I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It's when you know you're licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do. ~Harper Lee, To Kill a Mockingbird, Chapter 11, spoken by the character Atticus
Wednesday, January 25, 2006
ekonominya kesehatan ...
Unit yang baru sudah dimulai. Tentang economic analysis of health care system. Walaupun tentunya punya peran yang vital, tapi secara personal ini unit non-favorit kedua setelah epidemiologi buat saya. Kuliah pertama diberikan oleh koordinator unit ini, Prof. Wim Groot. Saya pikir sebagai kuliah awalan saya akan dapat sesuatu yang lebih fundamental seperti bagaimana hukum ekonomi memainkan perannya dalam pelayanan kesehatan. Tapi ternyata beliau lebih banyak bicara masalah imbas (impact=imbas ?) ekonomi terhadap sektor pelayanan kesehatan.
Ideal. Jelas banget. Lihat aja aktor yang terlibat; pasien, penyedia pelayanan kesehatan dan perusahaan asuransi. Maka pasar (market) dalam ekonomi kesehatan adalah interaksi dari ketiga aktor tersebut. Dan sistem pasar ini bisa mengalami kegagalan ketika terjadi perbedaan kepentingan antar aktor yang terlibat atau dikarenakan ketidaklengkapan atau informasi yang tidak simetris antar aktor. Entah apakah dalam relasi pasien-pelayanan kesehatan, atau pelayanan kesehatan-asuransi, atau pasien-asuransi.
Contohnya begini; sebagai pasien tentu yang diharapkan adalah pelayanan kesehatan yang optimal. Penyedia pelayanan kesehatan punya kepentingan untuk memberikan pelayanan sekaligus tetap bisa mengambil keuntungan, sementara pihak asuransi punya kepentingan untuk mempertahankan klaim serendah mungkin.
Untuk pihak asuransi, kegagalan pasar terjadi dalam bentuk adverse selection (seleksi kepentingan) dan moral hazard (kecurangan kali ya?) yang berupa tindakan curang atau informasi yang disembunyikan. Adverse selection itu terjadi sebelum kita sebagai konsumen membeli sebuah produk asuransi. Misalnya, karena saya merasa sehat, masih muda, makan teratur, rajin olahraga, baik hati pula, maka saya merasa tidak perlu untuk memiliki asuransi. I will voluntarily refuse to joint in an insurance. Atau justru misalnya karena kita penderita AIDS atau punya potensi terkena diabetes secara keturunan, kita akan memutuskan untuk punya asuransi.
Tapi moral hazard itu terjadi setelah kita memutuskan untuk membeli asuransi. asumsinya bisa dilihat dari sebuah penelitian bahwa pengemudi Volvo itu cenderung punya kebiasaan mengebut (kecelakaan) dibanding mereka yang naik mobil biasa-biasa aja (fiat, misalnya). Faktor kenyataan bahwa Volvo adalah sebuah mobil yang diklaim punya tingkat keamanan yang tinggi, nilai klaim asuransi yang besar, jadi faktor pemicu yang signifikan terhadap perilaku pengemudi.
Adverse selection ini bisa menimbulkan kesulitan bagi perusahaan asuransi karena ... (hmm.. gimana yah dia bilangnya..) harga asuransi itu sama untuk setiap konsumen (involved cost), sementara perusahaan asuransi tidak tahu secara pasti berapa pengeluaran untuk pembiayaan kesehatan untuk tiap individu (expected cost). Karena asuransi itu pada dasarnya adalah berbagi beban, tentu saja ini bisa mengakibatkan beban besar pada pembiayaan kesehatan yang ditanggung asuransi (preminya juga jadi besar). Cara mengatasinya bisa dengan menerapkan compulsory insurance sebagaimana yang terjadi di Belanda, dimana tidak punya asuransi adalah sebuah pelanggaran hukum, atau bisa juga membuat paket-paket asuransi dengan harga yang berbeda untuk pasar usia, kelompok, yang berbeda.
sementara moral hazard dalam skema asuransi muncul dalam bentuk pengabaian terhadap tindakan preventif dalam kesehatan atau bisa juga dalam pemborosan pelayanan kesehatan. Tindakan ini bisa muncul dalam situasi dimana ada konflik kepentingan, ada potensi keuntungan dalam relasi 'perdagangan' jasa kesehatan, dan ada biaya besar yang harus dikeluarkan dalam mencari informasi yang relevan dengan kondisi konsumen asuransi. Maka solusinya yang pertama tentu mengalokasikan dana untuk pengawasan perilaku, ada juga dengan yang namanya risk sharing- and partial insurance (co-payments) atau dengan reward di masa akhir perjanjian berupa bonus bagi konsumen ketika tidak ada klaim atau minimum klaim selama masa perjanjian.
moral hazard juga bisa terjadi dari sisi penyedia jasa kesehatan. Sebagai pihak yang paling tahu tentang kondisi pasien, moral hazard bisa terjadi dalam bentuk intervensi medik yang tidak perlu. Maka untuk mengontrolnya, kita perlu melihat pada skema pembayaran tenaga medik yang digunakan.
Selama ini, ada tiga jenis sistem pembayaran yang digunakan; fee for services (apa bahasa indonesia gampangnya ?), kapitasi dan gaji. Ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam skema pembayaran ini. Yang ffs misalnya. keuntungannya adalah adanya insentif untuk produktifitas physician a.k.a dokter, penghargaan secara finansial-lah. Kerugiannya bisa mendorong dokter untuk melakukan intervensi medik sebanyak mungkin, membuat dokter tergoda untuk melakukan intervensi medik seorang diri tanpa me-refer pasien ke pelayanan lanjutan, pada akhirnya kuantitas yang dinilai, bukan kualitas. Sistem semacam ini yang bisa membuat anda dan saya sebagai pasien, cuma kebagian lima menit bahkan kurang untuk curhat pada orang asing berjas putih itu tentang hal-hal pribadi. Sementara kita sebagai pasien dituntut untuk pintar berkeluh kesah dalam waktu sesingkat itu, membedakan mana yang batang (keluhan utama) dan mana yang cabang (keluhan sampingan) in order he can see what's wrong with you.
Lalu ada sistem kapitasi. Dimana yang jadi ukuran adalah pasien. Contohnya di Belanda, setiap huisarts (GP) punya jatah untuk menangani pasien dalam jumlah tertentu dengan jatah harga pengobatan (plafon) tertentu dari asuransi. Setiap orang terdaftar sebagai pasien pada seorang arts (dokter). Saya punya dokter sendiri dimana ketika saya sakit, ke dokter itulah saya datang. Bahkan ketika saya dalam keadaan emergensi datang ke rumah sakit secara go-show(Ini cuma bisa dilakukan setelah jam lima sore atau pada akhir pekan), dokter dirumah sakit tetap akan merefer saya untuk kembali dulu ke GP pada akhirnya setelah memberikan pertolongan seperlunya.
Keuntungannya adalah secara administasi ini sistem yang sederhana untuk dimasukan dalam budget pemerintah atau perusahaan asuransi, juga jadi keuntungan bagi dokter yang melakukan tindakan berbeda (tidak semua tindakan dihitung secara terpisah). Negatifnya adalah mendorong untuk mengumpulkan pasien sebanyak mungkin dan juga mendorong dokter untuk melakukan tindakan seminimal mungkin dan merujuk ke pelayanan lanjutan secepat mungkin (toh, mau dikasih tindakan banyak atau sedikit, dapatnya sama aja).
Lalu ada skema penggajian. Secara administratif dan budget ini mudah dan sederhana. Tapi negatifnya lebih banyak dibandingkan yang lain, dalam skema semacam ini, dokter-dokter bisa tergoda untuk lebih abai lagi karena tidak ada insentif untuk menjamin ketersediaan pelayanan yang mencukupi dari dokter, mendorong dokter untuk melakukan tindakan medik seminimal mungkin, kemungkinan mendorong dokter untuk merujuk pasien ke pelayanan lanjutan juga lebih besar dan yang paling menyedihkan adalah tidak relasi antara 'prestasi' dengan reward bagi dokter.
jadi bagaimana untuk mencapai 'neraca keseimbangan' pasar dimana kondisi itu diartikan sebagai jaminan tersedianya pelayanan yang optimal bagi pasien (kepentingan pasien) dengan biaya yang memuaskan semua pihak (jasa kesehatan-asuransi-pasien) ? ini kan artinya sama saja dengan tidak ada intervensi medik yang berlebihan, tapi juga tetap ada intervensi medik yang dibutuhkan. Tahu kapan waktunya merujuk pasien ke pelayanan lanjutan dan tahu kapan saatnya untuk tidak, dan tentunya kualitas pelayanan kesehatan yang optimal.
maka katanya (Prof.Wim Groot), sistem yang optimal itu merupakan perpaduan dari skema kapitasi (fixed amount per patient) dan fee for services. Kombinasi kedua sistem ini diharapkan bisa menjamin pelayana kesehatan yang optimal. Kapitasi akan mendorong dokter untuk melakukan sesedikit mungkin tindakan dan mendorong rujukan, sementara fee for services mendorong dokter melakukan sebanyak mungkin tindakan dan seminimal mungkin aktifitas rujukan. Sistem kesehatan di Belanda menggunakan kombinasi ini. Misalnya, secara sederhana seorang GP mendapat bayaran sekitar 45 euro per year per patient dan 9 euro per tindakan.
Hmm... dari situ salah satu dasar darimana datangnya tindakan 'konsultasi kejar setoran' atau 'merujuk yang ga penting' yang selama ini banyak kita alami. Ini yang namanya permasalahan sistem. Saya tidak familiar dengan terminologi yang dipakai di ilmu kedokteran. Tapi untuk Eropa, nama Kleinman adalah nama yang populer sebagai orang penting dalam kedokteran yang mengembangkan doctors-patient relationship. Saya bisa bayangkan betapa terdengar sangat idealnya itu di bangku kuliah tapi tidak ketika duduk menghadapi pasien dalam sebuah sistem ekonomi yang tidak tepat.
Jadi ingat juga dengan tempat kerja saya. Indonesia bisa dibilang adalah pasar kesehatan yang tidak lengkap.Mungkin bagi pasien kami, tempat kami adalah sebuah insurance yang tidak mungkin mereka bisa raih dalam kondisi biasa. Ketidaktahuan, antusiasme (?) bisa membuat seorang pasien datang sebulan sekali atau dua kali ke klinik dengan keluhan yang ga jelas. Dengan pasien sebanyak itu saya akan apresiate (eh,ini bahasa indonesia bukan?) sekali pada mereka yang berusaha bertahan untuk meberikan pelayanan secara sungguh-sungguh. Tapi jadi penasaran juga sih, kemarin-kemarin kok kayaknya angka rujukan dan kunjungan yang tinggi jadi semacam 'modal' untuk unjuk gigi seberapa besar tingkatan pencapaian yang sudah dilakukan. Hmm... mudah-mudahan memang karena kasusnya memang harus dirujuk.
