Tuesday, September 27, 2005

Jago Masak *katanya,katanya ...*

Tadinya mau nulis tentang min haysu la yahtasib (rejeki dari arah yang tak disangka2) hari ini, karena ketemu lagi sama anak Perancis keturunan Senegal yang namanya Khadijah di koridor waktu mau belanja ke ALDI --itu kayak Alfamart di indonesia.. Dia senang banget ketemu saya *ge-er mode ON* karena ternyata dia muslimah dan sebel aja sama semua sistem di Belanda yang dia bilang -- jangan bilang2 yak, ini si Khadi loh yang ngomong--norak. Karena dia pernah tinggal di London dan Amerika tapi dia tidak pernah menemukan negara sepelit ini sama rakyatnya kecuali Belanda ("arrgh, this country took to much from their people"). Kita pertama kali ketemu waktu saya nongkrongin mesin cuci. lalu muncul anak kulit hitam seperti boneka barbie yang cantik dan mungil itu, bertanya gimana caranya menggunakan mesin cuci *idih, kirain akika aja yang datang dari udix, ternyata situ juga yah ?*

Dia balik lagi buat menemani saya belanja. Dan pulangnya dia mengajak saya buat makan siang di kamarnya. African food! nyam,nyam

Tapi ada yang menarik malam ini karena sore ini, pulang dari kampus, ketemu Ayako diruang tunggu depan Guesthouse lagi belajar dan dia bilang bahwa nanti malam, anak-anak Hongkong dan Singapore yang tinggal satu koridor sama kita berdua mengundang makan-makan. wah, ini yang ditunggu-tunggu. Sebab lama sekali ingin kenalan sama my fellow country asian women itu. Ada empat-lima dengan saya- orang asia di koridor saya, tapi selama ini kami cuma saling ber hai-hai saja, cuma baru kenalan sama Ayako dan anak Hongkong yang namanya Karen. Dan malam ini akhirnya kesampaian juga. Ayako bilang bahwa anak-anak Hongkong itu sekarang sedang belanja.Saya ingat-ingat apa yang ada dalam kulkas. Pisang tanduk --yang sedianya mau dibikin kolak--sama kulit lumpia (again!) dan tentu aja keju. Saya ingat Ayako pernah bilang bahwa dia kangen ingin makan lumpia yang isinya pisang *twink2, bright idea*, Okay, Aya i'll make some banana lumpia for u gals...

Jam enam, lagi sibuk-sibuk goreng, pintu kamar saya diketuk, ternyata Ayako dan serombongan anak Hongkong. Kenalan-kenalan, langsung tau ada Mei Ing dari Singapore, dan Wen Shen (Wendi) dari Hongkong dan tentu aja Karen. Di meja ada surimi lumpia sisa kemarin yang baru diangetin di microwave, dan tanpa malu-malu langsung diserbu. Semua pada bilang enak-enak, kamu jago masak yah ?! saya bilang ah, nggak. itu cuma coba-coba *merendahkan diri-menaikkan harga tapi kayaknya hampir kejedot eternit tuh* dan saya jadi malu hati aja waktu buka lemari dapur dan mereka langsung ber 'Aaahh..", "Ooouh ..." karena melihat bumbu-bumbu dan persediaan makanan saya *hik,hik... ini kan persiapan kalau nanti ada perang Belanda-Indonesia...* terus mereka observe sekitar dapur dan melihat kacang merah yang saya masak sembarangan pake pasta tomat dan kentang. Ayako langsung volunteer menawarkan diri buat nyobain, dan "Attin, can I have some of it for me ? because this is very good" bawa,bawa,bawa sana, sure,sure ... langsung saya bagi dua makanan yang menurut saya sih rendang gatot (gagal total) itu. Waktu mereka tanya itu apa namanya--saya mau bilang rendang tapi takut dikutuk jadi batu karena kualat ama orang awak-- saya cuma angkat bahu dan bilang "another of my experiment." Dan mereka langsung ber "Aaaah ..."

Jadi begitulah, sore itu saya didaulat sebagai pemasak terbaik around our block. Mei Ing terbelalak takjub waktu dia tanya saya bisa bikin pisang goreng nggak dan saya bilang bisa. Dan dia langsung kabur menarik-narik Wendi sambil menunjuk-nunjuk saya dan bicara dalam bahasa mandarin dengan menyebut-nyebut 'pisang goreng!' lalu Wendi terbelalak juga menatap saya seakan-akan saya baru menemukan mesin fotocopi yang bisa dipakai buat nelepon.

Doo, si Eneng, yang begituan mah di Indonesia sepotong kue-lah, piece of cake..., mamang-mamang juga bisa. Tapi disini, tukang gorengan ini berganti nama jadi 'she's a great cooker!'

ya ampun, kalau mereka ketemu Rudi Choiruddin, dibikinin patung kali yak tu orang *gubrak!*


Saturday, September 24, 2005

Weekend Dinner

Jumat malam ini ada makan malam bareng lagi. Minggu kemarin di kamar Ayako yang tinggal satu blok sama saya di P-Building, cuma beda beberapa kamar. Makan kari ala jepang, nasi, jus yang dibawa Astri, dan bakwan jagung bikinan saya.

Jadi minggu ini, giliran Astri yang kebagian tempat. Dia tinggal di guesthouse, masih satu kompleks, tapi beda gedung. Dan lebih menyenangkan karena ada communal kitchen dimana setiap penghuni harus masak disatu tempat dan mereka bisa ketemu. Tidak seperti ditempat saya yang semua punya dapur masing-masing. Jadinya lebih individualis dan sendiri-sendiri (apa bedanya yah ?)

Malam ini menu utamanya-- untuk bikin kesan yang unik buat Ayako-- adalah tumis kangkung. yeap, barang murah yang kadang dipandang ga elit sama sebagian besar kita di Indonesia, kini adalah bagian dari klan hidangan mewah yang kehadirannya mengobati rindu pada kampung halaman (jieee..., iyalah seikatnya 0,95 sen euro! hampir sepuluh ribu!).

Buat beli semua keperluan itu, saya, Dani dan Ayako ke toko cina San Wah. Itu toko yang pokoknya surga banget deh (hihihi hiperbolik banget yah) karena mulai dari lada, lengkoas, kecap-sambal abc, indomie sampai kacang garuda, semua ada disini. Dani, yang saya yakin seumur-umur ga pernah masak, sampe semangat ngeborong indomie, saya cuma ngewanti-wanti seperti nenek-nenek cerewet, dont take it everyday, it's not good for ur health.

Pulang, lihat kulkas. Hmm, masih ada wortel sama kentang dan krab stik. Alhamdulillah, untung tadi ingat buat beli kulit lumpia. Jadi deh, bikin lumpia sayuran. Ada bawang bombay, ada bawang putih, merica, daun bawang, garam, gula.. that would be just perfect.

Menjelang jam tujuh Ayako mampir buat sedikit bantu-bantu. Dan akhirnya selesai masak, langsung ketempat Astri. Wiih, ternyata si ibu bikin balado telur juga, we're gonna have a big dinner tonight. kebetulan ada si Goe, anak Prancis keturunan Cina yang tinggal di blok yang sama dengan astri. Kami sering ketemu sama anak itu di communal kitchen biasanya sambil nongkrongin mangkuk besar berisi salad. Oke, diundang juga deh, buat makan bareng. Karena Goe itu lucu dan asyik, tipikal cowok yang kayaknya bisa makan apa aja yang disodorin (ntar saya mau coba sendal, ah. dia mau ga yah ha ha ha) dan selalu curious dengan apapun yang berbau makanan Asia. Astri pernah ngajarin beberapa kata Indonesia ke dia, seperti "saya suka...", "ayam", "sapi", tapi favoritnya justru kalimat "Saya suka babi ...," dasar!

So, it happens to be a wonderful dinner. we start from rice and how it influence indonesian people life greatly. we even have philosophical notion that came from rice. semakin berisi, semakin rendah hati. dari situ omongan berlanjut ke masalah agama, terorisme, Bush, hubungan islam-kristen, ngrasani dan ngedumel-ngedumel tentang George Bush, jilbab, fundamentalisme, ngerasani Bush lagi dan sebangsanya.

Goe tanya bagaimana sebenarnya orang Kristen memandang orang Islam di Indonesia. Sebelumnya, saya cerita soal kenyataan pahit kejadian di Maluku, dimana orang sesuku saling bantai hanya karena beda agama. Dani, yang kristen katolik, bilang masalah itu rumit dan tidak murni soal agama, ada latar belakang ekonomi dan politik dibelakangnya. Saya kemudian kasih gambaran tentang relasi Kristen dan Islam dengan cerita bahwa Nabi SAW memerintahkan sahabat-sahabatnya hijrah ke Ethiopia yang saat itu merupakan negara Kristen untuk menghindari tekanan kaum pagan di Mekkah. Raja Habsyi di Ethiopia kemudian bertanya tentang islam dan para sahabat (ja'far bin abdul muthalib ?) membacakan ayat Al Quran tentang Nabi Isa AS, Ibu Maryam. Raja dan para pendeta Kristen itu menangis, dan Sang Raja, bangkit dan menggambar sebuah garis tipis di atas lantai dengan tongkatnya, sambil berkata "Perbedaan antara agama kalian dengan agama kami, hanyalah sebatas garis tipis ini." Dia juga tanya masalah jilbab, terus berlanjut ke self killing bombing di Palestina dan banyak lagi.

Senang, kesempatan semacam ini, berhadapan langsung dengan mereka yang mungkin sudah punya stigma tertentu terhadap orang muslim dan berusaha memberikan informasi sebenarnya, adalah kesempatan yang langka. Ayako bilang, di Jepang dia tidak melihat ada orang islam. Dengan demikian, Islam adalah apa yang mereka tahu dari berita dan tentu saja, kebanyakan orang awam berpikiran bahwa Islam adalah sesuatu yang berbahaya.

Saya, dan saya pikir Astri juga punya harapan yang sama, bahwa ngobrol-ngobrol dan sharing seperti ini, setidaknya membantu meletakkan persepsi mereka tentang Islam pada tempat yang tepat.

Dan yang menyenangkan lagi adalah waktu datang Oey, anak Thailand itu datang dan kami minta untuk mencicipi lumpia buatan saya, eh dia bilang enak lho! karena yang bicara anak Thailand, A Nation Master of Asian Culinery, hidung saya langsung mekar. Eh, datang Tessa anak Jerman n she make a same comment, trus temennya lagi n komennya juga sama."I have already taste Vietnamese lumpia, buat i think i dont like it, but this one is delicious." he he.. itulah gunanya makan bareng, berbagi informasi, berbagi nasi, sedikit-sedikit kan bisa memuaskan narsisisme dalam diri sendiri.

Minggu depan masak apa lagi yah ?

Tuesday, September 20, 2005

Saltum

Hari ini seperti biasa, daripada repot ngechek yahoo weather berapa derajat cuaca pagi ini, saya akan membuka jendela dan kemudian mengulurkan tangan. dari situ bikin kira-kira deh, hmm kalau dinginnya begini berarti abis pake kaus dalam, stoking, celana tarining, rok, baju, lapis sweater tipis ama jaket parasut cukuplah. atau hmmm, kayaknya perlu siap-siap pake syal.

dan hari ini cukup dingin. tapi salahnya adalah saya pake mantel wol dan bukannya jaket parasut. wol itu hangat, tapi kalau dimusin banyak angin menjelang season fall gini, bukan strategi yang paling tepat.

brrr....
dingin sepanjang perjalanan. angin laut utara itu menggigit-gigit sampe buku-buku jari saya yang mencengkram stang sepeda kuat-kuat kaku semua.

subhanallah
alhamdulillah
buat matahari katulistiwanya ya Allah ...

Sunday, September 18, 2005

Universiteitsbibliotheek (Randwijk)

Baru aja pulang dari undangan makan malam keluarga Indonesia yang sudah lama tinggal di Maastricht. Sebenarnya tidak ada rencana ke sana, pulang dari perpustakaan, sabtu begini inginnya bisa siesta, bobo siang, trus nonton teve seharian. Punya waktu sendirian menikmati kamar kan jarang-jarang terjadi.

Sabtu ke kampus ? ke perpustakaan pula. He he he, jangankan hari Sabtu, hari minggu aja perpustakaan itu dijabanin. Rekor kan ? rasanya dulu ga segitunya deh walaupun kuliah di universitas yang konon katanya meskipun bagaimanapun akan tetapi yah lumayan terbaik di Indonesia gitu deeh.

Di Universiteit Maastricht kami belajar menggunakan sistem PBL, Problem Based Learning. Bahasa gampangnya Cara Belajar Siswa Aktif. Instead, duduk dikelas mendengarkan kuliah, kami akan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil diskusi. Tiap harinya dosen kami yang bertindak sebagai tutor akan menyuguhkan kasus-kasus kesehatan. Dari bahasan kasus itu kami harus menemukan masalah apa yang harus jadi perhatian kami. Selanjutnya kami sendiri yang harus menentukan aspek apa yang harus dipelajari dari kasus tersebut. Selesai.

Kami akan bubar dan langsung melihat koleksi perpustakaan mencari bahan-bahan yang direkomendasikan untuk dibaca dari kasus tersebut. Lusanya kami akan datang dan berkumpul kembali dikelas, mendiskusikan temuan-temuan kami. Bisa jadi si A membawa info ini, si B membawa info itu, dan kami dibantu oleh dosen kami akan merangkainya menjadi suatu informasi utuh mengenai apa yang kami dapat pelajari dari kasus yang diberikan. Setelah selesai, kami akan disuguhi kasus baru, membahas lagi dan begitu selanjutnya. Dan diakhir unit itu kami akan membuat presentasi tentang apa yang kami sudah pelajari dari semua pertemuan itu.

Karena modelnya diskusi, tentu saja suasananya lebih informal baik dengan sesama teman maupun dengan dosen yang dikelas membatasi diri hanya bertindak sebagai tutor. Mengarahkan diskusi ke tujuan yang sebenarnya. Kelas saya sendiri isinya hanya tujuh orang dan akan penambahan karena dua student dari Guatemala dan Peru baru akan datang sebelum Januari nanti.

