orang yang bikin kita suka takjub sama logika berpikirnya.

Dan akhirnya hari H-nya datang juga. Bulak balik latihan presentasi di LINK sama Clara dan Elida dari jam sepuluh, saling kasih pujian buat encourage satu sama lain. dan teng, jam setengah dua akhirnya datang. Kelompok kami yang pertama. hasilnya ? he he he he ....Orang bule tuh kadang suka bikin gimana. Ga tanggung-tanggung kalau muji.

Hannerieke "nice presentation, well structured also, I really like ur presentation. I see ur enthuasiasm, you really enjoy yourself, rileks, good respons to the question, good management on time, u must have done alot of hard,hard, work on it." (huhuhu you tell me, maam) Anya bilang: "nice presentation. with this so much sheet (ada 30an lembar) i can still follow what you deliver, which is not an easy thing to do. I can still follow you and that mean this is a nice one." he he tuh, kan kalau udah digituin bingung kan responnya gimana, harus lebih mature daripada senyum-senyum salting kan, iyalah master gitu loh. Pingin bilang komen standar "ah, enggak, biasa aja." kan ga cool banget. Anya nanya hal-hal yang "Anya banget"--seorang constructivist sempurna--, yang saya pikir cuma ngasih perspektif alternatif penelitian kami. Cukup melegakan, karena saya yang kebagian urus-urus soal theoretical framework sudah deg-degan kalau-kalau ada yang salah dengan teori yang kami pilih dan model yang kami buat. Dosen yang satunya--lupa namanya-- cuma nanya masalah kenapa ada bagian penelitian yang menggunakan FGD instead deep interview, dan Elida yang urus soal methodologi bisa kasih jawaban yang memuaskan. Jadi secara keseluruhan, ga ada masalah dengan isi, dan presentasi kami bagus. Alhamdulillah.

Puas. Karena memang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Walaupun hasilnya tidak bagus, saya yakin saya akan tetap puas. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah mereka tahu betul bagaimana membuat kami bersungguh-sungguh dan sangat menghargai semua itu. apapun hasilnya. Jadi ini rupanya salah satu kunci kemajuannya. put a lot of effort, put a lot of appreciate.

Saya ingat waktu di wisuda, tak henti-hentinya saya menatap wajah-wajah yang antusias akan pengalaman baru di atas balkon. menyanyikan lagu "Pahlawan Muda", "I Have A Dream" dan lainnya.Berjanji akan buka kepala buka mata buka telinga sungguh-sungguh dengan apa yang dijanjikan oleh nama besar Universitas Indonesia. dan betapa antusiasme itu, janji itu kadang-kadang terlupakan oleh banyak hal yang baiknya tidak usah dibahas disaat-saat happy seperti ini he he he. Yang jelas waktu itu, saat wisuda, saya menyesal. saya tahu bahwa hanya sedikit keseriusan yang saya curahkan dalam waktu-waktu saya di kampus, dan betapa kadang saya kehilangan antusiasme karena tidak tahu apa guna dan maksud mata kuliah yang saya ambil. dan terbersit janji kalau diberi kesempatan, saya akan lebih sungguh-sungguh belajar.

Rupanya Allah menguji saya untuk belajar menepati janji.

Kemarinnya lagi baru terima nilai exam unit I dari Anya. Alhamdulillah, nomor dua dari yang paling bagus. Tinggal lebih serius dan kerja lebih keras di unit-unit berikutnya.

*sepuluh hari terakhir. terbayang teman-teman di Indonesia yang pasti sudah merancang-rancang akan itikaf dimana...*

Saturday, October 22, 2005

next unit

ketika membuka webmail, sudah ada pengumuman dari Mariette Cruijsen kalau time table unit 3 tentang epidemiologi sudah bisa didownload. Masya Allah! full! lima hari dalam seminggu, rata2 --unit kemarin masih ada satu hari kosong-- dimulai pukul 8.30 atau 9.00 dan baru berakhir pukul 15.30 atau ga jam 17.00. glek. matahari saja baru menampakkan wibawanya sekitar pukul 8.07, alias baru remeng-remeng.