*oaahm.. bobok ah...*
Oke ini lanjutan yang kemarin, tapi saya pikir skema pembayaran kombinasi ini bisa dicoba di LKC. Mengingat ada kondisi dimana fixed income mungkin dah mulai tidak sebanding dengan jumlah kepesertaan yang terus meningkat. Setiap pasien dapat jatah first fisit untuk datang satu bulan sekali misalnya--kecuali emergensi, atau berdasarkan pemantauan dokter memang butuh datang lagi setelah kunjungan pertama, dan mungkin untuk beberapa kasus penyakit--tbc ? diabetes ? dunno (butuh analisa epid dan hitung-hitungan yang lebih valid buat tahu angka kunjungan ideal, tapi ini kan andaikan), dalam satu tahun. Kebijakan ini gunanya agar kongruen dengan program edukasi promotif dan preventif, memberikan informasi kesehatan yang peka kultur (butuh community assesment dulu untuk dapat gambaran sosial demografi yang lengkap--optimalisasi tim survey dan kepesertaan--n baca lagi unit 1 soal community assesment dan unit 2 soal research methodology) untuk bisa secara bijak memanfaatkan pelayanan pengobatan dan berperilaku hidup sehat secara bersamaan (hmm,... perlu baca lagi masalah critical anthropology di unit kemarin). Entah, mungkin harus ada pembagian kategori pasien berdasarkan waktu berobat (adopsi dari sistem kapitasi dimana dokter bertanggung jawab atas sejumlah pasien yang terdaftar sebagai pasiennya) sehingga tiap dokter jaga (pagi-siang-malam) bisa memantau kondisi pasien lebih intensif. juga untuk menghindari kejomplangan jumlah kunjungan ? is it a good idea ? atau malah jadi rumit ? terus bagaimana dengan skema pembiayaan dengan asuransi keluarga miskin ? hmmm...gimana kalau konsultasi sama Anya soal kemungkinan ini jadi salah satu usulan master thesis ?
Saturday, January 21, 2006
it's over ...
Perih dimata, pusing dan urat-urat punggung yang rasanya begitu tegang semalaman, sudah mengendur. Disebelah saya sudah ada makhluk berbulu. Ah, boneka gorila yang dikasih Vladimir dan Mariette tadi malam. Mereka beri ini karena tadi malam saya bilang "thank you for letting me hug the doll". Vladimir buru-buru bilang kamu boleh bawa kalau suka, supaya kamu merasa lebih baik, boleh dibalikin empat bulan lagi, kalau mau. Dan begitulah kenapa gorila bermata sayu ini sekarang ada dipelukan saya. I am a 25 years old young lady who slept with an ape doll. sounds cute ?
Kemarin sesudah Jan menyampaikan berita kematian Clara. Anya dan Mariette datang ke kelas untuk memberitahu secara resmi. Clara wafat hari kamis jam enam sore di ruang ICU sesudah sebelumnya dirawat di ruang rawat inap. Pihak rumah sakit tidak memberitahukan penyebab kematiannya, karena selain kami bukan keluarga, dalam akhir hayatnya Clara menekankan pada pihak rumah sakit untuk tidak menyampaikan keadaannya pada siapapun dari pihak fakultas.
Setelah Jan menyatakan bahwa ujian akan dikirim via email, Anya dan Mariette mengundang kami semua ke lantai enam untuk bicara secara pribadi. semua shock dan sedih. Beni dan Elida mengkritik sistem kesehatan yang tidak peka. kenapa dari awal membiarkan wanita tua dengan hb rendah tanpa tindakan medis berarti. saya cuma bisa bilang, Clara orang katolik yang taat, dia pemimpin misi Katolik di kampungnya, jadi tolong dipastikan aja dia mendapatkan perlakuan yang layak sesuai dengan apa yang dia yakini. Anya berjanji untuk menghubungi pendeta. Hari itu mereka mengatur semuanya. termasuk mengatur janji dengan rumah duka di Tongeren agar kami bisa melihat jenazahnya.
Berbaring tenang dengan sweater yang sama di hari terakhir saya melihatnya, dia kelihatan 'berisi' seperti pertama kali kami mengenalnya. Saya mengecup keningnya mengucapkan selamat jalan. Untuk ketiga kalinya saya melakukan ini. Pertama terhadap Bapak saya, kedua waktu saudara se halaqah saya meninggal karena leukimia, dan yang ini... untuk Clara. Orang yang warna kulitnya beda, meyakini hal yang berbeda, bicara dengan bahasa yang berbeda, warna kulit yang berbeda, tapi kehilangannya ternyata sama. Isabelle pingsan karena shock dan menciptakan kepanikan lain. Elida dan Astri sibuk menjaga Valentina, bayi Isablle yang baru berumur satu tahun.
Dari rumah duka, Anya dan Mariette membawa kami ke rumah Mariette. Saya sebenarnya sudah begitu capek dan inginnya meminta diantar pulang. Entah apalagi yang harus dibicarakan di rumah Mariette, pikir saya.
Tapi ternyata kumpul2 seperti itu ada gunanya. Karena akhirnya dalam situasi yang privat, hanya kami anak-anak MPH, Anya, Mariette dan Vladimir, semua akhirnya bicara. saya sempat beradu mulut dengan Xu Jing, saling meyalahkan orang lain, lalu menyalahkan diri sendiri, lalu sama-sama menangis. Dia mengkritik bahwa jika saja ini dibicarakan terbuka mungkin ini tidak akan terjadi.
Tentu saja, secara logika saya mendukung semua pernyataan Xu Jing. Bahkan kenyataannya itulah yang saya pikirkan dan itulah yang saya dan teman-teman lakukan terhadap Clara. Berusaha membujuknya untuk bicara pada pihak fakultas, atau jika tidak mau maka ijinkan saya bicara untukmu pada Anya atau Ria, membujuknya untuk istirahat, membujuknya untuk mendiskusikan ini dengan teman-teman, meyakinkan bahwa tidak ada yang akan terjadi jika pihak fakultas tahu kalau kamu sakit. Tapi saya pikir Clara bukan anak sekolahan kemarin sore. Dia perawat senior berpengalaman, single mother dari empat orang anak yang berpendidikan tinggi, setidak rasional apapun keputusan yang dia buat, itu adalah keputusannya. Apa yang bisa kamu lakukan ketika kamu sudah memberikan berbagai macam tawaran pada seseorang dan orang itu memilih menolak semua tawaran itu ? Bahkan sebenarnya kami sudah ke kantor Anya untuk bicara soal kondisinya dengan kesimpulan, jika Clara marah, saya yang akan bicara kepadanya. Tapi waktu itu Anya tidak ada dan Clara benar-benar marah ketika tahu saya mendiskusikan kondisinya dengan teman-teman. "I dont want people walking around talking about me and my condition!"
Saya ingat pada keluhannya terhadap Xu Jing yang dianggapnya melanggar wilayah privacy-nya dan otoritasnya. "She dont think I can think for myself, Attin. eventhought I am poor, this mind is working." saat itulah saya tahu apa arti otoritas pribadi buat Clara. Dan yang saya lakukan adalah tetap menjaga kehormatannya sebagai individu. Seaneh apapun, sesulit apapun saya untuk mengerti keputusannya untuk tetap merahasiakan penyakit dan kondisinya.
Acara curhat di tempat Mariette itu jadi semacam 'echoing my heart'. Apa yang Xu Jing katakan adalah suara hati saya yang menggedor-gedor menyalahkan diri saya, dan apa yang saya katakan terhadap Xu Jing adalah kata-kata untuk diri saya sendiri. Dan itu membuat saya merasa lebih lega.
Kami sudah melakukan banyak. Kami tidak membiarkannya kedinginan, kami tidak membiarkannya kebingungan, kami carikan dia rumah, kami carikan dia barang, kami berikan dia baju, kami bantu dia bertahan di negeri ini. kami tidak membiarkannya sendirian.
dan itu
sudah cukup.
itu yang terbaik yang bisa kami lakukan.
dan akhirnya segalanya hanyalah milik Allah
dan akan kembali pada Allah.
Friday, January 20, 2006
Clara Ejoru
Itulah makanya, dalam perjumpaan pertama, kami yang dari Indonesia dengan terus terang bilang pada Clara bahwa kami sangat kagum dan respek pada keberadaannya. Tak peduli betapa ketinggalan jaman atau kelihatan miskin dirinya dengan sendal sepatu murah yang dia pakai.
Clara belajar keras. tidak hanya untuk kuliah tapi juga untuk bertahan hidup di negeri datar ini. dia tinggal di perpustakaan lebih lama dibanding kami yang masih muda-muda. kalau akhir pekan kami jalan-jalan atau sekedar bersenang-senang, Clara memilih tinggal di kamar atau pergi ke perpustakaan hingga tutup. Belanda tidak terlalu bersahabat buat Clara. Dari hari pertama kedatangannya, dia tidak bisa tinggal di Guesthouse karena dia tidak bisa melakukan aplikasi via internet dari kampung halamannya. Pihak kampus akhirnya bisa meloby Hotel Randwijk untuk memberikan dia kamar. Tentu saja dengan harga yang memakan habis hampir tiga perempat uang beasiswanya. Pada saat bersamaan, di kampung halaman ada anak yang menaruh harapan besar pada dirinya. Sisa uang beasiswa habis dikirim untuk membangun rumah mereka yang belum selesai, dan hanya tersisa sedikit saja untuk sekedar bertahan hidup.
Kami begitu menyayanginya. Elida mengajarkan bagaimana menggunakan email, mengetik dengan menggunakan word, membantunya lebih familiar dengan komputer, Astri sering menghadiahi masakan lezat, Beni membimbingnya belajar SPSS. Melihat sepatu sendalnya, saya lepas sepatu sneaker saya yang nyaman dan hangat dikaki buat dia. Suatu hari, Elida memberi tahu bahwa di kamarnya ada baju-baju hangat peninggalan mba Astrid (mahasiswa tahun lalu) untuk saya. Tapi akhirnya kami putuskan bahwa Clara lebih butuh. Dan rasanya hati kami sudah cukup hangat melihat binar dimatanya ketika memilih baju-baju tersebut, "Oh God bless Indonesia, how can I say thank you ?" lalu kami bilang, kalau besok minggu kamu ke gereja, bilang terima kasihnya sama Tuhan aja.
Lewat rencana Allah, akhirnya ada kamar di sebuah rumah yang letaknya dekat sekali dengan kampus. Akan sangat ideal untuk Clara yang tidak bisa naik sepeda dan tidak bisa berjalan jauh sekuat kami. Dengan hati berbunga, saya menemaninya menemui landlady dan menandatangani kontrak. dengan harga sepertiga dari yang ia bayar untuk Hotel Randwijk, saya bayangkan akan ada banyak mimpi yang bisa ia wujudkan di kampung halaman.
Diakhir masa liburan, bulak-balik kami bersepeda mengangkuti barang-barang dari Randwijk ke tempat barunya. Juga sukses membujuk Bang Hasanul untuk membantu mengangkut kopor dan barang besar dengan mobilnya. Now, everything will be just fine for her, pikir saya. "Kita akan tinggal dekat sekali, Clara. Kalau ada apa-apa saya akan mudah menghubungi kamu," kata saya. Bersamaan dengan itu, dia mulai mengeluh sakit. Mulai dari athlete foot, batuk ringan, anemia sampai kenyataan yang dia bawa dari Uganda, malaria.
Dan tiba-tiba semua berjalan begitu tidak seperti yang diharapkan. sistem kesehatan disini yang berjalan pada notion pengobatan seminimal mungkin, perawatan berdasarkan pemintaan pasien, berbenturan dengan kultur kesehatan negara dunia ketiga, membuat semua orang jadi frustasi. Lima kali bulak-balik rumah sakit hasilnya cuma tagihan dan tagihan tanpa pengobatan berarti. Clara bilang "saya anemia, saya malaria," dokter berkata "Anda tidak apa-apa."
Dia semakin lemah. "Kamu lihat Attin, dulu saya berjalan begitu cepat, sekarang saya hanya mampu berjalan pelan-pelan, bagaimana mungkin saya tidak apa-apa?". Beberapa waktu dia mengeluh bahwa dia memuntahkan semua yang dia makan. "Aku berdoa pada Tuhan, bahwa kalaupun aku sakit, setidaknya biarkan aku bisa makan," keluhnya. Saya menggigit bibir saya menahan tangis sambil menyuapinya sepotong demi sepotong pisang suatu malam.