Dengar-dengar UM (Universiteit Maastricht) merupakan pusat PBL untuk Eropa. Saya tidak tahu ini berita bagus atau tidak karena ada saatnya sistem ini jadi joke yang nyebelin juga. Seperti pernah dialami teman saya. Ketika sedang browsing di LINK (internet center di perpus) ternyata dia tidak bisa menyimpannya ke dalam USB. Padahal jelas-jelas ada port usb di tiap komputer. Ketika dia bertanya pada petugas perpus, jawabannya adalah “Kami ga tahu, coba kamu cari tahu sendiri masalahnya apa dan coba pecahin sendiri,” hah! That’s why they called it Problem Based Learning!

Sistem PBL ini bisa saja membuat kami duduk ongkang-ongkang kaki dikelas dan mendengarkan temuan yang didapat teman-teman (tapi itu juga artinya tidak begitu banyak yang nyangkut di hati dan kepala), tapi disisi lain bisa juga memaksa kami untuk membaca dan mencari tahu sendiri dari buku-buku diperpustakaan ---dan itu biasanya lebih masuk –daripada duduk dan mendengarkan uraian dosen. Lectur tentu saja tetap ada, tapi materinya akan sangat berkaitan dengan kasus yang kami hadapi dan itu membuat kami lebih perhatian.

Karenanya Perpustakaan menjadi rumah kedua karena sistemnya memang didesain seperti itu, kami dilatih untuk lebih mandiri dalam belajar, pola pikir dan analisis. Dan juga secara akomodasi, perpustakaan yang buka sepanjang minggu itu memang menunjang. Perpustakaan sangat nyaman buat belajar. Pokoknya bahkan buat yang malas-malasan baca –seperti saya, kadang-kadang ---sekalipun, duduk, melamun sambil melihat hijau-nya pemandangan jalan kota Maastricht dari balik kaca ruang perpustakaan, sudah cukup membuat betah duduk berlama-lama.Semua orang dengan patuhnya akan berbisik ketika bicara di perpus. Itu sudah peraturan. House rules.

Saya punya pengalaman yang agak malu-maluin dengan masalah ketaatan terhadap house rules ini, suatu kali karena terburu-buru untuk mengikuti kelas berikutnya, saya dan teman-teman menggunakan lift untuk turun dari perpustakaan. Padahal dipintunya jelas-jelas ada gambar kursi roda dan tulisan handikappen, berpikir –sekali-kali mah ga apa-apa—yang tipikal melayu itu, kami pakai juga lift itu. Tapi begitu sampai ke loker lantai bawah tempat kami meletakkan tas dan barang-barang yang dilarang, ada om-om langsung mendatangi saya dan bicara dalam bahasa Belanda. Memasang tampang polos saya bertanya “oui ?yes?” lalu si om langsung beralih menggunakan bahasa inggris dan bilang bahwa kami telah menggunakan lift untuk orang cacat. Itu ga boleh, next time harus turun lewat tangga. Duh, malu euy. Saya dan teman-teman Cuma mengangguk-angguk ga enak hati.

Kali lain, saya membawa apel dan minuman ke ruang perpus dan out of nowhere, om-om itu datang lagi dan bilang ga boleh makan-minum di perpus. Duh! Sesudah itu saya celingukan ke kiri kanan atas bawah, melirik ke pojok, langit-langit, bawah meja. ini ada apa yah ? kok dia bisa tahu yah ? jangan-jangan ada kamera tersembunyi buat memantau semua pengunjung? wuaduh, harus jaim dong, ga lucu aja kalau adegan saya dijual buat program kayak SPONTAN ala Belanda. Habis, dulu bawa bakwan, tahu isi, somay, batagor ke perpus fisip ga pernah ada yang dengan rajinnya negur-negur segala. Jadinya kebawa-bawa deh . Wuah, ketahuan banget sih kalau kamu datang dari negara berkembang, mbak!

Karena buku-buku diperpus sebagian besar tidak bisa dipinjam, jalan keluar untuk memeras isinya adalah duduk dan membaca berlama-lama di perpus atau memfotokopi-nya. Maka mesin foto kopi adalah barang yang tersebar di penjuru kampus. Di perpus sendiri ada ruang tersendiri untuk itu. Tapi, seperti biasa disini tidak ada mas-mas yang dengan baik hati mau dibayar untuk meng-copy-kan untuk kita, tapi (lagi-lagi) kerjakan sendiri dengan menggunakan kartu mahasiswa yang sudah diisi poin (paling banyak 5 euro) untuk mengkopi. Satu lembar menghabiskan 0,05 euro. Berita bagus buat saya adalah, ada subsidi untuk mahasiswa program master of public health sebanyak 300 lembar fotocopy gratis per bulannya di kartu UM kami. Berita bagus lainnya tentu jadi sangat mumpuni menggunakan mesin fotokopi. Pulang ke Indonesia sepertinya saya bisa buka copy center buat nambah-nambah penghasilan he he he.

Friday, September 16, 2005

Merenung-renung ...

Jadilah Kau Musafir atau Penyeberang Jalan

Para musafir tahu, bahwa dalam perjalanan panjanga dan melelahkan, mereka punya satu tempat yang dituju. kampung halaman. maka seindah apapun negeri yang kau singgahi, tak peduli seberapa besar nikmat yang kau dapatkan, jauh di dasar sana engkau tahu, bahwa bukan itu yang kau cari. Bahkan jika dalam negeri persinggahanmu kau temukan kepahitan, kesedihan dan kepedihan, semua tak akan cukup membuat jiwamu bermuram durja, karena kau tahu dia tak akan selamanya. masih ada kampung halaman tempat kau berisitirahat dari lelah dan penat perjalanan. Tempat persemaian jiwa dalam kenikmatan abadi bersama Dia yang kau puja. Kau bisa jatuh cinta, menyukai siapa saja dan apa saja dalam persinggahan diperjalananmu, tapi kau tak akan pernah menambatkan hatimu disana sepenuhnya. karena kau tahu, kelak akhirnya semua kau tinggalkan juga.

Posting Oktober 2004 lalu
menguatkan azzam dalam sebuah perjalanan
semoga lulus dengan nilai "A" dalam episode ujian kali ini

Tuesday, September 13, 2005

Summer Is Over ...

Awalnya sekitar dua hari yang lalu. Ketika saya melongok keluar jendela kamar saya menjelang berangkat ke perpustakaan kampus. Langit mendung tanpa kehadiran matahari. hmm, mau hujan kali ya nanti siang, demikian pikir saya. Tapi lho kok mendungnya terus sampai jam satu siang ? dan begitu keluar kamar, hawa yang dingin menggigit mulai menyelimuti tubuh saya yang tak berjaket. saya buru-buru lari ke kamar dan menyambar jaket yang dibawa dari Jakarta. Cuaca jam satu itu muram seperti pagi jam setengah enam di Jakarta

Sekedar catatan, waktu kami menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Maastricht, matahari bersinar dengan sumringah. Tidak ada bedanya dengan matahari Jakarta atau Bandung, walaupun tentu saja hawanya lebih sejuk dan segar tanpa polusi yang menggayuti udara. Dan mister sunshine itu dengan setia terus manteng begitu selama dua minggu. Wlaupun jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, diluar pemandangan masih remang-remang seperti maghrib.

And here comes the gloomy, dark ages that stole the sunshine away from Maastricht skies...

dan om-om resepsionis diperpustakaan kampus menyuarakan keluh kesah semua orang hari itu dalam sambutan hangat: "Good morning! summer is over !"

Thursday, September 08, 2005

Makan-makan ...

Ini terinspirasi dari pertanyaan Saras, teman saya, tentang makanan disini. Waktu pertama briefing, kami sudah diwanti-wanti untuk tidak membawa hal-hal yang tidak 'perlu' seperti beras, mie, bumbu dan bahkan sambal. "please, we have some people who just can not live without sambal in Netherland," kata Ibu Monique. Tapi, namanya juga student of Indonesia, siapa juga yang berani menyerahkan lambung Indonesia-nya mentah-mentah kedalam jebakan roti,keju, susu dan yoghurt itu ? maka mie, tiga-lima bungkus akhirnya bawa, beras seliter dua liter sih ada, rendang serantang sih harus punya, bumbu-bumbu instan lima sepuluh jenis sih bawa ...

Sejarah yang panjang antara Indonesia dan Belanda pastinya meninggalkan jejak pada warisan kulinari dua negara ini. Walaupun pasti sudah menemukan bentuknya sendiri yang disesuaikan dengan selera lokal. Bami goreng dan nasi goreng pun, masuk dalam daftar menu favorit orang Belanda. Saya geli sendiri waktu belanja dan menemukan makanan kemasan dalam judul "babi pangang" --ini beneran cuma memakai satu 'g', lalu ada "sambal oeleg" selain "bami goreng". suatu kali waktu makan siang di kampus, saya dengan antusias mencomot beberapa sachet saus yang bertuliskan "sambal". wah, ada sambal!, begitu pikir saya. tapi begitu dibuka trus dicicipi, wuaduh!!! apaan ini ?! kok yang serba cuwer ga jelas asin manisnya, berani-beraninya mereka sebut sambal!

Di akhir minggu pertama, kami mahasiswa MPH ditraktir makan oleh Ria dan Marijet di Cafe Sjiek, buat mencoba sesuatu yang typically Maastricht di kawasan Vrijthof.Itu kawasan antik yang termasuk bagian tertua di maastricht. Tentu saja walaupun sangat ingin mencoba sesuatu yang khas, kami tidak punya banyak pilihan selain ikan dan minuman standar tanpa alkohol (mineral water and lemon tea,please). Teman-teman memilih untuk memesan kroket udang (ini khas Maastricht) sementara saya dengan 'gagah berani' mencoba ikan trout (sambil berdoa, mudah-mudahan ikannya matang). di Cafe yang remang-remang itu (awas, jangan mikir yang horor lho!) kami saling tukar banyak cerita. Ternyata seru buat tahu bahwa perkedel itu ternyata makanan Jerman (Belgia?) yang sampai juga ke Indonesia. kroket, tentu saja warisan asli orang Belanda. Dan ternyata mereka sangat fascinating dengan kue-kue seperti onde-onde, lemper, lontong dsb. Marijet bahkan bertanya sama kami, apa kah jika dia belikan semua ingredients untuk membuat onde-onde, kami bisa buatkan untuk dia ? kami anak Indonesia langsung pasang tampang seakan-akan membuat onde-onde sama gampangnya seperti membuat telur ceplok ("Well, ok, that's easy we'll cook it for u someday""--maksudnya: not right here, right now, or in my another life he he he, jahat)

Sejam kemudian pesanan kami datang. Dan saya sempat bergidik melihat ikan trout saya yang putih polos tanpa bumbu kecuali secuil mayonaise pake peterseli (?) sebagai sausnya. Marijet yang melihat ekspresi saya langsung bertanya "r u okay with ur fish?" saya menelan ludah, "I'll try ..." dan satu cuil dua cuil,... hmm lumayan juga. Tak terasa habis juga itu Trout di cuil-cuil. Bersandar kekenyangan karena sebelumnya kami juga sudah disuguhi baquet dengan mentega yang legit dan kentang goreng, saya pikir acara makan-makan itu sudah selesai, sampai Nurul berbisik "Itu tadi baru hidangan pembukanya loh?!" say what ? wuaduh, masa sih mereka makan sebanyak itu ? dan benar saja, tidak lama kemudian muncul lagi piring-piring putih berisi ikan (kali ini karper atau salmon, saya tidak ingat) dihadapan kami. Kami yang perempuan, putri-putri tanah jawa yang makannya memang secuil-secuil (tapi sering =b) saling berpandangan. wah, gimana menghabiskannya ? lambung saya sendiri tinggal sepertiga untuk udara. Waktu kami bilang kami ga sanggup lagi, Ria dan Marijet bilang cicipin aja, kalau ga abis ga akan dianggap ga sopan kok.

Akhirnya dicoba juga itu ikan. Dalam suapan pertama saya langsung meringis, Ya ampun, ni orang-orang lidahnya dibikin dari apa yah ? pokoknya pecel lele is the best deh compare to the ikan goreng yang nama resepnya di menu keren banget itu. Tapi selain rasanya yang menyedihkan, kami memang sudah betul-betul kenyang dengan suguhan pembuka tadi. Cuma Astri yang sukses membersihkan ikan itu dari permukaan piringnya.

Itu pengalaman saya mencoba sesuatu yang typically Dutch disini. Minggu ini semua ransum saya yang "typicall Indonesia" sudah habis. Beras bagus tentu saja lebih mahal dibanding roti. Ada yang murah seperti beras suriname, tapi itu cuma bagus untuk nasi goreng. Lagipula dengan padatnya waktu buat bulak-balik ke kampus, memasak hal yang praktis dan tidak buang-buang waktu jadi pilihan yang ideal.

Satu hal lagi, daging halal cuma ada di toko Turki yang katanya dekat guesthouse saya. Sebelum tahu toko Turki itu maka ikan, telur dan sayuran adalah makanan sehari-hari.

Selamat menikmati menu yang sehat!
btw, pasti ada yang bertanya2 kapan yah ni anak belajar ? wuah, tunggu yah, nanti tak ceritain soal sistem belajar disini yang .... seru!

Tuesday, September 06, 2005

Maastricht My Old Town

Hampir seminggu saya tinggal disini, tapi entah kenapa rasanya seperti sudah berabad-abad. No, im not complaining tapi kok ya waktu berjalan lambat sekali sementara dalam seminggu itu sepertinya sudah banyak sekali hal yang terjadi. Sudah ke Centruum belajar belanja groceries di Aldi, Hema, H&D, belajar isi pulsa telfort, beli alat-alat mandi, pelembab di toko pupur Kruidvart (baca:kroidvart) (hihihi …). Tersengal-sengal di tanjakan menuju kampus sampai saya menyerah, turun dan menuntun sepeda saya sampai diketawain oleh abg-abg bule, belajar untuk membiasakan diri menyapa jika papasan dengan Hi, Allow, Morning, Moergen, atau Hoy (dengan suara dalam seperti suara orang yang kekenyangan sesudah makan).