kordinatornya: Martin van Dongen. itu bapak2 dengan suara nge-bass dengan penampakan seperti Einstein. pernah kasih lecture soal sampling. saya ga akan sanggup cerita 10 % aja dari isi kuliah itu. lebih baik baca buku aja langsung. kata Muhammad, anak Sudan yang tahun lalu ambil MPH (sekarang lagi siap2 mo ambil PhD), Martin van Dongen aja udah berat. Martin itu punya banyak hal di kepalanya yang ingin ia bagi tapi bukan seorang komunikator yang baik. persoalan lain, epidemiologi sendiri sangat banyak muatannya. dan mereka mau mentransfer itu dalam waktu kurang dari satu bulan ? this is going too much. tipsnya, kata dia lagi, focus on the theory, do not pay all ur attention to assignment (on training ?). gubrak. gimana maksudnya mas ? ini unit dimana exam kami berupa pertanyaan katanya (unit 1 sama Anya krumeich presentasi dan essay, unit 2 dengan Hannerieke van derBloom research proposal dan presentasi)

unit ini juga isinya antara lain pelatihan spss dan EpiInfo. duh, spss lagi, statistik lagi. mata kuliah yang dulu hanya berkat rahmat Allah Yang Maha Esa, saya bisa lolos dengan hasil ngepas. me and number, i think God never create us for each other. it belong to some one else in the world like marie currie may be, but obviously not me.

tapi lihat sisi positifnya.kami akan begitu sibuk hingga lupa untuk merindukan kampung halaman dan handai taulan, bukan ?
so, epi or not epi ...
mangga atuh ...

Friday, October 21, 2005

roti goreng isi sosis

ini sih sebenarnya akal2an spaya keliatan sedikit usaha gitu loh buat nyumbang ta'jil iftar (buka puasa). tapi memang alasannya bisa dibenarkan kok. kalau saya masak dirumah berarti harus pulang dulu yang akan sangat membuang waktu dan tenaga. akhirnya saya putuskan untuk masak dirumah Nurul. Sampai disana langsung tanya punya tepung panir ga? ada roti ga? punya telur ? minyak goreng? hihi ga niat amat sih nyumbang. semua kecuali roti ada.oke, daku segera terbang ke Plus dibelakang rumah Nurul. balik dan langsung ngegeratak dapurnya. ada apa tuh, gilingan kue? bungkus2 sosis pake roti, goreng, potong sambil dibantu Elida n Nurul akhirnya roti gorengnya jadi juga. Bang Hasanul bilang rotinya enak, buatan siapa ?buatan ade (Nurul)? bisa dijual nih--sang koki nyengir bahagia--soalnya Nurul ada rencana buat bikin bisnis kue.

resepnya ditulis karena mas Ari tanya-tanya dengan sungguh2 gimana bikinnya. Maklum, sebagai lajang temporal, blio juga harus masak sendiri dan sejauh ini hasilnya eatable semua. gud job, Mas! sekaligus terinspirasi dari dapurnya teh inong yang suka saya intipin itu. resepnya feasible untuk diaplikasikan dilapangan dengan rasa yang sudah teruji validitas dan realibilitasnya itu (huhuy, hannerieke-tutor saya di unit ini --pasti bangga sekali krn saya sukses mengaplikasikan metode perencanaan riset)

jadi gini bikin cemilan ta'jil atau teman nonton tipi yang tktp(tinggi kalori,tinggi protein) itu, mas;

bahan:
roti
sosis (aku beli sosis turki yang namanya tavuk apa gitu.enag soalnya)
telur
tepung panir
garam
n merica

rotinya digepengin sampai tipis, gulung sosis didalamnya, masukin ke dalam campuran telur yang udah dikasih garam dan merica, n then go on to tepung panir. goreng,angkat, iris serong biar nyeni dikit, suguhin pakai sambal asam manis atau yang pedes, pasti tambah sip, n voila! here come the roti goreng. bon appetite!

Thursday, October 20, 2005

Kesiangan!!

kagak sahur deh aye!huhuhuhu ...

seeingat daku ini pertama kali dalam sejarah perpuasaan melewatkan sahur--ampe ditulis di blog!--huhu jadi inget my mommy. Pasti Blio mikirin aku deh--ngaku deh mom!--terharu biru kalau denger cerita anaknya ga sahur karena ga ada yang bangunin-pasti mamah bilang teng teungieun nya, meni karunya pisan anaking, nu geulis,nu bager...*sundanese only*

secara retrospective ceritanya gini ...

