Ini email dari seorang teman. somehow, begitu email ini kebuka, terdengar lagu "Doa Perpisahan"-nya Brothers. Hik, Allah tuh ... tahu aja theme song yang pas buat tiap penggal episode kehidupan saya. Beliau ini salah satu teman terbaik yang saya punya, makan bareng, jalan-jalan malam (ingat episode muter-muter di Blok M?), teman tertawa, merenung, berbagi tausiyah, menyegarkan iman dan memulihkan kesadaran, bahwa kita tak pernah punya kendali riil atas kehidupan yang kita jalani. seperti bermain ular tangga, yang dapat dilakukan hanyalah melempar dadu. apakah itu tangga yang membawa kita naik ke level keimanan, kedewasaan, kebijaksanaan berikutnya, ataukah ular yang juga sama-sama membawa ke level yang sama, semuanya ada dalam rencana-Nya (dan pasti itu yang terbaik, definetely!). Hanya impact-nya yang berbeda. Yang pertama bisa membuat kita ge-er karena merasa jadi pusat perhatian Tuhan, yang kedua bisa membuat kita patah hati dan bertanya dalam diam "Apakah Engkau bersamaku saat ini, Tuhan ?" (see Al Fajr)
Seberapa besar keputusan yang saya buat ini mempengaruhi kehidupan dunia dan akhirat saya nanti, saya tidak pernah tahu. Namun ketidaktahuan, adalah kunci dari kesadaran bahwa kita hanya manusia yang bergerak dalam rancangan besar Tuhan. Dan saya percaya, jika saya meminta-Nya untuk sebuah bimbingan dan penjagaan, Dia akan berikan. dan hanya itu yang dapat menguatkan saya. sesulit, seperih apapun situasinya.
----------------------------------
Assalamu'alaikum, tin...
Tadinya email yahoo yang udah kebuka ini mau aku kirim untuk temen yang laen. Tadinya mau disambi sama nulis comment di blog-mu. Tapi ternyata blog-mu kututup (setelah aku baca isinya), dan body email ini akhirnya ditulisin untuk attin.
Ternyata waktu itu berlari seperti penjahat. Tega. Aku nyaris nangis sesaat tadi, waktu baca postingan di blogger-mu. Rupanya kita nggak hanya ngelewatin setahun dua tahun saling kenal ya, Tin. Rupanya udah bertahun-tahun sejak masih culun-culun dulu. Sejak aku ketemu Attin waktu masa PPMB, waktu kita dikumpulin mbak Ayoe dan mbak Rina di Masjid UI. Waktu aku cuma kenal Attin kalo lagi bareng ama Inggit (duh! How I miss her so much!). Waktu awal-awal ketika aku kurang ngerasa deket, tapi akhirnya penasaran, dan melakukan segala cara untuk deket dengan Attin. N it worked! Aku ngerasa berhasil deket dengan Attin, dan rupanya kita banyak kesamaan. Sama-sama 'gila'? Of course!!!! Hahahaha...
Dan hari ini aku baru 'ngeh', bahwa Attin akan PERGI JAUH dan LAMA. Tiba-tiba aku inget lagi, kira-kira bulan Agustus tahun 2004, hampir tiap pagi aku selalu buka YM, dan nyapa Attin dengan "hogwarts?" dan Attin bakal bales dengan "hidung babi!" (waaaahahahahahahahah.....salah ya? )-moncong babi, actually hun- Yang jelas, saat-saat aku banyak kena masalah di kantor, saat aku butuh temen ngobrol untuk 'memutuskan' sesuatu yang penting itu, Attin selalu ada. Dan aku paling sebel kalo yang ngejawab YM adalah partnernya Attin yang baik hati itu, "maaf, ini bukan attin..." aaarggghhh! hehehehe...
Dan barusan aja, aku baru nyadar, bahwa Attin udah memutuskan sesuatu yang besar untuk hidupnya ke depan, seperti juga aku akhir tahun lalu. Ketika Attin sebentar lagi bakal pergi jauh, saat yang bersamaan, aku memutuskan untuk keluar dari tempat kerjaku. Tin, ironis banget ya? Hehehe...tapi aku yakin, kita berdua melakukan yang terbaik.
Aku punya banyak temen yang aku sayangi. Setiap dari mereka nggak bisa aku kasih peringkat, karena aku yakin aku punya banyak cinta untuk semua. Cintaku nggak akan habis dibagi-bagi. Aku mencintai setiap jenak yang dilewati bersama Attin.
Dear Attin,
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkah Attin. Seorang Attin punya banyak arti buatku. Dan semoga Allah menerima dan mengabulkan setiap doaku untuk keselamatan, keistiqomahan, kebaikan, dan kesuksesan Attin. Amiiin...
ps. sering-sering kirim kabar ya!!!!! next week, kita musti ketemuan!DH Devitahttp://www.ayyasykecil.blogspot.com
http://www.thesoejatnas.blogspot.com
http://www.flpbekasi.blogspot.com
I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It's when you know you're licked before you begin but you begin anyway and you see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do. ~Harper Lee, To Kill a Mockingbird, Chapter 11, spoken by the character Atticus
Tuesday, August 02, 2005
Friday, July 22, 2005
Feelin' Blue ...
Kuatkan ikatannya …
Abadikan cintanya …
Ini mungkin fase kedua setelah fase antusiasme. Kegembiraan akan kemungkinan banyak pengalaman baru, mulai berganti dengan kecemasan akan kenyataan bahwa satu tahun adalah 360 hari kali 24 jam yang akan saya lewatkan jauh dari orang-orang yang dekat dihati saya. Mereka yang mengenal hati saya. Mereka yang-meminjam bahasanya seorang teman- jadi ‘secangkir susu coklat hangat’ kala hari gelap dan hujan deras buat saya.
Intensitas pertemuan, secara teori, bagaimanapun adalah faktor penentu keberhasilan komunikasi. Dari situ ada pengalaman bersama yang memunculkan kesamaan persepsi, kemampuan untuk membaca reaksi satu sama lain dan akhirnya tumbuh ikatan hati. Makanya tidak jarang ada pengalaman seorang teman yang dulu dekat bisa terasa sulit dipahami karena sang waktu, sang nasib, sang pekerjaan telah sedemikian jauhnya menciptakan jarak diantara mereka bahkan untuk sekedar bertukar sms menanyakan kabar. Sama-sama ditempa pengalaman berbeda yang pasti meninggalkan jejak-jejak pahatannya dalam karakter mereka dalam menyikapi masalah.
Dan saya khawatir saya akan kehilangan begitu banyak hal yang membuat saya sulit membaca hati mereka, dan sebaliknya. Akan ada banyak hal yang saya alami yang dapat membuat mereka sulit mengenali hati saya.
Kuatkan ikatannya …
Abadikan cintanya …
Entah situasi psikologis apa yang melatar belakangi doa monumental tersebut. Namun katanya, ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Ia mudahkan hatinya untuk mencintai mereka yang mencintai Allah. Pun sebaliknya. Maka ketika orang-orang saleh tidak memberikan hatinya untuk mencintaimu, bisa jadi karena mereka tidak melihat pantulan cinta Allah didirimu.
Dan saya …
Khawatir kehilangan cinta mereka.
Buat clubber Kampung Tengah,
Hiks,hiks … bakal kangen brat neey …
Abadikan cintanya …
Ini mungkin fase kedua setelah fase antusiasme. Kegembiraan akan kemungkinan banyak pengalaman baru, mulai berganti dengan kecemasan akan kenyataan bahwa satu tahun adalah 360 hari kali 24 jam yang akan saya lewatkan jauh dari orang-orang yang dekat dihati saya. Mereka yang mengenal hati saya. Mereka yang-meminjam bahasanya seorang teman- jadi ‘secangkir susu coklat hangat’ kala hari gelap dan hujan deras buat saya.
Intensitas pertemuan, secara teori, bagaimanapun adalah faktor penentu keberhasilan komunikasi. Dari situ ada pengalaman bersama yang memunculkan kesamaan persepsi, kemampuan untuk membaca reaksi satu sama lain dan akhirnya tumbuh ikatan hati. Makanya tidak jarang ada pengalaman seorang teman yang dulu dekat bisa terasa sulit dipahami karena sang waktu, sang nasib, sang pekerjaan telah sedemikian jauhnya menciptakan jarak diantara mereka bahkan untuk sekedar bertukar sms menanyakan kabar. Sama-sama ditempa pengalaman berbeda yang pasti meninggalkan jejak-jejak pahatannya dalam karakter mereka dalam menyikapi masalah.
Dan saya khawatir saya akan kehilangan begitu banyak hal yang membuat saya sulit membaca hati mereka, dan sebaliknya. Akan ada banyak hal yang saya alami yang dapat membuat mereka sulit mengenali hati saya.
Kuatkan ikatannya …
Abadikan cintanya …
Entah situasi psikologis apa yang melatar belakangi doa monumental tersebut. Namun katanya, ketika Allah mencintai seorang hamba, maka Ia mudahkan hatinya untuk mencintai mereka yang mencintai Allah. Pun sebaliknya. Maka ketika orang-orang saleh tidak memberikan hatinya untuk mencintaimu, bisa jadi karena mereka tidak melihat pantulan cinta Allah didirimu.
Dan saya …
Khawatir kehilangan cinta mereka.
Buat clubber Kampung Tengah,
Hiks,hiks … bakal kangen brat neey …
Friday, July 15, 2005
The Prep (secara materi)
Dua bulan kurang dari keberangkatan. Ya ampun, setelah ngeliat list yang harus diselesaikan ternyata banyak banget yah yang belum selesai.let see;
Medical chek up ;urin lengkap, darah lengkap, parasitologi—malaria, filaria,tripanosoma, pup eh feces lengkap (Fatmawati), rontgen, mantoux test, ekg, visus. Okey, yang belum selesai tinggal tripanosoma. Susah, banyak lab yang ga sanggup. Dan dapat info yang bisa periksa tripanosom itu ada di charitas Bogor (ok, ke Bogor hari Sabtu). Beberapa dokter kasih nomor kontak di parasitologi FKUI, tapi ternyata ga cukup meyakinkan mereka bisa apa ngga.
Medical chek up ;urin lengkap, darah lengkap, parasitologi—malaria, filaria,tripanosoma, pup eh feces lengkap (Fatmawati), rontgen, mantoux test, ekg, visus. Okey, yang belum selesai tinggal tripanosoma. Susah, banyak lab yang ga sanggup. Dan dapat info yang bisa periksa tripanosom itu ada di charitas Bogor (ok, ke Bogor hari Sabtu). Beberapa dokter kasih nomor kontak di parasitologi FKUI, tapi ternyata ga cukup meyakinkan mereka bisa apa ngga.
Vaksin. Harus ngambil tetanus toxoid (udah), DPT (ntar, kalau meriang vaksin TT-nya dah ilang), MMR (belum. kata anak2 STUNED stok vaksin MMR se-Indonesia abis. Masa sih ?!! ah, hiperbolik nih! Tapi dah nyari ke Melawai, Kimia Farma, Fatmawati, ke Apotik LKC –ada juga orang apotiknya senewen disuru2 nyari barang susah--ga ada. Oke, keep trying, Gal!). hepatitis ? yellow fever ? beberapa teman ada yang ngambil, tapi teman dokter yang lain kasih advis, ga perlu kalo gaya hidup kita ’sehat’—well, ga pernah godain banci jadi sehat dong! ha... ha..ha .. emang kita akhwat apaan!?
Grooming. Katanya harus punya ... apa tuh .. Long Jhon. Itu loh, legging yang bentuknya kayak baju monyet yang kita pakai waktu kecil (kudu cari tahu apa gunanya). Adanya di Mangga Dua blok C Lt.2. yaaa... ntar deh. Jaket, sarung tangan, kaus kaki tebal, kupluk, sepatu boot (hmm, kalau ga beli maka harus diusahakan bisa dapat warisan. Ok, kontak si Juli di Amsterdam buat minta lungsuran he he he ...), pakaian dalam (harus banyak!!)
Gadget: laptop (kecuali mau nginep di kampus), printer (masya Allah! Haruskah?), flash disk, kamera digital (ini sih kepinginnya, ga tau deh si Aa mau hibahin kamdij-nya atau ga), tape recorder (jangan lupa kaset murotal, nasyid dan .. ehm Phil Collins atawa Peter Pan =b)
Obat-obatan Pribadi. Ntar konsul deh baiknya bawa apa. Katanya dokter disana ga banyak ngasih obat kayak dokter di Indonesia (yg ga ngerasa jgn marah yah ...) minimal bawa parasetamol, betadine, kasa, plester, balsem (ga terlalu suka sih ama baunya, tapi apa yah yang anget?), counterpain (punya firasat harus bawa, mengingat aktivitas biking). Itu dulu kali yah, ntar nyusul.
Pelembab and lip gloss (a lot), kosmetik pribadi, peralatan mandi pribadi.
Buku2 (baik buat yang akal maupun ruhani-aduh, mudah2an banyak yang kasih pasokan) and Al Quran, semua keperluan alat tulis
Renew my birth certificate dan legalisasi ke depkeh, deplu ama kedutaan Belanda, trus translate di Saharjo. Smua buat bikin MVV.
Peralatan makan (lungsuran Juli)
Rice cooker (dari Juli)
Refrig and TV (Juli lagi)
Setrikaan (yeah, you know from who ... Juli)
Ulekan + cobek (yg bener aja Neng, mau bawa gitu????!!!)
Penggorengan (ok,oke, stop listnya sampai sini. Dah mulai ngaco)
Yah, itulah kira2 yang mau dibawa. Campur aduk antara yang harus diselesaikan dan yang harus dibawa. PR selanjutnya rapiin list kebutuhan!
Thursday, July 14, 2005
Jadi Master
Kalau tidak ada aral melintang, insya Allah tanggal 29 Agustus nanti, pukul 18.55 saya akan memulai perjalanan jauh ke Belanda untuk belajar lagi, mengambil program Master untuk Public Health di Universiteeit Mastricht.
Master. Kedengerannya sakti banget yah, kayak Yoda atau Jet Li. Kalau di film Star War, Luke Skywalker mau jauh-jauh ke Sistem Gedobah (or something sounds like that) buat jadi Master Jedi, dengan satu tujuan, mengalahkan Darth Vader dan Empire-nya.
Maka saya, terbang jauh-jauh, ke negeri orang-orang yang katanya terjangkung untuk ukuran ras Kaukasia, yang profilenya saya tahu Cuma lewat film Janur Kuning dengan hardikan-hardikan konyol yang itu-itu aja (verdomme!Jij inlander, kowe orang ekstremis!), ke negeri orang kapir (meminjam istilah si Pitung) yang 350 tahun menjajah negeri ini dan waktu mereka pergi meninggalkan kekacauan, diam-diam kita bergumam ”ini merdeka, kapan yah selesainya ? kok kayaknya lebih enak waktu jaman ada kumpeni...” mau apa ? what’s the niat?