Suatu pagi saya datang dan cuma bisa meringis waktu dia menyambut saya dipintu dengan senyum lebar sambil berkata"Now, here comes the daughter of Allah," lalu dia membimbing saya untuk duduk. "Aku ingin cerita sebuah kisah dari Injil untuk kamu," sebagai orang katolik yang taat, saya tahu bahwa salah satu kesamaan antara saya dan dia adalah tentang bagaimana penghayatan agama dalam kehidupan kami. Air mata saya meleleh ketika dia selesai bercerita. Tak seujung kuku pun saya merasa apa yang saya lakukan bernilai sama dengan kebaikan yang dia ceritakan dalam kisah itu. Saya cuma bisa bilang bahwa kamu, Clara, seperti ibu bagi kami, bagi saya. Dan sebagaimana kami tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada ibu kami, saya pun tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu.
Suatu sore, selesai mengikuti kuliah Prof.McKee, dia mengajak saya bicara empat mata. "Ini tentang penyakit saya, saya mau cerita pada kamu tapi saya tidak ingin Anya, Ria atau teman-teman kita tahu soal ini." Dengan napas satu-satu susah payah dia bercerita dan akhirnya saya bilang saya tidak bisa simpan ini sendirian. Pihak fakultas harus tahu, saya takut tidak bisa meneruskan kuliah, dia bilang. prioritas kamu sekarang bukan belajar, tapi sembuh, kata saya bersikeras. Kamu wanita yang berani, kamu terbang ribuan mil jauhnya dari negera kamu untuk belajar, kalaupun akhirnya kamu gagal, itu semua sudah cukup. Kamu sudah berusaha. Kata saya berusaha membujuknya. Kegundahan sore hari itu disambung dengan kepanikan lain. Terlalu lemah, Clara meminta saya mengantarnya pulang dengan sepeda saya. Setelah jatuh bangun dengan sepeda saya yang kecil, akhirnya kami putuskan bahwa saya akan mengantar tasnya ke rumah dan kemudian datang lagi untuk menjemputnya. "You just wait for me inside the library, it's too cold for you to wait outside, okay ?"
Kembali dari rumah, bergegas saya ke perpustakaan. Dia tidak ada. Bulak-balik mengelilingi kampus, ke rumah sakit, kembali ke rumah,dia tidak juga ada. Sementara kunci rumahnya ada di saya. Panik. jelas. Berapa kali dalam hidup kita pernah meninggalkan wanita tua dengan sakit berat dimalam musim dingin. Setelah menghubungi keamanan kampus, saya menelpon Elida dan Astri, "Dia sakit serius, gimana ?!" Akhirnya Astri dan Elida datang. kami putuskan mereka berdua mencari di kampus, saya kembali ke rumah. Siapa tahu dia sudah pulang. Dan disana ... duduk bersandar keletihan dipagar rumah, siapapun bisa menyangka dia 'junkies' yang mabuk berat, dan bukan wanita tua yang butuh pertolongan. "Oh,Clara,Clara I am so sorry, I couldn't find you, Im so sorry ..." saya memberi kabar ke Astri. Beberapa menit kemudian, mereka datang ke rumah untuk membantu. Bersama kami meyakinkan dia untuk jangan memikirkan kuliah, untuk fokus pada kesehatannya.
Esoknya saya datang lagi ke rumah. Clara kelihatan sudah lebih kuat. Tapi pagi itu dia bilang dia kecewa pada saya yang dalam waktu sehari sudah memberitahu orang lain tentang penyakitnya. Saya berkeras pada pendirian saya bahwa saya tahu mana yang harus saya ceritakan mana yang tidak. Dia menutup penjelasan saya dengan keras kepala "Now, this is my life, this is my decision. I am through and there is no one can change it. I will go on Monday to lecture, i will go for the exam." Dengan menahan marah saya tinggalkan dia. Kesal. Tidak tahukan dia betapa khawatirnya saya, kami, tentang dia ? tidakkah sedikitpun dia melihat niat baik dalam tindakan saya. Pagi itu saya tinggalkan dia dengan niatan tegas, baik Clara Ejoru, kalau kamu tidak ingin saya ikut campur, maka baiklah. Saya tidak akan pernah ikut campur!
Tapi senin dia tidak datang. Dan kemarahan saya mencair jadi kekhawatiran ketika sore, selesai kuliah, kami melihatnya di perpustakaan. . Masih dalam sisa-sisa kemarahan, saya berusaha tega dan berkata, kami sudah ke Kringloop hari minggu untuk membeli barang-barang yang kamu butuhkan, semua dibayar dengan uang saya. Ini ada tagihannya. Tapi saya langsung mengeluh dalam hati bahwa seharusnya saya tidak bersikap seperti itu. Dia lemah, bahkan terlalu lemah sehingga kami semua membantunya memakaikan jaket, syal dan tutup kepalanya."Saya temani kamu pulang yah, saya tidak akan naik sepeda, tapi kita jalan saja," kata saya melembut. Dalam perjalanan yang rasanya seabad itu dia berkata, bahwa dia sudah melupakan ide bodohnya untuk terus kuliah,"I think you are right, my health is more important right now." Sampai dirumah, setelah selesai menyiapkan makan malam untuknya, saya berpamitan pulang. Masih berusaha menjaga jarak agar tidak terkesan mencampuri urusan pribadinya dan kemudian meminta maaf."Saya tahu kamu kecewa dengan keputusan saya memberi tahu kondisi mu pada teman-teman kita, tapi Clara, ini terlalu berat buat saya tanggung sendiri. Mereka harus tahu, fakultas harus tahu, sehingga mereka bisa memutuskan langkah terbaik untuk kamu. Saya akan merasa bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi dan kami tidak melakukan apa-apa untukmu." dengan lemah dia mengangguk. "I understand, Attin. It's ok. God bless you, God bless you" tutupnya. saya masih merasakan kekecewaan itu.
Selasa pagi, sengaja saya berjalan ke kampus melewati rumahnya. Ragu-ragu saya memandang jendela kamarnya. Akhirnya saya putuskan untuk memencet bel. lima menit. pencet lagi. Sepuluh menit, lima belas menit. tidak ada yang turun membuka pintu. Mungkin dia terlalu lemah untuk turun, pikir saya. Mungkin dia masih marah. Maka saya lupakan Clara beberapa saat.
Rabu siang kembali saya datang. Kali ini yang membuka pintu si Jack, anak ekonomi tahun pertama yang tinggal juga dirumah itu. "Clara sakit, kita mau ke rumah sakit." Bergegas saya ke kamarnya, "I will go to the hospital with Jack, I will tell you what the doctor said, but now let me handle it my self," katanya lemah. Saya hanya mengangguk sambil berkata, tentu, tentu saja. Tapi sebelumnya kamu harus pakai jaket yah. Lihat, ini syal tebal dan topi wol yang kamu pinta. maaf, saya pakaikan yah, mana sepatu mu ? oh itu dia, saya pakaikan juga, ok. Mulut saya mencerocos sambil tangan saya bergerak ke sana kemari memakaikan bajunya dalam kamar yang kini kelihatan kumuh dan berantakan.
Setelah selesai, saya dan jack memapahnya ke bawah. apakah saya ikut ke rumah sakit? tapi ada janji ketemu dengan Mickey untuk SPSS. Akhirnya saya bilang pada Jack, ini nomor saya, kalau dia dirawat kalau ada apa-apa, telepon saya. Tidak yakin dengan keputusan yang saya buat, dengan khawatir saya memandangi Clara yang susah payah bertahan diatas sepeda sambil memeluk pinggang Jack.
Sorenya saya kembali lewat rumah Clara. Pastinya belum pulang dari rumah sakit. Berusaha menghubungi Jack malam itu. dikirimi SMS, di telpon, anak ini menghilang entah kemana. Jumat saya ujian, konsentrasi saja dulu. Kamis pagi saya lewat rumahnya. Tapi hanya memandangi dan kemudian memutuskan untuk melupakan Clara sejenak. Kamis itu habis untuk membaca diperpustakaan. Sorenya kembali lewat rumah Clara. Kali ini memutuskan diri untuk memencet bel. tidak ada yang turun. menelpon Jack. mailbox. Gelisah saya pulang, tapi kemudian melanjutkan untuk belajar.
Dan jumat pagi ini, datang pagi-pagi di tengah jalan berpapasan dengan Jan vd Made. Didalam kelas, saya yang pertama datang. "Did you know already what happen ?" tanyanya "today we having exam in this room, right?"saya balik bertanya. "No, its about Clara. She died last night."
begitu saja.
dan begitu banyak pertanyaan dan penyesalan yang muncul menggayuti air mata. mestinya saya tidak perlu marah, mestinya kami tidak memperdulikan permintaannya dan memberitahu Anya seawal mungkin, atau juga mestinya saya tidak membuatnya kecewa dengan bercerita soal penyakitna, mestinya saya mengantarnya ke rumah sakit, mestinya saya tidak se egois itu, mestinya saya lebih peduli ....
menangis ...
saya merasa harus keluar dari kondisi emosi ini terlebih dulu dengan menuliskannya...
Monday, January 16, 2006
dari sebuah kuliah
Karena kuliahnya tentang review kondisi kesehatan masyarakat di Eropa, Prof.Hans Maarse dan Prof. Jan van der Made yang jadi lecture dan tutor di unit health policy analysis ini ngewanti-wanti kami semua untuk datang. Jadi datanglah kami semua ke sana. Hmm.. ternyata masih muda juga profesor McKee itu. Bayangan saya tentang professor itu kan idealnya yah setua dan sewaskita Hans Maarse atau Jan vd Made lah. Anyway, kuliahnya ternyata tentang gambaran umum permasalahan kesehatan yang muncul di Rusia pasca glastnots dan peresteroika atau dengan kata lain setelah bubarnya Uni Soviet. Terutama sih soal konsumsi alkohol dan surrogate alkohol yang tumbuh jadi penyebab kematian yang signifikan di Rusia sekarang.
Menarik juga, tapi saya pikir penjelasan beliau dalam waktu yang singkat itu menggunakan perspektic biomedik yang kental. Saya sendiri dalam kepala lebih tertarik untuk tahu kenapa permasalahan ini bisa muncul jika dikaitkan dengan perubahan dalam aspek politik, sosial kultural yang terjadi di Rusia. Karena sedikit banyak, saya pikir ada kesamaan kondisi antara Rusia dan Indonesia. Dua-duanya ada dalam pergulatan sosial yang berefek pada kondisi kesehatan masyarakat yang tidak menggembirakan. Rusia jadi topik penting bagi masyarakat Uni Eropa mengingat posisinya sebagai tetangga terdekat dan ketergantungan gas orang Eropa pada Rusia.
Hal menarik lain dari kuliah itu adalah kentalnya nuansa ide eropa sebagai suatu nation di bawah EU. Baru sekarang ini saya sadar bahwa dalam homogenitasnya, Eropa, bagaimanapun punya aspek multicultural didalamnya. Kenyataan bahwa ada kehadiran komunitas migranTurki, Maroko, Afrika, dalam jumlah yang signnifikan di Eropa, sementara dalam waktu bersamaan masyarakat Eropa sendiri kesulitan menerima mereka sebagai orang Jerman,Belanda, Perancis, jadi sebuah pe-er besar bagi UE. Kenyataan bahwa ketertinggalan masyarakat kawasan selatan dan timur Eropa dibandingkan dengan mereka yang di Utara jadi proyek besar. Jadi ingat sama regulasi prioritas orang uni Eropa dibandingkan dengan orang non EU. Jadi gini sederhananya, di Belanda kalau ada sebuah perusahaan cari karyawan, maka yang jadi prioritas adalah orang Belanda. Kalau ga ada orang Belanda yang layak untuk posisi itu, prioritas selanjutnya adalah orang dari negara-negara Uni Eropa. Kalau ga ada juga, baru orang diluar UE. Setelah diterima, perusahaan pun harus memberikan bukti pada negara bahwa dia sudah menghabiskan waktu sekian bulan mencari orang Belanda dan orang UE, tapi ga ada yang cocok, dan cuma mas dari jawa ini (misalnya) yang paling cocok dengan yang mereka inginkan. Pemberlakuan Euro tentu saja salah satu policy dalam mengkatrol ketertinggalan ekonomi negara eropa di kawasan tertinggal.