ini gara2 kemarin tewas setelah pulang dari kampus. jam lima langsung nyerah begitu liat bantal. rencana belanja jadi gagal karena saya baru bangun jam setengah tujuh, lima belas menit lagi azan maghrib, belum masak, belum bikin ta'jil, ga ada air panas buat bikin teh manis, huaaa kalau ga ingat di indonesia bbm naik, udah nangis kali--hiks,cemen sekale. di kulkas masih ada yoghurt, jus dan coklat tapi dingin semua, lagi batuk n mild cold, bad idea kalau nekad minum itu duluan.

tapi lima belas menit masih lumayan, dgn tampang masih ngantuk saya nguplek bikin pisang goreng pake pisang ambon--dunno how they call it right here but surely it's pisang ambon to me--ngejerangin air, eh salah nyalain stove, in case airnya mendidih malah poci ekspresso-nya Irene yang menggelegak--kata irene, thank u, now i can drink a coffe--ya wis, itung2 amal (yee, amal kok ga niat gitu).

azan dari komputer menggema sebelum semua matang.duh,duh... samber gelas, ambil poci air, bismillah, glek2 eh baca doa dong neng, ya,ya Allahumma lakashumtu ... alhamdulillah...
itu acara iftarnya.

tapi karena tidurnya kesorean, matanya masih kuat melek sampai malam. selesai tarawihan, akhirnya baca da vinci code pinjeman dari Ayako--maaf dunia,baru sekarang ngebaca-- sampai lewat tengah malam. n that's how, saya jadi kesiangan. Alarm di jam disetel jam lima, alarm di hp disetel jam lima lewat lima, subuh jam enam lewat 20. Daku memutuskan lima menit lagi deh bangunnya... eh kebablasan sampai jam enam lewat 26. huhuhuhu...

jadi inget rumah. dulu alarmnya kalau ga bapak ya mamah. ga pernah seisi rumah kompak kesiangan. Makannya walau kadang diem2an, karena masi antara ada dan tiada, tapi tetep semangat karena makan rame2. sekarang, sambil makan terbengong2 ngeliatin kepala irene yang nyembul dari balik selimut, sesekali kedengeran suara pintu yang ditutup, mungkin anak lain yang baru pulang setelah keluyuran malam, atau juga yang mau pipis,walaupun yang ini kemungkinannya tipis, karena daku biasanya yang pertama bangun dan menggunakan toilet, tanya aja ama jin di toilet, pasti dia setuju *jin di toilet mengangguk2*

hari ini iftar bersama, alias open fasting together at nurul's, ga nyumbang masakan karena masih harus diskusi sama Elida n Clara soal proposal n presentasi. cuma beli sosis dari toko turki buat digoreng--males banget deeeh loo--n then mo nginep di daru's at randwijck hotel, jadi insya Allah ga kesiangan lagi karena sekarang ada temen yang bisa bangunin buat makan sahur bersama....

Wednesday, October 12, 2005

Godaan ...

Susah buat jaga mata. TV dah mati dan kebetulan Irene juga ga terlalu suka nonton kecuali tenis atau balapan motor yang namanya formula itu (kayak odol aja). Fiuh! coba kalau seleranya yang syerem2 kayak Sex and The City --disini bebas sensor yah,horor deh--bisa-bisa ga betah dikamar. Tapi godaan dilapangan malah lebih berat, tiap hari, disetiap sudut ada aja yang pameran kasih sayang, huaa jadi ... apa ayo!? istighfar! jangan mikir yang macem2!

bentuk lain, dari temen2 deket. Ayako bilang "How about if we go to the Jazz Festival?" saya :"Mmmh, sound nice, what time it will perform ?"
Ayako :"Around two o'clock after midnight."
Saya :(huek!malam bulan Ramadhan, mestinya atur rendevouz ama Allah disepertiga malam dan saya kongkow2 dengerin jazz?) "wah, saya ga bisa. saya kan puasa,inget ?"
Ayako: "Oh ya, kamu kan harus bangun pagi-pagi yah"
saya :"pergi aja ama Dani yah, kapan2 kita jalan2 ke tempat lain"