Yang jelas mau jadi lebih bermanfaat dan mencari tahu sejauh mana saya dapat memberi manfaat. Toh, dari pertama dah minta sama yang Punya Kuasa; kalau ilmunya membawa keselamatan dunia akhirat, mudahkanlah. Kalau ilmunya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi umat, bangsa dan negara, mudahkanlah. Kalau ilmunya dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, mudahkanlah. Tapi kalau tidak itu semua melainkan hanya motivasi terpendam buat gagah-gagahan dengan sederet titel yang membawa kesombongan, maka semoga Dia palingkan keinginan ini pada suatu yang lebih baik.
Dan begitulah hingga hari ini.
jadi ...
Doakan Aku Yah!!!
Master. Kedengerannya sakti banget yah, kayak Yoda atau Jet Li. Kalau di film Star War, Luke Skywalker mau jauh-jauh ke Sistem Gedobah (or something sounds like that) buat jadi Master Jedi, dengan satu tujuan, mengalahkan Darth Vader dan Empire-nya.
Maka saya, terbang jauh-jauh, ke negeri orang-orang yang katanya terjangkung untuk ukuran ras Kaukasia, yang profilenya saya tahu Cuma lewat film Janur Kuning dengan hardikan-hardikan konyol yang itu-itu aja (verdomme!Jij inlander, kowe orang ekstremis!), ke negeri orang kapir (meminjam istilah si Pitung) yang 350 tahun menjajah negeri ini dan waktu mereka pergi meninggalkan kekacauan, diam-diam kita bergumam ”ini merdeka, kapan yah selesainya ? kok kayaknya lebih enak waktu jaman ada kumpeni...” mau apa ? what’s the niat?
Yang jelas mau jadi lebih bermanfaat dan mencari tahu sejauh mana saya dapat memberi manfaat. Toh, dari pertama dah minta sama yang Punya Kuasa; kalau ilmunya membawa keselamatan dunia akhirat, mudahkanlah. Kalau ilmunya bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi umat, bangsa dan negara, mudahkanlah. Kalau ilmunya dapat dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat, mudahkanlah. Tapi kalau tidak itu semua melainkan hanya motivasi terpendam buat gagah-gagahan dengan sederet titel yang membawa kesombongan, maka semoga Dia palingkan keinginan ini pada suatu yang lebih baik.
Dan begitulah hingga hari ini.
jadi ...
Doakan Aku Yah!!!
Rihlah ...
“Seperti mimpi…” katanya pelan.
Saya memandang wajahnya yang ditimpa bayang-bayang dedaunan. Si non satu ini baru pulang untuk penelitian magisternya di Belanda. Hampir setengah tahun menghabiskan waktu di tanah orang, jauh dari keluarga, dari teman-teman se-fikrah yang menyayanginya. Mengeluh dalam culture shock-nya lewat imel-imel panjang tentang betapa mestinya ia memilih untuk bahagia ada diantara kami daripada pergi ke negara kincir-kincir serba susu dan keju itu. Maka tentu saja, siang yang dihabiskannya bersama ibu-ibu berjilbab lebar disergap angin semilir tropik jadi seperti mimpi. Berbaring di atas terpal kulit imitasi di pinggir danau disisinya, saya Cuma mengangguk setuju dalam diam. berpikir.Tapi terus langsung melompat bangun begitu tawaran memegang raket datang. Hup! tunggal putri melawan ganda putri, siapa takut!
Dan begitu kami tergelak karena kok kedua tersangkut di dahan pepohonan, dari kejauhan terdengar celetukan orang-orang yang menggelar tikar dipinggir danau “wah, maen bulutangkis di tempat kayak gini, yah nyangkut lah kok-nya!” ah, peduli amat komentar orang apa, ini waktu untuk tertawa.
Rihlah itu memang kadang bukan persoalan pergi kemana, tapi dengan siapa. Jika ada teman yang menyenangkan maka sepetak danau, lahan teduh, sudah bolehlah. Walaupun dengan kamar mandi yang tampaknya tak pernah dicuci sejak Souharto lengser, tapi kalau ada teman yang bisa diajak tertawa, maka cukuplah.
“Lain kali kita sewa sepeda, bike ride di Taman Mini yah,” usul teman yang lain. Sip! Kami tak tahu sampai kapan kami punya waktu. Mungkin sampai suatu saat kebersamaan dan waktu senggang jadi barang mahal diantara tangis anak dan tumpukan cucian bercampur kepungan janji konsultasi atau tugas mahasiswa.
---------------------------
mengingat rihlah terakhir dengan teman-teman dalam macet parah di Puncak, menempuh perjalanan Cipanas-Ciputat yang hampir sepuluh jam
Saya memandang wajahnya yang ditimpa bayang-bayang dedaunan. Si non satu ini baru pulang untuk penelitian magisternya di Belanda. Hampir setengah tahun menghabiskan waktu di tanah orang, jauh dari keluarga, dari teman-teman se-fikrah yang menyayanginya. Mengeluh dalam culture shock-nya lewat imel-imel panjang tentang betapa mestinya ia memilih untuk bahagia ada diantara kami daripada pergi ke negara kincir-kincir serba susu dan keju itu. Maka tentu saja, siang yang dihabiskannya bersama ibu-ibu berjilbab lebar disergap angin semilir tropik jadi seperti mimpi. Berbaring di atas terpal kulit imitasi di pinggir danau disisinya, saya Cuma mengangguk setuju dalam diam. berpikir.Tapi terus langsung melompat bangun begitu tawaran memegang raket datang. Hup! tunggal putri melawan ganda putri, siapa takut!
Dan begitu kami tergelak karena kok kedua tersangkut di dahan pepohonan, dari kejauhan terdengar celetukan orang-orang yang menggelar tikar dipinggir danau “wah, maen bulutangkis di tempat kayak gini, yah nyangkut lah kok-nya!” ah, peduli amat komentar orang apa, ini waktu untuk tertawa.
Rihlah itu memang kadang bukan persoalan pergi kemana, tapi dengan siapa. Jika ada teman yang menyenangkan maka sepetak danau, lahan teduh, sudah bolehlah. Walaupun dengan kamar mandi yang tampaknya tak pernah dicuci sejak Souharto lengser, tapi kalau ada teman yang bisa diajak tertawa, maka cukuplah.
“Lain kali kita sewa sepeda, bike ride di Taman Mini yah,” usul teman yang lain. Sip! Kami tak tahu sampai kapan kami punya waktu. Mungkin sampai suatu saat kebersamaan dan waktu senggang jadi barang mahal diantara tangis anak dan tumpukan cucian bercampur kepungan janji konsultasi atau tugas mahasiswa.
---------------------------
mengingat rihlah terakhir dengan teman-teman dalam macet parah di Puncak, menempuh perjalanan Cipanas-Ciputat yang hampir sepuluh jam
Baik Hati dan Tidak Sombong
Suatu waktu, saya ikut datang pada peresmian klinik gratis milik majelis taklim At-Taqwa. Majelis taklim masjid At Taqwa yang terletak dilingkungan perumahan Bintaro Jaya. Majelis Taklim ini sudah cukup lama menjalin kerjasama dengan LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma), tempat saya bekerja.
Klinik mungil itu terletak dalam kompleks halaman masjid. Bercat putih bersih, kecil, mungkin hanya berukuran sekitar 5x3 meter persegi tapi cermin besar yang diletakan di dinding yang berhadapan dengan pintu cukup memberi efek luas pada ruangan klinik. Ditambah lagi penataannya cukup apik plus pendingin ruangan. Penampilannya meyakinkan deh (sambil meringis membayangkan salah satu cabang LKC yang agak-agak suram, ayo dong pada nyumbang ;b).
Dokter jaganya adalah penghuni komplek yang dengan sukarela meluangkan waktunya secara bergantian. Kebetulan di sektor itu cukup banyak warga yang berprofesi sebagai dokter, baik yang baru lulus maupun yang sudah senior. Jika ada pasien dengan kasus gawat, barulah pengurus akan merujuknya ke LKC untuk memperoleh perawatan lanjutan dan mungkin direkomendasikan untuk jadi member.
Tidak ada publikasi berlebih, wartawan menenteng kamera yang hilir mudik atau apa dalam peresmian itu. Hanya anggota majelis taklim yang terdiri dari warga setempat dan warga duafa sekeliling kompleks yang dibina oleh majelis taklim itu. Tapi wajah mereka memancarkan semangat dan gairah yang bisa menular pada siapa saja yang melihatnya. Sungguh, senang rasanya melihat orang-orang yang pandai menggunakan amanah harta yang Allah titipkan. Masyarakat yang dermawan adalah sumber kebaikan. Dengan hartanya mereka menyambung silaturahmi, menunaikan hak kaum miskin atas harta mereka.
Hati yang baik, saya rasa adalah sebuah anugerah yang luar biasa. Ada yang mendapatkannya dari lahir (emang dari sononya udah dicetak baeeeek banget), ada yang terasah lewat pendidikan, ada yang terbentuk lewat didikan lingkungan sekitarnya, ada yang harus berusaha keras untuk jadi orang yang baik hati.
Ketika kebaikan hati bertemu dengan kemampuan materi, dan kecerdasan maka yang terjadi adalah sepenuhnya kebaikan. Tentu saja plus kematangan dalam melihat persoalan supaya kebaikan itu berdaya guna secara optimal untuk orang lain. Tapi baik hati tidak hanya termanifestasi dalam keringanan memberi berwujud materi, namun juga keringanan hati untuk melepaskan egoisme mementingkan diri sendiri dengan memberikan perhatian pada kepentingan dan perasaan orang lain.
Kalau ditanya bagaimana saya menggambarkan diri saya, saya suka menjawab saya orang yang baik hati dan tidak sombong. itu sebenarnya lebih pada jawaban yang bersifat self fullfilling prophecy sih, tahu kan bahwa the power it’s in ur mind. Apa yang kamu pikirkan soal diri kamu itulah kamu. Jadi jawaban itu justru muncul dari betapa rasanya saya masih jauh dari baik hati dan tidak sombong.
Saya punya teman-teman yang subhanallah baik sekali hatinya. Dari yang sederhana tapi manis seperti membuatkan puding cokelat ketika teman yang lain sedang sariawan berat atau jauh-jauh datang menghibur ketika kawannya ditimpa musibah, sampai merelakan uang hasil kerjanya mengajar privat dan bimbel untuk menunjang aktivitas dakwah rekan lainnya. Dan kalau sudah begitu dengan mata hati membelalak saya menatap mereka sambil berseru dalam batin “Subhanallah, Baik Sekali!!??”
Saya tahu ibu saya, pastinya dengan sadar, juga berusaha keras membentuk anak-anaknya untuk jadi orang yang baik hati. Tiap Ramadhan dia jadi salah satu pemasok ta’jil untuk sebuah pesantren anak yatim. Kami, anak-anaknya, yang kebanyakan baru sampai pada level gaji yang ngepas, ‘ditodong’ untuk jadi penyandang dana-nya. Lain kali kami diminta urunan untuk beli semen karena pesantren itu mau memperbaiki bangunannya. Kalau lagi banyak uang, tentu oke-oke saja, tapi kalau lagi banyak keperluan plus harus beli ini beli itu ? ngasih juga sih tapi plus senyum miris yang gimana gitu.
Tapi setelah itu diam-diam saya bersyukur karena ibu saya itu. Bahwa mendahulukan kepentingan orang lain bukan hal yang mudah, bahwa memberi saat kaya itu kadang sulit, namun lebih sulit lagi melatih diri untuk memberi pada saat kita ada dalam kondisi kekurangan. Bahwa mungkin kehidupan kita sulit, namun kesyukuran bisa datang pada saat kita tahu masih ada yang bisa kita lakukan untuk orang lain yang sama-sama dalam kesulitan.
Jadi orang baik dan tidak sombong itu perlu latihan kontinu dan pembiasaan, makanya kita banyak ditinggali tips dan trik dari Rasulullah dan para Tabi'in, baik yang sifatnya konseptual sampai yang teknis-teknis untuk menaklukkan kesombongan yang sifatnya memang sama tuanya dengan keberadaan makhluk Allah seperti syaitan. Niat baiknya untuk melatih itu semua tentu mestinya datang dari iman.
Karena kesombongan bisa menyergap kapan saja dan siapa saja. Mengendap-endap seperti pencuri dan bum! Tiba-tiba kita merasa layak memandang orang dengan mengangkat hidung karena omongannya ga intelek, karena punya motor gede, karena gaji, karena sarjana, bisa nembak orang sembarangan karena keturunan si anu punya anu. Kebaikanpun bisa dirusak ketika hinggapi rasa sombong, baik itu sombong yang nyata maupun yang tersembunyi dalam ruang-ruang gelap di bilik hati. Hah, Kalau bukan karena kenal dengan saya, nggak mungkin dia bisa baik seperti ini.
Kenapa harus jadi orang yang baik hati dan tidak sombong ? sederhana aja mestinya. Baik hati itu perlu karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Tidak sombong itu perlu karena cukup sebesar atom, kesombongan dapat menahan kita dari pintu surga Allah.
Thursday, June 16, 2005
n waiting .. n waiting ...
Menunggu ternyata bukan semata permainan waktu. Jarak yang tercipta antara hari ini dan esok yang kita nanti, bukan semata persoalan menghitung hari detik demi detik. Menunggu juga adalah seni tarik ulur emosi antara harapan ideal dan kesiapan akan kemungkinan-kemungkinan. We hope for the best but we must ready for the worse, suatu ketika Aung San Su Kyi pernah bicara. Harus selalu ada kesiapan untuk menerima bahwa dalam optimisme, ada 1 persen yang harus diberikan bagi faktor X yang jadi hak milik Yang Maha Kuasa. I have my own plan, He got His. And when everything is not work as my plan, then surely His plans is the best scenario to follow.
Apapun kondisinya, bagi orang beriman semua baik adanya, begitu ajaran Rasulullah. Dalam saat-saat seperti ini, pastinya baru terasa, betapa beruntungnya kita pada hari, pada waktu Allah memperkenalkan kembali DiriNya dan hadir dalam kehidupan kita. Perkenalan itu yang membuka mata kita bahwa kehadiran kita bukanlah sebuah kebetulan namun sebuah rencana dan tanggung jawab yang menjadikan setiap kita tidak sepantasnya merasa tidak bernilai. Kita tahu darimana kita datang dan akan kemana kita berakhir. Dan sepanjang waktu, pada saat-saat kita tidak tahu dimana berpijak, maka tujuan akhir itu jadi kompas yang bisa menjalankan fungsinya dengan mantap untuk kembali meluruskan kalau kita sedikit tersesat jalan.
Betapa beruntungnya kita pada hari Dia memperkenalkan kembali DiriNya sedikit demi sedikit lewat berbagai jalan lewat banyak tangan. Karena ketika kita tersadar bahwa sesuatu itu tidak berjalan sesuai rencana (dan betapa seringnya itu terjadi), kita masih bisa berharap akan hikmah dan percaya pada kebaikan rencanaNya.
(fiuh! Got my interview, finally! Lumayan lega dan tentu bersyukur padaNya atas banyak cinta yang menemani)
Apapun kondisinya, bagi orang beriman semua baik adanya, begitu ajaran Rasulullah. Dalam saat-saat seperti ini, pastinya baru terasa, betapa beruntungnya kita pada hari, pada waktu Allah memperkenalkan kembali DiriNya dan hadir dalam kehidupan kita. Perkenalan itu yang membuka mata kita bahwa kehadiran kita bukanlah sebuah kebetulan namun sebuah rencana dan tanggung jawab yang menjadikan setiap kita tidak sepantasnya merasa tidak bernilai. Kita tahu darimana kita datang dan akan kemana kita berakhir. Dan sepanjang waktu, pada saat-saat kita tidak tahu dimana berpijak, maka tujuan akhir itu jadi kompas yang bisa menjalankan fungsinya dengan mantap untuk kembali meluruskan kalau kita sedikit tersesat jalan.