Sepertinya udah lama sekali sepeda saya tabrakan dengan sepeda Astri, menabrak tembok di pinggir sungai Maas, diomelin bule karena menyebrang tanpa melihat lampu merah tapi hanya mengandalkan naluri seperti di Jakarta, sudah lama sekali waktu jantung saya berdebar-debar karena sepeda pertama yang saya naiki joknya begitu tinggi sehingga saya harus berusaha mati-matian bertahan untuk tetap seimbang dalam kayuhan pertama, betapa saya sibuk berdoa sambil mengayuh sepeda dan berpikir bahwa kecelakaan sepeda bisa saja masuk daftar penyebab kematian saya kelak, hiks ga elit banget yah …

Dan baru saja saya pulang bulak balik dari kampus dengan sepeda saya menyeberangi jembatan di atas sungai Maas --salah satu sungai utama di Belanda selain Rhein dan Scheldt—sambil menikmati angin summer yang sejuk (kata bule sih panas), taman-taman kota, memberi tanda akan berbelok dengan lihai menggunakan tangan kiri sementara tangan kanan saya memegang stang … gaya kan ??? he he he …rasanya saya sudah ada lama sekali dikota ini.

Hari Ahad saya dan Astri ke tempat Nurul. Siang kami akan bertemu Bang Bondan sekeluarga serta keluarga ikhwah lainnya dari Achen, Jerman di kediaman mereka. Akan ada sedikit barbeque dan setelah itu disambung pengajian keluarga.


Sebelum ke tempat Nurul, Astri mengusulkan untuk mampir sebentar ke kampus yang memang tidak jauh tempat Nurul di Gandhiplein. Untuk menghapal rute, karena Senin ini kami akan mulai kuliah kami yang pertama dan kami berencana untuk naik sepeda (baru) kami.

Bersepeda di Maastricht di hari libur pagi musim panas seperti ini sangat menyenangkan. Rata-rata bule disini masih tidur atau malas-malasan di rumah mereka. Kota pun sepi dan lengang.

Maastricht , walaupun termasuk kota turis, penghuninya sebagian besar adalah senior citizen, pensiunan yang ingin hidup dalam atmosfer kota yang lebih tenang dan tidak crowd seperti di Rotterdam atau Amsterdam. Maka, bisa dibilang ini kota yang nyaman untuk belajar. Nite live pasti ada, tapi tidak seheboh dikota besar lainnya. Saya pernah pulang pukul sembilan malam dari rumah seorang teman. Jam segitu Maastrichth sudah sepi senyap. Tapi satu dua orang masih jalan kaki atau bersepeda dengan santai. Tingkat kejahatan di Maastricht terhitung rendah, sehingga orang bisa merasa tenang. Saya ingat kalau di Jakarta saya pernah pulang pukul sepuluh malam dari Slipi dan Jakarta masih bising. Rasa tenang yang ada waktu itu bukan karena sistem keamanan Jakarta berjalan dengan baik, melainkan karena ada ratusan orang yang masih hilir mudik bersama saya.

Kota ini merupakan salah satu kota tertua di Belanda yang berumur hampir dua ribu tahun. Ada 1.590 monumen bersejarah yang dilindungi hukum di kota ini. Dinding kota pertama di Maastricht dibangun tahun 1229. pembangunan dinding baru dimulai pada awal abad ke 14.

Ada 130.000 orang yang tinggal di kota yang terletak di muara sungai Maas- Jeker dan dikaki gunung St Pieter ini. Hmm, bicara soal gunung, saya kok tidak lihat yah ada gundukan yang cukup meyakinkan buat disebut gunung. Tapi kalau mereka bilang terletak di kaki gunung--untuk menghormati perasaan mereka--- ya bolehlah. Walaupun Netherland secara umum merupakan pemeluk Kristen protestan, khusus di Maastricht penduduknya memeluk agama Kristen katolik.

Maastricht merupakan ibukota propinsi Limburg yang merupakan daerah perbatasan dengan Jerman dan Belgia. Kata Oey, cukup bersepeda sekitar lima belas hingga dua puluh menit, kita sudah sampai ke Belgia (bukan Brusselnya, tentu saja). Bang Bondan dan keluarga sendiri hanya menghabiskan waktu 44 menit naik bis dari Achen ke Maastricht. Dan disini ga ada istilah macet loh. Jadi kalau suatu saat ingin jalan-jalan ya tinggal loncat. Sayangnya residen permit kami baru keluar paling cepat tiga bulan lagi. dan sebelum itu secara legal kami belum boleh ke negara-negara Schengen (Uni Eropa kecuali Inggris) yang memungkinkan untuk jalan-jalan tanpa visa. Tapi kalau mau ilegal sih bisa aja (dan sebagai orang Indonesia, apa sih yang ga bisa ilegal ? he he…)

Main-main ke museum dan tempat-tempat bersejarah di kota ini tentu saja sudah masuk ke dalam rencana saya. Apalagi ada Dani yang sedang belajar soal seni dan kebudayaan, pasti asyik. Sayangnya masuk museum cukup mahal. Ke Bonnefantenmuseum di Maastricht katanya kita harus merogoh kocek sekitar 15 euro. Itu belanja saya untuk keperluan satu minggu.

Yah, mungkin nanti. Suatu saat. Dan saya ingat sama Jakarta. Kalau ada orang yang bertanya tentang Jakarta, masa lalunya, sejarahnya, monumen-monumennya … saya tidak tahu mau jawab apa atau ajak kemana. Mungkin ke Monas atau Pondok Indah Mall … setelah itu entahlah, mungkin ke Hypermart di Cibubur Junction …



Bersepeda

Untuk urusan ini saya janji bakal kasih oleh-oleh cokelat banyak-banyak buat Anam dan Pak Ratman, ofifice boys di kantor yang udah rela minjemin saya sepedanya. Sebenarnya bukan minjemin, tapi rela dibajak, lha wong saya bilang pinjam sambil langsung dinaikin gitu sepedanya sebelum mereka sempat bilang boleh tidaknya. Saya tentu saja bisa naik sepeda. Tapi terakhir naik sepeda adalah dua belas tahun yang lalu. Dan karena di Indonesia yang naik sepeda itu Cuma anak kecil plus tata kotanya memang tidak didesain ramah buat yang naik sepeda maupun pedestarian, jadilah saya angkoters dan sepeda pun terlupakan. Sepeda mereka yang saya manfaatkan buat mengembalikan ketrampilan naik sepeda. Dulu kalau naik sepeda dikantor pasti sama Pak Hadi, the satpam atau OB-OB suka diledekin, wah mba masa kecilnya kurang bahagia yah ?? he he kalau kurang bahagia masa sih mau diulang-ulang ?

Sepeda pertama yang saya naiki di Maastricht adalah sepeda yang saya pinjam dari Radian, teman Ical. Joknya dipasang tinggi sekali. Kaki saya jauh dari tanah ketika saya duduk disadelnya. Dan ini sangat menyusahkan ketika harus berhenti di lampu merah. Saya harus buru-buru mencari trotoar untuk tumpuan kaki, persis seperti pengendara motor Harley Davidson. Konsentrasi saya untuk memperhatikan jalan juga rusak karena sibuk dengan upaya bagaimana caranya supaya bertahan menyeimbangkan diri diatas sadel yang tinggi itu, sampai-sampai beberapa kali saya diomeli bule-bule yang mau menyalip (dari sebelah kiri! Hah! Tentu saja, untuk pertama kali susah membiasakan diri dengan aturan serba kanan ini).

Dan saya mulai merindukan naik angkot di Jakarta …

Hari ke lima. Setelah mempelajari dan membiasakan diri menggunakan strippenkart untuk naik bis, mulai terasa betapa naik sepeda akan lebih memudahkan mobilisasi dan tentu saja lebih murah. Dibantu Oey, mahasiswa dari Thailand, saya dan Astri mencari sepeda di toko sepeda dekat Guesthouse kami. Sepeda baru di jual dalam kisaran 500 euro ke atas. Dan jelas, itu bukan kelasnya student. Lagipula, cukup dengan membeli sepeda second, murah, dan kondisinya baik, kebutuhan transportasi sudah bisa terpenuhi. Sepeda mahal Cuma akan mengundang maling sepeda tergiur mengincar sepeda kita. Di toko sepeda itu saya mendapat sepeda bekas, jenisnya mountain bike, dengan harga 50 euro (tidak berlaku tawar menawar, hiks maaf tapi ketrampilan itu disini ga banyak gunanya). Kecil, mungkin disini hanya akan dipakai oleh anak kecil, but who cares, yang penting enak, nyaman dan berfungsi dengan baik. Mereknya traxxi, dan karena diperuntukkan untuk anak perempuan (damefiets), sepeda berwarna merah jingga itu ada gambar bunga-bunganya he he he … kalau di Indonesia, sepeda ini sama ukurannya dengan sepeda Pak Ratman yang dulu biasa saya naiki.

Tapi di toko yang namanya George Walstock, mungkin itu nama om-om gendut yang melayani kami, tidak ada sepeda lain untuk Astri. Si Om menyarankan untuk kembali lagi besok mencari peruntungan. Esoknya kami kembali. Masih ditemani Oey dan ditambah Dani. Alhamdulillah, ada sepeda yang bagus untuk Astri (damefiets model konvensional yang bagus dan ada giginya juga) dan Dani (karena dia sama kecilnya seperti saya, maka dia juga memilih sepeda anak-anak, tapi model anak cowok).

Sore itu kami habiskan bersepeda disepanjang jalan perumahan dekat kampus. Sepeda kami menerobos angin summer yang sore itu terasa begitu sejuk dan segar seperti udara dipuncak ….

Dan theme song sore itu saya rasa ….

I want to ride my bicycle, I want to ride my bike
I want to ride my bycicle, I want to ride it where I like …

(Queen)

Teman Sekamar

Jam di meja Irene, anak Spanyol itu, sudah menunjukkan jam sembilan malam. Kalau di rumah, saya pasti sudah rapi, sudah mandi, makan, pake baju tidur dan leyeh-leyeh didepan televisi menunggu tidur. Disini ? kebiasaan saya itu tetap berlanjut dong. Mungkin aneh buat kebanyakan bule disini. Buat mereka jam sembilan malam itu seperti maghrib, baru warming up buat nite live. Sementara si Irene jam segini sudah wangi, cantik dan siap-siap buat keluar malam. Irene itu, seperti biasa akan pulang jam dua atau jam tiga malam dan baru bangun mungkin pukul sepuluh hingga sebelas siang. Sementara saya sudah keluyuran sejak jam lima pagi bulak-balik ke kamar mandi untuk shalat, mandi, rapi-rapi, bikin sarapan dan bekal makan siang. Semua tentu saja dilakukan dengan pelaaaaaaan banget, takut ni anak bakal bangun.

Bahasa Inggrisnya nge-pas sekali. Sehingga kami tidak banyak bertukar cerita. Usianya baru 21 tahun (duh, jadi inget ama si Mira, adik kecil di kantor), tinggal di Madrid dan akan ada di Maastricht hanya selama empat bulan. Mungkin shortcourse, saya tidak tahu. Dan dia juga kehabisan akal buat menerangkannya. Jadi ya sudah. Hari pertama bertemu, kami coba saling menginformasikan kebiasaan-kebiasaan kami masing-masing. Dia bilang di Spanyol orang baru bangun jam sepuluh siang, terus siesta jam dua atau jam tiga, lalu enjoy the day sampai jam dua malam. Baik, di Indonesia saya bangun jam empat, siesta juga kalau tidak ada kesibukan, sekitar jam 11 atau jam 1 siang. Terus kalau sudah jam sembilan malam, tidur deh. Sayang juga, entah karena keterbatasan bahasa entah memang ni anak tipikal anak muda di negara Barat yang tidak terlalu banyak tahu masalah budanya sendiri, usaha saya untuk tanya-tanya masalah budayanya selalu berujung pada jawaban “enggg.. I dunno…”. Berani taruhan, saya tahu lebih banyak soal Spanyol dibanding dia sendiri.

Tapi so far ya tidak pernah saling ganggu lah. Pernah suatu kali dia tanya apa saya mau ikut ke pesta, kumpul-kumpul dan Cuma minum bir aja kok, kata dia. Wuaduh, ni anak ga pernah baca atau ga pernah dengar kali yak kalau orang muslim itu nggak minum alkohol (kata Dani, wartawan dari Warta Kota yang mengambil Master Art and Heritage, “Ntu anak bego kali yak, nggak liat elu jilbaban gitu”) Akhirnya saya bilang bahwa karena saya muslim saya tidak minum bir, tidak minum alkohol. Dan kalau party, anak Indonesia udah punya party sendiri, which is kumpul-kumpul kayak di rumah Bang Hasanul, makan kacang, makan rendang, terus pulang. Atau paling banter seperti di tempat salah satu teman yang farewell party karena sudah merampungkan S2-nya dan mau pulang ke Jakarta. Partynya adalah makan es krim dan minum jus dan makan coklat. Segitu udah pesta namanya.

Soal kebersihan, Irene lumayan rajin bersih-bersih. Tadinya sedikit khawatir sama image tentang bule yang biasanya suka jorok. Tapi saya berusaha percaya kalau dimana-mana, terutama perempuan (huik, gender bias gini yah ?), pasti senang yang rapi-rapi. Jadi kalau disini ada kamar yang terbuka dan terlihat seperti habis kena badai, biasanya isinya memang bule brewok yang mungkin mandinya Cuma seminggu sekali.