atau malam2 abis bikin pure kentang buat besok sahur, mau siap2 shalat isya trus tarawih, Irene ama Carol dan seorang temennya datang dah pada wangi,cantik. saya (pake piama,pakaian kebesaran kalau pulang dari kampus)
Carol : "Attin, ada anak Perancis yang ulang tahun, datang nyok!"
Saya: (wuaduh, gimana yah?) "Wah, asyik banget, tapi maaf yah, minggu ini berat banget buat aku."
Carol :"Lho,kenapa?"
Saya: "Aku harus masukin proposal riset aku."--white lie,white lie,ngeles tapi kurang lebih gitu kok ...
Irene: "Tapi kamu belajar melulu, ayo dong sekali-kali ikutan pesta."--yeah, n so does my fellow countrymen yang berjuang susah payah buat dapetin scholarship ini.---
wuaduh, ni anak kekeh banget.
Saya: "well, actually party itu is not my thing, not part of my culture, so i think i would not really gonna enjoy it anyway, but thanks for ur invitation" (hah, udahlah daripada panjang)
Irene: "Oh, ya udah tapi kapan2 kita makan bareng yah ama temen2ku,ama Dani dan temen jepang-mu
Saya: "that's sounds great!"

Fiuh...

Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau. Engkau penciptaku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada diatas janji-mu, menunaikannya semampuku. Aku berlindinng kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, Aku akui banyaknya nikmat yang Engkau anugerahkan kepadaku dan aku akui banyaknya dosa-dosaku, maka ampunilah aku karena tiada yang dapat mengampuni segala dosa-dosa kecuali Engkau ...

Thursday, October 06, 2005

Pindah,Nggak,Pindah ...

Waktu saya pertama sampai di Browerswerg (nama guesthouse saya), pikiran pertama yang terlintas adalah, “Pokoknya kudu musti wajib hukumnya, pindah!”. Alasannya antara lain, saya sebenarnya mau yang single room, eh dikasih yang double room. Saya mau yang dekat kampus (Heugemerwerg) eh dikirimnya ke sini sehingga harus mendaki jembatan menuruni lembah cuma buat ke kampus. Dan juga kebanyakan teman saya yang dari Indonesia, tidak tinggal disini, tapi jauh diseberang jembatan, dekat-dekat kampus dan heugemerwerg.

Tapi sudah hampir satu bulan dan kayaknya saya harus mengevaluasi lagi, mikir masak-masak dan sungguh-sungguh apakah pindah itu menjamin kebahagiaan saya lahir batin ? apalagi menjelang winter begini. Ini beberapa hal yang disusun dari hasil mikir masak-masak dan sungguh-sungguh itu.

Browerswerg

Positif
--Jauh dari kampus.
Nilai positifnya ? banyak. Badan jadi sehat. Karena dengan udara dingin kayak gini, saya jadi lebih banyak makan, lebih banyak ngemil. Kalau nggak diimbangi dengan aktivitas fisik,seperti sepedaan bisa-bisa balik ke Indonesia saya jadi Winnie The Pooh. Ditambah lagi, sebenarnya perjalanan pulang balik ke kampus itu menyenangkan, karena Maastricht—seperti yang sudah saya bilang—itu indah dan punya banyak beautiful scenery. Ada taman, ada sungai, bunga, pohon, ya banyak dah!
--Ada koneksi internet.
Bisa online kapan aja, silaturahim ama warga Jakarta, chatting ama yang dikangenin (sapa tuuh ? temen2 daku lah...), Browse bahan kuliah or isi perpustakaan dengan mudah, tanpa harus pergi ke kampus
--Berdua alias double room
Belajar sabar, ikhlas, tenggang rasa ama kebiasaan roommate yang ga lazim menurut ukuran orang Indonesia. Belajar kultur orang yang beda bangsa, beda agama, sekaligus jadi duta bangsa, duta pariwisata (u know, Indonesia has 17.000 islands and we have cendol ice, bandrek and bajigur n bla,bla,bla…), duta umat islam (kebanyakan teman-teman saya bilang kalau mereka ga pernah kenal sama orang islam sebelumnya. Saya adalah muslim pertama yang mereka kenal. Hope I could make right impression about Islam). Lagipula ini kan latihan sebelum nanti akhirnya Allah pertemukan dengan ‘teman sekamar’ beneran *wink2. idih,ganjen!*
--Tempat Belanja
Ada Brusselsport (pertokoan yang isinya Albert Heijn, C1000 (tutup jam delapan),C&A, etc.) Aldi, Centrum dan toko Turki. Ini penting karena bahan makanan disini cepet banget rusak. Jadi ga bisa belanja banyak-banyak. Sementara supermarket dan toko umumnya tutup jam lima. Jam segitu saya baru pulang dari kampus
--Pemandangan
Kalau mau belanja saya bisa lewat ‘hutan’ kecil di belakang guesthouse tempat saya ngeliat tupai, burung yang ndut2 --yang sama Xiu Jing, teman saya dari China, sama2 kepikiran buat kapan2 ditangkap dan dibikin sate—dan keanekaragaman hayati lainnya (ini kata guru biologi saya di smu dulu)
--Kopi
Ada jatah kopi dan kue gratis yang disediakan oleh pihak guesthouse di Koffiecorner (yang juga bisa jadi tempat alternatif tempat belajar kalau terkantuk2 baca dikamar) tiap pagi dan sore. Buat yang coffe addict, ini tentu aja fasilitas yang harus diperhitungkan dengan serius.
--Fasilitas
Kalau mau bersih2 tinggal pinjam vacuum cleaner, mau nyetrika pinjam setrikaan sama guesthouse. Mesin cuci bayar—tapi toh, bisa nyuci di wastafel—tapi mesin pengering (yang bisa mengeringkan sekaligus bikin baju licin kayak disetrika) itu gratis, mau telepon ke Indonesia juga ada telepon umumnya.
--Teman
Ada Dani, Ayako, Karen, Mei Ting,Xiu Jing, Khadi. Go dan Oey juga bisa diitung walaupun beda tempat. Segitu udah lumayan. Dan koridor saya cukup tenang, di tempat lain, suka pada ngeluh karena kebiasaan anak-anak Spanyol dan Itali yang suka ngumpul dan ngobrol2 ampe pagi itu.kalau pindah, u never know …
--Murah
Ini penting jadinya bisa nabung. Buat beli buku, beli baju, beli mobil, beli rumah, beli helikopter atau buat kuliah lagi *gubrak. Pingsan*
--Dapur sendiri Bisa masak kapan saja, apa saja sesuka saya. Mereka yang dapurnya komunal selalu punya resiko kehilangan bahan makananlah, dapurnya joroklah karena ga ada yang mau bersihin seperti ditempat Xiu Jing.