Betapa beruntungnya kita pada hari Dia memperkenalkan kembali DiriNya sedikit demi sedikit lewat berbagai jalan lewat banyak tangan. Karena ketika kita tersadar bahwa sesuatu itu tidak berjalan sesuai rencana (dan betapa seringnya itu terjadi), kita masih bisa berharap akan hikmah dan percaya pada kebaikan rencanaNya.
(fiuh! Got my interview, finally! Lumayan lega dan tentu bersyukur padaNya atas banyak cinta yang menemani)
Saturday, May 14, 2005
Terimakasih!
Beberapa waktu yang lalu nonton reality show baru buatan Helmy Yahya. Titelnya Terimakasih. Itu reality show tentang upaya orang untuk menolong orang yang pernah menolong mereka. Segmen pembukanya berupa packages tentang pernghargaan kepada mereka yang bisa berterima kasih atas perbuatan orang lain terhadap dirinya yang biasanya kita anggap itu kewajaran. Seperti berterima kasih pada petugas parkir yang membantu pemilik mobil bisa turun ke jalan dengan selamat.
Terimakasih dan Tolong adalah dua buah kata yang menurut saya tidak saja manis tapi juga dalam maknanya. Ingetkan, waktu kecil diajari untuk memulai sesuatu dengan ‘tolong’ dan menutupnya dengan ‘terimakasih’. Lalu setelah itu orangtua kita akan menghadiahi tatapan dengan berjuta bintang untuk kita yang mengandung makna duh, pinternya anakku.
Saya ingat suatu hari saya menemani seorang teman dari Unsoed, Purwokerto untuk berkeliling kampus saya dengan menggunakan bis kuning. Dan dia terheran-heran dengan kebiasaan kami, mahasiswa UI, untuk berkata “Terima kasih, Pak” kepada supir bis kuning. Dan tentu saja Pak Supir akan membalas dengan senyum lebar dan mengangguk dengan penuh harga diri. Dan saya rasa masing-masing sudah mengerti apa makna kata itu. Terima kasih loh Pak, saya sudah diantar sampai kampus saya. Terima kasih lo Pak, saya tidak telat ujian. Terima kasih lo Mbak, Neng, Mas, menghargai saya, jadi sopir bulak-balik muterin UI itu nda sembarangan loh capeknya. Itu adalah kenangan yang paling saya suka tentang kampus saya selain danau dan masjidnya. Kebiasaan itu tentu saja saya tdak tahu siapa yang memulainya, yang jelas Alhamdulillah kebiasaan itu teradopsi dengan baik hingga saat ini di UI.
Maka ketika dua kata itu muncul, dia jadi sebuah reality show yang paling manis yang pernah saya lihat. Tayangan ini menambah daftar pendek isi televisi yang masuk kategori layak tonton. Saya bisa bilang bahwa terlepas dari beberapa perbedaan sudut pandang, saya suka reality show sejenis semacam Tolong, Nikah Gratis (nah, ini baru enak), Bedah Rumah, dan Uang Kaget. Dua yang terakhir, walaupun dengan sederet pertanyaan dibelakangnya, minimal merupakan sebuah upaya kreatif untuk mengangkat kenyataan seharian umat ini yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan.
Entah apa yang terjadi, tapi masyarakat mungkin sudah demikian terbiasa dengan pemandangan kemiskinan sehingga seorang Helmy harus mengemasnya dalam bentuk sedemikian rupa untuk mengetuk nurani kita yang makin beku. Kita jadi semacam masyarakat yang haus tontonan kepedihan sehingga kita selalu menanti dan menanti, apalagi yang lebih parah dari ini ? adakah yang lebih menyedihkan lagi ?
Dan televisi meladeninya. LKC, tempat saya bekerja, seringkali menangani kasus-kasus penyakit berat yang pembiayaannya jauh diatas plafon. Kami harus cari cara untuk memperoleh donasi agar pasien yang bersangkutan dapat menikmati kesembuhan. Salah satu caranya adalah menjalin kerjasama dengan program Visi Zakat di RCTI yang slotnya dimiliki Dompet Dhuafa. Tapi entah berapa pasien yang membutuhkan bantuan tapi tidak lolos hanya karena kisah hidupnya kurang dramatis. Ya, dia sakit, dia miskin ? so, what ? pemirsa sudah sering lihat yang semacam itu, kami butuh yang lebih dari itu.
Kita hidup di tengah masyarakat yang makin hari makin tampil brangasan. Pengendara mobil pibadi bisa memaki pengendara motor bila tersalip jalan, pengendara sepeda motor bisa memaki supir angkot jika sedikit saja mereka kehilangan keseimbangan, supir angkot bisa memaki penumpang jika ongkos kurang, penumpang bisa memaki kernet kalau ditagih ongkos lebihan.
Disini orang berpunya mempertontonkan kepongahan sementara yang tak berpunya hidup sakit hati dalam kecemburuan. Suatu hari, di tempat saya bekerja yang punya niat mendedikasikan diri untuk melayani duafa, resepsionis dan bagian kepesertaan di maki-maki seorang pimpinan paguyuban anak jalanan karena proses keanggotaannya belum juga jelas.
Dan yang paling menyedihkan, semua itu diembel-embeli “mentang-mentang elu kaya,” atau “gini-gini gua orang berpendidikan,” “lu ga tahu gua siapa?” saya melihat itu sebagai sebuah bentuk luapan sakit hati atas sebuah sistem yang tidak adil yang membuat setiap kita merasa jadi korban. Dan saya Cuma bias beristighfar dalam hati ketika seorang teman berkata tajam, “Begini akibatnya kalau kita meninabobokan duafa!”
Dari tempat ini, saya bisa melihat kemiskinan dalam perspektif yang agak sedikit berbeda dibanding sebelumnya. Dulu, mungkin seperti menonton film India yang serba menyayat hati. Yang miskin itu lemah, yang miskin itu tertindas. Tapi kemiskinan buat kita sudah sedemikian mendera sehingga bertahan hidup dengan kemiskinan lewat berbagai cara jadi pilihan dari sedikit pilihan yang mereka punya. Maka jadilah orang miskin yang manipulatif, yang bisa dengan lancar mendramatisasi kemiskinannya sendiri. Maka jadilah orang miskin yang tidak segan berdusta untuk memperoleh belas kasihan orang lain. Tidakkah pedih melihatnya ?
Saya teringat pada kata-kata Pak Houtman Z Arifin dalam sambutannya dalam penandatangan proyek kerjasama pengadaan rumah bagi korban tsunami. “Kita harus bijak dalam melihat permasalahan. Karena bisa jadi, jangan-jangan kitalah yang membuat orang miskin tetap miskin, jangan-jangan justru kita yang membuat orang yang lemah makin tak berdaya.”
Laporan UNDP tahun 1997 menyebutkan , perbandingan orang miskin dan orang kaya didunia secara rata-rata meningkat dari 30:1 pada tahun 1960 menjadi 92: 1 pada awal tahun 1990-an. Di Indonesia sendiri, sejak naiknya BBM, ada pertambahan jumlah masyarakat miskin (4 atau 2 juta gitu).
Kemiskinan memang mengerikan. Ali bin Abi Thalib ra bahkan berkata jika saja kemiskinan itu berbentuk laki-laki, maka tentu dia akan membunuhnya. Tapi yang lebih mengerikan tentunya adalah kenyataan bahwa kita tidak hanya mengalami kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan jiwa. Ada jurang yang sedemikian besar antara kemiskinan masa kini dengan kemiskinan masa lampau. Jangan lagi bicara zaman Nabi SAW, ketika ahlussuffah yang tak berpunya menghadap dengan penuh harga diri bertanya bagaimana caranya mereka bisa beramal kebaikan sebanyak sahabat-sahabat yang dianugerahi kekayaan. Di masa lalu orang bisa miskin namun setidaknya tidak dirongrong habis jiwanya oleh gempuran materialisme yang kini jadi tontonan hingga ke pelosok-pelosok gubuk jelek lewat televisi dan VCD Player. Maka membagi-bagikan uang sepuluh juta kepada orang miskin yang dengan berpeluh menghabiskannya untuk membeli kulkas, handphone dan televisi, hanyalah sebuah kegemasan akan lambannya mobilitas sosial masyarakat.
Menjadi orang miskin dimasa lalu masih bisa berkuat hati berkata pada anak-anaknya untuk bercerita tentang Nabi Sulaiman yang ditawari ilmu atau kekayaan. Maka ketika Sulaiman memilih ilmu, maka Allah memberikannya ilmu dan kekayaan, seperti yang pernah diceritakan bapak saya. Jika engkau pintar nak, maka dunia akan ada dalam genggamanmu. Sekarang ? jangankan untuk menggedor pintu gerbang universitas yang berjuta harga kuncinya, tunas itu keburu memilih gantung diri karena tak kuat bayaran SPP yang hanya belasan ribu rupiah besarnya.
Maka saya merasa reality show semacam Terimakasih dan Tolong menjadi sebuah tayangan manis dan menyegarkan jiwa. Karena sesungguhnya ada kemiskinan yang sama parahnya, yang sama urgentnya untuk segera diobati. Yaitu kemiskinan jiwa yang bisa diderita oleh siapa saja. Baik yang punya maupun yang tidak punya. Terimakasih dan Tolong adalah dua buah kata sederhana yang bisa jadi kita lupa untuk mengatakannya baik pada Allah, maupun pada manusia. Dua kata itu mengajarkan banyak pada kita sesuatu yang sering kita lupa, bahwa kehidupan kita berdiri diatas kemurahan Tuhan dan keberadaan orang lain sebagai tangan-Nya.
Terimakasih dan Tolong adalah dua buah kata yang menurut saya tidak saja manis tapi juga dalam maknanya. Ingetkan, waktu kecil diajari untuk memulai sesuatu dengan ‘tolong’ dan menutupnya dengan ‘terimakasih’. Lalu setelah itu orangtua kita akan menghadiahi tatapan dengan berjuta bintang untuk kita yang mengandung makna duh, pinternya anakku.
Saya ingat suatu hari saya menemani seorang teman dari Unsoed, Purwokerto untuk berkeliling kampus saya dengan menggunakan bis kuning. Dan dia terheran-heran dengan kebiasaan kami, mahasiswa UI, untuk berkata “Terima kasih, Pak” kepada supir bis kuning. Dan tentu saja Pak Supir akan membalas dengan senyum lebar dan mengangguk dengan penuh harga diri. Dan saya rasa masing-masing sudah mengerti apa makna kata itu. Terima kasih loh Pak, saya sudah diantar sampai kampus saya. Terima kasih lo Pak, saya tidak telat ujian. Terima kasih lo Mbak, Neng, Mas, menghargai saya, jadi sopir bulak-balik muterin UI itu nda sembarangan loh capeknya. Itu adalah kenangan yang paling saya suka tentang kampus saya selain danau dan masjidnya. Kebiasaan itu tentu saja saya tdak tahu siapa yang memulainya, yang jelas Alhamdulillah kebiasaan itu teradopsi dengan baik hingga saat ini di UI.
Maka ketika dua kata itu muncul, dia jadi sebuah reality show yang paling manis yang pernah saya lihat. Tayangan ini menambah daftar pendek isi televisi yang masuk kategori layak tonton. Saya bisa bilang bahwa terlepas dari beberapa perbedaan sudut pandang, saya suka reality show sejenis semacam Tolong, Nikah Gratis (nah, ini baru enak), Bedah Rumah, dan Uang Kaget. Dua yang terakhir, walaupun dengan sederet pertanyaan dibelakangnya, minimal merupakan sebuah upaya kreatif untuk mengangkat kenyataan seharian umat ini yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan.
Entah apa yang terjadi, tapi masyarakat mungkin sudah demikian terbiasa dengan pemandangan kemiskinan sehingga seorang Helmy harus mengemasnya dalam bentuk sedemikian rupa untuk mengetuk nurani kita yang makin beku. Kita jadi semacam masyarakat yang haus tontonan kepedihan sehingga kita selalu menanti dan menanti, apalagi yang lebih parah dari ini ? adakah yang lebih menyedihkan lagi ?
Dan televisi meladeninya. LKC, tempat saya bekerja, seringkali menangani kasus-kasus penyakit berat yang pembiayaannya jauh diatas plafon. Kami harus cari cara untuk memperoleh donasi agar pasien yang bersangkutan dapat menikmati kesembuhan. Salah satu caranya adalah menjalin kerjasama dengan program Visi Zakat di RCTI yang slotnya dimiliki Dompet Dhuafa. Tapi entah berapa pasien yang membutuhkan bantuan tapi tidak lolos hanya karena kisah hidupnya kurang dramatis. Ya, dia sakit, dia miskin ? so, what ? pemirsa sudah sering lihat yang semacam itu, kami butuh yang lebih dari itu.
Kita hidup di tengah masyarakat yang makin hari makin tampil brangasan. Pengendara mobil pibadi bisa memaki pengendara motor bila tersalip jalan, pengendara sepeda motor bisa memaki supir angkot jika sedikit saja mereka kehilangan keseimbangan, supir angkot bisa memaki penumpang jika ongkos kurang, penumpang bisa memaki kernet kalau ditagih ongkos lebihan.
Disini orang berpunya mempertontonkan kepongahan sementara yang tak berpunya hidup sakit hati dalam kecemburuan. Suatu hari, di tempat saya bekerja yang punya niat mendedikasikan diri untuk melayani duafa, resepsionis dan bagian kepesertaan di maki-maki seorang pimpinan paguyuban anak jalanan karena proses keanggotaannya belum juga jelas.
Dan yang paling menyedihkan, semua itu diembel-embeli “mentang-mentang elu kaya,” atau “gini-gini gua orang berpendidikan,” “lu ga tahu gua siapa?” saya melihat itu sebagai sebuah bentuk luapan sakit hati atas sebuah sistem yang tidak adil yang membuat setiap kita merasa jadi korban. Dan saya Cuma bias beristighfar dalam hati ketika seorang teman berkata tajam, “Begini akibatnya kalau kita meninabobokan duafa!”
Dari tempat ini, saya bisa melihat kemiskinan dalam perspektif yang agak sedikit berbeda dibanding sebelumnya. Dulu, mungkin seperti menonton film India yang serba menyayat hati. Yang miskin itu lemah, yang miskin itu tertindas. Tapi kemiskinan buat kita sudah sedemikian mendera sehingga bertahan hidup dengan kemiskinan lewat berbagai cara jadi pilihan dari sedikit pilihan yang mereka punya. Maka jadilah orang miskin yang manipulatif, yang bisa dengan lancar mendramatisasi kemiskinannya sendiri. Maka jadilah orang miskin yang tidak segan berdusta untuk memperoleh belas kasihan orang lain. Tidakkah pedih melihatnya ?