Saya jadi terpikir duh, asyiknya kalau orang Asia Tenggara dengan ASEAN-nya itu bisa kompakan seperti UE itu, enak kali yah. Yah, maju bareng-bareng selalu lebih elegan dibanding mengangkat hidung sendirian kan, bukan begitu Pak Cik ? mungkin ga yah, negara-negara di Asia Tenggara itu kelak bisa kuat kembali dengan jati diri dan kultur kebahariannya. Dengan keyakinan, nilai dan budaya yang unik, eksotik, diakui dalam pergaulan internasional sebagai sebuah kekuatan ekonomi dan politik yang diperhitungkan. Dulu itu termasuk mimpi para pendiri ASEAN ga yah ? Kalau saja waktu bisa diputar kembali, kita lupakan saja ide berhutang dan bersikukuh dengan go to hell with your aid-nya Soekarno, coba Soeharto itu tahu kapan waktunya mundur dari permainan politik, lalu memilih cara halus jadi menteri senior saja seperti Lee Kuan Yew, coba dan andaikata ...mungkin petani kita bisa jadi petani kaya seperti di Bonanza itu. di subsidi habis-habisan tanpa harus berpikir tentang membeli pupuk mahal, jadinya tidak ada cerita balita mati karena malnutrisi seperti di tanah Gora itu. Mungkin nelayan kita bisa jadi nelayan yang kaya sehingga tidak perlu pakai formalin untuk mengawetkan tangkapannya sehingga kita jadi lebih familiar dengan hasil laut dan mampu menyebutkan setidaknya tujuh jenis ikan tanpa harus menyebut ikan teri dan ikan asin sebagai salah duanya.
hey, berkhayal tidak dilarang bukan ?
Kembali ke kuliah Prof.Martin, di akhir sesi diskusi, Prof.Hans yang jadi moderatornya mengajukan pertanyaan yang jawabannya masih menggantung dibenak udara setiap praktisi kesehatan masyarakat. Lalu apa setelah semua penelitian itu ? karena kesehatan masyarakat semestinya tidak berhenti pada penemuan scientific tentang bagaimana tinggi rendahnya konsumsi alkohol berelasi pada kasus sirosis disebuah negara. Kerja besar selanjutnya adalah bagaimana penemuan-penemuan ilmiah itu bertransformasi menjadi sebuah kebijakan kesehatan yang strategis. Duh, kebayang-nya ngeri banget. Disitu lahan mainnya tentu aja sudah menyentuh lobby terhadap kebijakan politik, kepentingan ekonomi yang level-nya makro-makro (sementara saya anak kemarin sore gitu looh).
Makanya, tiap kali ada pertanyaan habis apa setelah ini, jawaban saya definit, insya Allah kembali ke LKC. saya pikir itu akan jadi ajang yang bagus untuk latihan, exercice of power, exercise of knowledge dalam dunia yang real. Walaupun, terus terang saya masih terus bergulat dengan ide kosong tentang bagaimana merealisasikan semua yang saya dapat disini jadi sebuah karya yang bisa menghasilkan manfaat secara nyata di tempat itu.
fiuh, doain aja yah
Sunday, January 15, 2006
indonesia (??)
merintih sedih tentang sebuah masterpiece Allah di rantai khatulistiwa yang kita sia-siakan dengan bodohnya ...
yang melintas dalam hati adalah puisi ini;
I
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Ke Wisconsin aku dapat beasiswa
Sembilan belas lima enam itulah tahunnya
Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda
Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,
Whitefish Bay kampung asalnya
Kagum dia pada revolusi Indonesia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama
Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya
Dadaku busung jadi anak Indonesia
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
Dan mendapat Ph.D. dari Rice University
Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army
Dulu dadaku tegap bila aku berdiri
Mengapa sering benar aku merunduk kini
II
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-dera
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road,Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Ulyses dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomorsatu,
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang curang susah dicari tandingan,
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupudan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,
Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan peuyeum dipotong birokrasi lebih separuh masuk kantung jas safari,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal, anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati, agar orangtua mereka bersenang hati,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan sandiwara yang opininya bersilang tak habis dan tak putus dilarang-larang,
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusatbelanja modal raksasa,
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,sekarang saja sementara mereka kalah,kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli, kabarnya dengan sepotong SK suatu hari akan masuk Bursa EfekJakarta secara resmi,
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, limabelas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja, fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror penonton antarkota cumakarena sebagian sangat kecil bangsa kita tak pernah bersedia menerima skor pertandingan yang disetujui bersama,
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antar bangsa, lagi pula PialaDunia itu cuma urusan negara-negara kecil karena Cina,India, Rusia dan kita tak turut serta, sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh, Tanjung Priuk, Lampung, HaurKoneng, Nipah, Santa Cruz dan Irian,ada pula pembantahan terang-terangan yang merupakan dusta terang-terangan di bawah cahaya surya terang-terangan,dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai saksi terang-terangan,
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang menyelamditumpukan jerami selepas menuai padi.
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road,Lebuh Tun Razak,
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Ulysses dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Taufik Ismail, 1998— dikutip dari buku MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA, SERATUS PUISI TAUFIQ ISMAIL, 1966 - 1998
Wednesday, January 11, 2006
never on (in) netherlands
Tapi disini ...
saya males buat berimpulsif ria karena beberapa pengalaman menunjukkan betapa bikin bete bin nyiksa diri sendiri juga kalau mengikuti keputusan semacam itu, misal:
-waktu kepikiran mau beli sepeda baru buat gantiin si traxxy, saya janjian sama anak Portugal buat ketemu di bike sheed guesthouse pagi-pagi buat nego harga. besoknya, dengan mengesampingkan 'keharusan normatif musim dingin' karena berpikir yah paling cuma sepuluh menit diluar, instead of berpakaian lengkap, kucluk-kucluk saya datang dengan pake training,bersendal jepit, dan jaket tipis. Dan sialnya ditengah transaksi, turun salju! seetelah bikin keputusan kilat (sorry, it's a good bike, but i think we dont have chemistry...=b) saya langsung lari terbirit-birit balik ke kamar*untung jempol gw ga kena frosbite*--moral lesson: jangan sekali-kali berpikir untuk men-dua-kan sepedamu, kualat (oh, maaf ya traxxy-ku)
-waktu mau berangkat ngaji ke tempat Bang Hasanul. instead of ngecek jadwal jam berapa bisnya nyampe di halte, dengan pedenya melenggang sambil berasumsi, yah, kalau ga salah dulu menit ke lima belas setelah jam enam ada bis. hasilnya: setengah jam nahan dingin di tengah udara 2 derajat nungguin bis. moral lesson: jangan bikin pengajian malam-malam di musim dingin dong, bang!*he he he*
-waktu berpikir tentang 'mau ngapain yah sebelum kuliah' dan kemudian muncul ide spontan, ke centrum aja yuk, pagi-pagi, gerimis, kehujanan, ke centrum jam sepuluh pagi... loh kok sepi? lupa, ini hari Senin, toko-toko disini baru buka jam satu, jam sebelas-lah itu yang paling top. hasilnya ngedumel sendirian tentang betapa ajaibnya orang-orang pemalas ini pernah ngejajah bangsa kita yang rajin-rajin itu, begitu lama
-Waktu bersemangat sekali mau kuliah sampai melupakan jadwal kuliah dan berasumsi paling sama kayak kemarin, saya datang ke kampus jam sembilan pagi, pas datang ke ruangannya baru lihat jadwal, ternyata: kuliahnya jam setengah tiga sore *huaa!!!aaaaarrrrrrggh!*
betenya, kalau di Indonesia, ga ada persiapan outfit yang makan waktu untuk sekedar keluar rumah. ga ada udara dingin yang harus dihadapi. Jadi bersikap implusif bin asumtif itu kadang-kadang ga bikin kita segondok ini. Mau naik angkot, tinggal nongkrong di pinggir jalan, mau naik KRL, tinggal beli tiket. toch, kalau melihat jadwalnya juga percuma karena tidak bisa diandalkan.
Makanya, disini perencanaan itu jadi bagian penting kalau ga mau rugi waktu dan nyiksa fisik. aktivitas diluaran itu harus benar-benar optimal dan menghasilkan. Ini yang membuat mereka jadi orang-orang yang efektif dan efisien dalam melakukan segala hal. Saya mulai sadar betapa saya mulai tidak familiar dengan sikap impulsif ini waktu seorang teman memberi kabar, besok dia mau datang ke Maastricht, minta petunjuk naik apa dari mana, dan mengingat keharusan menghormati tamu, tentu saja saya sudah menyiapkan dan mengatur semua perencanaan hari itu according to my friend yang akan datang ini. Termasuk rencana menjemputnya di suatu tempat dan mengecek jadwal bis. lewat satu jam dari yang dia janjikan akan datang, ada telepon datang;"maaf, kita ga jadi datang yah, langsung jalan2 ke centrum niy ..."waduh, memang rencananya gimana sih?
huhuhu ....
kalau di Indonesia yang ga harus keluar dingin-dingin sih ga bete-bete banget...
tapi ....
ini Belanda geto loch
Thursday, January 05, 2006
tentang doa
Waktu beres-beres buku, tiba-tiba lihat buku yang pernah dihadiahin 'bunda' waktu mau berangkat dulu. Ada kertas dengan catatan kecil. Isinya doa shafar (perjalanan). Saya ingat, ini kalau nggak salah diambil dari sebuah buku punya mamah. Sebelum pesawatnya take off dari Soekarno Hatta, bulak-balik saya bacaDengan Nama Allah, dengan Allah, dan Allah Maha Besar. Aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung. Apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah, tidak akan terjadi. Maha Suci Zat yang menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali pada Tuhan kami. Ya Allah akku memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan dan amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami perjalanan ini dan dekatkanlah jauhnya untuk kami. Ya Allah, Engkau sahabat didalam perjalanan ini dan pengganti di keluarga dan harta. Ya Allah aku berlindung diri kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, kegagalan dan pemandangan buruk pada harta dan anak
lalu ada doa ketika memasuki sebuah kota/negeri yang baru
Wahai bumi Tuhanku, Tuhanmu adalah Allah. Sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari keburukanmu, keburukan apa saja yang ada padamu, keburukan apa yang diciptakan padamu dan yang berjalan di atasnya.