Menghadapi situasi seperti ini, saya pikir siapapun memang harus punya self concepts yang kuat. Kalau nggak, maka ada dikamar sendirian sambil nonton televisi sementara tetangga kiri kanan pada pergi ke bar dan kafe di Centruum (pusat kota), bisa bikin siapapun merasa jadi phaetetic looser. Ical cerita bahwa dia punya roomate anak Mozambique yang punya kebiasaan pulang jam dua, jam tiga dalam keadaan mabuk. Padahal Mozambique gitu loh, kalau dia anak Amerika atau Italia yang memang biasa dugem, bisa ngerti lah (walaupun ga semuanya kayak gitu) Tapi ini Mozambique! Hoalah, kasihan banget kamu, Le… orang jauh-jauh di kirim dari negara berkembang buat belajar, supaya rakyatmu nggak sengsara terus-terusan, la disini kok malah gegar budaya, ikut-ikutanan coro Londo…

Empat bulan. saya sendiri punya rencana kalau bisa menemukan tempat yang sama nyamannya, mungkin saya akan pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kampus. Kalau tidak, mudah-mudahan saya bisa atur supaya Dani bisa sekamar dengan saya.

Terbang …

Saya dan teman-teman dijadwalkan berangkat dari Jakarta pukul 18.55 dengan KLM. Namun penerbangan kami harus tertunda selama 1,5 jam karena katanya ada virus yang mengganggu sistem check in di seluruh maskapai penerbangan. Sehingga mereka harus menggunakan sistem chek in secara manual dan tentu saja ini membuang banyak waktu.

Alhamdulillah akhirnya pesawat mulai bergerak terbang. Mengingat salah satu adab safar (bepergian) adalah banyak-banyak berdoa,kKarena doa orang yang sedang bepergian termasuk doa yang mustajab selaian doa orangtua untuk anaknya dan doa orang yang teraniaya, jadinya mulut ini langsung komat-kamit sampai-sampai teman sebangku saya, seorang cowok Perancis bersama adik perempuannya, tertawa geli mellihat saya. Kurang ajar tuh bule, dikiranya saya ketakutan atau apa kali yah … karena abis itu dia langsung nanya dalam bahasa Inggris yang kebelit-belit, “Is this your first flight ?” dan saya langsung melotot sambil tertawa “Am I that obvious ?” saya balik bertanya. Dan dari situ jam-jam pertama kami habiskan buat cerita-cerita soal negara kami masing-masing. Dia dan adiknya baru saja mengunjungi Indonesia untuk liburan dan mengunjungi tante dan om mereka. Dia bilang Indonesia bagus, nasi goreng, sate ayamnya enak. Yah, buat sopan-sopannya saya complement balik bilang bahwa orang Prancis punya bahasa yang indah, bahwa saya berharap suatu saat bisa mengunjungi Museum Louvre dan sebangsanya dan sebangsanya …

Tapi enam belas jam perjalanan itu waktu yang lama sekali dan setelah itu kami kehabisan bahan cerita. Akhirnya kemudian kami diam-diam sepakat to mind our own business. Yang mengkhawatirkan adalah selama penerbangan itu saya hanya tidur-tidur ayam, bukan tidur yang deep sleep. Alamak, ini artinya harus siap-siap buat jetlag.

Jam tangan saya menunjukkan pukul 11 siang waktu Jakarta ketika akhirnya pesawat mendarat di Schipol pukul 6.29. Saya harus bertemu dengan Juli, yup my very best friend yang sudah selesai merampungkan masternya di Amsterdam. Rencananya akan ada seserahan, serah terima harta gono-gini alias lungsuran yang pastinya akan berguna sekali buat satu tahun ke depan. Disini juga sudah menunggu Bang Hasanul, suami Nurul yang sudah ada di Belanda terlebih dahulu.

Alhamdulillah tidak berapa lama setelah baggage claim, yang ditunggu sudah muncul. Wuaduh, ternyata harta gono-gini itu kelihatannya banyak juga. Ada satu kantung plastik besar yang mungkin sama ukurannya seperti karung. Saya melirik barang bawaan saya; kopor 30 kg yang patah gagangnya karena keberatan beban, tas ransel berisi laptop dan tas tenteng berisi buku dan dokumen-dokumen yang beratnya pasti tidak kurang dari 10 kg. Hmm, pasti akan kerja keras menyeret ini semua sepanjang 2,5 jam perjalanan menuju Maastricht.

Perjalanan menuju Maastricht dimulai dari naik kereta dari Schipol menuju Duivendrecht. Dari Duivendrecht kami harus berganti kereta yang langsung menuju Maastricht. Ternyata kereta yang menuju Duivendrecht terlambat, itu berarti kami hanya punya waktu sedikit untuk mengejar kereta berbeda dari Duivendrecht yang menuju stasiun Maastricht. Dan betul saja, rombongan anak-anak Maastricht ini harus berlari-lari sambil menyeret barang bawaan ke peron. Rupanya kereta yang menuju Maastricht sudah datang dan kami hanya bisa memandangi kereta yang bergerak perlahan sambil tersengal-sengal.

Kami harus menunggu 45 menit untuk menunggu kereta berikutnya yang langsung ke Maastricht. Sebenarnya kereta yang lain juga ada, tapi kami harus transit lagi di beberapa stasiun. Dan melihat kenyataan betapa payahnya kami menyeret semua barang bawaan ini, maka pasti lebih bijak untuk bersabar menunggu kereta yang akan datang.

Pukul 9.41 pagi kereta yang ditunggu akhirnya datang. Fiuuh, lega juga. Bisa sedikit meregangkan kaki, punggung dan tangan yang rasanya sudah mau putus semua. Niatnya sih ingin tidur, tapi khawatir kalau stasiunnya akan terlewat plus rasa penasaran seperti apa sih Netherlands itu membuat mata saya sulit terpejam. Kereta yang tenang dan nyaman itu membawa kami melewati kota-kota besar dan kecil, hutan, padang rumput, wah jadi ingat sama kereta Hogwarts Express-nya Harry Potter dalam perjalanan menuju Hogwarts. Gambarannya persis sama dengan ini.

Pukul dua belas lewat, kami tiba di Maastricht. Oke, kerja keras lagi menyeret semua barang. Di Stasiun kami sudah membuat janji untuk bertemu dengan Ria Westenberg, International Relations Officer MPH Programe dari Unimaas. Dari stasiun diputuskan bahwa Ria akan membantu saya dan Astri ke Guesthouse Universitas, tempat dimana kami berdua akan tinggal.
Pukul setengah dua kami tiba di Guesthouse. Merapikan semua urusan administratif, bayar buat satu bulan pertama, kebersihan dll, akhirnya bisa check in. Irene, teman sekamar saya, katanya sudah datang dari kemarin. Masuk kamar rasanya ga akan mungkin buat langsung unload. Karena di kamar saya ada privat kitchen, saya bisa langsung memasak air dan menyeduh teh manis instan yang dibawa dari Jakarta. Baru aja mau tidur, Bang Hasanul sudah menelepon, mengajak kami semua makan siang ditempatnya. Wah, nggak mungkin ditolak dong, soalnya memang lapar berat. Sarapan di KLM rasanya sudah berabad-abad yang lalu. Jam empat Bang Hasanul, Nurul, Benny dan Ical, anak Ford Foundation yang akan kuliah di Utrecht, menjemput ke rumah saya.

Beramai, kami tiba di tempat mereka. Rupanya sudah ada beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Maastricht menyambut kami. Malam itu ditutup dengan makan rendang yang nikmat ….

H-3: Briefing Terakhir

Hari ini ke NEC buat ambil tiket, Stuned Award Letter, Insurance, dan briefing terakhir. Setelah itu ke Kedubes Belanda untuk mengambil paspor dan visa. Di NEC sudah hadir Nurul (FK UNDIP), Benny (FK UNAIR), Elida (Farmasi UNAIR), Astri (FKM UI), semuanya merupakan kamerad satu almamater di Maastricht nanti. Kami semua sudah kenal dan bertemu di Pre Departure Briefing tanggal 23 Juli kemarin. Diantara mereka I am the youngest one loh --- dan yang belum nikah-- he he he, so what gitu loh ?!

Punya teman seperjalanan tentu saja menyenangkan. Tidak harus deg-degan sendirian. Karena jelas, yang paling diinginkan kehadirannya ketika kita terbang 16 jam (bukan 13) ke negeri asing yang bahasanya didominasi huruf konsonan dan serba main tenggorokan, naik kereta 3,5 jam sambil membawa koper besar seberat 30 kg dan tentengan 10 kg, harus ganti kereta dua kali, adalah TEMAN SEPERJALANAN.

Kami semua dijadwalkan berangkat dari Bandara Soekarno Hatta dengan menggunakan KLM pada pukul 18.55. Tapi sayangnya, ada miskomunikasi antara pihak NEC yang mengatur booking tiket kami dengan KLM. Ketika konfirmasi terakhir, ternyata status Nurul dan Elida adalah waiting list. Dan pihak NEC tidak mengkonfirmasi lebih lanjut status mereka. Baru setelah e-ticket dibagikan kepada kami, kami baru sadar bahwa tanggal yang tertera di e-ticket milik mereka tercantum tanggal 28 Agustus. Sehari lebih awal dari yang sudah direncanakan untuk kami. Karena tanggal 29 sudah tidak ada seat lagi yang tersedia. Mungkin karena ini bulan-bulan menjelang musim kuliah dimulai, sehingga penerbangan ke Belanda jadi padat.

Hal ini cukup membuat kami kaget. Maklumlah Elida dari Surabaya, hingga pihak keluarga yang akan mengantar sudah diatur sedemikian rupa untuk tiba di Jakarta hari Senin, packing juga belum selesai dan tentu aja soal housing yang baru bisa masuk tanggal 30 nanti. Sementara Nurul sudah membeli tiket KLM untuk anaknya agar bisa ikut berangkat tanggal 29 nanti. Nurul sendiri buat kami sangat vital, karena sebagai orang yang sudah satu tahun tinggal di Maastricht (suaminya lulusan Delft dan sekarang sedang mengambil Phd di Unimaas), dia yang kami andalkan sebagai “ibunya anak-anak” yang memandu perjalanan kami dari Amsterdam ke Maastricht.

Elida sempat menangis dan Nurul segera sibuk mengurus kembali tiket anaknya dengan pihak KLM. Mba Siska yang bertanggung jawab sebagai staf senior yang mengatur ini semua, sanpai berkali-kali meminta maaf. Saya rasa memang bukan tugas yang mudah mengatur ijin tinggal, booking tiket, uang kuliah dll untuk 140-an orang. Maka hal seperti ini merupakan sebuah keniscayaan untuk terjadi.

Jadi tinggal saya, Astri dan Benny plus Hani, seorang teman yang akan ke Saxion. Tidak seperti yang direncanakan dan mungkin kesenangannya akan berkurang. Tapi mau bagaimana lagi. Setelah menandatangani kontrak beasiswa, menerima kontrak asuransi, dll-nya, ada pengarahan terakhir dari Ibu Monique Soesman. Intinya pengingatan tentang motivasi, harapan dari beasiswa ini, hak dan kewajiban dan … terakhir soal fase-fase culture shock yang bisa jadi akan kami alami (nanti deh cerita-cerita soal ini-nya).

Dari situ ramai-ramai ke Kedubes Belanda ambil paspor. Saling tukar informasi kelengkapan barang bawaan, dan akhirnya berpisah. Sampai ketemu Senin di Bandara. Have a safe journey!

Thursday, August 25, 2005

The Art of Curhat

“When God close the door, He open the window…”
(Sound of Music)

Apa sebenarnya hal terbaik yang didapat dari aktifitas curhat ? oooh, banyak kawan. Seringkali saat kita curhat yang kita lakukan sebenarnya adalah menggemakan pikiran kita, echoing our mind, dan voila! Jawaban permasalahan kita pun bisa dengan sedirinya muncul seperti pop up.

Seperti ketika pagi itu saya dan seorang teman dekat saya lari pagi di sebuah komplek tempat kami biasa lari pagi. Kerisauan, kekhawatiran semua bisa dimuntahkan dan teman saya ini rupanya tergolong pendengar yang baik. Maka yang dia lakukan adalah memantulkan kembali pikiran-pikiran saya hingga saya bisa melihatnya lebih jelas dan dapat mengenali mana yang sebenarnya merupakan sebuah masalah yang butuh solusi konkrit dan mana yang hanya butuh sedikit penjernihan cara pandang sehingga saya tidak menganggap sebuah rintik hujan sebagai pertanda badai. Mana urusan-urusan yang dapat kita kerjakan sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia, mana yang harus dipasrahkan sebagai bagian milik Allah Ta’ala.

Saya percaya tidak seorangpun yang dapat mengenal diri kita selain diri kita sendiri. maka ketika muncul permasalahan, kita sendiri yang paling tahu solusi apa yang paling tepat. Namun kita selalu butuh orang lain untuk menjadi cermin, menjadi dinding pantul yang menolong kita untuk sedikit menarik jarak dari permasalahan yang ada. Dengan demikian, kesedihan, kekhawatiran, kegelisahan akan terlihat bentuknya dan itu memudahkan kita menemukan pemecahannya.

Menutup akhir masa ‘menye-menye’. Yang bukan milik kita tidak akan pernah jadi milik kita. Tak peduli seberapa besar kita menginginkannya. Mungkin belum waktunya, mungkin bukan orangnya. Jadi hadapi saja kenyataan that, it’s time to focus on my study

Jangan Biarkan Kegelisahan Menjadi Amuk Batin*

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak akan ditimpa duka cita dan kesedihan,” lalu beliau melanjutkan, “Jika membaca doa,” “Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, putra dari hamba-Mu, dan keturunan dari umat-Mu. Jalankanlah aku dengan tangan-Mu. Telah berlaku bagiku hukum-Mu, telah adil bagiku keputusan-Mu. Aku meminta kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau dengan nama yang Engkau jelaskan dalam kitab-kitab-Mu, atau dengan nama yang Engkau ajarkan pada salah seorang hamba-Mu, atau dengan nama yang Engkau simpan sendiri dalam ilmu ghaib disisi-Mu. Semoga Engkau jadikan Al Quran sebagai musim semi dan cahaya hatiku, penghapus kesedihanku, dan penawar duka citaku.” Jika seseorang membaca doa ini, maka Allah akan menghilangkan kesedihan dan duka cita serta menggantinya dengan kegembiraan. Maka sahabat-sahabat pun bertanya “Ya Rasulullah, apakah kami harus mempelajarinya?” Rasulullah SAW menjawab , “Ya, setiap orang yang mendengar doa ini seyogyanya mempelajarinya.”