Saya teringat pada kata-kata Pak Houtman Z Arifin dalam sambutannya dalam penandatangan proyek kerjasama pengadaan rumah bagi korban tsunami. “Kita harus bijak dalam melihat permasalahan. Karena bisa jadi, jangan-jangan kitalah yang membuat orang miskin tetap miskin, jangan-jangan justru kita yang membuat orang yang lemah makin tak berdaya.”
Laporan UNDP tahun 1997 menyebutkan , perbandingan orang miskin dan orang kaya didunia secara rata-rata meningkat dari 30:1 pada tahun 1960 menjadi 92: 1 pada awal tahun 1990-an. Di Indonesia sendiri, sejak naiknya BBM, ada pertambahan jumlah masyarakat miskin (4 atau 2 juta gitu).
Kemiskinan memang mengerikan. Ali bin Abi Thalib ra bahkan berkata jika saja kemiskinan itu berbentuk laki-laki, maka tentu dia akan membunuhnya. Tapi yang lebih mengerikan tentunya adalah kenyataan bahwa kita tidak hanya mengalami kemiskinan materi, tetapi juga kemiskinan jiwa. Ada jurang yang sedemikian besar antara kemiskinan masa kini dengan kemiskinan masa lampau. Jangan lagi bicara zaman Nabi SAW, ketika ahlussuffah yang tak berpunya menghadap dengan penuh harga diri bertanya bagaimana caranya mereka bisa beramal kebaikan sebanyak sahabat-sahabat yang dianugerahi kekayaan. Di masa lalu orang bisa miskin namun setidaknya tidak dirongrong habis jiwanya oleh gempuran materialisme yang kini jadi tontonan hingga ke pelosok-pelosok gubuk jelek lewat televisi dan VCD Player. Maka membagi-bagikan uang sepuluh juta kepada orang miskin yang dengan berpeluh menghabiskannya untuk membeli kulkas, handphone dan televisi, hanyalah sebuah kegemasan akan lambannya mobilitas sosial masyarakat.
Menjadi orang miskin dimasa lalu masih bisa berkuat hati berkata pada anak-anaknya untuk bercerita tentang Nabi Sulaiman yang ditawari ilmu atau kekayaan. Maka ketika Sulaiman memilih ilmu, maka Allah memberikannya ilmu dan kekayaan, seperti yang pernah diceritakan bapak saya. Jika engkau pintar nak, maka dunia akan ada dalam genggamanmu. Sekarang ? jangankan untuk menggedor pintu gerbang universitas yang berjuta harga kuncinya, tunas itu keburu memilih gantung diri karena tak kuat bayaran SPP yang hanya belasan ribu rupiah besarnya.
Maka saya merasa reality show semacam Terimakasih dan Tolong menjadi sebuah tayangan manis dan menyegarkan jiwa. Karena sesungguhnya ada kemiskinan yang sama parahnya, yang sama urgentnya untuk segera diobati. Yaitu kemiskinan jiwa yang bisa diderita oleh siapa saja. Baik yang punya maupun yang tidak punya. Terimakasih dan Tolong adalah dua buah kata sederhana yang bisa jadi kita lupa untuk mengatakannya baik pada Allah, maupun pada manusia. Dua kata itu mengajarkan banyak pada kita sesuatu yang sering kita lupa, bahwa kehidupan kita berdiri diatas kemurahan Tuhan dan keberadaan orang lain sebagai tangan-Nya.
Bicara Soal Itu tuh ...
Dalam era tarbiyah yang makin terbuka, pilihan prosedur pencarian sang pasangan jiwa tentunya makin beragam sebagai konsekuensi logis dari keterbukaan itu. Mau lewat jalur legal formal ? mau lewat teman? mau cari sendiri ? silahkan, sepanjang bisa menjaga diri untuk ada dikoridor yang tidak meracuni hati (tapi dari pengalaman pribadi, biasanya yang sendirian itu gampang disergap setan sih ke ke ke). Yang pertama dan kedua tentunya menarik. Tapi saya mau bicara tentang yang jalur legal formal aja. Karena sadar atau tidak, kalau mengamati diri sendiri, ternyata ada perubahan-perubahan yang membuat saya sekarang punya pandangan yang agak berbeda dibanding saya yang dulu tentang prosedur ini.Udah tambah tua kali yah =b
Dulu rasanya banyak pertanyaan besar tentang proses yang kelihatannya tidak lazim dan penuh resiko itu.
Dulu saya sering bertanya pada akhwat-akhwat yang sudah menikah, apa yang membuat mereka memutuskan untuk berkata ya, kapan tepatnya mereka merasa jatuh cinta pada laki-laki yang kini berdiri disamping mereka menjadi ayah dari anak-anak mereka. Pada saat melihat fotonya? Pada saat taaruf ? love at first sight, gitu ? sesudah anak pertama? Kedua?
Karena, Pertama. Pada kenyataannya yang mereka hadapi umumnya adalah lembaran kertas dengan foto (kalau beruntung) 4x6 berwarna. Seberapa besar rincian informasi yang tercantum dalam biodata dapat diandalkan untuk mendapatkan potret karakter seorang manusia yang terbentuk selama puluhan tahun. Sebagus apapun rekomendasi dari pembina, bagaimanapun dia bukan kita dengan selera dan kecenderungan yang berbeda.
Kedua, karena proses itu merupakan sebuah kesempatan 50:50 yang bisa ya bisa tidak. Apa yang akan terjadi seandainya proses ini tidak membuahkan kata ya? Apakah mereka merasakan rasa sakit ? kecewa? Sebesar apa sakitnya? Karena ditolak untuk sebuah pekerjaan, itu biasa. Dari 500 kandidat bisa jadi hanya satu yang terpilih. Masih ada 499 orang yang senasib dan mengalami kekecewaan bersama kita. Surely, We’re not the lousy one. Tapi ditolak untuk hal ini tentunya berbeda.
Dalam seleksi kerja, ada kriteria dan tuntutan tanggung jawab yang membuat semuanya serba terukur. Dalam seleksi jodoh ? entahlah. Saya rasa tentu akan menyakitkan karena ini sifatnya sangat personal. Ditolak dalam sebuah proses pencarian pasangan hidup bisa disalah artikan sebagai penolakan kita secara persona. Bayangkan, puluhan tahun orang tua, sekolah, teman dan kita sendiri, bersusah payah membentuk karakter melalui konflik, patah hati, kecewa, dan itu ditolak ? apa dia tidak tahu seberapa besar investasi yang sudah ditanamkan untuk membentuk saya seperti ini? Mungkin kemudian kita dibuat bertanya-tanya, yang mana yang dari diri saya yang tidak dapat anda terima ? apakah fisik? apakah keluarga? Apakah suku? apakah Saya? Makanya ada orang yang bisa down, kehilangan self esteem ketika mengalami penolakan dan selanjutnya malas coba-coba lagi.
Dulu juga saya sering membuat hitung-hitungan matematis. Kalau dia cantik, kaya, pinter, baik, maka pasti pasangannya juga akan tampan, kaya, pintar. Dan tentu hanya orang bodoh yang akan menolaknya. Tapi ternyata hitung-hitungan ini tidak selalu berlaku. Kadang kombinasi terbaik mengambil bentuk hubungan komplementer dimana si tampan populer lebih merasa nyaman berada disamping si datar yang biasa-biasa saja.
Dan bahkan orang-orang terbaik pun bisa mengalami penolakan. Saya punya teman-teman yang menurut saya masuk kategori mereka yang tidak akan diberi jika meminta, ternyayta bisa ditolak,gagal, sekali, dua kali, tiga kali.
Ternyata ini bukan sebuah hitung-hitungan matematis cantik ditambah ganteng jadilah suami isteri. Ini sebuah mekanisme dimana tangan-tangan Allah bekerja menjauhkan dan mendekatkan mereka-mereka yang memang semestinya harus jauh atau harus dekat. Jalannya bisa jadi lewat keberatan pada fisik, karakter, keluarga. Atau justru rasa ‘klik’ pada sebuah senyuman, kalimat, kejadian. Apapun itu ujungnya adalah utak-atik nasib dari kita untuk menemukan formula terbaik apa yang sudah digariskan dari yang Di Atas. Apakah si aktivis kelas berat harus dengan si cantik yang pintar atau si penyayang yang keibuan.
Dan jika utak-atik formula itu menemukan bentuk terbaiknya, maka yang terucap adalah “ya, yakin aja.” Atau “aku ngerasa nyaman dengan dia.” Dan akhirnya, waktu timbul pertanyaan, bagaimana saya tahu ini yang terbaik atau tidak untuk saya, saya pikir jawabannya kembali ke sesuatu yang terdengar klise tapi tetap benar adanya. Yaitu sepanjang niatan utama untuk itu semua terjaga kemurniannya, maka bolehlah kita berharap, semoga tangan Allah yang bekerja menjaga kita dalam setiap keputusan-keputusan yang kita buat.
On My best friend wedding, mengintip dari balik handycam sambil mengagumi kejeniusan dan romantisme Allah SWT
Dulu rasanya banyak pertanyaan besar tentang proses yang kelihatannya tidak lazim dan penuh resiko itu.
Dulu saya sering bertanya pada akhwat-akhwat yang sudah menikah, apa yang membuat mereka memutuskan untuk berkata ya, kapan tepatnya mereka merasa jatuh cinta pada laki-laki yang kini berdiri disamping mereka menjadi ayah dari anak-anak mereka. Pada saat melihat fotonya? Pada saat taaruf ? love at first sight, gitu ? sesudah anak pertama? Kedua?
Karena, Pertama. Pada kenyataannya yang mereka hadapi umumnya adalah lembaran kertas dengan foto (kalau beruntung) 4x6 berwarna. Seberapa besar rincian informasi yang tercantum dalam biodata dapat diandalkan untuk mendapatkan potret karakter seorang manusia yang terbentuk selama puluhan tahun. Sebagus apapun rekomendasi dari pembina, bagaimanapun dia bukan kita dengan selera dan kecenderungan yang berbeda.
Kedua, karena proses itu merupakan sebuah kesempatan 50:50 yang bisa ya bisa tidak. Apa yang akan terjadi seandainya proses ini tidak membuahkan kata ya? Apakah mereka merasakan rasa sakit ? kecewa? Sebesar apa sakitnya? Karena ditolak untuk sebuah pekerjaan, itu biasa. Dari 500 kandidat bisa jadi hanya satu yang terpilih. Masih ada 499 orang yang senasib dan mengalami kekecewaan bersama kita. Surely, We’re not the lousy one. Tapi ditolak untuk hal ini tentunya berbeda.
Dalam seleksi kerja, ada kriteria dan tuntutan tanggung jawab yang membuat semuanya serba terukur. Dalam seleksi jodoh ? entahlah. Saya rasa tentu akan menyakitkan karena ini sifatnya sangat personal. Ditolak dalam sebuah proses pencarian pasangan hidup bisa disalah artikan sebagai penolakan kita secara persona. Bayangkan, puluhan tahun orang tua, sekolah, teman dan kita sendiri, bersusah payah membentuk karakter melalui konflik, patah hati, kecewa, dan itu ditolak ? apa dia tidak tahu seberapa besar investasi yang sudah ditanamkan untuk membentuk saya seperti ini? Mungkin kemudian kita dibuat bertanya-tanya, yang mana yang dari diri saya yang tidak dapat anda terima ? apakah fisik? apakah keluarga? Apakah suku? apakah Saya? Makanya ada orang yang bisa down, kehilangan self esteem ketika mengalami penolakan dan selanjutnya malas coba-coba lagi.
Dulu juga saya sering membuat hitung-hitungan matematis. Kalau dia cantik, kaya, pinter, baik, maka pasti pasangannya juga akan tampan, kaya, pintar. Dan tentu hanya orang bodoh yang akan menolaknya. Tapi ternyata hitung-hitungan ini tidak selalu berlaku. Kadang kombinasi terbaik mengambil bentuk hubungan komplementer dimana si tampan populer lebih merasa nyaman berada disamping si datar yang biasa-biasa saja.
Dan bahkan orang-orang terbaik pun bisa mengalami penolakan. Saya punya teman-teman yang menurut saya masuk kategori mereka yang tidak akan diberi jika meminta, ternyayta bisa ditolak,gagal, sekali, dua kali, tiga kali.
Ternyata ini bukan sebuah hitung-hitungan matematis cantik ditambah ganteng jadilah suami isteri. Ini sebuah mekanisme dimana tangan-tangan Allah bekerja menjauhkan dan mendekatkan mereka-mereka yang memang semestinya harus jauh atau harus dekat. Jalannya bisa jadi lewat keberatan pada fisik, karakter, keluarga. Atau justru rasa ‘klik’ pada sebuah senyuman, kalimat, kejadian. Apapun itu ujungnya adalah utak-atik nasib dari kita untuk menemukan formula terbaik apa yang sudah digariskan dari yang Di Atas. Apakah si aktivis kelas berat harus dengan si cantik yang pintar atau si penyayang yang keibuan.
Dan jika utak-atik formula itu menemukan bentuk terbaiknya, maka yang terucap adalah “ya, yakin aja.” Atau “aku ngerasa nyaman dengan dia.” Dan akhirnya, waktu timbul pertanyaan, bagaimana saya tahu ini yang terbaik atau tidak untuk saya, saya pikir jawabannya kembali ke sesuatu yang terdengar klise tapi tetap benar adanya. Yaitu sepanjang niatan utama untuk itu semua terjaga kemurniannya, maka bolehlah kita berharap, semoga tangan Allah yang bekerja menjaga kita dalam setiap keputusan-keputusan yang kita buat.
On My best friend wedding, mengintip dari balik handycam sambil mengagumi kejeniusan dan romantisme Allah SWT
Tuesday, May 10, 2005
Lagi Garing
Kalau ada saat-saat dimana hati tidak tersentuh
nurani tidak terenyuh
iming-iming surga tidak menghentakkan sesuatu dirongga dada
dan ancaman siksa tidak menyesakkan hingga pedih dimata
kau tahu saat ini engkau sedang dititik mana
Kalau ada pandangan mata tidak terjaga
dan hati runtuh kehilangan perisainya
kau tahu ada jarak terentang antara kau dan Dia yang tak terukur jauhnya
Jiwa ...
jangan sampai kita kehilangan cinta
habis maghrib. Mendengarkan mamah menangis membaca al Buruuj dengan hati hampa
nurani tidak terenyuh
iming-iming surga tidak menghentakkan sesuatu dirongga dada
dan ancaman siksa tidak menyesakkan hingga pedih dimata
kau tahu saat ini engkau sedang dititik mana
Kalau ada pandangan mata tidak terjaga
dan hati runtuh kehilangan perisainya
kau tahu ada jarak terentang antara kau dan Dia yang tak terukur jauhnya
Jiwa ...
jangan sampai kita kehilangan cinta
habis maghrib. Mendengarkan mamah menangis membaca al Buruuj dengan hati hampa
Thursday, April 14, 2005
I'm Back!
he he he ....
akhirnya nge-blog lagi ...
apa kabar dunia ? (aih, basi deh ...) alhamdulillah bisa balik lagi. jadi malu niy ama yang pada rajin posting. duh, duh bukan kenape2, di rumah mo pasang koneksi internet masih sebatas janji kampanye, masih ngagombal ceunah. Kalau di kantor ??? wah, ga tau deh Bapak IT nya kayaknya loadnya selalu tinggi, jadi ga sempet dibenerin jaringan yang katanya kemarin krash atau apa gitu. Jadinya ga bisa berkutik dong. Sabtu-Minggu ke warnet ? wah itu hari mencuci sedunia dung, plus eksetra2 Kau-Tahu-Apa. jadi ...
gimana? sudah puas dengan alasan2nya ?