Ya Allah, beri kami ketenangan didalamnya dan berilah kami rezeki yang halal didalamnya. Ya Allah aku meminta kepada-Mu kebaikan kota ini dan kebaikan apa saja yang ada didalamnya. Aku berlindung diri kepada-Mu dari keburukan kota ini dan keburukan apa saja yang ada didalamnya.
ada masanya ketika hamdallah tak cukup lagi untuk semuanya
Ah, doa.
salah satu hal terindah yang Allah hadiahkan untuk manusia.
tak pernah rugi jika meminta.
diberi jadi sebuah kesyukuran
ditahan jadi tabungan akhirat yang meringankan
-----------------------------------------------------------------------
dan ketika ada yang bertanya "kapan balik ke Indonesia?"
semoga saja itu kerinduan suci yang melangit menjadi doa
*berdoa*
Tuesday, January 03, 2006
pindahan
yeap, akhirnya pindah juga ...ga bisa komen banyak kecuali, semua udah di atur sama Yang Memelihara Semuanya
abis, ga nyangka juga perkara niatan pindah ini bisa juga merembet ke kepentingan orang lain. Saya selalu percaya bahwa jalan keluar buat orang lain, rejeki orang lain, bisa jadi diciptakan lewat kita. kita cuma bertindak sebagai perantaranya aja. termasuk soal mencari tempat tinggal ini.Dan kemudian kita tinggal ternganga melihat design besarnya (oooh, jadi ini maksudnya ...). Allah itu memang sayang sama semuanya.

Okeh, Insya Allah semua sudah dipertimbangkan baik-baik, termasuk memanfaatkan sesi email-email panjang dengan 'susu-coklat-hangat-ditengah-hujan-lebat' (ya ampun, saya harus mulai mikirin panggilan kesayangan yang lebih pendek buat mereka) tentang apakah sebaiknya memang saya pindah ke A atau ke B. Jawaban terpenting yang saya tangkap "jangan pernah main-main sama kondisi ruhiyah, ya sayang"
jadi, welkomthuis ...
and to all my friends, enjoy your new place yaah
Saturday, December 31, 2005
insiden
Dan tauk-tauk Mas Ari bilang, “sebenarnya ada yang bisa kita minta konfirmasi soal ini, orangnya ada di ruangan ini.” Dezig, ya ampun, kok ini kayak scene puncak ala detektif Hercule Poirot karangannya Agatha Christie itu sih. Dan saya ga menyangka saya harus cerita hal yang saya ga suka ini ke publik. Saya memang tahu masalahnya, karena yang bersangkutan cerita pada saya, dan termasuk ada request dari suaminya di tanah air supaya saya bisa dekat dia buat ‘jaga-jaga’ supaya tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan suaminya.
Tapi kalau kondisinya sudah begini, mau apalagi. Saya sendiri ga menyangka beliau akan kirim email berisi hal terebut ke milis. Saya pikir masalahnya sudah selesai sewaktu beliau masih disini, forgive and forget. Suaminya pun sudah terima (katanya) bahwa tidak terjadi apa-apa. Karenanya, waktu teman saya itu menawarkan suaminya untuk bicara pada saya untuk menguatkan bahwa memang tidak terjadi apa-apa, suaminya menolak dan bilang sudah cukup, dia sudah percaya.
Makanya saya terkaget-kaget waktu terima sms dari teman saya itu, straight from Indonesia, bilangn bahwa dia kirim email tersebut atas permintaan suaminya yang masih kecewa dan belum percaya kalau tidak terjadi ‘apa-apa’.
Saya sendiri, waktu teman saya itu masih disini, berpendapat bahwa hal tersebut adalah aib bagi kedua belah pihak yang harus dijaga. Masing-masing sudah punya keluarga, bagaimana kalau berita semacam ini sampai ke istri yang bersangkutan, timbul masalah keluarga, bisa aja kejadian hal-hal yang tidak diinginkan, dan anak-anak akhirnya jadi korban. Mungkin saya berpikir terlalu jauh, tapi itu hal yang mungkin saja terjadi. Saya juga khawatir kalau masalah ini diekspose ke publik, akan jadi cap buruk yang selamanya melekat di dahi orang yang terlibat. Sementara, walaupun saya ga suka dengan apa yang saya tahu, tapi insiden ini bisa aja sebuah kekhilafan. Jauh dari istri, disuguhi tayangan macam-macam setiap hari, baik di televisi maupun di sekitarnya, sementara peluang untuk ‘itu’ tampaknya tersedia, siapapun bisa khilaf. Kalau akhirnya mereka sudah saling memaafkan, ga ada gunanya bukan buat cerita-cerita masalah ini?
Tapi toh, dengan dilempar ke milis, akhirnya masalah ini jadi terekspose ke publik. Akhirnya harus cerita juga karena situasi yang penuh pertanyaan khawatirnya menjurus ke fitnah yang lainnya. Saya cuma bisa bilang bahwa ini bukan tentang kita harus tahu siapa orangnya, tapi sebuah pengingatan supaya kelak hal-hal semacam ini ga terulang lagi.
Berada jauh di negeri orang. Terpisah dari anak, istri, suami atau sahabat-sahabat dan lingkungan yang kita kenal, kadang menciptakan situasi lonely yang membuat kita merasa perlu untuk menjalin kedekatan dengan siapapun yang punya satu kesamaan penting dengan kita. Entah itu sama-sama dari Indonesia, atau sama-sama ikhwah, atau sama-sama seagama. Dan kedekatan itu biasanya berlaku baik laki-laki maupun yang perempuan. Rasanya seperti saudara sendiri, kawan dekat, yang harus saling menolong dan saling menjaga.
Itu hal yang positif tentu saja. Tapi aspek negatifnya juga ada. Dalam kedekatan itu, kadang kita lupa untuk tetap menjaga etika hubungan yang semestinya. Bahwa bagaimanapun, yang kita hadapi adalah istri orang lain, suami orang lain, seorang laki-laki atau perempuan yang jadi ibu atau ayah dari anak-anak yang bukan anak kita. Bukan muhrim. Bahwa bagaimanapun, manusia ya tetap manusia, yang selalu punya potensi untuk khilaf, ga peduli dia ikhwah atau bukan. Karena kadang alasan-alasan kesamaan,serasa saudara sendiri, atau masalah tarbiyah itu, kita jadi ngerasa aman, seakan-akan si Toni a.k.a syaitonirozim itu, ga punya kerjaan lagi.
Omong-omong soal aman, saya sering miris kalau dengar cerita-cerita miring ‘serupa tapi yaaah ga separah itulah’ tentang insiden antar ikhwah yang tampaknya berawal dari rasa ‘aman’ terhadap kemungkinan khilaf ini. Dan saya paling tidak suka jika cerita itu sudah diembel-embeli dengan ‘padahal ikhwah yang bersangkutan punya reputasi yang sudah dikenal’,’ustadz atau ustadzah terkenal’. Saya berharap berita itu bisa sampai ke telinga untuk sebuah pengingatan, bukan karena mereka lupa pada kewajiban untuk saling menjaga aib saudara sendiri.
Insiden-insiden semacam itu saya pikir salah satu faktornya, bisa jadi ada kebutuhan-kebutuhan—psikis n physic—yang ga mereka dapat dari pasangannya. Karena terpisah jauh, atau karena sama-sama aktivis, jadi lupa, bahwa pernikahan bukan Cuma medan yang harus penuh jargon-jargon perjuangan, tapi juga harus ada hal-hal yang jadi bumbu dan penyemarak. Mungkin bentuknya bunga, ucapan selamat milad, kartu, panggilan kesayangan atau apa kek (he he jadi ngiri waktu ngeliat my orang penting sedunia, pulang bawa se-dozen bungan mawar di hari jarig (milad) istrinya). Dan kalau bumbu-bumbu tersebut tidak tersedia, dan ada pihak lain yang berpotensi menawarkan hal tersebut… yaaaa, kejadian deh.
eh kok ngaco, jadi cerita ke sini
Anyway, teman saya itu, pasca insiden-insiden itu, sering mengeluh pada saya bahwa dia tidak akan pernah lagi berpisah lama-lama seperti ini dengan suaminya. Banyak fitnah dan godaan yang harus dia hadapi. Kalau sudah begini, saya jadi berpikir untung juga yah saya belum punya siapa-siapa secara de jure. tapi pikiran itu langsung keok sama teman yang lainnya yang bilang : justru kalau kita sudah punya ikatan yang legal, atau setidaknya kita tahu for whom im saving my self, lebih mudah jaga hati. Wah, benar juga yah. Kalau yang sudah punya suami aja bisa kejadian hal-hal semacam ini, yang kayak saya, bukannya ge-er, potensi fitnahnya bisa lebih besar lagi---huaaa!naudzubillahimindzalik
Udah ah, banyak-banyak doa
be a good moslemah, jaga diri, jaga hati
Habis mau diapain lagi? *garuk-garuk kepala*
Tuesday, December 27, 2005
Indonesia ?
Seperti waktu suatu pagi, habis kehujanan, saya pikir yang paling enak tentu adalah minum teh hangat. jadi langsung ke vending machine tempat jual teh, kopi, susu di kampus. Lagi lihat-lihat begitu tauk-tauk ..."goeiemorgen! how are you today ? do you want anything ?" wah, itu kan bapak-bapak yang tugasnya jadi pengisi ulang semua vending machine di kampus. kalau ketemu, biasanya kita cuma saling melambaikan tangan sambil tersenyum. sesekali kalau lagi pingin yah bilang tot straks, tot ziens. "kamu mau apa? hari ini saya yang traktir," katanya dengan ceria. wuaah, beneran nih oom ? "beneran!" aku mau teh deh! met suiker? met melk ? tanyanya lagi. naah, ini namanya rejeki dari arah yang tidak disangka. thank you, this would be a wonderful start for my day, kata saya (dalam hati, besok-besok lagi ya oom!)
Atau waktu antri mengambil kopi di Guesthouse, bersama saya ada anak muda yang juga ikutan mengambil kopi. Setelah mencampurnya dengan krim dan gula, tiba-tiba orang itu mengulurkan tangannya pada saya. Hah? kenapa mas ? dia menunjuk bungkus kosong krim dan gula di tangan saya. Ooooh, rupanya dia mau bantu ngebuangin kertasnya, berhubung tempat sampahnya ada di dekat dia. wuaaah, manis sekali (wink2). Yang manis-manis seperti menolong menunjukkan arah pada oarng yang kesasar (diawal-awal kejadian ini seringkali menimpa), atau menolong menaikkan barang-barang belajaan ke sepeda (ini waktu terlalu semangat belanja sampe lupa kalau ga akan muat di sepeda), menahan pintu untuk orang lain, sepertinya juga jadi sebuah tata krama entah dia laki-laki atau perempuan. Dalam hal lalu lintas, aturan mainnya adalah yang punya mobil mendahulukan sepeda dan pejalan kaki. Jadi kalau sudah melihat kita berdiri di depan zebra cross, mobil akan langsung menahan diri untuk memberi kesempatan yang jalan kaki atau yang naik sepeda untuk menyeberang.
Dan entah karena Maastricht itu kota yang tidak terlalu padat, bukan tipikal kota untuk pendatang seperti Delft, atau juga wajah saya Indonesia sekali, jadi sering banget disapa "Indonesia?!" entah kalau lagi jalan atau sedang naik sepeda. Seperti waktu di stasiun, seorang bule tiba-tiba menyapa dengan ramah "Indonesia?!" saya bilang "ya! saya Indonesia" dia bilang lagi "Selamat datang di Belanda, Assalamualaikum. Mooi (cantik)!" wuah, siapa? saya? Indonesia? Ogah banget dibilang cantik sama orang bule, kan biasanya definisi cantik mereka itu yang aneh-aneh, sementara saya manis begini geto loch (wa ka ka ka).
Walaupun tentu aja yang nyebelin juga banyak (kalau urusan birokrasi, sama aja ngeselinnya kayak di Indonesia), tapi itu hal-hal manis yang kadang membuat saya iri. Kok etika semacam itu sulit sekali didapati yah di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak, etika gemar menolong, mendahulukan orang lain, kok hampir-hampir ga kelihatan. Mau menyeberang di Margonda atau di Ciputat aja, aduh ... butuh nyali yang besar. Yang mendisain tata kota maupun yang punya mobil tampaknya lupa kalau pejalan kaki juga punya hak yang sama.