*dari sebuah bab buku Recik-recik Spiritualitas Islam

Ke Makam Bapak

Hari itu menjelang sore. Matahari baru bergerak sedikit ke arah barat. Saya dan ibu saya bersama seorang keponakan berjalan menyusuri jalan memasuki komplek pemakaman umum. Ini bukan hari yang istimewa untuk berziarah. Komplek TPU itu sepi dan menenangkan. Sejauh mata memandang, hamparan makam tertata rapi dalam balutan rumput hijau. Sebagian terpelihara dengan baik, menandakan keluarga si empunya makam membayar cukup mahal untuk pemeliharaan makam, beberapa lainnya tampak sederhana dan bersahaja. Di bagian yang berlabel VIP, makam-makam pun lebih ‘heboh’ dengan hiasan bungan imitasi melengkung indah diatas nisan. Dasar manusia, bahkan dalam duka tidak tahan untuk tidak membuat strata sosial.

Makam ayah saya termasuk yang sederhana. Suatu kali saya sempat mengusulkan untuk memberikan hiasan bunga diatas nisan agar makamnya lebih ‘cantik’. Tapi buru-buru tersadar oleh ucapan kakak saya, “Bapak nggak terlalu suka yang seperti itu …” dan saya pikir ada benarnya juga. Karena kadang yang kita lakukan untuk orang lain tidak selalu untuk membawa manfaat yang nyata bagi yang bersangkutan, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan ego kita sendiri.

Sore itu kami bertiga datang untuk berziarah. Berpamitan ? entahlah. Saya kira bukan itu istilah yang paling tepat. Yang menghubungkan kami kini hanyalah untaian doa dan amal kebaikan yang dilakukan anak-anaknya. Dia hidup dalam dimensi waktu dan ruang yang berbeda. Tapi mama saya berkeras mengingatkan saya untuk datang ke makam sebelum berangkat pergi.

Hadir di makam bapak, buat saya lebih pada sebuah usaha pengingatan. Rasanya lebih dalam daripada sekedar mengingat kenyataan bahwa suatu waktu saya akan mendapat giliran menempati salah satu petakan itu. Pengingatan bahwa surga dan negara tidak mengenal koneksi, bahwa pada akhirnya kita akan menghadapi sidang penilaian itu sendirian. Tak peduli se-salih apapun orang tua kita, bahkan jika orangtua kita seorang Nabi sekalipun, pilihan-pilihan yang kita buat, kitalah yang akhirnya mempertanggungjawabkannya.

Kenyataan paling menyakitkan dari kehilangan orangtua, saya rasa adalah kenyataan bahwa kita akan kehilangan salah satu sumber doa. Doa orangtua yang salih untuk anaknya adalah kekayaan paling berharga yang bisa dimiliki oleh seorang anak. Dan kadang saya merasa bahwa mungkin saja jika ada kemudahan, jika ada keinginan-keinginan yang terkabulkan, maka itu bukanlah sepenuhnya hasil doa saya. Bisa jadi orangtua sayalah, yang sedang diwujudkan segala mimpi dan keinginan mereka. Bukan saya.

Dalam beberapa waktu perjalanan yang kadang tidak selalu mudah, saya suka berbisik pada bapak atau ibu saya, “doain aku malam ini yah …” dan bapak saya akan mengangguk dengan penuh antusias.”Bapak akan doain kamu …”

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa kadang bukan didikan mengikuti teori psikologi paling canggih yang dapat menyelamatkan orangtua dari beratnya pertanggungjawaban mendidik anak. Betapa banyak orangtua yang berpendidikan tinggi patah arang dalam menanam hati yang baik didada anak-anaknya, dan berapa banyak pula orangtua yang sederhana yang dengan ketulusan niat dan doanya, Allah lindungi anak dan keturunan mereka dari kesesatan dan sifat lalim.

Dan ketika mereka perlahan-lahan menyelesaikan amanat kehadiran mereka dalam kehidupan dunia, maka kitapun sadar bahwa berkurang pula pundi-pundi doa kita. Dan walaupun tentu saja Allah Maha Memberi, namun malu lah diri ini semalu-malunya jika meminta tanpa melihat diri, apakah memang layak kita diberi.


Buku-buku yang akan dibawa ...

Ini beberapa buku kuliah yang dengan baik hati dipinjamkan oleh dr.Ririn, teman dekat saya yang sedang merampungkan S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di FKM UI. Mudah-mudahan bermanfaat. Buku-buku lain juga ada tapi belum tahu juga apakah bisa masuk ke dalam jatah bagasi 30 kg. KLM are very firm about this.

1.Pedoman Kesehatan Nasional
2.Perjalanan Menuju Indonesia Sehat 2010
3.Investasi Kesehatan Untuk Pembangunan Ekonomi
4.Sistem Kesehatan Nasional
5.Health Care System Around The World
6.International Conference on Comparative Health Policy and Reforms in East Asia
7.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan
8.Fundamentals of Health Insurance
9.Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat
10.The Economic of Health and Health Care
11.Kesehatan Lingkungan
12.Pendidikan- Promosi dan Perilaku Kesehatan
13.Beberapa bundel copy materi perkuliahan ilmu kesehatan masyarakat
14.Beberapa bundel materi seminar kesehatan
15.Struggling to Surrender (Jeffrey Lang)
16.,Berhenti Sejenak : Recik-recik Spiritualitas Islam(Abu Ridha)
17.Kamus.
18.Sedap Sekejap Pemula
19.Pokok-pokok Ajaran Islam : Syarah Arbain Nawawiyah (DR.Musthafa Al Buqha)
20.Mensucikan Jiwa :Intisari ‘Ihya Ulumuddin Al Gahazali (Sa’id Hawwa)

The Prep (4) Masalah Housing

Ini masalah yang lumayan buat deg-degan juga. Pertama karena begitu banyak yang mewanti-wanti, termasuk dari NEC sendiri untuk segera meng-arrange housing dengan universitas terkait. Kenapa ini penting ? pertama ya buat tempat tinggal lah. Bayangkan saja jika setelah menempuh 13 jam perjalanan (ditambah 3,5 jam naik kereta dari Amsterdam-Maastricht), masih jetlag, dan kita tidak tahu dimana kita bisa tidur. Memangnya disini, bisa numpang tidur di masjid ? kedua, ini lebih penting lagi. Housing diperlukan karena bank memerlukan alamat ketika kita membuka rekening di bank. Tidak ada alamat, tidak ada rekening. Tidak ada rekening, berarti tidak ada uang beasiswa dan itu artinya, temanku, adalah sengsara di negeri orang.

Di Universiteeit Maastricht, mahasiswa internasional bisa tinggal di Guesthouse. Reservasi secara online harus dilakukan mandiri karena universitas tidak menanganinya lagi tahun ini. Saran dari teman yang sudah disana? “Pilih yang single dan dekat kampus. Kalau single kan kamu bebas mau ngapain aja, mau senam kek, mau tidur kek. Kalau double walaupun lebih murah kan kamu tidak tahu teman sekamar kamu itu kayak gimana orangnya.” Oke, maka single dan dekat kampus intinya.

Tapi ternyata yang berpikir begitu bukan saya seorang. Ratusan mahasiswa baik yang internasional maupun yang dari Belanda rupanya sependapat dengan teman saya itu. Dan dengan resource kamar yang terbatas, beberapa orang yang tabah dan baik hati di takdirkan harus mengalah untuk tidak dipenuhi keinginannya. Dan, yup! Sayalah salah satu orang yang tabah dan baik hati tersebut he he he…

Beberapa hari yang lalu saya dapat konfirmasi dari Guesthouse kalau pesanan saya dilokasi yang dekat kampus dan single tidak bisa dipenuhi. Saya kebagian di kamar yang double room. Tapi ada dapur sendiri (biasanya dapur umum) lengkap dengan kulkas (saya lupa ada oven atau microwave nggak yah tapi biasanya ada), kamar dengan televisi dan--this the best part –koneksi internet! Tapi karena double, konsekuensi dari harga murah adalah berbagi kamar dengan mahasiswa lain.

Masalah berbagi kamar, entah di Guesthouse di sebuah negeri bernama Belanda atau kah di kos-kosan di Depok adalah roomate. Yup, a single soul that would be ur partner for the next one year. Kalau di kos-kos an mungkin masalah kebiasaan keseharian (kalau si jorok ketemu sama si super rapih, bisa ribut), maka di Guesthouse masalah ini diperumit dengan perbedaan budaya, bahasa, dan agama.

Di buku panduan yang diberikan NEC ada cerita dari seorang alumni tentang mahasiswi Indonesia yang masih lajang yang berbagi kamar dengan seorang mahasiswi Spanyol. Kamar mereka hanya dipisahkan oleh sekat setengah dinding. Suatu ketika si anak Spanyol bertanya pada si anak Indonesia, boleh tidak pacarnya main ke kamar mereka. Karena tidak berpikir macam-macam, si anak Indonesia ini tidak keberatan. Rupanya istilah main ini bukan sekedar minum-minum teh sambil makan gorengan seperti di Indonesia. Tengah malam si anak Spanyol ini datang bersama pacarnya dan tentu aja mereka tidak datang tengah malam untuk minum teh sambil makan gorengan. Dan .. terjadilah hal-hal horor tersebut.

Jelas, anak perawan mana yang tidak shock kalau dalam jarak beberapa meter terdengar derit suara ranjang dan orang bercinta, maka esok harinya mereka bertengkar hebat hingga harus dibawa ke kantor Guesthouse dan akhirnya kamar mereka dipisahkan. Jelas-jelas bukan contoh cerita yang mengenakkan tentang share room dengan orang asing bukan ?

Dan siang ini saya baru saja mendapat jawaban siapa orang yang jadi teman sekamar saya. Ternyata namanya Irene dan hiks… dia orang Spanyol.

Itu baru satu hal. Belum lagi masalah perbedaan agama. Bagaimana cara terbaik mengkomunikasikan bahwa seorang muslim melakukan shalat lima kali sehari, bagaimana caranya supaya dia tidak terganggu kalau saya tilawah, bagaimana menerangkan dia untuk tidak kaget kalau bisa saja tengah malam saya bangun untuk shalat malam, bahwa saya akan puasa selama satu bulan, bahwa saya tidak makan ini tidak minum itu, that back to where I belong im just a commoners who watch spongebob squarepants!

Saya juga harus mencari tahu bagaimana kebiasaan beribadahnya, supaya dia juga bisa enak dan ga terganggu. Fiuuh! semua terlihat melelahkan sekali. Orang Spanyol. What do I know about Spain ? Queen Isabela and King Ferdinand, tidak banyak kenangan manis tentang mereka, bukan? Ferdinan Maghellans? Cordova-Alhambra-Toledo-Granada dimasa-masa kejayaan Islam Dinasti Abbasiyah ? matador ? Barcelona FC ? bagaimana kalau mengawali dengan Hei, I like Antonio Banderas, I think he’s awesome. Huek! taktik seperti ini pernah dipakai untuk teman chatting saya yang orang India, semua jadi lancar ketika saya bilang saya fans Shakrukh Khan dan nonton Kuch-kuch Hota Hai. Tapi kayaknya orang Spanyol perlu pendekatan yang lebih canggih daripada digombalin semacam itu. Pusing. Deg-degan. Yah, mulai baca-baca soal kebudayaan Spanyol deh. Insya Allah pasti menarik. Atau boleh juga mengikuti saran seorang teman:banyak-banyak nonton Dora!

Itu masalah room mate. Masalah lain, walaupun gedung yang saya pilih – eh, dipilihkan untuk saya – bagus, tapi letaknya relatif jauh. 30 menit bersepeda dari Guesthouse ke kampus. Buat kaki melayu saya yang biasa naik angkot, jarak ini tentu bikin ketar-ketir. Dan saya sibuk mengkonfirmasi beberapa orang termasuk teman-teman office boy di kantor yang naik sepeda. Berapa jauh jarak yang bisa saya tempuh dalam waktu tiga puluh menit bersepeda. Dan jawabannya tidak membuat saya lebih tenang :”Oooh, itu dari LKC ke Lebak Bulus Mbak. Eh nggak, lebih jauh deh .. ke Fatmawati kali yah…” itu kata OB di kantor. Kata kakak saya “ Hmmm… itu sih dari Cibubur ke Depok.”

Glek. Saya pun bertanya pada salah satu teman yang sudah pernah tinggal disana, memang seberapa jauh sih ? apakah jauhnya memang very far, far, far away atau jauh yang bisa diperjuangkan ? jawabannya: jauh yang bisa diperjuangkan. Ok, that’s relief. Dan yang lebih melegakan ketika membaca sebuah sms dari teman saya “Insya Allah kamu pasti bisa kok, nggak usah mikir macam-macam.” Itu lebih melegakan lagi. Look at bright side, lebih sehat, kolesterol bisa turun, siapa tahu pulang-pulang lebih berotot dan jadi six pack he he he…(apanya ? perutnya apa betisnya?).

Waktu saya curhat panjang lebar pada mama saya, tentang betapa dari hari ke hari saya makin enggan untuk pergi karena kenyataan itu, tentang mestinya dari awal saya tidak usah mengikuti keinginan untuk belajar lagi, mama saya langsung mengingatkan. “Allah itu tidak buta, Dia Maha Tahu kemampuan kita. Kalau kamu tidak mampu kuliah disana, Dia tidak akan kasih kesempatan ini. Kalau menurut Dia kamu tidak akan mampu tinggal bersama orang asing, Dia tidak akan memberikan orang asing”

Kadang memang kita perlu mendengarkan keyakinan kita lewat suara orang lain, bukan? Saya juga lantas ingat pada kata-kata Alm. Bapak saya kalau menghadapi hal-hal seperti ini, katanya tong keok memeh dipacok, itu peribahasa sunda yang artinya jangan kalah sebelum dipatuk, jangan mundur sebelum berkelahi. Gimana ini, belum apa-apa sudah mikir macam-macam! La yukallifullahu nafsan illa wus aha (tidaklah Allah memberikan cobaan kepada seorang hamba melainkan sesuai dengan kemampuan hamba itu).