Tony!!! AKA Abi Luthfi, aku mo bilang ma kasih! waktu itu aku lagi bete banget dan seseorang di kantor tiba-tiba menyodorkan sebuah buku mungil "baca deh mba, bagus loh..." dan ternyata it's ur book! 30 kekuatan cinta tea! hu hu hu ... kegombalan masa silam yang berbungkus tausiyah universal nan sederhana itu memang obat mujarab hu hu hu ...
tapi kenapa nggak nulis lagi ton ? apa karena udah ketemu ummi lutfi =b? katanya orang itu bisa kreatif kalo lagi jatuh cinta (dalam status menunggu jawaban gitu loh) atawa kalo lagi putus cinta (huh! akan kutunjukkan, nyesel deh lo nolak gue!) he he he ... kalau yang udah tenang dengan cinta katanya malah bisa nggak produktif, habis yang dicari sudah ketemu. bener ga ton ? *giggle*
tapi kalo vita pasti lain cerita yah, hon ...
blog-nya makin rame aja, jadi ngiri ...
Ge! kangenyaaa! kalau baca blognya jadi ikutan mellow, Ge
well, banyak banget yang ingin diceritain. Ilmu itu harus diikat dengan pena, kenangan itu harus diabadikan di blog, he he gitu kali yak?
akhirnya nge-blog lagi ...
apa kabar dunia ? (aih, basi deh ...) alhamdulillah bisa balik lagi. jadi malu niy ama yang pada rajin posting. duh, duh bukan kenape2, di rumah mo pasang koneksi internet masih sebatas janji kampanye, masih ngagombal ceunah. Kalau di kantor ??? wah, ga tau deh Bapak IT nya kayaknya loadnya selalu tinggi, jadi ga sempet dibenerin jaringan yang katanya kemarin krash atau apa gitu. Jadinya ga bisa berkutik dong. Sabtu-Minggu ke warnet ? wah itu hari mencuci sedunia dung, plus eksetra2 Kau-Tahu-Apa. jadi ...
gimana? sudah puas dengan alasan2nya ?
Tony!!! AKA Abi Luthfi, aku mo bilang ma kasih! waktu itu aku lagi bete banget dan seseorang di kantor tiba-tiba menyodorkan sebuah buku mungil "baca deh mba, bagus loh..." dan ternyata it's ur book! 30 kekuatan cinta tea! hu hu hu ... kegombalan masa silam yang berbungkus tausiyah universal nan sederhana itu memang obat mujarab hu hu hu ...
tapi kenapa nggak nulis lagi ton ? apa karena udah ketemu ummi lutfi =b? katanya orang itu bisa kreatif kalo lagi jatuh cinta (dalam status menunggu jawaban gitu loh) atawa kalo lagi putus cinta (huh! akan kutunjukkan, nyesel deh lo nolak gue!) he he he ... kalau yang udah tenang dengan cinta katanya malah bisa nggak produktif, habis yang dicari sudah ketemu. bener ga ton ? *giggle*
tapi kalo vita pasti lain cerita yah, hon ...
blog-nya makin rame aja, jadi ngiri ...
Ge! kangenyaaa! kalau baca blognya jadi ikutan mellow, Ge
well, banyak banget yang ingin diceritain. Ilmu itu harus diikat dengan pena, kenangan itu harus diabadikan di blog, he he gitu kali yak?
Teman dalam Pencarian
“Ada apa?”
“saya lagi malas mba, lagi turun, lagi banyak devilnya nih.”
“terus ?”
“saya lagi malas ngaa-ngapain. Jangankan baca Alquran, shalat awal waktu…jauh banget deh mba. Shalat subuh saya sering lewat.”
Deg. Saya berusaha mempertahankan ekspresi saya. Di dalam sini, sebuah belati rasanya digoreskan dalam-dalam. Saya memandangi lekat-lekat ‘adik’ saya. Tidak tepat sebetulnya kalau dibilang adik. Karena secara umur dia lebih tua dari saya satu tahun. Penyebutan mba yang ia berikan untuk saya, buat saya tidak banyak berarti karena bagi saya ia adalah teman dan saudara saya. Dua tahun yang lalu kami berkenalan. Dengan balutan kaos ketat merah muda khas generasi MTV, dia menunggu saya di selasar masjid UI. "Saya mau belajar Al quran, mba." Katanya penuh semangat. Dan siang hingga sore itu kami habiskan lewat perbincangan soal pencarian kebenaran, perasaan kosong tak terarah yang harus diakhiri, soal perlunya memiliki pegangan yang pasti.
"Saya mo insyaf deh, nggak mau begini terus"
Dan hati saya terbang dalam asa, penuh dengan pengharapan bahwa kelak, masing-masing kami berdua bisa sama-sama menemukan apa yang kami cari.
Dan kini. Siang itu saya berusaha mengenali perasaan saya. Marah ? kecewa ? sedih ? “kelak, shalat dalah amalan yang pertama kali diperhitungkan di yaumul hisab. Baik shalatmu, maka baik pula keseluruhannya…” lupakah saya memberitahunya ? ataukah dia yang tidak mengingatnya? “Yang membedakan seorang muslim dan kafir adalah shalat.”Ah, bibir saya tak sanggup mengatakannya. Iman ini masih ringkih dalam persemaian, saya tidak ingin menghancurkan dan memutus kesempatannya berbunga dibabat habis oleh penolakan.
Saya menatap matanya. Jika engkau merasa pedih dalam kekosonganmu, aku jauh lebih pedih dalam kekecewaanku. “mereka yang tidak memiliki tidak akan pernah bisa memberi..” ucap Sang Abang yang siang itu memberi pembekalan untuk para calon mentor di kampus. Ucapan itu tidak pernah luluh oleh waktu walaupun tak terhitung hari, minggu, bulan dan tahun telah berlalu sejak siang itu. Dan saya menggemakannya dalam pertanyaan ke dalam kalbu sendiri sudahkah itu kau miliki ?adakah kenikmatan iman yang ingin kau bagi ? ataukah sebatas silabus dan materi yang kau hapal yang kau punya dari pertemuan ke pertemuan?
Dua tahun bersama dan untuk sekedar menutup aurat, dia belum dapat melakukannya. “sabar ya mba, saya pasti akan berubah…” katanya suatu hari ketika saya menuntut penjelasan. Apa lagi yang dicari ketika deretan fakta telah kau cerna dengan logika ? “tapi iman itu ada di hati dan kau bukan pemilik hati.” Sesuatu menghibur dari dalam sana.
Ustadz Satria Hadi Lubis memberi tips, berikan pilihan untuk memakai hijab atau dia tidak usah meneruskan perjalanan ini. Dan saya berkata padanya bagaimana jika tidak dengan saya ? mungkin jawabannya akan dia temukan bersama yang lain ?
“Saya tidak mungkin pindah ke yang lain.”
“Kenapa ?”
“Saya tahu mereka. Selalu punya pengharapan saya akan lebih baik, dan jika itu tidak terwujud sesuai keinginan mereka, mereka meninggalkan saya.”
Apakah melepasmu adalah meninggalkanmu?
Saya tahu betapa mahalnya sebuah hidayah. Saya tahu bagaimana rasanya cemburu menatap wajah-wajah teduh dan bertanya-tanya dalam hati apa yang membuatmu seperti itu ? apa yang engkau miliki sehingga air matamu mengalir ketika terdengar berita tentang Bosnia, Ambon dan Palestina ? apa yang membuatmu bisa berkata tentang cinta pada seorang manusia yang terpisah seribu empat ratus tahun lamanya dari waktu tempat engkau berpijak ? apa yang membuatmu memiliki kekuatan untuk bersimpuh dan mengaduh dalam diam pada keheningan malam ?
Karena saya tak bisa. Saya tak punya.
Saya mencarinya dalam lembaran-lembaran buku, saya mencarinya dari pertemuan waktu ke waktu. Dan saya masih tidak bisa menemukannya. Tidak dengan hati yang terbelenggu dengan kesombongan ego dan nurani yang terbungkus pendapat dan penafsiran sendiri.
Saya tahu lelahnya mencari
Saya tahu bagaimana beratnya untuk berharap suatu saat ada kenikmatan iman yang bisa membuat saya meninggalkan kemaksiatan dan akhlak buruk dengan lapang.
Saya ingin berkata padanya
Kau harus menyerah. Pasrah. Menyadari pada satu titik ini semua bukan lagi persoalan logika, sejalan atau tidak dengan ilmu pengetahuan dan penemuan sejarah. Pada akhirnya ini tentang permohonan agar pada akhirnya Dia membawamu kepada cahaya diatas cahaya dan memberikan kekuatan untuk bisa mempertahankannya sekuat yang kau bisa.
Saya menatap matanya. Menarik napas dan mengatur emosi yang berkecamuk dalam dada. Berusaha berdiri di sudut yang tepat untuk memahami segala cerita dan keluh kesahnya.
Jika pencarian setiap kita adalah sebuah perjalanan, maka aku tak ingin jadi teman yang berkhianat karena meninggalkanmu ditengah jalan sendirian. Jika engkau bertanya tentang negeri impian, aku berjanji menggenggam tanganmu untuk menguatkan tiap kali muncul keraguan.
buat engkau, yang jadi tausiyahku
setiap sabtu
“saya lagi malas mba, lagi turun, lagi banyak devilnya nih.”
“terus ?”
“saya lagi malas ngaa-ngapain. Jangankan baca Alquran, shalat awal waktu…jauh banget deh mba. Shalat subuh saya sering lewat.”
Deg. Saya berusaha mempertahankan ekspresi saya. Di dalam sini, sebuah belati rasanya digoreskan dalam-dalam. Saya memandangi lekat-lekat ‘adik’ saya. Tidak tepat sebetulnya kalau dibilang adik. Karena secara umur dia lebih tua dari saya satu tahun. Penyebutan mba yang ia berikan untuk saya, buat saya tidak banyak berarti karena bagi saya ia adalah teman dan saudara saya. Dua tahun yang lalu kami berkenalan. Dengan balutan kaos ketat merah muda khas generasi MTV, dia menunggu saya di selasar masjid UI. "Saya mau belajar Al quran, mba." Katanya penuh semangat. Dan siang hingga sore itu kami habiskan lewat perbincangan soal pencarian kebenaran, perasaan kosong tak terarah yang harus diakhiri, soal perlunya memiliki pegangan yang pasti.
"Saya mo insyaf deh, nggak mau begini terus"
Dan hati saya terbang dalam asa, penuh dengan pengharapan bahwa kelak, masing-masing kami berdua bisa sama-sama menemukan apa yang kami cari.
Dan kini. Siang itu saya berusaha mengenali perasaan saya. Marah ? kecewa ? sedih ? “kelak, shalat dalah amalan yang pertama kali diperhitungkan di yaumul hisab. Baik shalatmu, maka baik pula keseluruhannya…” lupakah saya memberitahunya ? ataukah dia yang tidak mengingatnya? “Yang membedakan seorang muslim dan kafir adalah shalat.”Ah, bibir saya tak sanggup mengatakannya. Iman ini masih ringkih dalam persemaian, saya tidak ingin menghancurkan dan memutus kesempatannya berbunga dibabat habis oleh penolakan.
Saya menatap matanya. Jika engkau merasa pedih dalam kekosonganmu, aku jauh lebih pedih dalam kekecewaanku. “mereka yang tidak memiliki tidak akan pernah bisa memberi..” ucap Sang Abang yang siang itu memberi pembekalan untuk para calon mentor di kampus. Ucapan itu tidak pernah luluh oleh waktu walaupun tak terhitung hari, minggu, bulan dan tahun telah berlalu sejak siang itu. Dan saya menggemakannya dalam pertanyaan ke dalam kalbu sendiri sudahkah itu kau miliki ?adakah kenikmatan iman yang ingin kau bagi ? ataukah sebatas silabus dan materi yang kau hapal yang kau punya dari pertemuan ke pertemuan?
Dua tahun bersama dan untuk sekedar menutup aurat, dia belum dapat melakukannya. “sabar ya mba, saya pasti akan berubah…” katanya suatu hari ketika saya menuntut penjelasan. Apa lagi yang dicari ketika deretan fakta telah kau cerna dengan logika ? “tapi iman itu ada di hati dan kau bukan pemilik hati.” Sesuatu menghibur dari dalam sana.
Ustadz Satria Hadi Lubis memberi tips, berikan pilihan untuk memakai hijab atau dia tidak usah meneruskan perjalanan ini. Dan saya berkata padanya bagaimana jika tidak dengan saya ? mungkin jawabannya akan dia temukan bersama yang lain ?
“Saya tidak mungkin pindah ke yang lain.”
“Kenapa ?”
“Saya tahu mereka. Selalu punya pengharapan saya akan lebih baik, dan jika itu tidak terwujud sesuai keinginan mereka, mereka meninggalkan saya.”
Apakah melepasmu adalah meninggalkanmu?
Saya tahu betapa mahalnya sebuah hidayah. Saya tahu bagaimana rasanya cemburu menatap wajah-wajah teduh dan bertanya-tanya dalam hati apa yang membuatmu seperti itu ? apa yang engkau miliki sehingga air matamu mengalir ketika terdengar berita tentang Bosnia, Ambon dan Palestina ? apa yang membuatmu bisa berkata tentang cinta pada seorang manusia yang terpisah seribu empat ratus tahun lamanya dari waktu tempat engkau berpijak ? apa yang membuatmu memiliki kekuatan untuk bersimpuh dan mengaduh dalam diam pada keheningan malam ?
Karena saya tak bisa. Saya tak punya.
Saya mencarinya dalam lembaran-lembaran buku, saya mencarinya dari pertemuan waktu ke waktu. Dan saya masih tidak bisa menemukannya. Tidak dengan hati yang terbelenggu dengan kesombongan ego dan nurani yang terbungkus pendapat dan penafsiran sendiri.
Saya tahu lelahnya mencari
Saya tahu bagaimana beratnya untuk berharap suatu saat ada kenikmatan iman yang bisa membuat saya meninggalkan kemaksiatan dan akhlak buruk dengan lapang.
Saya ingin berkata padanya
Kau harus menyerah. Pasrah. Menyadari pada satu titik ini semua bukan lagi persoalan logika, sejalan atau tidak dengan ilmu pengetahuan dan penemuan sejarah. Pada akhirnya ini tentang permohonan agar pada akhirnya Dia membawamu kepada cahaya diatas cahaya dan memberikan kekuatan untuk bisa mempertahankannya sekuat yang kau bisa.
Saya menatap matanya. Menarik napas dan mengatur emosi yang berkecamuk dalam dada. Berusaha berdiri di sudut yang tepat untuk memahami segala cerita dan keluh kesahnya.