Negatif
--Jauh dari kampus
Capek. Kalau berangkat Cuma lima belas menitan—or lebih singkat sebenarnya kalau punya nyali buat ngebut—tapi pulang ? huhu bisa ampir satu jam karena nanjak. But then again, emangnya kita sapa? Ari Wibowo, ga boleh capek ?
--Berdua
Ga private soal ibadah. Walaupun my roomate itu anak yang baik dan manis dan bisa dikasih pengertian soal beginian (dia bakal matiin teve, atau matiin musik atau ga bicara keras2 kalau saya lagi shalat) tetap aja ga terlalu nyaman. Tapi kan, dia jadi tahu keseharian orang Islam yang sebenernya ya gitu2 aja. Kita berdua bisa nonton Harry Potter bareng, atau dengerin Counting Crows abis itu dia bisa aja pergi party dan saya bisa ngaji. Biasa aja.
--Jauh dari teman2 sebangsa dan setanah air Tapi ... so what gitu loh ? karena kalau dekat pun toh kalau ngerjain tugas, baca buku ya sendiri2. semua punya hobi dan kesukaan masing2. ga akan mungkin kemana2 bergerombol seperti anak2 Thailand itu.

Heugemerwerg (kalau dapat) atau tempat lainnya

Positif
--Dekat dari kampus.

Sebenarnya kenapa yah saya butuh yang ke kampus dekat ? kamu bakal butuh tempat yang dekat dari kampus kalau dikamar ga ada koneksi internet. Kayak Elida yang tiap hari kudu bawa laptop ke kampus karena janjian chatting sama suaminya *ga ada yang diajak janjian kan ?*
--Dapur Komunal
Karena dapur bareng, aspek positifnya adalah penghuni guesthouse jadi saling kenal karena sering ketemu di dapur. Interaksi antar budaya lebih mungkin.But then again, from scale 1-10, how important is that ?
--Single
Ini kalau dapet. Ya jelas jadi lebih tenang soal ibadah. Bisa lebih serius. Tapi … aspek syiarnya ya ga ada. Cuma buat kenyamanan saya seorang. Mungkin saya bakal asyik di kamar dan orang-orang pikir saya lagi ngerakit bom atau apa. Hua! Kagak lucu! dengan image umat Islam yang babak belur seperti ini, saya ga bisa melakukan banyak hal kecuali dengan menunjukkan bahwa orang Islam baik hati dan tidak sombong adanya, seperti saya! *qe qe qe...*
--Dekat dari perpustakaan kota
Yup, ini yang agak berat karena dah denger banyak cerita ‘indah’ soal perpustakaan kota yang isinya .... novel dan buku cerita!!!!