Baik kalau begitu. Rasulullah SAW berkata bahwa barangsiapa yang keluar ( dari rumah, daerah, negara-nya) untuk menuntut ilmu, maka dia sedang berjalan di jalan Allah. Artinya sama saja dengan orang yang sedang berjihad di jalan Allah. Jika meninggal, maka meninggalnya pun dalam keadaan syahid. Maka apakah 30 menit naik sepeda akan menahan saya ? I don’t think so. Perkara room mate, kita tinggal berdoa saja. Semoga ada kebaikan yang didapat oleh masing-masing kami berdua dari pertemuan kami. Semoga Allah memudahkan kami untuk saling mengerti dan dimengerti, untuk memahami dan dipahami, semoga Allah menambahkan kemuliaan dari watak baiknya dan Allah lindungi dari watak buruknya. Mau orang Spanyol kek, Itali, Jepang, Nigeria, Timbuktu, semua makhluk milik Allah juga. Jadi kalau mau minta hatinya, minta sama yang punya.

Gimana ? Are You Ready ?

Bismillahi tawwakaltu ‘alallah
Dengan nama Allah, aku berserah diri pada-Nya

Insya Allah, ready-lah …

The Prep (3) Dari Manggarai …

Menunggu kereta di stasiun Manggarai sepulang dari penerjemah di Saharjo 39. Sebelumnya ke Kedubes Belanda di Kuningan. Penat, pegal, kepanasan dan belum makan siang. Ternyata jarak dari Saharjo 39 itu lumayan juga. Sebenarnya walaupun harus menunggu agak lama, ada bis yang langsung ke Kampung Rambutan. Tapi ini jam dua siang. Dan percaya deh, walau cerita KRL kita penuh cerita muram, termasuk anak Fasilkom UI yang meninggal dunia karena berusaha melawan pencopet di stasiun kereta Manggarai, naik KRL di jam-jam seperti ini lebih nikmat dibandingkan duduk di bis dengan jok kulit yang sudah rusak dan berbau logam. Jam-jam seperti ini kereta lebih lapang, suara rel yang beradu dengan besi menderu ditelinga, sementara angin yang bertiup kencang mengusir kepenatan dan kesumpekan hawa siang. Pluuuuss… jika sedang beruntung seperti saya hari ini, ada pengamen yang menghibur. Jangan salah, pengamen di kereta itu pengamen yang serius. Lebih sophisticated. Tidak sekedar bermodal ukulele yang bunyinya kencrung-kencrung seperti pengamen di angkot. Tapi biasanya mereka akan tampil dengan performa lengkap mulai dari gitar, bass, drum, ketimpung, alat-alat perkusi dan dalam cerita saya siang ini, mereka juga membawa cello dan (ini favorit saya) biola!

Dan tidak seperti pengamen di angkot yang koleksi albumnya terbatas (pernah waktu itu saya tiga kali ganti angkot dan tiga kali pula saya harus mendengarkan lagu-nya Peter Pan sampai sakit telinga), pengamen di kereta punya koleksi lagu yang lebih lengkap. Siang itu grup pengamen digerbong saya memainkan lagu mendayu Gerangan Cinta-nya Java Jive. Sudah cukup pamer kepiawan bermain biola, mereka menghentak dengan lagu Chrisye yang populer di tahun 80-an yah, jaman-jamannya Chrisye masih pakai dasi kupu-kupu gitu deh

Kamu masih anak sekolah, satu SMA
Belum boleh berbuat begitu begini
Anak sekolah datang kembali
Dua atau tiga tahun lagi …

Saya memejamkan mata. Laghwi, kesia-siaan, selalu punya tempat di kehidupan manusia. Bisa jadi sekedar pelepas lelah, namun kadang bisa jadi rekaman nilai-nilai sosial yang berlaku pada sebuah zaman, pada sebuah keadaan.

Hmmm… after the entire thing is done, I promise to treat myself a big cup of ice cream.

The Prep (2) Legalisir

Dua minggu lebih ini disibukkan dengan persiapan administratif keberangkatan dan masalah housing disana. Dua-duanya bikin capek. Masalah housing bikin capek secara emosi—tapi itu nanti aja ceritanya-- sementara masalah yang pertama lebih ke masalah fisik Fiuh! capek banget. Exhausted. Tapi itu sudah jadi resiko keputusan untuk mengurus semua sendiri. Disini, tentu aja kita selalu bisa bayar orang untuk mengerjakan hal-hal yang mestinya jadi tugas kita. Mulai dari buat akte, bikin KTP, SIM, paspor dst. Tapi buat saya, itu, kecuali kepepet, bukan pilihan pertama. Selalu ada sense of pride tersendiri kalau bisa mengurus kebutuhan saya sendiri. Pertimbangan lain tentu aja masalah biaya. Ada margin yang lumayan buat ditabung sebagai bekal hidup antara mengurus sendiri dan mengurus melalui agen. Pertimbangan lain adalah first hand experience dong. Selalu ada hal-hal baru yang ketemu dalam perjalanan-perjalanan model begitu.

Mengurus legalisasi akte kelahiran itu secara teori sebenarnya gampang. Pertama renew ur birth certificate di catatan sipil. It took about a week. Ini karena municipality sana ga mau terima akte kelahiran kita yang dua puluh lima tahun lalu sudah susah payah diurus oleh ayah bunda kita. Setelah selesai, legalisasi di departemen kehakiman. Dalam waktu dua hari legalisasi selesai. Kedua, dari departemen kehakiman, kamu ke deplu. Itu juga dua hari. Ketiga, dari deplu kamu ke kedutaan besar belanda, langkah ke empat pergi ke penerjemah yang ditunjuk (dalam hal ini saya memilih ke Saharjo 39 di Manggarai). Dari situ balik lagi ke kedutaan besar belanda minta legalisasi. Dan akhirnya, akte mu selesai dan memenuhi syarat secara hukum untuk urus MVV di belanda. Kalau mau bikin kenangan, ya coba-coba lah ga usah diurus. Surely, it would bring some story to your life disana nanti. Di deportasi, misalnya.

Tapi nyatanya … teori tidak selalu berjalan semulus yang dikira. Sebenarnya memang sudah mengira kalau berurusan dengan instansi pemerintah, pasti ada aja yang bikin gondok. Dan ternyata bahkan kementerian sementereng departemen kehakiman pun tetap aja payah kalau soal pelayanan ini. Pertama datang belum masalah. Dimana urus legalisasi akte ? ga ada informasi. Okeh, Tanya petugas di meja informasi. Oh, di lantai 3, mba. Tapi harus beli formulirnya dulu di koperasi. Lurus, belok kiri, turun, itu koperasi. Sip! Lurus, belok kiri, turun ketemu lah sama koperasi. Tapi dimana yang jual formulir? Tidak mungkin di warung nasi. Satu-satunya bagian yang tidak mengindikasikan “kami menjual makanan” adalah meja dengan dua mba-mba yang sedang asyik berdandan. Ok, bilang permisi mba, mau beli map untuk legalisasi formulir. Salah satu mba itu yang cantik sekali seperti teller bank, berteriak pada temannya.”Sri!! sini lu!tuh ada yang mau beli map!” wuah, si mba cantik-cantik tapi kok gahar gitu.

Singkat cerita map sudah dapat. Lalu terus ke lantai 3. hmmm,… dingin, sepi. Kemana nih ? saya clingak-clinguk mencari kata-kata Akte atau Legalisasi atau Anda Bingung ? Kasiaan Deeh! atau apa kek. Karena semua pintu-pintu tertutup dan dari balik dinding kaca terlihat semua orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yah, kalau sudah seperti ini harus pakai Nabi kata teman saya. Apa tuh ? Naa Bibir Lu! Alias tanya-tanya. Ada beberapa mba dan mas-mas yang duduk berjajar. Permisi, ada yang tahu dimana saya bisa legalisasi akte ? semua saling beradu pandang. Ups, oke salah orang. Nah, disebelah sana, ada dua mas-mas yang lagi nongkrong-nongrong didepan dipintu sambil mengobrol dengan seorang mba yang tampangnya seperti mahasiswa. Aha! Siapa tahu itu anak STUNED yang sama kebingungan. Langsung didekati dan langsung tanya. Ternyata bukan anak STUNED, tapi memang sedang mengurus surat untuk kuliah ke Belanda dengan biaya sendiri. Alhamdulillah, diberi informasi saya harus ke ruang mana. Masuk ke ruang tersebut ada seorang mas dengan kepala botak dengan tumpukan map didepan mejanya. Hmm, pasti ini officernya. Tapi saya lihat dia sedang sibuk mengunyah lumpia dalam genggamannya. Ya sudah, karena saya pikir tidak sopan kalau menginterupsi orang ketika sedang sibuk makan, saya menunggu setidaknya sampai dia selesai menelan sambil berdiri dihadapannya.

Tapi, lho si mas kok malah take another bite, tidak tanggap ing sasmita, seakan-akan tidak menyadari ada calon mahasiswa yang baik hati dengan sabar berdiri dihadapannya menanti dia selesai mengunyah. Oke, deh saya ambil inisiatif aja. Bilang maaf ganggu, mau urus legalisasi akte. Dia mengangguk-angguk tanpa memandang saya, masih sambil mengunyah lumpia. So ? tidak ada sambutan. oke saya lagi. Ini map dan aktenya. Dia mengangguk lagi. Diisi formulirnya, katanya dengan susah payah sambil menelan lumpia. Baik, saya isi. selesai. Saya mengulurkan map dan akte saya. Si mas masih sibuk makan lumpia.

Saya penasaran. Begini mas, yang saya serahkan aslinya apa fotokopinya ? aslinya, tapi minta fotokopinya satu buat arsip, kata si mas. Saya merapikan semua yang diminta ke dalam map. Ada lagi ? tanya saya. Minta fotokopi KTP-kata si mas.Yaks! ini bawa tidak yah ? soalnya pagi ini dengan isengnya saya ganti tas. buru-buru saya mengecek dompet dan tas saya. ATM, Kartu Berobat di RS Haji, Kartu Berobat di RS Pasar Rebo, Kartu anggota Perpustakaan Nasional yang sudah expired, kartu member sebuah salon muslimah, foto-foto teman dan saya, kwintansi fotokopi dan beberapa kertas sampah lain yang pasti saya taruh didompet kalau tidak ketemu tempat sampah, semua ada, tapi tidak KTP, benda yang bisa menyelamatkan saya kalau ada operasi Yustisi. Wuaduh gimana ? tidak bisa menyusul? Oh tidak, kata si mas. Dilengkapi dulu besok datang lagi. Rumah saya jauh mas? (masih usaha) Si mas: Iya tapi aturannya sudah begitu. Baiklah, atas nama aturan saya pun mengalah. Besok datang lagi. Hari itu memang kesalahan saya.

Dan datanglah besoknya saya dengan hati yang optimis bahwa dalam dua hari kedepan saya bisa melangkah ke tahapan yang mendekati selesai. Ke lantai 3 lagi kali ini tanpa celingukan lagi. ketemu si mas lagi. kali ini dia lagi makan mi ayam (saya melirik jam, setengah sepuluh seperti kemarin. Tapi mungkin memang jam snack kali yah seperti kebiasaan saya di LKC yang mendaulat jam setengan sepuluh sebagai waktu minum kopi ). Okeh! Ini sudah lengkap mas. Selanjutnya apa ? si mas kali ini sibuk dengan mi ayamnya menjawab: ke empat. Hah ? maksudnya ? saya bertanya. Mba bayar ke lantai 4. Ooooh, gitu. Ada lagi ? tanya saya. Bayar dulu aja ke lantai 4, kata si mas kekeh. Saya pun ke lantai empat menyelesaikan pembayaran (diiringi dengan acara clingak-clinguk karena lagi-lagi tidak ada informasi dimana saya harus membayar). Setelah membayar, ada telepon masuk dari seorang teman lama yang mengundang walimah. Jadi heboh sesaat, lupa bertanya pada si ibu kasir bagaimana nasib saya selanjutnya dan si ibu kasir pun tidak memberi informasi apa-apa. Maka saya pun meninggalkan Departemen Kehakiman dengan hati gumbira. Dua hari lagi, dan saya bisa ke Deplu.

Dua hari kemudian

Bergegas ke Kehakiman pada jam yang sama dengan tiga hari dan dua hari sebelumnya. Ketemu si mas legalisasi lagi. Assalamualaikum, mau ambil akte mas. Wuah, mba yang kemarin yah ? kemarin kemana ? kok nggak balik lagi ? kita tungguin kwitansi bukti pembayarannya. Belum di proses deh tuh Aktenya…SAY WHAT?! Argghhh!! *mulai ada yang mengepul dari dalam kepala, tapi ada suara yang bilang sabar tin, sabar, istighfar .. baca taawudz …la taghdab falakal jannah, jangan marah ntar dapet surga deh… take a deep breath* Kemarin kenapa saya tidak diberitahu kalau saya harus serahin itu ?! kata saya dengan suara mulai naik. Laah, mbanya keluar duluan--elak si mas. Lho ? saya kan waktu itu tanya apa lagi tapi saya ga dibilangin! Kalau begini saya buang-buang waktu namanya! Kata saya yang saat itu sudah berbicara sambil mendesis, karena kalau teriak-teriak malu aja. Malu sama Allah, trus ya malu sama orang, malu juga sama komunitas intelektual se-Margonda Raya yang sudah mau memberikan saya ijazah itu. Urus surat beginian aja kok bisa jadi Nona Komunikasi alias miskomunikasi, pakai naik darah segala, lagi. Arrrgh! Inginnya saya menjitak kepala si mas itu keras-keras!