Jika pencarian setiap kita adalah sebuah perjalanan, maka aku tak ingin jadi teman yang berkhianat karena meninggalkanmu ditengah jalan sendirian. Jika engkau bertanya tentang negeri impian, aku berjanji menggenggam tanganmu untuk menguatkan tiap kali muncul keraguan.
buat engkau, yang jadi tausiyahku
setiap sabtu
Tuesday, March 15, 2005
27th February on My Twenty Something ...
Atin, happy birthday to u. Hope Allah always bless u
(Poppy, Malang)
A’kum, Cintaku, s’moga sisa umurmu menjadikan hati dan dirimu semakin cinta pada Allah, sayang keluarga, sayang aku, semakin penuh dengan ketegaran n kesabaran. Amin! Selamat hari lahir!
(Inggrid, Malaysia)
Atin, slamat ulg taun y bu, smoga pertambahan umur ini jadi bikin atin tambah dws, arif, byk rezeki plus dmudahkan segala2nya. Keep up the gud work y
(Arin, Depok)
Happy Birthday Sist, wish u happy, health, and succes always. Hope this year will be the greatest year 4 u. I love u my sweetheart =)
(Nana,Cibubur)
Assl, heluuu, gmn rasanya msh jomblo di usia .. brp ?25? he he. Smg di sisa umur ttp dlm limpahan sayang & berkah Tuhan. Gutlak jg utk usaha schship dan cari jodoh lu, tin =)
(Apit, fasilkom)
Aswrwb. Selamat Ulang Tahun! Semoga 4JJI senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kpd saudariku ini. Amin!
(Oci, Bogor)
25 thn tlah blalu ..Suka duka bcmpur satu,dlm lgkh menjemput syahid yang dirindu .. temani ia ya Rabb, dampingi ia, jangan Kau lepas dia, krn dia merindukanMu. Barakallahu fi Umrik.. sisa usiamu pnh berkah … krn dipenuhhi cintaNya yang merekah.. amin
(Nisa, Grogol)
hi atin! udah lunch blum? eh, kalu ga salah lu kemaren2 ultah y? selamet y, mudah-mudahan digampangin semua urusan elo ama Allah dan digenapkan itunya =b Ditunggu traktirannya !!! =b
(Victor, Pasar Rebo)
Asswr, lagi makan2 y bu ? met milad ya, semoga attin tambah bijak, dewasa, banyak rejeki, dan senantiasa dalam lindungan Allah. mau dong kita ditraktir.
(Ami, depok)
Aswr,mbake… met milad ye, kudoakan semoga dirimu semakin banyak rezeki, dipanjangkan umur, dan dimudahkan urusan sehingga aku cepat jadi tante =) Ma kasih ya mba.
(Shendy, Kebon Jeruk)
Assalamu 'Alaikum Wr Wb Selamat Milad ya. Semoga Tambah taqwa, semoga tetap istiqamah. Semoga Allah senantiasa meridhai Atin. Semoga Allah senantiasa memberikan yan terbaik dari sisi-Nya untuk semua urusan Atin.Afwan telat ya, harusnya tanggal 27 ya.... :-)
(Akbar,MPR/DPR)
met milad ya dear!semoga hidupmu penuh dengan warna dan kesyukuran,
makin sholehah dan tercapai impianmya!
sukses dunia and akhirat ya .... ^_^love,
(eLLa, LKBN ANTARA)
met ulang tau Tin. panjang umur ya.
sukses dunia akherat hehehe. ada acara traktiran nggak nih?
( YasMeen,US)
ulang taun nieh yee...Yang ke berape bu? T
rus gimane taarufnya, lancar khan?Alhamdulillah.....
Pokoknya manteb dah....
(Nasruni,Bussiness Indonesia)
*taaruf apaan? taaruf ama ember?*
Assalamualaikum,Attin..
selamat ulang tahun yah..
pakabarnya nih Tin? Insya allah baik2 aja yah....s
alam buat roro ato nisa kalo ketemu yah..
kangen juga nih dah lama gak ketemu..hehehe..ok deh Tin..good luck in everything,okeh...Wassalam
(Marini,Malay)
QuiteMoment-Worship Allah, difficult Moment-Seek Allah, PaintfulMoment Trust Allah-EveryMoment Thank Allah,
Happy MOment, Praise Allah. Met Milad,Moga Sllalu Diberkahi&DilindungiNya, Af1 t'lmbt
(Adi Sastro, LKC)
Back
Jagalah aku di pintuMu menanti harapan dariMu,
dan biarkan aku berkeliling dalam kerajaanMu menerima panggilanMu.
Jangan biarkan aku tenggelam dan lenyap dalam kelesuan.
Jangan biarkan hidupku menjadi kain rombeng yang aus karena kemiskinan yang tak terperikan.
Jangan biarkan keraguan meliputiku,-debu-debu kebingungan
Jangan biarkan aku mengejar banyak jalan untuk mengumpulkan banyak benda
Jangan biarkan aku menyerahkan hatiku pada kemauan orang banyak
Dan biarkan aku tetap menegakkan kepalaku dalam semangat dan rasa bangga menjadi pelayanMu.
(Rabindranath Tagore)
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya, sebaik-baik amalku pada penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku …menatap wajahMu.”
Back
Jagalah aku di pintuMu menanti harapan dariMu,
dan biarkan aku berkeliling dalam kerajaanMu menerima panggilanMu.
Jangan biarkan aku tenggelam dan lenyap dalam kelesuan.
Jangan biarkan hidupku menjadi kain rombeng yang aus karena kemiskinan yang tak terperikan.
Jangan biarkan keraguan meliputiku,-debu-debu kebingungan
Jangan biarkan aku mengejar banyak jalan untuk mengumpulkan banyak benda
Jangan biarkan aku menyerahkan hatiku pada kemauan orang banyak
Dan biarkan aku tetap menegakkan kepalaku dalam semangat dan rasa bangga menjadi pelayanMu.
(Rabindranath Tagore)
“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada akhirnya, sebaik-baik amalku pada penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah pada saat aku …menatap wajahMu.”
Thursday, November 11, 2004
menjelang perpisahan
Jam 16.50
Kantor, Ciputat
dah ga ada siapa-siapa lagi selain saya. Masih ada yang harus dikerjain, ngejar deathline buat besok.
Ga bisa menikmati sepuluh hari terakhir karena red alert. Sedih banget. Apalagi waktu hari senin temen-temen cerita kalau waktu itikaf di At-Tin, malam senin itu katanya rasanya beda. Dingin (sejuk) hingga mengantuk. Itu malam terakhir saya dalam keadaan suci. Batalin janji itikaf di At-Tin ba'da ifthar jama'i mantan Fisip 98 dan milih buat ngabisin malam di rumah. Nasibnya sama banget deh ama Vita. Shalat dan tilawah ampe kira-kira jam sebelas, setelah itu nyerah, tidur dengan niatan harus bangun jam dua as usual. Tapi ternyata bablas sampe jam setengah empat. Mamah yang biasanya bisa diandelin buat bangun malam juga senasib.
Dan saya cuma termenung di angkot, termenung lagi di 510,meresapi hawa sejuk pagi itu sambil sesekali mencuri pandang, menatap berlama-lama ke langit tenang hari itu. Terus bertanya-tanya dalam hati; semalamkah kejadiannya ? malam tadikah kau tapakkan kakiMu di langit bumi yang hina untuk menemui kekasih-kekasihmu ? oh, terkutuklah rasa kantuk yang menyergap itu. Kau datang Rajaku dan ku abaikan Engkau dalam tirai kenikmatan tidur. Betapa hinanya pengemis penjaga malam yang selalu memaksa-maksa ini ...
Saya ngerasa Ramadhan saya ga sukses tahun ini. Pertama mungkin karena dah 'ompong' duluan. 'dah siap-siap selama bulan rajab (eh, ga ding, sya'ban lah), eh minggu pertama ga ikutan puasa. Waktu orang-orang dah masuk latihan inti, saya baru pemanasan (aerobik, neng ?), eh pas lagi semangat-semangatnya, tauk-tauk red alert (again?). Ini asli diluar kebiasaan. Ga pernah sampe sebulan dua kali begini. Apa karena kecapekan yah ? ah, emangnya ngapain sih ?
Sedih, tapi mau diapain lagi. Itu memang ketentuan Allah buat putri-putri Adam. Yang bikin sedih apa yah ? pastinya karena ada sepuluh malam terakhir yang didalamnya ada Lailatul Qadr. Katanya malam itu nasib manusia untuk satu tahun kedepan ditentukan. Maka mestinya kita banyak-banyak berdoa untuk itu. Well, secara global tentu saya ingin agar Allah jadikan hidup saya sebagai rangkaian kebaikan yang berkesinambungan. Agar tiap episode adalah fragmen-fragmen ketaatan dalam rangka mengibadahi-Nya. Dimanapun saya, apapun yang saya jalani, siapapun orang yang ada disamping saya, semoga semua bagian dari rangkaian kebaikan itu.
Sedih, karena saya tidak dapat meminta itu semua dalam kondisi yang betul-betul membuat saya merasa dekat. Tentunya banyak hal-hal lain yang bisa dihitung jadi amal ibadah buat perempuan-perempuan yang berhalangan. Tapi kenikmatan ketika menyentuhkan dahi, merendahkan diri serendah-rendahnya, tidak mudah didapatkan. Apalagi dalam kondisi seperti ini.
Tapi ya sudah. Mudah-mudahan keluh kesah ini ga terhitung sebagai ketidakredhaan terhadap hukum dan ketetapan Allah. Allah Maha Tahu isi hati hamba-Nya. Hitung-hitungan matematis, ramadhan saya payah banget tahun ini, malu untuk mengharapkan agar Allah menganugerahkan keberkahan ramadhan untuk diri saya (katanya; tanda keberkahan itu adalah ketaatan yang meningkat dan akhlah yang semakin bagus). Tapi Allah Maha Penyayang, dan saya berharap, andainya apa yang ada di hati dapat meminang cinta-Nya...maka, itu pun cukuplah ...
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni, maka ampunilah kami. Ya Allah, jadikan bulan ini sebagai saksi bagi kami dalam melaksanakan kewajiban pada-Mu, dan jangan Engkau jadikan kami orang yang penat dan bersungguh-sungguh namun tidak memperoleh ridho-Mu
Kantor, Ciputat
dah ga ada siapa-siapa lagi selain saya. Masih ada yang harus dikerjain, ngejar deathline buat besok.
Ga bisa menikmati sepuluh hari terakhir karena red alert. Sedih banget. Apalagi waktu hari senin temen-temen cerita kalau waktu itikaf di At-Tin, malam senin itu katanya rasanya beda. Dingin (sejuk) hingga mengantuk. Itu malam terakhir saya dalam keadaan suci. Batalin janji itikaf di At-Tin ba'da ifthar jama'i mantan Fisip 98 dan milih buat ngabisin malam di rumah. Nasibnya sama banget deh ama Vita. Shalat dan tilawah ampe kira-kira jam sebelas, setelah itu nyerah, tidur dengan niatan harus bangun jam dua as usual. Tapi ternyata bablas sampe jam setengah empat. Mamah yang biasanya bisa diandelin buat bangun malam juga senasib.
Dan saya cuma termenung di angkot, termenung lagi di 510,meresapi hawa sejuk pagi itu sambil sesekali mencuri pandang, menatap berlama-lama ke langit tenang hari itu. Terus bertanya-tanya dalam hati; semalamkah kejadiannya ? malam tadikah kau tapakkan kakiMu di langit bumi yang hina untuk menemui kekasih-kekasihmu ? oh, terkutuklah rasa kantuk yang menyergap itu. Kau datang Rajaku dan ku abaikan Engkau dalam tirai kenikmatan tidur. Betapa hinanya pengemis penjaga malam yang selalu memaksa-maksa ini ...
Saya ngerasa Ramadhan saya ga sukses tahun ini. Pertama mungkin karena dah 'ompong' duluan. 'dah siap-siap selama bulan rajab (eh, ga ding, sya'ban lah), eh minggu pertama ga ikutan puasa. Waktu orang-orang dah masuk latihan inti, saya baru pemanasan (aerobik, neng ?), eh pas lagi semangat-semangatnya, tauk-tauk red alert (again?). Ini asli diluar kebiasaan. Ga pernah sampe sebulan dua kali begini. Apa karena kecapekan yah ? ah, emangnya ngapain sih ?
Sedih, tapi mau diapain lagi. Itu memang ketentuan Allah buat putri-putri Adam. Yang bikin sedih apa yah ? pastinya karena ada sepuluh malam terakhir yang didalamnya ada Lailatul Qadr. Katanya malam itu nasib manusia untuk satu tahun kedepan ditentukan. Maka mestinya kita banyak-banyak berdoa untuk itu. Well, secara global tentu saya ingin agar Allah jadikan hidup saya sebagai rangkaian kebaikan yang berkesinambungan. Agar tiap episode adalah fragmen-fragmen ketaatan dalam rangka mengibadahi-Nya. Dimanapun saya, apapun yang saya jalani, siapapun orang yang ada disamping saya, semoga semua bagian dari rangkaian kebaikan itu.
Sedih, karena saya tidak dapat meminta itu semua dalam kondisi yang betul-betul membuat saya merasa dekat. Tentunya banyak hal-hal lain yang bisa dihitung jadi amal ibadah buat perempuan-perempuan yang berhalangan. Tapi kenikmatan ketika menyentuhkan dahi, merendahkan diri serendah-rendahnya, tidak mudah didapatkan. Apalagi dalam kondisi seperti ini.
Tapi ya sudah. Mudah-mudahan keluh kesah ini ga terhitung sebagai ketidakredhaan terhadap hukum dan ketetapan Allah. Allah Maha Tahu isi hati hamba-Nya. Hitung-hitungan matematis, ramadhan saya payah banget tahun ini, malu untuk mengharapkan agar Allah menganugerahkan keberkahan ramadhan untuk diri saya (katanya; tanda keberkahan itu adalah ketaatan yang meningkat dan akhlah yang semakin bagus). Tapi Allah Maha Penyayang, dan saya berharap, andainya apa yang ada di hati dapat meminang cinta-Nya...maka, itu pun cukuplah ...
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan suka mengampuni, maka ampunilah kami. Ya Allah, jadikan bulan ini sebagai saksi bagi kami dalam melaksanakan kewajiban pada-Mu, dan jangan Engkau jadikan kami orang yang penat dan bersungguh-sungguh namun tidak memperoleh ridho-Mu
Thursday, October 28, 2004
Jadilah Kau Musafir atau Penyeberang Jalan
Para musafir tahu, bahwa dalam perjalanan panjanga dan melelahkan, mereka punya satu tempat yang dituju. kampung halaman. maka seindah apapun negeri yang kau singgahi, tak peduli seberapa besar nikmat yang kau dapatkan, jauh di dasar sana engkau tahu, bahwa bukan itu yang kau cari. Bahkan jika dalam negeri persinggahanmu kau temukan kepahitan, kesedihan dan kepedihan, semua tak akan cukup membuat jiwamu bermuram durja, karena kau tahu dia tak akan selamanya. masih ada kampung halaman tempat kau berisitirahat dari lelah dan penat perjalanan. Tempat persemaian jiwa dalam kenikmatan abadi bersama Dia yang kau puja. Kau bisa jatuh cinta, menyukai siapa saja dan apa saja dalam persinggahan diperjalananmu, tapi kau tak akan pernah menambatkan hatimu disana sepenuhnya. karena kau tahu, kelak akhirnya semua kau tinggalkan juga.