Tapi, saya tetap percaya kok bahwa ini bukan urusan mental yang taken for granted 'yaa emang kayak gitu, mau diapain lagi', saya percaya ini juga urusan sistem hidup yang bisa direkayasa, bisa memaksa tanpa sadar orang untuk berbuat baik. Dan kalau bicara merubah sistem, maka resep Aa Gym itu saya pikir salah satu alternatif yang mujarab. Mulai aja dari diri sendiri, mulai aja dari keluarga sendiri, mulai dari anak sendiri.
karena tiap manusia di beri potensi kebaikan. Tinggal apakah potensi itu bisa hidup dan berkembang dalam sistem yang kondusif. Bicara masalah keramahan, kebaikan hati, jangan salah, orang Asia tenggara, Melayu macam kita, saya pikir punya fleksibilitas dan keterbukaan yang lebih besar terhadap perbedaan dibanding orang Eropa. bukankah our great-great grandfather kita yang katanya pelaut itu adalah orang-orang kepulauan yang dari awal sudah terbiasa dikunjungi orang-orang rambut jagung atau yang matanya sipit atau yang kulitnya keling ? pastinya cuma orang-orang berhati hangat yang bisa membuat orang-orang asing itu mau datang dan datang lagi untuk berdagang, beranak pinak sampai suatu saat muncul ide bagaimana kalau kita jajah saja orang-orang baik hati ini ? he he he
Dan kalau bicara masalah penjajahan, maka mengeruk kekayaan Indonesia secara gila-gilaan untuk mengisi kas negara Belanda, bukanlah hal yang terburuk. Yang terburuk dari peninggalan 350 tahun itu adalah rusaknya sistem kehidupan dan budaya bahari Indonesia, rusaknya mentalitas dan kepercayaan diri bangsa kita. Dan itu .... saya yakin tidak akan pernah terbayar, sebanyak apapun mereka merogoh kantung untuk mengongkosi orang Indonesia untuk kuliah di Belanda. Kalau ingat betapa 'dalam' kerusakan yang ditinggalkan, pastinya sakit hati lah, tapi rugi dua kali kalau dalam sakit hati tidak bisa mengambil kebaikan, bukan ?
Saturday, December 24, 2005
bye ...
"This is it attin...i had to say good bye..." Irene berdiri di tengah kamar. Dalam balutan T-Shirt dan celana jeans, tanpa make up, wajahnya kelihatan jauh lebih muda. Wah, kok tiba- tiba jadi terharu yah. Kami berpelukan "thank you for being such a nice roomate" bisik saya. "Succes..." Kami terus cengengesan gak jelas.Ini, orang yang dari awal saya sudah ketar ketir bakal bawa cowok ke kamar,yang dari awal saya bayangin yang 'gawat-gawat' tapi akhirnya ... empat bulan terlewati dengan baik-baik saja.
Kami memang berbeda, tapi saya tidak bisa bilang hal-hal yang jahat tentang gadis ini. Masih ingat waktu pertama kali duduk bareng saling tukar informasi kebiasaan dan keseharian masing-masing, langkah yang saya pikir sangat cerdas untuk menghindari alis yang terangkat. Masih ingat waktu dia minta ijin kalau ada teman cowoknya yang akan datang dari Madrid dan mau nginep di kamar, dan entah bagaimana ekspresi yang saya tampakkan, tapi dengan paniknya dia langsung bilang "no,no,no! he's not my boyfriend!" dan cowok itu, entah bagaimana tidak pernah sampai ke kamar kami, walau saya bilang "yaaah, kalau dia penting sekali buat kamu, aku ga keberatan dia tidur di kamar buat istirahat tapi setelah aku pergi kuliah".
Komunikasi yang kami lakukan lebih banyak bersifat metakomunikasi. Minggu ini dia buang sampah, oke kalau begitu minggu depan giliran saya, dan minggu depannya dia, begitu seterusnya. Begitu juga soal bersih-bersih kamar dan stove. Dia lebih jarang bersih-bersih, tapi kalau bersih-bersih hasilnya kinclong sekali sampai saya ga akan tega pakai kompor buat masak. Jadinya heran juga waktu Ayako tanya apa kami bagi-bagi tugas. Ga tuh, cuma saling ngebaca
aja satu sama lain.Kami sama-sama suka masak (ehmm, buat saya sebenarnya 'kepepet untuk masak'), saya akan dengan senang hati menyisakan sepotong dua potong kue untuk dia cicipi, tapi dia tidak akan pernah menawarkan masakannya buat saya "You not eat, what I eat", katanya. Jadilah kulkas kami isinya barang 'halal dan haram' he he... rak atas jatah saya, sementara daging-dagingan dan bir-bir-an milik dia ada di rak bawah.
Dia bangun jam satu siang, saya bangun subuh. Tapi kalau bangun, saya ga berani nyalain lampu kecuali lampu belajar sampai dia bangun. Saya tidur jam setengah sebelas, dia tidur jam empat. Dia akan matiin lampu kecuali lampu belajar kalau saya sudah menunjukkan gelagat mau tidur. Suatu kali sepupunya datang, nyalain komputer dan mp3, begitu saya mau shalat, saya dengar dia minta sepupunya dalam bahasa spanyol, buat matiin musik. Ini memang request dari awal. Kamu boleh dengerin lagu kapan aja, kecuali kalau aku lagi 'pray' tolong di kecilin ya volumenya.
Saya juga ingat betapa entengnya waktu dia cerita,"My parent is a catholic but they dont practice. so I am .. what you call in english? hmm... Atheis" sementara saya berusaha keras pasang tampang penuh pengertian sambil dalam hati berseru-seru "what?! gila lo yeh, emangnya gampang apa jadi atheis?!memangnya mudah nemuin jawaban buat semua persoalan di alam yang maha dahsyat ini sendirian?!"
he he
dan empat bulan akhirnya berlalu tanpa konflik berarti. Alhamdulillah.Pelan-pelan, saya lepas papan nama yang dia buat untuk pintu kamar kami. Witing tresno jalaran soko kulino,itu teori yang masih valid juga rupanya. Koridor kami tambah sepi. Tetangga kiri kanan sudah kosong. Tiba-tiba mata saya menghangat...
Sendirian itu
tidak selalu enak
Wednesday, December 21, 2005
Nggak Jelas ?
Umumnya, yang disebut sebagai hal yang “nggak jelas” itu adalah ketidak-konsistenan dari sikap seseorang yang “dimaksud” sebagai pasangan. Saya gunakan tanda kutip sebagai tanda bahwa banyak hal yang melatarbelakangi dan membumbui kata dimaksud itu. Misalkan saja, seseorang yang bermaksud menjadikan seseorang lainnya (ribet deh, bahasanya! Hehehe) sebagai pasangan menemukan sikap yang tidak kondusif (apa siy!? Hihi) dari seseorang yang “dituju”nya.
Niat menjadikan pasangan ini sekurang kurangnya ada 2: Ada yang untuk pasangan hidup dalam arti serius ingin menikah dengannya atau hendak menjadikannya pasangan “setengah hidup”. Maksudnya, kalau cocok menikah boleh juga, kalo ngga ya temenan aja. Hehehe. Ketidakjelasan ini kadang imbas dari karakter dan kebiasaan seseorang. Baik yang menginginkan seseorang menjadi pasangan maupun yang menjadi “yang diinginkan”.Misalkan saja. Ada orang yang salah paham dengan sikap seseorang yang awalnya tidak diinginkannya menjadi pasangan alias ‘temenan’ saja. Namun lambat laun ia menjadi berpikir untuk menjadikan temannya itu menjadi orang yang diinginkan menjadi pasangannya. Dengan sekian kualifikasi ternyata sang teman masuk ke dalam kategori pasangan yang ideal bagi seseorang itu. Ditambah lagi sang teman itupun disinyalir menginginkan hubungan mereka lebih pasti dari “apakah sekadar berteman” atau “diseriusin” saja.
Singkat cerita, ternyata sang teman itu menikah dengan orang lain. Dan ternyata lagi, salah seorang teman saya bilang, tidak hanya si seseorang itu yang menyangka bahwa si teman menginginkannya sebagai pasangan. Tapi lebih dari satu orang! Hehehehe.Itu baru satu contoh.
Contoh lain. Misalkan seseorang bernama Rani menaruh perhatian pada si Rano. Singkat cerita (kali ini bener bener singkat. Hihihi) mereka “selisipan” jalan. Rani lebih dulu menginginkan Rano sebagai pasangannya. Dan berhenti berharap karena menurutnya Rano tidak juga “ngeh” akan penantiannya. Saat Rano berganti menginginkannya sebagai pasangan (bukan pasangan hidup. Karena cerita ini cerita teman saya jaman SMP. Hehehe. Jadi dapat dipastikan mereka belum berpikir untuk berpasangan sebagai teman hidup)Tapi, Rani tidak lagi menginginkannya. Ia sudah mendapatkan calon pasangan lain yang diperkirakan lebih menjanjikan suatu hubungan yang jelas.
Sampai hari ini saya dan teman teman masih suka menceritakan hal itu sambil tertawa tawa. Lucu sekali. “Selisipan suka”. Sembari tidak satupun dari mereka yang mengetahui hal itu. Kok bisa? Iyalah. Masing masing pihak cerita ke temannya tanpa konfirmasi kepada yang berwenang alias bukan langsung ke masing masing orang yang mereka tuju.
Herannya. Sepertinya urusan “nggak jelas” ini kadang memang bisa jadi topik biasa dikalangan orang orang yang belum punya pasangan tetap (pasangan hidup atau “setengah hidup” itu) bahkan sampai saat ini, saat sudah tuwir (baca: tidak muda lagi) begini, saya masih saja menemukan urusan seperti ini di antara kenalan saya yang sama tuwir-nya sama saya. Hihihihi.Saya mengerti siy mengapa ketidakjelasan ketidakjelasan itu bisa hadir. Ada yang beda banget karakternya. Sampai sampai yang bermaksud sekadar baik jadi dikira “ada apa apa” atau sebaliknya. “ada apa apa” tapi dikira “sekadar memang tipikal baik hati dan gemar menolong” hehehe.
Ada yang memang malas mengklarifikasi. Atau gengsian. Atau memang senang aja memanfaatkan situasi “nggak jelas” tanpa berpikir untuk serius memikirkannya lebih jauh (kurang ajar yang ini mah. Hihihi)Entah apa sebabnya, paling tidak ke“ngga jelas”an ini bisa ditanggapi dengan 2 cara: Minimal loh. Cara pertama: Ya Tanya aja. Susah amat. Hehe. Cara kedua: Ya cuekin aja. Kalo tauk “ngga jelas” itu ngga enak kenapa harus pusing pusing mikirin yang “nggak jelas”? Hihihihi.
sambil makan bakwan jagung baca postingan di blog lama si Ge, sahabat yang dengan manisnya suka manggil saya dengan sebutan 'sekeping hatiku' (duh, Ge..aku padamu deh). Jadi terpikir soal urusan ga jelas ini. Buat saya hal-hal semacam itu, sudahlah cukup jadi jatah siklus-ujian-standar pendewasaan dari Allah buat anak kuliahan semester dua atau tiga (there's always time for stupidity for everyone, ya kan?) . Kalau sekarang ? hmmm ...hare gene masih ga jelas ?
katanya, orang beriman
tidak melakukan
kesalahan berulang (Brothers)
jadi
maap-maap
ga berminat.