Begitulah. Intinya saya menghabiskan waktu lebih dari yang umumnya, untuk bulak-balik Cibubur-Pasar Rebo-UKI-Kuningan-Kehakiman, menempuh perjalanan dua jam,macet, naik turun tangga penyeberangan untuk berhadapan dengan si mas botak itu. Dalam kasus ini saya juga punya andil kesalahan, tapi saya yakin mestinya tidak akan jadi time wasting energy consuming begini andai saja orang-orang di departemen kehakiman atau di instansi pemerintahan manapun mau sedikit berusaha untuk lebih komunikatif terhadap saya, kita, masyarakat kecil yang butuh pelayanan mereka, yang membayari gaji mereka secara tidak langsung. Mbok ya ditulis gitu loh dari awal gimana prosedur pengurusannya, atau setidaknya, please … pasang papan petunjuk informasi!

Sampai kapan yah pelayanan publik kita mau terus-terusan payah begini. Saya ingat di LKC kami pernah mengadakan pelatihan yang diberi nama Pelatihan Komunikasi Terapetik. Walaupun intinya adalah Komunikasi Interpersonal –yang di jurusan komunikasi bobotnya 3 SKS itu—tapi intinya yang dibahas dalam pelatihan itu adalah how do we treat other people in such a right manner. Urusan melayani bukanlah urusan sembarangan. Harus ada ilmu dan hati untuk mempraktikkannya sehingga orang merasa betul-betul terlayani.

Dari hal-hal kecil seperti jika ada pasien, hadapi dengan seluruh tubuh, tatap matanya, tanya apa yang bisa dibantu. Apalagi pasien LKC adalah duafa yang butuh banyak penjelasan gamblang. Jangan tunggu ditanya, tapi inisiatiflah untuk memberi keterangan. Hasilnya ? masih perlu banyak yang diperbaiki tentu saja dari pelayanan yang diberikan LKC. Tapi hidung saya yang nggak mancung ini jadi mekar juga, ketika suatu saat mendengar komentar seorang ibu yang sedang mengantri menunggu obat pada teman wartawan yang datang. Ibu itu punya kartu miskin yang sebetulnya bisa ia gunakan untuk berobat ke puskesmas terdekat. Tapi dia memilih ke LKC. Alasannya ? ”Kalau disini (LKC) nggak kayak di puskesmas yang suka dicuekin. Disini kayaknya melayaninya pake hati” deeeeuu, … si Ibu bisa aja, jadi gimanaaa gitu.

Sesekali saya pun suka duduk di ruang spesialis yang hanya dipisahkan oleh tirai dari ruang poli umum. Mendengarkan diam-diam bagaimana dokter-dokter kami bicara pada pasien. Dari situ saya bisa menilai bahwa dokter-dokter kami punya gaya komunikasi yang lumayan lebih baik dibanding dokter yang suka saya temui. Seorang dokter suatu kali berkata pada ibu yang keluhannya tidak jelas “Ibu mungkin lagi banyak masalah ya ? jangan berpikir macam-macam, ibu bangun malam, shalat, minta sama Allah supaya diringankan masalahnya …” hmm… jadi ingat filem Patch Adams. Pernah nonton ? itu filem bagus tentang kritik pada ilmu kedokteran yang kadang melakukan pendekatan yang mekanistik terhadap pasien dan kadang mengesampingkan kenyataan bahwa pasien itu manusia yang kadang kebutuhannya bukan diganti organnya tapi didengarkan dan perlu sentuhan komunikasi yang manusiawi. Ups, jadi melantur kemana-mana.

Balik ke persoalan pelayanan di instansi pemerintahan. Padahal apa yah bedanya yang bekerja sebagai PNS dengan yang bekerja di LSM ? intinya kan sama aja. Yang jadi PNS bekerja atas biaya masyarakat yang dikumpulkan pemerintah melalui pajak, yang di LSM (dalam hal saya) Amil Zakat bekerja diatas dana zakat yang dibayarkan muzakki (orang yang wajib berzakat) untuk mensucikan hartanya. Dua-duanya adalah amanah. Dua-duanya uang orang yang setiap sennya harus digunakan penuh pertimbangan, tidak boleh digunakan sak enake wudel dewek karena pertanggungjawabannya di akhirat akan melibatkan orang banyak. Uang yang sudah terkumpul lewat pajak itu mestinya kan bisa diputar supaya orang bisa mengongkosi anak sekolah, berobat ke rumah sakit atau mengubur mayat sanak keluarga yang meninggal. Atau setidaknya cukup untuk membangkitkan kesadaran bahwa orang perlu pelayanan yang serius dan itu berarti melayani tidak sambil makan lumpia!

Intinya sih kesel
Tapi … that some story hardly to get when u pay someone to do ur things ;b

Tuesday, August 02, 2005

dari sebuah cinta ...

Ini email dari seorang teman. somehow, begitu email ini kebuka, terdengar lagu "Doa Perpisahan"-nya Brothers. Hik, Allah tuh ... tahu aja theme song yang pas buat tiap penggal episode kehidupan saya. Beliau ini salah satu teman terbaik yang saya punya, makan bareng, jalan-jalan malam (ingat episode muter-muter di Blok M?), teman tertawa, merenung, berbagi tausiyah, menyegarkan iman dan memulihkan kesadaran, bahwa kita tak pernah punya kendali riil atas kehidupan yang kita jalani. seperti bermain ular tangga, yang dapat dilakukan hanyalah melempar dadu. apakah itu tangga yang membawa kita naik ke level keimanan, kedewasaan, kebijaksanaan berikutnya, ataukah ular yang juga sama-sama membawa ke level yang sama, semuanya ada dalam rencana-Nya (dan pasti itu yang terbaik, definetely!). Hanya impact-nya yang berbeda. Yang pertama bisa membuat kita ge-er karena merasa jadi pusat perhatian Tuhan, yang kedua bisa membuat kita patah hati dan bertanya dalam diam "Apakah Engkau bersamaku saat ini, Tuhan ?" (see Al Fajr)

Seberapa besar keputusan yang saya buat ini mempengaruhi kehidupan dunia dan akhirat saya nanti, saya tidak pernah tahu. Namun ketidaktahuan, adalah kunci dari kesadaran bahwa kita hanya manusia yang bergerak dalam rancangan besar Tuhan. Dan saya percaya, jika saya meminta-Nya untuk sebuah bimbingan dan penjagaan, Dia akan berikan. dan hanya itu yang dapat menguatkan saya. sesulit, seperih apapun situasinya.

----------------------------------
Assalamu'alaikum, tin...

Tadinya email yahoo yang udah kebuka ini mau aku kirim untuk temen yang laen. Tadinya mau disambi sama nulis comment di blog-mu. Tapi ternyata blog-mu kututup (setelah aku baca isinya), dan body email ini akhirnya ditulisin untuk attin.

Ternyata waktu itu berlari seperti penjahat. Tega. Aku nyaris nangis sesaat tadi, waktu baca postingan di blogger-mu. Rupanya kita nggak hanya ngelewatin setahun dua tahun saling kenal ya, Tin. Rupanya udah bertahun-tahun sejak masih culun-culun dulu. Sejak aku ketemu Attin waktu masa PPMB, waktu kita dikumpulin mbak Ayoe dan mbak Rina di Masjid UI. Waktu aku cuma kenal Attin kalo lagi bareng ama Inggit (duh! How I miss her so much!). Waktu awal-awal ketika aku kurang ngerasa deket, tapi akhirnya penasaran, dan melakukan segala cara untuk deket dengan Attin. N it worked! Aku ngerasa berhasil deket dengan Attin, dan rupanya kita banyak kesamaan. Sama-sama 'gila'? Of course!!!! Hahahaha...

Dan hari ini aku baru 'ngeh', bahwa Attin akan PERGI JAUH dan LAMA. Tiba-tiba aku inget lagi, kira-kira bulan Agustus tahun 2004, hampir tiap pagi aku selalu buka YM, dan nyapa Attin dengan "hogwarts?" dan Attin bakal bales dengan "hidung babi!" (waaaahahahahahahahah.....salah ya? )-moncong babi, actually hun- Yang jelas, saat-saat aku banyak kena masalah di kantor, saat aku butuh temen ngobrol untuk 'memutuskan' sesuatu yang penting itu, Attin selalu ada. Dan aku paling sebel kalo yang ngejawab YM adalah partnernya Attin yang baik hati itu, "maaf, ini bukan attin..." aaarggghhh! hehehehe...

Dan barusan aja, aku baru nyadar, bahwa Attin udah memutuskan sesuatu yang besar untuk hidupnya ke depan, seperti juga aku akhir tahun lalu. Ketika Attin sebentar lagi bakal pergi jauh, saat yang bersamaan, aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku. Tin, ironis banget ya? Hehehe...tapi aku yakin, kita berdua melakukan yang terbaik.

Aku punya banyak temen yang aku sayangi. Setiap dari mereka nggak bisa aku kasih peringkat, karena aku yakin aku punya banyak cinta untuk semua. Cintaku nggak akan habis dibagi-bagi. Aku mencintai setiap jenak yang dilewati bersama Attin.

Dear Attin,
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkah Attin. Seorang Attin punya banyak arti buatku. Dan semoga Allah menerima dan mengabulkan setiap doaku untuk keselamatan, keistiqomahan, kebaikan, dan kesuksesan Attin. Amiiin...

ps. sering-sering kirim kabar ya!!!!! next week, kita musti ketemuan!DH Devitahttp://www.ayyasykecil.blogspot.com
http://www.thesoejatnas.blogspot.com
http://www.flpbekasi.blogspot.com

Friday, July 22, 2005

Feelin' Blue ...

Kuatkan ikatannya …
Abadikan cintanya …

Ini mungkin fase kedua setelah fase antusiasme. Kegembiraan akan kemungkinan banyak pengalaman baru, mulai berganti dengan kecemasan akan kenyataan bahwa satu tahun adalah 360 hari kali 24 jam yang akan saya lewatkan jauh dari orang-orang yang dekat dihati saya. Mereka yang mengenal hati saya. Mereka yang-meminjam bahasanya seorang teman- jadi ‘secangkir susu coklat hangat’ kala hari gelap dan hujan deras buat saya.

Intensitas pertemuan, secara teori, bagaimanapun adalah faktor penentu keberhasilan komunikasi. Dari situ ada pengalaman bersama yang memunculkan kesamaan persepsi, kemampuan untuk membaca reaksi satu sama lain dan akhirnya tumbuh ikatan hati. Makanya tidak jarang ada pengalaman seorang teman yang dulu dekat bisa terasa sulit dipahami karena sang waktu, sang nasib, sang pekerjaan telah sedemikian jauhnya menciptakan jarak diantara mereka bahkan untuk sekedar bertukar sms menanyakan kabar. Sama-sama ditempa pengalaman berbeda yang pasti meninggalkan jejak-jejak pahatannya dalam karakter mereka dalam menyikapi masalah.

Dan saya khawatir saya akan kehilangan begitu banyak hal yang membuat saya sulit membaca hati mereka, dan sebaliknya. Akan ada banyak hal yang saya alami yang dapat membuat mereka sulit mengenali hati saya.

Kuatkan ikatannya …
Abadikan cintanya …

Entah situasi psikologis apa yang melatar belakangi doa monumental tersebut. Namun katanya, ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Ia mudahkan hatinya untuk mencintai mereka yang mencintai Allah. Pun sebaliknya. Maka ketika orang-orang saleh tidak memberikan hatinya untuk mencintaimu, bisa jadi karena mereka tidak melihat pantulan cinta Allah didirimu.

Dan saya …
Khawatir kehilangan cinta mereka.

Buat clubber Kampung Tengah,
Hiks,hiks … bakal kangen brat neey …

Friday, July 15, 2005

The Prep (secara materi)

Dua bulan kurang dari keberangkatan. Ya ampun, setelah ngeliat list yang harus diselesaikan ternyata banyak banget yah yang belum selesai.let see;

Medical chek up ;urin lengkap, darah lengkap, parasitologi—malaria, filaria,tripanosoma, pup eh feces lengkap (Fatmawati), rontgen, mantoux test, ekg, visus. Okey, yang belum selesai tinggal tripanosoma. Susah, banyak lab yang ga sanggup. Dan dapat info yang bisa periksa tripanosom itu ada di charitas Bogor (ok, ke Bogor hari Sabtu). Beberapa dokter kasih nomor kontak di parasitologi FKUI, tapi ternyata ga cukup meyakinkan mereka bisa apa ngga.

Vaksin. Harus ngambil tetanus toxoid (udah), DPT (ntar, kalau meriang vaksin TT-nya dah ilang), MMR (belum. kata anak2 STUNED stok vaksin MMR se-Indonesia abis. Masa sih ?!! ah, hiperbolik nih! Tapi dah nyari ke Melawai, Kimia Farma, Fatmawati, ke Apotik LKC –ada juga orang apotiknya senewen disuru2 nyari barang susah--ga ada. Oke, keep trying, Gal!). hepatitis ? yellow fever ? beberapa teman ada yang ngambil, tapi teman dokter yang lain kasih advis, ga perlu kalo gaya hidup kita ’sehat’—well, ga pernah godain banci jadi sehat dong! ha... ha..ha .. emang kita akhwat apaan!?

Grooming. Katanya harus punya ... apa tuh .. Long Jhon. Itu loh, legging yang bentuknya kayak baju monyet yang kita pakai waktu kecil (kudu cari tahu apa gunanya). Adanya di Mangga Dua blok C Lt.2. yaaa... ntar deh. Jaket, sarung tangan, kaus kaki tebal, kupluk, sepatu boot (hmm, kalau ga beli maka harus diusahakan bisa dapat warisan. Ok, kontak si Juli di Amsterdam buat minta lungsuran he he he ...), pakaian dalam (harus banyak!!)