Para musafir mengetahui, apa dan seberapa besar bekal yang harus dibawa menuju kampungnya. Mana yang akan menyelamatkannya menempuh badai pasir dan jurang dalam, mana yang hanya akan memberatkan pendakian. Tak ada berat hatinya untuk berpaling dari apa-apa yang tidak bermanfaat untuk perjalanannya. Karena apa-apa yang kekal ada disana. Di kampung halamannya.
Seorang penyeberang jalan akan berhati-hati ketika melangkah, jangan tertabrak atau berleha-leha karena bisa berbahaya. Tak peduli apa yang kau temui diperjalanan, mata dan hatimu mengarah kesana, keseberang jalan yang jadi tujuan.
Jam 6.45 pagi di kantor, satu jam lebih awal dari jam kerja
kebiasaan baru selama puasa datang pagi-pagi, shalat dhuha abis gitu tilawah
tlus bobok lagi deh di mushalla he he he ...
Para musafir mengetahui, apa dan seberapa besar bekal yang harus dibawa menuju kampungnya. Mana yang akan menyelamatkannya menempuh badai pasir dan jurang dalam, mana yang hanya akan memberatkan pendakian. Tak ada berat hatinya untuk berpaling dari apa-apa yang tidak bermanfaat untuk perjalanannya. Karena apa-apa yang kekal ada disana. Di kampung halamannya.
Seorang penyeberang jalan akan berhati-hati ketika melangkah, jangan tertabrak atau berleha-leha karena bisa berbahaya. Tak peduli apa yang kau temui diperjalanan, mata dan hatimu mengarah kesana, keseberang jalan yang jadi tujuan.
Jam 6.45 pagi di kantor, satu jam lebih awal dari jam kerja
kebiasaan baru selama puasa datang pagi-pagi, shalat dhuha abis gitu tilawah
tlus bobok lagi deh di mushalla he he he ...
Tuesday, October 26, 2004
Lagi Kangen sama At-Tiin ...
Nope, im not talking about my self. Ini karena subuh tadi di masjid sebelah rumah, imamnya memimpin doa dengan nada yang terburu-buru. Duh, rasanya seperti menawar barang di pasar dan bukannya bicara dengan Tuhan.
Saya jadi rindu untuk shalat di masjid At Tin. Bukan semata karena arsitekturnya yang cantik (God Bless you Mr. Noe'man), namun yang membuat saya betah berlama-lama shalat disana adalah suasana syahdu yang ditimbulkan oleh kepemimpinan imam shalatnya. Saya jarang benar-benar tahu apa arti ayat yang dibacakan, namun caranya membaca, menimbulkan dentingan yang menyejukkan di hati. seperti sebuah musik dari negeri antah berantah yang tanpa kita tahu artinya, kita sudah menangkap esensi kehangatannya *yang baca; Melongo Mode ON*
Tapi beneran deh, yang lebih bikin terharu lagi adalah doa yang dilantunkan tiap kali usai shalat. Rasanya kita dibawa untuk menghiba, merengek, memohon di kaki sesuatu yang sangat berkuasa atas diri kita sekaligus sangat, sangat,sangat, sangat kita cintai. Rasanya seperti berbicara pada pujaan hati yang selalu tak puas-puasnya ingin kita dengar pernyataan cintanya, rasa takut sekaligus harapan bahwa cinta yang diberikan-Nya tidak akan pernah berpaling dari kita.
Ah, rupanya masih secetek itu kerinduan saya. Sesuatu yang diaku sebagai rasa cinta rupanya masih bergantung pada faktor situasional belaka. Jika ditimpa musibah, jika merasa susah, jika di masjid indah, denting-denting ilahiah itu baru terasa.
saya jadi ingat sama sebait kerinduan ketika Rabindranath Tagore menyapa Tuhan lewat kidungnya ...
mendung datang berlapis-lapis dan langit menjadi gelap, Ah Kekasih, mengapa Engkau biarkan aku sendirian menunggu di depan pintu
di saat sibuk bekerja disiang hari aku bersama-sama orang banyak, tapi bila hari gelap dan sepi seperti ini hanya bersamaMu aku berharap
ah, orang india
emang bisa ...
Saya jadi rindu untuk shalat di masjid At Tin. Bukan semata karena arsitekturnya yang cantik (God Bless you Mr. Noe'man), namun yang membuat saya betah berlama-lama shalat disana adalah suasana syahdu yang ditimbulkan oleh kepemimpinan imam shalatnya. Saya jarang benar-benar tahu apa arti ayat yang dibacakan, namun caranya membaca, menimbulkan dentingan yang menyejukkan di hati. seperti sebuah musik dari negeri antah berantah yang tanpa kita tahu artinya, kita sudah menangkap esensi kehangatannya *yang baca; Melongo Mode ON*
Tapi beneran deh, yang lebih bikin terharu lagi adalah doa yang dilantunkan tiap kali usai shalat. Rasanya kita dibawa untuk menghiba, merengek, memohon di kaki sesuatu yang sangat berkuasa atas diri kita sekaligus sangat, sangat,sangat, sangat kita cintai. Rasanya seperti berbicara pada pujaan hati yang selalu tak puas-puasnya ingin kita dengar pernyataan cintanya, rasa takut sekaligus harapan bahwa cinta yang diberikan-Nya tidak akan pernah berpaling dari kita.
Ah, rupanya masih secetek itu kerinduan saya. Sesuatu yang diaku sebagai rasa cinta rupanya masih bergantung pada faktor situasional belaka. Jika ditimpa musibah, jika merasa susah, jika di masjid indah, denting-denting ilahiah itu baru terasa.
saya jadi ingat sama sebait kerinduan ketika Rabindranath Tagore menyapa Tuhan lewat kidungnya ...
mendung datang berlapis-lapis dan langit menjadi gelap, Ah Kekasih, mengapa Engkau biarkan aku sendirian menunggu di depan pintu
di saat sibuk bekerja disiang hari aku bersama-sama orang banyak, tapi bila hari gelap dan sepi seperti ini hanya bersamaMu aku berharap
ah, orang india
emang bisa ...
Al Wadud
Sejak dulu, manusia selalu dipenuhi keinginan untuk mengenali Tuhannya. Godaan untuk memanifestasikan perasaan bertuhan dalam sebuah kehadiran secara fisik telah dialami begitu lama. Karenanya orang Yunani punya dewa-dewa dengan sifat-sifat persona kemanusiaan yang dibesarkan. Zeus, sang raja para dewa adalah playboy yang kerjaannya menabur cinta gombal dan beranak dimana-mana, Hera istrinya, sang dewi kesuburan, adalah pencemburu buta yang dengan kelicikannya mampu melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya. Karenanya orang Hindu punya sederet patung dewa, walau mereka percaya hakikat ketuhanan jauh melebihi keberadaan patung itu sendiri.
Allah mereduksi godaan itu dengan mempekenalkan diri-Nya melalui nama-nama yang indah. Nama-nama yang dapat ditangkap dan dipahami oleh manusia. walaupun demikian, Allah menggantung persepsi kita dengan nama-Nya yang lain, 'laysa kamislihi' tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah Maha Pengasih, namun apapun makna yang dapat diberikan manusia tentang Pengasih, Dirinya jauh lebih besar dari pemahaman kita akan makna itu sendiri. Analoginya, ketika kita menyuruh ayam makan, kita tidak akan berkata pada ayam itu dengan bahasa kita (eh, ayam, sini luh, makan dah dimari!), tapi kita bicara dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh ayam itu (kerrr.. cek.. cek ...). Begitu pula halnya ketika Allah berbicara dengan manusia.
Allah Maha Mencintai. Saya kira tadinya dalam bahasa arab, itu akan berbunyi habib atau yang kedengeran samalah dengan itu, karena dalam ingatan saya yang awam, mahabbah itu artinya cinta. Namun bahasa Arab ternyata punya banyak nama untuk cinta. dan untuk itu Allah memilih kata Al Wadud, Allah Maha Mencintai. Al wadud adalah kata tentang cinta yang bermakna sebuah cinta yang perwujudannya berbentuk merasa baru memberi sedikit kepada yang dicintai walaupun sesungguhnya telah memberikan banyak, atau merasa telah banyak menerima walaupun yang diberi hanya sedikit.
Allah wadud kepada hambaNya, berarti Allah telah memberikan banyak, namun dalam banyaknya, Ia masih tetap menganggap yang diberikanNya hanyalah sepersekian dari cinta-Nya. ingatkan riwayat tentang 100 kasih sayang Allah, yang 1 diberikannya pada manusia, sisanya disimpan untuk hari pembalasan kelak. yang dengan 1 itu, seorang ibu mencintai anaknya. Kita bisa berkali-kali berbuat dosa, mengecewakan-Nya dan Ia akan mengampuni kita berulang-ulang, tidak lupa untuk memenuhi segala kebutuhan kita betapapun kita tidak pandai mensyukuri-Nya.
Jika seorang hamba wadud kepada Allah, maka walaupun nyawa ia berikan, ia menganggap itu semua bukan apa-apa dibandingkan kasih sayang yang Allah berikan padanya. Jika seorang hamba wadud kepada Allah, maka ia akan merasa telah diberi banyak walau orang lain melihat ia tidak memiliki apa-apa.
Jika kita masih merasa kekurangan dengan apa yang Allah berikan, maka itu berarti tidak ada wadud dalam diri kita.dari kata wadud ini, lahirlah turunan kata lainnya; Mawaddah
wallahu a'lam bisshowwab
inspired by Tafsir Al Misbah, Quraisy Shihab, jam 03.05. di Metro TV
Allah mereduksi godaan itu dengan mempekenalkan diri-Nya melalui nama-nama yang indah. Nama-nama yang dapat ditangkap dan dipahami oleh manusia. walaupun demikian, Allah menggantung persepsi kita dengan nama-Nya yang lain, 'laysa kamislihi' tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah Maha Pengasih, namun apapun makna yang dapat diberikan manusia tentang Pengasih, Dirinya jauh lebih besar dari pemahaman kita akan makna itu sendiri. Analoginya, ketika kita menyuruh ayam makan, kita tidak akan berkata pada ayam itu dengan bahasa kita (eh, ayam, sini luh, makan dah dimari!), tapi kita bicara dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh ayam itu (kerrr.. cek.. cek ...). Begitu pula halnya ketika Allah berbicara dengan manusia.
Allah Maha Mencintai. Saya kira tadinya dalam bahasa arab, itu akan berbunyi habib atau yang kedengeran samalah dengan itu, karena dalam ingatan saya yang awam, mahabbah itu artinya cinta. Namun bahasa Arab ternyata punya banyak nama untuk cinta. dan untuk itu Allah memilih kata Al Wadud, Allah Maha Mencintai. Al wadud adalah kata tentang cinta yang bermakna sebuah cinta yang perwujudannya berbentuk merasa baru memberi sedikit kepada yang dicintai walaupun sesungguhnya telah memberikan banyak, atau merasa telah banyak menerima walaupun yang diberi hanya sedikit.
Allah wadud kepada hambaNya, berarti Allah telah memberikan banyak, namun dalam banyaknya, Ia masih tetap menganggap yang diberikanNya hanyalah sepersekian dari cinta-Nya. ingatkan riwayat tentang 100 kasih sayang Allah, yang 1 diberikannya pada manusia, sisanya disimpan untuk hari pembalasan kelak. yang dengan 1 itu, seorang ibu mencintai anaknya. Kita bisa berkali-kali berbuat dosa, mengecewakan-Nya dan Ia akan mengampuni kita berulang-ulang, tidak lupa untuk memenuhi segala kebutuhan kita betapapun kita tidak pandai mensyukuri-Nya.
Jika seorang hamba wadud kepada Allah, maka walaupun nyawa ia berikan, ia menganggap itu semua bukan apa-apa dibandingkan kasih sayang yang Allah berikan padanya. Jika seorang hamba wadud kepada Allah, maka ia akan merasa telah diberi banyak walau orang lain melihat ia tidak memiliki apa-apa.
Jika kita masih merasa kekurangan dengan apa yang Allah berikan, maka itu berarti tidak ada wadud dalam diri kita.dari kata wadud ini, lahirlah turunan kata lainnya; Mawaddah
wallahu a'lam bisshowwab
inspired by Tafsir Al Misbah, Quraisy Shihab, jam 03.05. di Metro TV
Thursday, October 21, 2004
"... agar kamu bertakwa"
Hari ini ada Bu herlini di acara ifthar jama'i akhwat kantor. Beliau bicara masalah amaliyah Ramadhan. Ternyata dari penjelasan Bu Herlini kemarin, baru tahu kalau perintah berpuasa dalam Albaqarah 183 itu tidak berdiri sendirian. Ada perintah-perintah lain yang redaksi penekanannya kurang lebih sama. Satu di ayat 178, tentang Allah mewajibkan qishsash dan tujuannya sama, agar kita bertakwa. Ini adalah sebuah upaya perbaikan di level sosial. karena hikmah dari qishash adalah memelihara kehidupan. Lho ?kok gitu ? lha iyah, dari situ kita tahu betapa Islam sangat menghargai kehidupan. Maka ketika seseorang mengambil kehidupan orang lain tanpa hak, berarti dia telah melakukan kerusakan.
Trus, yang kedua diayat 180. Allah mewajibkan pada orang-orang yang sudah didatangi tanda2 kematian untuk berwasiat kepada kerabat secara ma'ruf. Itu adalah kewajiban bagi orang yang bertakwa, begitu ujungnya. Ini adalah upaya di level keluarga. Jangan sampai kematian seseorang menimbulkan permusuhan dan kerusakan dikeluarganya.
Dan akhirnya tiba lah diayat 183 itu. Allah mewajibkan kita untuk berpuasa sebagai sarana tercepat bagi orang beriman untuk sampai ke derajat takwa. Sebuah upaya perbaikan di level individu.
Subhanallah, sekali lagi lewat Alquran , Allah menunjukkan sebuah petunjuk kehidupan yang seitematis dalam kehidupan manusia. Bahwa upaya perbaikan di tingkat sosial harus diiringi upaya yang sama ditingkat keluarga dan pribadi. Gimana mungkin mau punya masyarakat yang islami kalau keluarga-keluarga yang membentuk masyarakat itu tidak hidup dalam nilai-nilai islam, gimana mau membentuk keluarga islam kalau individu-individu didalamnya tidak kommit pada nilai-nilai islam. Gimana mau punya suami (uhuk,uhuk,uhuk, ehem .. *keselek MODE*) yang soleh kalau diri sendiri masih jauh ?
Dari pembuka itu terus si ibu (Herlini, maksudnya) menguraikan hikmah khutbah Rasulullah tiap kali menjelang bulan ramadhan. Ternyata kalau au diselami ternyata penekanannya justru banyak pada aspek hubungan antara sesama. Adalah mudah mencapai target-target ibadah pribadi; mo khatam Alquran berapa kali, bangun malam, shalat sunat dan eksetra-eksetra, Namun yang paling sulit adalah melaksanakan amaliah sosial yang menyangkut hubungan sesama manusia. Dari sini sebenernya cerminan seberapa efektif amaliah pribadi itu bagi diri kita.