Negatif
--Scenery
Ga tahu. Tapi seandainya dapat tempat seperti Heugemerwerg itu di daerah pemukiman kota. Yang pemandangannya bangunan semua. Dibanding browerswerg? Naaateeeng! *ngikutin MTV Bujang*
--Mahal
Sekarang saya cuma bayar 11,5 euro per nite. Ditempat lain bisa murah tapi harus dipertimbangkan juga fasilitasnya. Kalau harus mikirin tissue toilet atau beli setrikaan ya sama aja dodol. Di Heugemerwerg mereka bayar 13 euro pernite
--Ga ada koneksi internet
Udah mahal, ga ada koneksi internet pula. Elida bisa pakai Wi-Fi tapi karena ga langganan dan Cuma nangkep sinyal yang betebaran diudara jadinya …Elida Zairina online –sepuluh detik kemudian—Elida Zairina ofline… dan begitu seterusnya…itu pun sambil nongkrong di jendela. Bisa masuk angin sementara disini ga ada yang bisa ngerokin. Nope.
--Dapur Komunal
Ini bisa berarti kehilangan bahan makanan atau dapur berantakan (Astri pernah kehilangan selusin telur, Elida pernah kehilangan Indomie walaupun dua hari kemudian balik lagi dengan merek yang beda).
--Tempat Belanja
Kalau di Heugemerwerg adanya Lidl. Kalau mau ke Centrum mereka harus nyebrang jembatan. Nope.
--Dekat dari kampus
Negatifnya bisa jadi berarti terancam ndut, kolesterol naik, darah tinggi, diabetes, osteoporosis, operasi jantung *exxagerate mode ON* ga sehat, karena makan banyak tapi sepedaannya ya Cuma gitu2 aja.

Jadi, dengan sekian banyak pertimbangan itu ...Bisa nebak kan saya ambil keputusan yang mana ? Bismillah ...

Wednesday, October 05, 2005

Bagaimana Rasanya ...

...puasa di negeri orang ?
bukan negara muslim ....
jauh dari keluarga ...
jauh dari sahabat yang mengingatkan ...
jauh dari hingar bingar azan ...
suara imam ...
tanpa spanduk yang ribut berkata "Marhaban ya Ramadhan ..."
????????????

sedih ?
u tell me ...

Bulan Sya'ban ini habis dengan segala kesibukan menyesuaikan diri dengan ritme hidup yang baru. Dan harus saya akui, ada yang terabaikan dengan segala kericuhan hidup satu bulan belakangan ini. Dan saya hanya bisa menggigit bibir menahan tangis waktu saya bicara dengan Mamah saya di telepon. Gimana shalat Dhuhanya ? jangan lupa shalat malam, baca Al Qurannya gimana ? semua yang dilakukan di Indonesia, harus dipertahankan di Belanda. Dan saya tidak sanggup menjawab dan hanya bertanya gimana mba ? Aa? semua keponakan ?sekedar menghindar dari evaluasi yang mengiris hati seperti itu.

Sedihnya terasa menyesakkan di tenggorokan.

----
Dan pada suatu waktu saya tidak dapat berkata apa
kecuali terpekur dalam diam mendengarkan hati saya yang tak sanggup bersuara kecuali

"Maafkan hamba,
maafkan hamba
duhai Dikau yang
tak pernah alpa mencurahkan kasih dan sayang
pada semua makhluk-Nya
maafkan hamba.
sepenuhnya..."





Saturday, October 01, 2005

sedih ...

paginya sudah dapat kabar kalau BBM jadi naik

siangnya dapat kabar kalau ada bom meledak di Jimbaran dan Kuta

sedih

sampai-sampai nangis sepanjang jalan menuju kamar

panas hati dengerin CNN


ya Allah tabahkan ummat, tabahkan bangsa kami

jangan hukum kami jika kami lupa atau tersalah

jangan berikan cobaan yang tak sanggup kami memikulnya

jangan berikan cobaan sebagaimana telah Engkau coba orang-orang sebelum kami

ampuni kami ...

sayangi kami ...

tinggikan derajat bangsa kami Ya Rabbi ...