Monday, December 19, 2005
Ke Kringloop
, akhirnya saya nyerah juga. Tidur tengah malam bangun jam sembilan pagi memang menggiurkan, kalau cuma dilakukan sesekali. Tapi kalau tiap hari ? wuah, maaf-maaf deh, nggak kuat aja. Jadi pagi ini diputuskan buat mengganti udara di paru-paru saya (hiperboliknyaaa!). Musim dingin seperti ini memang siapapun bawaannya malas buat keluar rumah. Tapi toh ga jadi alasan buat ga beraktifitas. Jadi setelah sikat gigi, ganti baju langsung rapi-rapi pa
ke mantel ke bike sheed. "Ayo Traxxy, udah cukup malas-malasannya, let's do some exercise!" mau kemana kita ? hmmm... ke Brusselsport mungkin. Sabun mandi habis, jadi kayaknnya belanja di Etos. Setelah itu bolehlah lihat2 di C1000 walaupun ga ada niatan belanja, kita masih punya cukup stok makanan. Setelah itu gimana kalau ke Kringloop? toko second hand, dan mulai berburu barang-barang yang mungkin nanti diperluin kalau pindah ke tempat baru nanti ? goed? Jadi berangkat deh kita berdua ke Brusselspoort. Menghabiskan waktu yang lumayan lama buat memilih sabun dan shampo di Etos (sambil mikir-mikir mau beli maskara ga yah ??? ha ha ganjen!), trus ke C1000 beli mie (ini perlu untuk keadaan gawat darurat), wafel (ini buat sarapan). dah terus ke Kringloop. Toko barang second hand ini ga jauh letaknya dari guesthouse. Diperjalanan saya mereka-reka apa yang kira-kira dibutuhkan. Tempat sampah, karpet mungkin kalau ada, lampu belajar... dan sampailah di Kringloop.
Sebenarnya, saya agak sedikit menyesal baru menemukan toko ini agak terlambat. Walau dekat dan tiap hari saya lewat, saya tidak pernah sadar keberadaannya. Kalau saya berangkat, toko ini masih tutup, dan ketika pulang, saya akan di jalur sebrang. Maka saya tidak sadar akan keberadaaannya. Baru setelah di beri tahu Nurul, saya 'ngeh' akan toko ini. Isinya barang-barang second hand yang masih lumayan bagus. Kalau punya 'mata yang bagus' ga kecil kemungkinan bisa menemukan barang-barang yang oke punya.Isi tokonya ga jauh dari bayangan saya tentang bagaimana toko second hand seterusnya. isinya seperti toko Curious Goods-nya film horor Friday the 13th (hiiiii... ). Mulai dari yang kecil-kecil seperti asbak, tempat anting,koin, figura, jas,selimut,mainan anak,boneka, komputer,kulkas, sampai barang yang saya tidak tahu apa gunanya, ada disini . Oh, ya kenapa menyesal ? karena kalau saya tahu lebih awal mungkin saya ga akan merogoh 24 euro buat beli sepatu boot dan 29 euro buat beli winter jas di C&A (ini setelah bersabar menunggu kortingan dari 39 e). Meskipun affordable dalam budget, tapi kalau ada yang murah kenapa tidak ? diawal-awal (dan sampai sekarang) masih suka punya kebiasaan secara otomatis mengkonversi euro dalam rupiah. Jadi reaksinya akan langsung; yang bener aja! mahal amat! atau; ga kira-kira! atau; kalau di Jakarta aku bisa beli cendol berapa bungkus dengan uang segitu! atau kalau di Indonesia cuma
segini harganya dst,dst sehingga saya akan berakhir dari beberapa list barang yang mau dibeli jadi satu atau dua atau bahkan tidak beli apapun. Lalu kok bisa beli sepatu dengan harga segitu ? he he itu yang namanya pembeli melankolis. Waktu lebaran sedih aja karena ga kerasa sudah lebaran. Jadi untuk menghibur diri, balik deh ke tradisi kanak-kanak :beli sepatu baru! terus soal mantel ... habis bagus aja ha ha ha... nah ada saatnya kan kita jadi pembeli tidak rasional ? tapi ga kok, mantel yang saya beli itu panjang hingga ke lutut jadi berguna banget dimusim dingin begini. kalau kehujanan, setidaknya cuma seperempat rok saya yang basah. Tapi tetap, kalau ke Kringloop harga segitu sudah dapat mantel berapa yah? mungkin modelnya ketinggalan beberapa zaman, tapi tidak sampai ke zaman batu toch? huaah.. sudah ketularan Belanda niy, jadi pelit, eh .. berhat
i-hati menggunakan sumber daya.Keberadaan toko-toko second hand macam Kringloop di Belanda ini salah satu petunjuk bagaimana mereka sangat maksimal dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Waktu makan malam di Anya, kami ngumpul diruangan dengan penerangan yang 'secukupnya', waktu salah satu teman kami secara tidak sengaja menekan tombol lampu, tiba-tiba living room itu jadi terang benderang, tapi Anya minta lampunya di matiin aja,"it;s agains our idea about saving energy", katanya.. ya ampun. Tapi cerita ini lain kali aja.
Akhirnya di Kringloop itu ketemu juga barang yang dicari. Lampu belajar (3,50 e), tempat sampah (1 e), karpet(3e)--ini setelah dibantu yang punya toko mengaduk-ngaduk bergebung-gebung koleksi karpet mereka di gudang berdebu, beberapa dekorasi tapi fungsional (tempat naruh bunga kering--biar nanti kamarnya ga terlalu bau saya he he he), vas, kotak kecil, porselen anjing laut sama anaknya (naah... yang ini fungsionalnya relatif). Karena barang bawaan lumayan banyak, saya putuskan untuk membawa nya dua putaran. Saya meminta ijin kepada yang punya toko untuk titip karpet dan akan saya ambil setelah saya mengantar semua barang-barang ini ke guesthouse saya. fiuuh, capek juga. Sudah, kita cukupkan aktivitas diluar sampai sini ya ...

Sunday, December 18, 2005
Kenapa ya?
zeg.
dalem bo.
Tapi kenapa ya? terlalu sibuk untuk merenung ? terlalu lelah untuk membaca sesuatu yang baru ? bukannya tiap hari juga belajar hal yang baru ? ketemu hal-hal menarik yang baru ?betapa sering saya kepingin menuliskan suatu hal yang saya dapati menarik dari kuliah saya, tapi selalu berujungan pada Oaaaahm.... ngantuk ah!
tapi terima kasih masukannya
Kadang ... cuma ingin menikmati kesenangan-kesenangan hidup yang sederhana. Sesederhana kenikmatan dalam menemukan kenyataan, bahwa klepon, tempe mendoan, keripik singkong yang dulu hal biasa tanpa keistimewaan di meja makan, merasakan kehadirannya disini adalah sebuah 'petualangan' dan barang mahal. Dan saya jadi berpikir tentang banyak hal-hal sederhana 'diluar sana' yang ternyata begitu istimewa ketika saya ada 'di dalam sini'. Ternyata perpisahan, menarik diri dari realitas keseharian, adalah sebuah kebutuhan agar kesadaran itu tetap terjaga. Ketika kita punya kesadaran tentang betapa berharganya realitas 'sederhana' diluar, kita jadi lebih mudah bersyukur. Dan ketika kita mudah mensyukuri hal-hal yang kecil, maka akan terasa betapa banyak hal luar biasa yang kita punya.
Memasak itu juga tentang pengetahuan betapa itu semua tercipta dari proses yang tidak mudah. Untuk bisa merasakan kue cucur, ternyata kita harus menunggu kurang lebih 30 menit, teknik mengaduknya berbeda dengan tujuan tercipta serat-serat halus ketika di goreng nanti. Ternyata ada begitu banyak kerja di balik kue jelek--tapi lezat-- berwarna coklat penuh minyak itu. Dan dalam hidup, ada saatnya kita harus bersabar, menanti, mengaduk dengan teknik tersendiri hingga akhirnya 'kue-nya' pun jadi.
Jadi memasak itu saya pikir seperti menjalani hidup.
Tidak sekedar ukuran berapa sendok teh garam yang harus kita gunakan, tapi juga tentang melatih indera pengecap dan rasa sebanyak apa kita mau mengkombinasikannya dengan gula. Hingga pada akhirnya ketika kita makin terlatih, memasak adalah persoalan naluri. Karena ada masanya ketika kita menghadapi persoalan dan tantangan hidup, yang kita andalkan sebagai alat tiada lain naluri kita sendiri. Karena betapa banyak hal-hal yang tidak bisa dikalkulasi.
Memasak itu resep suksesnya kita dapat dari ibu, teman, majalah, Rudi Choiruddin, Siska Suwitomo, significant others. Tapi keistimewaannya selalu terletak ketika rumus baku itu bertemu kreativitas kita. Hasil akulturasinya bisa rasa baru yang dipuji orang, tapi bisa juga cuma jadi eksperimen gagal. Yang terakir, tentu harapannya adalah kita boleh gagal waktu mencoba resep yang pertama, tapi ketika kita mencoba untuk kedua kalinya, kita sudah tahu apa faktor penyebab kegagalannya. Mungkin karena kurang sabar menunggu bawangnya matang, mungkin airnya kurang banyak, lain kali garamnya se sendok, kali lain tidak usah pakai kaldu tapi gunakan saus tiram.
kalau masih gagal juga ?
Coba saja resep yang lain. Kita masih bisa hidup tanpa makan sayur asem, toch ?
*buat yang tanya .... hmmm ...yang jelas, karena ini blog saya, dengan berat hati saya harus bilang, pasrah aja ya apapun isinya ya ... he he he
Saturday, December 17, 2005
Dinner MPH
santan kara (sip!)
pewarna pandan (sip!)
kelapa parut (ini beneran ada, di jual, tapi udah dalam bentuk dalam kemasan jaim
nan rapih. beda dengan produk kita yang segar, alami bin berantakan, hasil parutan
abang-abang di pasar)
gula merah
garam
tapi ga ada tepung ketan, eh bener kan pake tepung ketan?
akhirnya diputuskan benar. Jadi pulang kuliah hari terakhir sebelum liburan natal, langsung ke San Wah cari tepung ketan. pulangnya kehujanan, ketiup angin, basah dari ujung kepala sampai ujung kaki. benar-benar perjuangan untuk sebuah klepon.
Sampai di kamar langsung beraksi. Gula merah di kikir, lelehin santannya, campur sama air, buka tepung ketannya, siram! wah ... kok jadi encer gini? nggg ... tambahin .. sagu ? tambah sagu. hmmm... tidak lebih baik. terigu, mungkin? tambah terigu. lumayan, tapi tetap ga meyakinkan. lengket ga bisa dipulung. tambah lagi? nanti jadi siomay dong? tambah lagi ini, tambah lagi itu. akhirnya walaupun agak ga yakin ya sudahlah. didihkan air. pulung, isi dengan gula merah, masukkan ke air mendidih. pulungan pertama gagal, keburu berantakan sebelum masuk air. Tambah ini itu lagi. coba lagi, yes! bisa. Deg-degan mengamati nasib mereka di air mendidih. kalau semua berjalan sesuai rencana, maka dalam waktu beberapa menit akan ada bola-bola klepon mengapung di air mendidih. itu dia! diangkat dan melihat hasilnya. loh, kok ga bulat sempurna ya? mblabar mbleber gini kayak lukisan Salvador Dali ?Irene terbengong-bengong melihat saya. "are you ok?" ya, ya .. im fine. just have some feeling it shouldn't be look like this...
tapi pantang mundur deh, udah terlanjur.Toh, saya masih punya Plan B, bikin Lumpia incase terjadi apa-apa sama Klepon. Akhirnya setelah satu jam-an, kleponnya jadi juga. Wuaw! not so bad after all!