Gadget: laptop (kecuali mau nginep di kampus), printer (masya Allah! Haruskah?), flash disk, kamera digital (ini sih kepinginnya, ga tau deh si Aa mau hibahin kamdij-nya atau ga), tape recorder (jangan lupa kaset murotal, nasyid dan .. ehm Phil Collins atawa Peter Pan =b)
Obat-obatan Pribadi. Ntar konsul deh baiknya bawa apa. Katanya dokter disana ga banyak ngasih obat kayak dokter di Indonesia (yg ga ngerasa jgn marah yah ...) minimal bawa parasetamol, betadine, kasa, plester, balsem (ga terlalu suka sih ama baunya, tapi apa yah yang anget?), counterpain (punya firasat harus bawa, mengingat aktivitas biking). Itu dulu kali yah, ntar nyusul.

Pelembab and lip gloss (a lot), kosmetik pribadi, peralatan mandi pribadi.

Buku2 (baik buat yang akal maupun ruhani-aduh, mudah2an banyak yang kasih pasokan) and Al Quran, semua keperluan alat tulis

Renew my birth certificate dan legalisasi ke depkeh, deplu ama kedutaan Belanda, trus translate di Saharjo. Smua buat bikin MVV.

Peralatan makan (lungsuran Juli)
Rice cooker (dari Juli)
Refrig and TV (Juli lagi)
Setrikaan (yeah, you know from who ... Juli)
Ulekan + cobek (yg bener aja Neng, mau bawa gitu????!!!)
Penggorengan (ok,oke, stop listnya sampai sini. Dah mulai ngaco)

Yah, itulah kira2 yang mau dibawa. Campur aduk antara yang harus diselesaikan dan yang harus dibawa. PR selanjutnya rapiin list kebutuhan!

Thursday, July 14, 2005

Jadi Master

Kalau tidak ada aral melintang, insya Allah tanggal 29 Agustus nanti, pukul 18.55 saya akan memulai perjalanan jauh ke Belanda untuk belajar lagi, mengambil program Master untuk Public Health di Universiteeit Mastricht.

Master. Kedengerannya sakti banget yah, kayak Yoda atau Jet Li. Kalau di film Star War, Luke Skywalker mau jauh-jauh ke Sistem Gedobah (or something sounds like that) buat jadi Master Jedi, dengan satu tujuan, mengalahkan Darth Vader dan Empire-nya.

Maka saya, terbang jauh-jauh, ke negeri orang-orang yang katanya terjangkung untuk ukuran ras Kaukasia, yang profilenya saya tahu Cuma lewat film Janur Kuning dengan hardikan-hardikan konyol yang itu-itu aja (verdomme!Jij inlander, kowe orang ekstremis!), ke negeri orang kapir (meminjam istilah si Pitung) yang 350 tahun menjajah negeri ini dan waktu mereka pergi meninggalkan kekacauan, diam-diam kita bergumam ”ini merdeka, kapan yah selesainya ? kok kayaknya lebih enak waktu jaman ada kumpeni...” mau apa ? what’s the niat?

Yang jelas mau jadi lebih bermanfaat dan mencari tahu sejauh mana saya dapat memberi manfaat. Toh, dari pertama dah minta sama yang Punya Kuasa; kalau ilmunya membawa keselamatan dunia akhirat, mudahkanlah. Kalau ilmunya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi umat, bangsa dan negara, mudahkanlah. Kalau ilmunya dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, mudahkanlah. Tapi kalau tidak itu semua melainkan hanya motivasi terpendam buat gagah-gagahan dengan sederet titel yang membawa kesombongan, maka semoga Dia palingkan keinginan ini pada suatu yang lebih baik.

Dan begitulah hingga hari ini.

jadi ...

Doakan Aku Yah!!!

Rihlah ...

“Seperti mimpi…” katanya pelan.
Saya memandang wajahnya yang ditimpa bayang-bayang dedaunan. Si non satu ini baru pulang untuk penelitian magisternya di Belanda. Hampir setengah tahun menghabiskan waktu di tanah orang, jauh dari keluarga, dari teman-teman se-fikrah yang menyayanginya. Mengeluh dalam culture shock-nya lewat imel-imel panjang tentang betapa mestinya ia memilih untuk bahagia ada diantara kami daripada pergi ke negara kincir-kincir serba susu dan keju itu. Maka tentu saja, siang yang dihabiskannya bersama ibu-ibu berjilbab lebar disergap angin semilir tropik jadi seperti mimpi. Berbaring di atas terpal kulit imitasi di pinggir danau disisinya, saya Cuma mengangguk setuju dalam diam. berpikir.Tapi terus langsung melompat bangun begitu tawaran memegang raket datang. Hup! tunggal putri melawan ganda putri, siapa takut!

Dan begitu kami tergelak karena kok kedua tersangkut di dahan pepohonan, dari kejauhan terdengar celetukan orang-orang yang menggelar tikar dipinggir danau “wah, maen bulutangkis di tempat kayak gini, yah nyangkut lah kok-nya!” ah, peduli amat komentar orang apa, ini waktu untuk tertawa.

Rihlah itu memang kadang bukan persoalan pergi kemana, tapi dengan siapa. Jika ada teman yang menyenangkan maka sepetak danau, lahan teduh, sudah bolehlah. Walaupun dengan kamar mandi yang tampaknya tak pernah dicuci sejak Souharto lengser, tapi kalau ada teman yang bisa diajak tertawa, maka cukuplah.

“Lain kali kita sewa sepeda, bike ride di Taman Mini yah,” usul teman yang lain. Sip! Kami tak tahu sampai kapan kami punya waktu. Mungkin sampai suatu saat kebersamaan dan waktu senggang jadi barang mahal diantara tangis anak dan tumpukan cucian bercampur kepungan janji konsultasi atau tugas mahasiswa.


---------------------------

mengingat rihlah terakhir dengan teman-teman dalam macet parah di Puncak, menempuh perjalanan Cipanas-Ciputat yang hampir sepuluh jam

Baik Hati dan Tidak Sombong

Suatu waktu, saya ikut datang pada peresmian klinik gratis milik majelis taklim At-Taqwa. Majelis taklim masjid At Taqwa yang terletak dilingkungan perumahan Bintaro Jaya. Majelis Taklim ini sudah cukup lama menjalin kerjasama dengan LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma), tempat saya bekerja.

Klinik mungil itu terletak dalam kompleks halaman masjid. Bercat putih bersih, kecil, mungkin hanya berukuran sekitar 5x3 meter persegi tapi cermin besar yang diletakan di dinding yang berhadapan dengan pintu cukup memberi efek luas pada ruangan klinik. Ditambah lagi penataannya cukup apik plus pendingin ruangan. Penampilannya meyakinkan deh (sambil meringis membayangkan salah satu cabang LKC yang agak-agak suram, ayo dong pada nyumbang ;b).

Dokter jaganya adalah penghuni komplek yang dengan sukarela meluangkan waktunya secara bergantian. Kebetulan di sektor itu cukup banyak warga yang berprofesi sebagai dokter, baik yang baru lulus maupun yang sudah senior. Jika ada pasien dengan kasus gawat, barulah pengurus akan merujuknya ke LKC untuk memperoleh perawatan lanjutan dan mungkin direkomendasikan untuk jadi member.

Tidak ada publikasi berlebih, wartawan menenteng kamera yang hilir mudik atau apa dalam peresmian itu. Hanya anggota majelis taklim yang terdiri dari warga setempat dan warga duafa sekeliling kompleks yang dibina oleh majelis taklim itu. Tapi wajah mereka memancarkan semangat dan gairah yang bisa menular pada siapa saja yang melihatnya. Sungguh, senang rasanya melihat orang-orang yang pandai menggunakan amanah harta yang Allah titipkan. Masyarakat yang dermawan adalah sumber kebaikan. Dengan hartanya mereka menyambung silaturahmi, menunaikan hak kaum miskin atas harta mereka.

Hati yang baik, saya rasa adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Ada yang mendapatkannya dari lahir (emang dari sononya udah dicetak baeeeek banget), ada yang terasah lewat pendidikan, ada yang terbentuk lewat didikan lingkungan sekitarnya, ada yang harus berusaha keras untuk jadi orang yang baik hati.

Ketika kebaikan hati bertemu dengan kemampuan materi, dan kecerdasan maka yang terjadi adalah sepenuhnya kebaikan. Tentu saja plus kematangan dalam melihat persoalan supaya kebaikan itu berdaya guna secara optimal untuk orang lain. Tapi baik hati tidak hanya termanifestasi dalam keringanan memberi berwujud materi, namun juga keringanan hati untuk melepaskan egoisme mementingkan diri sendiri dengan memberikan perhatian pada kepentingan dan perasaan orang lain.

Kalau ditanya bagaimana saya menggambarkan diri saya, saya suka menjawab saya orang yang baik hati dan tidak sombong. itu sebenarnya lebih pada jawaban yang bersifat self fullfilling prophecy sih, tahu kan bahwa the power it’s in ur mind. Apa yang kamu pikirkan soal diri kamu itulah kamu. Jadi jawaban itu justru muncul dari betapa rasanya saya masih jauh dari baik hati dan tidak sombong.

Saya punya teman-teman yang subhanallah baik sekali hatinya. Dari yang sederhana tapi manis seperti membuatkan puding cokelat ketika teman yang lain sedang sariawan berat atau jauh-jauh datang menghibur ketika kawannya ditimpa musibah, sampai merelakan uang hasil kerjanya mengajar privat dan bimbel untuk menunjang aktivitas dakwah rekan lainnya. Dan kalau sudah begitu dengan mata hati membelalak saya menatap mereka sambil berseru dalam batin “Subhanallah, Baik Sekali!!??”

Saya tahu ibu saya, pastinya dengan sadar, juga berusaha keras membentuk anak-anaknya untuk jadi orang yang baik hati. Tiap Ramadhan dia jadi salah satu pemasok ta’jil untuk sebuah pesantren anak yatim. Kami, anak-anaknya, yang kebanyakan baru sampai pada level gaji yang ngepas, ‘ditodong’ untuk jadi penyandang dana-nya. Lain kali kami diminta urunan untuk beli semen karena pesantren itu mau memperbaiki bangunannya. Kalau lagi banyak uang, tentu oke-oke saja, tapi kalau lagi banyak keperluan plus harus beli ini beli itu ? ngasih juga sih tapi plus senyum miris yang gimana gitu.

Tapi setelah itu diam-diam saya bersyukur karena ibu saya itu. Bahwa mendahulukan kepentingan orang lain bukan hal yang mudah, bahwa memberi saat kaya itu kadang sulit, namun lebih sulit lagi melatih diri untuk memberi pada saat kita ada dalam kondisi kekurangan. Bahwa mungkin kehidupan kita sulit, namun kesyukuran bisa datang pada saat kita tahu masih ada yang bisa kita lakukan untuk orang lain yang sama-sama dalam kesulitan.

Jadi orang baik dan tidak sombong itu perlu latihan kontinu dan pembiasaan, makanya kita banyak ditinggali tips dan trik dari Rasulullah dan para Tabi'in, baik yang sifatnya konseptual sampai yang teknis-teknis untuk menaklukkan kesombongan yang sifatnya memang sama tuanya dengan keberadaan makhluk Allah seperti syaitan. Niat baiknya untuk melatih itu semua tentu mestinya datang dari iman.

Karena kesombongan bisa menyergap kapan saja dan siapa saja. Mengendap-endap seperti pencuri dan bum! Tiba-tiba kita merasa layak memandang orang dengan mengangkat hidung karena omongannya ga intelek, karena punya motor gede, karena gaji, karena sarjana, bisa nembak orang sembarangan karena keturunan si anu punya anu. Kebaikanpun bisa dirusak ketika hinggapi rasa sombong, baik itu sombong yang nyata maupun yang tersembunyi dalam ruang-ruang gelap di bilik hati. Hah, Kalau bukan karena kenal dengan saya, nggak mungkin dia bisa baik seperti ini.

Kenapa harus jadi orang yang baik hati dan tidak sombong ? sederhana aja mestinya. Baik hati itu perlu karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Tidak sombong itu perlu karena cukup sebesar atom, kesombongan dapat menahan kita dari pintu surga Allah.

Thursday, June 16, 2005

n waiting .. n waiting ...

Menunggu ternyata bukan semata permainan waktu. Jarak yang tercipta antara hari ini dan esok yang kita nanti, bukan semata persoalan menghitung hari detik demi detik. Menunggu juga adalah seni tarik ulur emosi antara harapan ideal dan kesiapan akan kemungkinan-kemungkinan. We hope for the best but we must ready for the worse, suatu ketika Aung San Su Kyi pernah bicara. Harus selalu ada kesiapan untuk menerima bahwa dalam optimisme, ada 1 persen yang harus diberikan bagi faktor X yang jadi hak milik Yang Maha Kuasa. I have my own plan, He got His. And when everything is not work as my plan, then surely His plans is the best scenario to follow.

Apapun kondisinya, bagi orang beriman semua baik adanya, begitu ajaran Rasulullah. Dalam saat-saat seperti ini, pastinya baru terasa, betapa beruntungnya kita pada hari, pada waktu Allah memperkenalkan kembali DiriNya dan hadir dalam kehidupan kita. Perkenalan itu yang membuka mata kita bahwa kehadiran kita bukanlah sebuah kebetulan namun sebuah rencana dan tanggung jawab yang menjadikan setiap kita tidak sepantasnya merasa tidak bernilai. Kita tahu darimana kita datang dan akan kemana kita berakhir. Dan sepanjang waktu, pada saat-saat kita tidak tahu dimana berpijak, maka tujuan akhir itu jadi kompas yang bisa menjalankan fungsinya dengan mantap untuk kembali meluruskan kalau kita sedikit tersesat jalan.

Betapa beruntungnya kita pada hari Dia memperkenalkan kembali DiriNya sedikit demi sedikit lewat berbagai jalan lewat banyak tangan. Karena ketika kita tersadar bahwa sesuatu itu tidak berjalan sesuai rencana (dan betapa seringnya itu terjadi), kita masih bisa berharap akan hikmah dan percaya pada kebaikan rencanaNya.

(fiuh! Got my interview, finally! Lumayan lega dan tentu bersyukur padaNya atas banyak cinta yang menemani)