Habis itu langsung di sambung dengan bikin Lumpia ala saya. Sebenarnya ga suka lumpia yang isinya rebung itu. baunya aneh aja. Lagi pula rebung disini mahal dan agak susah nyarinya. makanya saya selalu bikin dengan kentang dan wortel, sayuran favorit. kombinasi mereka berdua selalu enak dan warnanya juga cantik. Dan berdasarkan pengalaman, lumpia coba-coba ini tidak mengecewakan rasanya di lidah internasional. Jadinya, kalau di bawa ke international dinner seperti ini, tidak malu-maluin harkat dan martabat bangsa *gubrak!*
dan inilah lumpianya ....

oh ya bahan-bahannya?
kulit lumpia (dah jadi dong, mau bikin sendiri gitchu? ma kasi deh)
wortel dipotong kotak
kentang dipotong kotak (tp kalo mo improfisasi bikin segitiga, setengah lingkaran,jajaran genjang, juga boleh)
bawang bombay
bawang putih
merica
garam
gula
daun bawang
telur
selebihnya tau laah diapain ....
akhirnya dua-duanya di bawa ke tempat Anya. Hasilnya ? he he he... seperti yang diharapkan.
Oh ya, Caroline dari Colombia bawa starter chip n dip pake alpukat, Issabel dari peru bawa kentang mayonaisse isi ayam, Catherine bawa vlai buat dessert, Marriette bawa puding semolina (?) tradisional dutch, bergizi dan katanya biasa dikasih buat anak-anak, astri bawa tempe mendoan dan tumis kangkung, elida bawa ayam bumbu bali, Xu Jing bawa semacam dimsum isi jamur dan udang, Else bikin sup prei, beni bawa nasi (yaaa harap maklum saudara-saudara he he). Ga semuanya di foto, karena kelupaan. tapi, tanpa bermaksud ethnosentris, masakan Indonesia is the best!



Tuesday, December 13, 2005
Nothing Like Holiday ...
You work as the public health officer for an NGO in the southernmost district of North Z*. In your daily work you are far too often confronted with (mostly female) patients who suffer from symptoms that, in the medical handbooks, are ascribed to insufficient diets*.
After years of discussion the North Z’s Ministry of Health finally agrees to (co-)finance a multi-disciplinary research team, including two experienced researchers. They will have to get insight in the background of the insufficient diets of the women and girls in your district. The idea is that in a later stage interventions based on the findings of each of these studies will be designed (and maybe even implemented).
You are asked to select the two most promising candidates for the research posts. After having shifted through a huge amount of applications you pick out three interesting candidates. One is a social psychologist. The second has been trained in the explanatory model approach. The third one is a so called “critical anthropologist” specialized in gender issues and other forms of social differentiation.
You select two of them.
Since you are also responsible for supervising them you write each of the two a letter describing briefly the (diet-related) problems you are facing and explaining what your expectations are with regard to their research projects. In the letter you suggest some preliminary research questions, each of which is accompanied by a short explanation. Of course you try to get the most out of each researcher and therefore you encourage them use their own particular expertise/approach to the fullest. That means that your suggestions for the preliminary research questions (and the short explanations) correspond with the approach the researcher is familiar with. In your letter you also express your concern about the shortcomings of the researcher’s approach. You explain what your critique is and you suggest ways in which these shortcomings could be dealt with.
* You can pick your own example of a country and a district. You are also free to choose the dietary problem that you feel is most relevant to your example. You are also allowed to choose an entirely different topic, but please discuss that with me first!
Formulate the answers to these questions on approx. 10 pages. Font: 11 pnts. Space between lines: 1½.
Hand in your paper before the fifth unit starts. You can leave your paper in my mailbox. Of course you can also hand it over to me personally.
Good luck, and do not forget to enjoy your holidays as well!!!
Oh dont worry, Anya
We'll just gonna having fun. no doubt
Saturday, December 10, 2005
MAKAAAAAN!!!

Gak tahu kenapa habis lihat YM kok malah jadi agak lonely dan senewen, am I on my periode already? jadinya daripada bete, mendingan kita masak-masak...hmmm tempe mendoan ?there's no remedies of homesick like tempe

how about this fancy 'looks like' cake fruit ? ini cuma hun kwue a.k.a ongol-ongol yang di furnish pake buah kiwi yang udah kematangan, terlalu lama di simpan di kulkas. ternyata, penampilannya lumayan juga ...

Ini kue ketan srikaya yang asli lekker banget. Yang buat... pastinya highly profesional bukan amatiran yang baru kenal kompor kayak kita kali yeee... ini dikasih Nurul pas tadi siang main ke rumahnya.

Lalu giliran main course-nya. well, sebenarnya tadi ke tempat Nurul karena lagi ngidam pingin banget makan udang. Dan pucuk di cinta ulam tiba (saaaah,bahasa-nya kita) beliau punya. Tadinya mau bikin udang pakai saus asam manis, tapi karena keburu maghrib ya sud deh, di ceburin aja langsung udangnya.
dan VOILA!!
Kira-kira, siapa yah yang enak buat diajak makan bareng ? apakah ....
Mas yang ini ?
atau ....
yang ini ??

he he ...
nggak kok... panggil AYAKO!!!!
Thursday, December 08, 2005
Time Fly ...
Karena kangen, selasa malam saya dan Ayako sepakat untuk makan malam bareng."just have light dinner talk as we use to do" tulisnya dalam email. ya ampun,, sebulan ini rasanya kayak kuli, pergi pagi pulang sudah gelap. Ayako juga lebih banyak tenggelam di perpustakaan. kami jarang ketemu kecuali dalam keadaan terburu-terburu di koridor.| Jadi gitulah, ternyata kangen itu tiga setengah jam lamanya. Jam setengah delapan kami mulai makan-makan di tempat saya dengan sushi, ayam jamur dan salad. Ngobrol-ngobrol tentang habis kuliah ini mau gimana dan jadi apa, sudah ke Winterland blum, punya foto Zwarte Piet?, historical speech of Limburg, Indonesia, Jepang, siapa yang paling cool, Leonardo Dicaprio atau Josh Harnett yang main di Pearl Harbour itu, sampai kemudian sampai pada kesepakatan ga ada yang ngalahin bapak-bapak ganteng era 80-an macam Sean Connery, Harrison Ford dan Robert Redford. Jam sebelas malam, baru sadar kalau kami sudah lama sekali menghabiskan waktu di meja makan. Hmmmf... ga terasa sudah masuk empat bulan. sepertiga dari perjalanan. Di guesthouse semua sudah mulai siap-siap. ada yang mau liburan natal, ada yang pulang, banyak juga yang pindahan. Callista menghadiahi saya sumpit cantik karena besok dia pulang. Karen, Mei Ting sudah mulai nge-pack, balik ke Hongkong dan Singapore. Irene tanggal 23 nanti akan kemali ke Madrid. Mereka semua anak-anak short course 4 bulanan. Yang lain sudah merencanakan main ke Finland, Paris, Venesia. "do you plan to spend your christmast holiday somewhere?" tanya Charrissa. Cuaca dingin begini sapa juga yang seneng jalan-jalan. Maastricht aja belum khatam di jelajahi. Saya dan Ayako punya rencana untuk mengunjungi beberapa kota di provinsi Limburg seperti Hasselt dan Heerlen. Mungkin juga ke Achen lagi buat mulai koleksi oleh-oleh buat semua yang dikangenin. Tapi yang jelas, ada agenda khusus dengan teman di Amsterdam dan Delft buat ziarah ke Granada di Spanyol. |
Ayako dan juga saya, ga berhasil meminta pindah ke kamar single di guesthouse. Ayako, alasannya ingin kamar yang lebih murah, saya pindah karena ga ada jaminan dari guesthouse kalau roomate saya selanjutnya adalah muslim. Yang terakhir ini jadi penting buat saya setelah mengevaluasi dampak ruhiyah setelah empat bulan yang kayaknya ga terlalu menenangkan. Jadilah kami berdua harus membuat keputusan yang sebelumnya kami pikir sudah selesai, tidak ada diskusi. Pindah dari guesthouse yang nyaman dan mahal ini. Maybel dan Eric, karena cukup sabar dan cukup cepat bergerak, akhirnya berhasil pindah ke kamar yang lebih murah.
Anya sudah memberi kuliah tentang persiapan membuat master thesis yang prosesnya dimulai Januari nanti.
akhirnya ...
sudah empat bulan
Saturday, December 03, 2005
Natal
r berarti Natal. Centrum sudah ramai dengan hiasan natal. di Guesthouse saya dua pohon natal sudah bersinar-sinar dengan cerah. Tipikal natal banget lah. tapi ada yang beda antara Christmast di Belanda dan di negara lainnya. Disini anak-anak dapat hadiah Natal dua kali. Yang pertama tanggal 6 Desember dan yang kedua tanggal 25 Desember itu. Kok bisa ? bisa, karena disini ada yang namanya Saint Nicholas dari Spanyol dan datang naik kuda (yang datang tanggal 6) dan ada yang namanya Kerstman (Bapak Natal a.k.a Sinterklas) dari North Pole, datang dengan kereta salju yang datang tanggal 25. Ada satu lagi karakter yang populer (bahkan sepertinya lebih populer dari dua tokoh lainnya) yaitu yang mereka sebut Zwarte Piet (Piet Hitam).Dulu, berdasarkan gambaran disebuah buku terbitan tahun 1850, katanya Zwarte Piet (Pete) itu budak Saint Nicholas yang kemudian dibebaskan dan akhirnya mengabdi sebagai pelayan Saint Nicholas. Biasanya orang tua akan cerita pada anak-anaknya, bahwa kalau tahun ini mereka baik, Zwarte Piet dan Saint Nicholas akan memberi hadiah, tapi jika mereka nakal, Zwarte Piet akan memukul mereka dan membawa mereka ke Spanyol. Kenapa Spanyol ? ini ada kaitannya dengan sejarah reconquista di Spanyol, tempat paling logis buat orang Eropa saat itu tentang darimana asalnya budak kulit hitam.
Aneh juga sih, melihat cerita aslinya Zwarte Piet ini kelihatannya tidak terlalu menyenangkan. Tapi justru dia yang mondar-mandir di televisi jadi bintang iklan, film kartun, show. Saint Nicholas-nya sendiri kayaknya cuma jadi pelengkap penderita aja.Orang Belanda tampaknya juga menikmati sekali men-cat wajah dan tubuh mereka dengan warna hitam, bibir merah menyala dan berpakaian serba warna-warni mencolok mata. Clara sampai terkaget-kaget waktu melihat seorang pelayan wanita di Kruidvart memakai kostum ini. Dia bilang kok bisa-bisanya orang ini lebih hitam dari saya, padahal saya dari Afrika! he he si ibu nih, suka polos aja.
Waktu bicara tentang ini sama Catherine, saya tanya apa hubungannya Zwarte Piet d
an Saint Nicholas dengan ajaran kristen. Dia bilang ga ada. Desember ini sendiri asal mulanya kan memang dari pesta pagan di musim dingin. Dalam tradisi Belanda, Saint Nicholas ini juga banyak kesamaan dengan Wuotan/Odin. Odin juga punya semacam asistan yang berperan jadi 'social control', sama-sama hitam juga, cuma namanya Hugin/Munin. Waktu 'Kristen' datang, ya jadilah cerita ini termasuk yang diadopsi.Walaupun ada kritik tentang penggambaran Zwarte Piet yang disebut-sebut agak berbau rasis, tapi tokoh ini tetap bertahan tuh. Mungkin karena kehadirannya jadi alternatif karakter Natal yang mendunia saat ini; Sinterklas. Kalau mau tahu lebih lengkap ceritanya, ada disini ya http://en.wikipedia.org/wiki/Zwarte_Piet#Origin