Contohnya soal ghibah (wah, buat negeri seribu gosip gini, pasti seru nih). Yang jelas sore itu banyak diingetin bahwa jangankan kata-kata, bahasa tubuh saja sudah cukup membuat kita jadi pemakan bangkai saudara kita sendiri. Blum lagi transfer pahala dan dosa yang bener-bener bikin rugi. ada sebuah riwayat tentang seseorang di yaumil hisab yang terheran-heran dengan pahalanya yang menggunung yang seingat dia, tak pernah dilakukannya (dengan 'bagus' si Ibu kasih gambaran "berkontainer-kontainer ..."), dan ternyata itu pahala dari orang yang menggunjingnya. dan ketika pahala dari orang yang menggunjing itu sudah habis, maka yang ditarnsfer adalah keburukan-keburukan orang yang digunjingi.
Astaghfirullah! lumayan bikin shock lah, karena biasanya saya mengilustrasikannya dengan saldo tabungan yang menyusut (mungkin ga ngefek karena ada ingetan tiap bulan pasti ada gaji masuk he he). dan ilustrasi kontainer yang gedinya segana-gana itu, jadi kebayang banget ruginya.
Dan masih banyak lagi amaliah-amaliah dalam hubungan sosial lainnya. Taujih sore itu mengembalikan kesadaran bahwa kadang kita terlalu asyik mengejar target2 ibadah personal yang kita buat dan kita terlupa pada esensi yang ingin di capai dari puasa itu sendiri.
"... agar kalian bertakwa"
Pak Quraisy Shihab mengatakan bahwa takwa itu terambil dari kata waqa-yaqi yang artinya menjauh (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan*. Umar ra mengibaratkannya dengan seseorang yang berjalanan di jalanan penuh duri, maka ia akan berhati-hati untuk menghindarinya. itulah takwa.
Kata itu terulang sebanyak 15 kali dan ada puluha kata lain yang seakar dengannya. perintah untuk bertakwa dalam Alquran terulang sebanyak 69 kali, umumnya dengan redaksi ittaqullah, perintah bertakwa kepada Allah untuk berlindung dari siksa-Nya dan sanksi hukum-Nya.
Berpisah dengan Ramadhan nanti, mudah-mudahan Allah memberi kekuatan untuk masuk kedalam golongan orang yang berhati-hati melangkah di kehidupan. jadi mereka yang dapat menarik jarak dari keinginan nafsu untuk sejenak menilai, sudah benarkah keputusan saya ? apa manfaat yang saya peroleh untuk kehidupan dunia dan akhirat saya ?
Dan tiba-tiba jadi ingat, suatu subuh di bulan Ramadhan entah tahun kapan, waktu mo siap-siap ke masjid, almarhum Bapak berkata, "Denger,denger..." saat itu dari masjid suara kaset murrotal syekh Al Ghamidi mengalun merdu dari spiker masjid mengumandangkan surat Ali Imran ayat 133
"Bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ..."
(duh ...*hiks, kok mata ini jadi basah ?*
*Quraisy Shihab, Secercah Cahaya Illahi, Penerbit Mizan; 2001 (? lupa)
Trus, yang kedua diayat 180. Allah mewajibkan pada orang-orang yang sudah didatangi tanda2 kematian untuk berwasiat kepada kerabat secara ma'ruf. Itu adalah kewajiban bagi orang yang bertakwa, begitu ujungnya. Ini adalah upaya di level keluarga. Jangan sampai kematian seseorang menimbulkan permusuhan dan kerusakan dikeluarganya.
Dan akhirnya tiba lah diayat 183 itu. Allah mewajibkan kita untuk berpuasa sebagai sarana tercepat bagi orang beriman untuk sampai ke derajat takwa. Sebuah upaya perbaikan di level individu.
Subhanallah, sekali lagi lewat Alquran , Allah menunjukkan sebuah petunjuk kehidupan yang seitematis dalam kehidupan manusia. Bahwa upaya perbaikan di tingkat sosial harus diiringi upaya yang sama ditingkat keluarga dan pribadi. Gimana mungkin mau punya masyarakat yang islami kalau keluarga-keluarga yang membentuk masyarakat itu tidak hidup dalam nilai-nilai islam, gimana mau membentuk keluarga islam kalau individu-individu didalamnya tidak kommit pada nilai-nilai islam. Gimana mau punya suami (uhuk,uhuk,uhuk, ehem .. *keselek MODE*) yang soleh kalau diri sendiri masih jauh ?
Dari pembuka itu terus si ibu (Herlini, maksudnya) menguraikan hikmah khutbah Rasulullah tiap kali menjelang bulan ramadhan. Ternyata kalau au diselami ternyata penekanannya justru banyak pada aspek hubungan antara sesama. Adalah mudah mencapai target-target ibadah pribadi; mo khatam Alquran berapa kali, bangun malam, shalat sunat dan eksetra-eksetra, Namun yang paling sulit adalah melaksanakan amaliah sosial yang menyangkut hubungan sesama manusia. Dari sini sebenernya cerminan seberapa efektif amaliah pribadi itu bagi diri kita.
Contohnya soal ghibah (wah, buat negeri seribu gosip gini, pasti seru nih). Yang jelas sore itu banyak diingetin bahwa jangankan kata-kata, bahasa tubuh saja sudah cukup membuat kita jadi pemakan bangkai saudara kita sendiri. Blum lagi transfer pahala dan dosa yang bener-bener bikin rugi. ada sebuah riwayat tentang seseorang di yaumil hisab yang terheran-heran dengan pahalanya yang menggunung yang seingat dia, tak pernah dilakukannya (dengan 'bagus' si Ibu kasih gambaran "berkontainer-kontainer ..."), dan ternyata itu pahala dari orang yang menggunjingnya. dan ketika pahala dari orang yang menggunjing itu sudah habis, maka yang ditarnsfer adalah keburukan-keburukan orang yang digunjingi.
Astaghfirullah! lumayan bikin shock lah, karena biasanya saya mengilustrasikannya dengan saldo tabungan yang menyusut (mungkin ga ngefek karena ada ingetan tiap bulan pasti ada gaji masuk he he). dan ilustrasi kontainer yang gedinya segana-gana itu, jadi kebayang banget ruginya.
Dan masih banyak lagi amaliah-amaliah dalam hubungan sosial lainnya. Taujih sore itu mengembalikan kesadaran bahwa kadang kita terlalu asyik mengejar target2 ibadah personal yang kita buat dan kita terlupa pada esensi yang ingin di capai dari puasa itu sendiri.
"... agar kalian bertakwa"
Pak Quraisy Shihab mengatakan bahwa takwa itu terambil dari kata waqa-yaqi yang artinya menjauh (melindungi) dari bencana atau sesuatu yang menyakitkan*. Umar ra mengibaratkannya dengan seseorang yang berjalanan di jalanan penuh duri, maka ia akan berhati-hati untuk menghindarinya. itulah takwa.
Kata itu terulang sebanyak 15 kali dan ada puluha kata lain yang seakar dengannya. perintah untuk bertakwa dalam Alquran terulang sebanyak 69 kali, umumnya dengan redaksi ittaqullah, perintah bertakwa kepada Allah untuk berlindung dari siksa-Nya dan sanksi hukum-Nya.
Berpisah dengan Ramadhan nanti, mudah-mudahan Allah memberi kekuatan untuk masuk kedalam golongan orang yang berhati-hati melangkah di kehidupan. jadi mereka yang dapat menarik jarak dari keinginan nafsu untuk sejenak menilai, sudah benarkah keputusan saya ? apa manfaat yang saya peroleh untuk kehidupan dunia dan akhirat saya ?
Dan tiba-tiba jadi ingat, suatu subuh di bulan Ramadhan entah tahun kapan, waktu mo siap-siap ke masjid, almarhum Bapak berkata, "Denger,denger..." saat itu dari masjid suara kaset murrotal syekh Al Ghamidi mengalun merdu dari spiker masjid mengumandangkan surat Ali Imran ayat 133
"Bergegaslah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ..."
(duh ...*hiks, kok mata ini jadi basah ?*
*Quraisy Shihab, Secercah Cahaya Illahi, Penerbit Mizan; 2001 (? lupa)
Friday, October 01, 2004
Surat dari Seorang Kakak untuk Adiknya
Assalamu'alaikum sayaaaaaangg.....
semoga jawaban ini belum terlambat.....cause i really love and care about you and always hope
that what's happens to you is always the great and the best one. Okay...
So, baca baek-baek dengan jiwa tenang dan open mind.
Oke...
sayang...
waktu seusia kamu, setiap kali aku ngobrol ama temen-temen, entah itu temen kuliah, temen liqo, temen SMU, temen senat....ujung-ujungnya selalu ngomongin soal walimah en kehidupan rumah tangga. Baik yang konsep (seperti suami seperti apa yang kita idamkan, keluarga seperti apa yang akan dibangun) sampe yang teknis macam berapa standar penghasilan (calon) suami
en barang-barang apa yang mau diminta sebagai mahar dan seserahan (waktu itu kita sempat bikin target: mahar kudu ada emasnya, en seserahan kudu ada mesin cucinya. (hehehehe....saking takutnya disuru nyuci!)
Toh, ternyata tidak sesederhana (dan juga tidak sesulit) itu kehidupan berumah tangga pada akhirnya.
Sayang,
Menikah bukan cuma mencari pasangan hidup, tempat kita berbagi rasa dan asa. Berbagi canda dan tawa. Berbagi duit (nah, ini baru asyik), berbagi rumah dan kamar...tetapi menikah itu(ehhmmmm....mikir dulu, biar gak kelihatan sok mau nasehat) adalah juga berarti upaya mencari (calon) ayah dari anak-anak kita, generasi penerus yang akan meninggalkan jejak-jejak kesalehan kita di atas muka bumi, di atas ladang amal saleh kita yang berupa hamparan dunia...
Juga berarti mencari seorang sahabat, teman curhat, tempat berbagi beban (baik beban kehidupan maupun beban dakwah).... Mencari seorang penegak di saat kita rapuh,mencari
pembimbing di saat kita menyimpang, mencari penyejuk di kala kita murka, mencari penegur di kala kita salah, dan mencari penuntun agar kebersamaan hidup berumah tangga itu dapat kekal sampai di surgaNya kelak...
Lalu, menikah juga berarti mencari titik batas dan kemampuan untuk bersabar, berkorban, tenggang rasa, simpati, empati, mengalah, bersyukur.
Menikah adalah sebuah proses panjang hidup dalam negosiasi, kompromi hingga adaptasi.
Lalu, siapa yang layak menanggung derita bersama kita? ceria bersama kita?
Bukan soal anak siapa, jebolan mana, penghasilannyaberapa, sekeren apa, atau canggihnya gimana....
Tapi
Apakah dia dan kita bisa mewujudkan rumah tangga, kelak,menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah dan penuh istiqomah
Memimpin dengan santun. Menegur dengan sabar. Mengayomi dengan ikhlas. Mendengar dengan rendah hati. Memaafkan dengan hati terbuka. Meminta maaf dengan lapang dada
Karena tidak ada artinya semua harta, jabatan, titel, suku, kebangsaan, ketampanan, kecerdasan...
Kalau tidak ada kesabaran,tidak ada tanggungjawab, tidak ada lapang dada, tidak ada komunikasi ,tidak ada canda tawa , tidak ada pengorbanan, tidak ada kepercayaan,
tidak ada prasangka baik
dan
Tidak ada keridhoan Ilahi yang utama
Mampukah kamu merajut cinta dalam cinta padaNya,dalam tilawah bersama ,dalam tahajjud berdua, dalam muhasabah sebelum tidur, dalam menghidupkan sunnah-sunnah manusia tercinta, Rasulullah SAW....
Benar, bahwa kita perlu teman hidup. Benar bahwa kita perlu penghasilan cukup bagaimana bisa hidup sakinah...kalau tidak punya duit-dan tidak tahu darimana akan dapat duit...). Benar bahwa kita merencanakan pernikahan dengan matang. Benar bahwa kita perlu mahar dan tetek bengek lainnya
Tetapi benarkah kita sudah memikirkan calon suami mana yang akan menjadi pelengkap hidup kita? Mengisi kekurangan kita, sekaligus kita isi kekurangannya? Menambah kelebihan kita, sekaligus kita tambah kelebihannya....
Agar hidup kita bahagia, sejahtera, di dunia dan semoga begitu juga kelak di akhirat
Dan ingat...
Begitu pernikahan dimulai
Argonya jalan...
Tiada lagi wali
Tiada lagi pemimpin
Tiada lagi 'penguasa'
Tiada lagi sahabat
Tiada lagi teman
Tiada lagi rahasia
Kecuali
Pada dia, suami kita
Maka, Menikah bukan UMPTN, yang bisa dilakoni secara coba-coba. Diulang tahun depan bila
gagal....karenanya, mandilah, ambil air wudhu, sholat, tilawah, bersihkan hati kamu, bersihkan pikiran, lalu bermunajat kepada Allah, mohon ampun sekaligus mohon petunjuk....
Ambil kertas, tulis ulang semua apa yang ada dalam
hati dan dalam kepala....
Insya Allah
kamu bakalan nemuin jawabannya.
Oke. Love u so much.
Fe'
*Imel dari Jamil. Uni Fe, pinjem suratnya*
semoga jawaban ini belum terlambat.....cause i really love and care about you and always hope
that what's happens to you is always the great and the best one. Okay...
So, baca baek-baek dengan jiwa tenang dan open mind.
Oke...
sayang...
waktu seusia kamu, setiap kali aku ngobrol ama temen-temen, entah itu temen kuliah, temen liqo, temen SMU, temen senat....ujung-ujungnya selalu ngomongin soal walimah en kehidupan rumah tangga. Baik yang konsep (seperti suami seperti apa yang kita idamkan, keluarga seperti apa yang akan dibangun) sampe yang teknis macam berapa standar penghasilan (calon) suami
en barang-barang apa yang mau diminta sebagai mahar dan seserahan (waktu itu kita sempat bikin target: mahar kudu ada emasnya, en seserahan kudu ada mesin cucinya. (hehehehe....saking takutnya disuru nyuci!)
Toh, ternyata tidak sesederhana (dan juga tidak sesulit) itu kehidupan berumah tangga pada akhirnya.
Sayang,
Menikah bukan cuma mencari pasangan hidup, tempat kita berbagi rasa dan asa. Berbagi canda dan tawa. Berbagi duit (nah, ini baru asyik), berbagi rumah dan kamar...tetapi menikah itu(ehhmmmm....mikir dulu, biar gak kelihatan sok mau nasehat) adalah juga berarti upaya mencari (calon) ayah dari anak-anak kita, generasi penerus yang akan meninggalkan jejak-jejak kesalehan kita di atas muka bumi, di atas ladang amal saleh kita yang berupa hamparan dunia...
Juga berarti mencari seorang sahabat, teman curhat, tempat berbagi beban (baik beban kehidupan maupun beban dakwah).... Mencari seorang penegak di saat kita rapuh,mencari
pembimbing di saat kita menyimpang, mencari penyejuk di kala kita murka, mencari penegur di kala kita salah, dan mencari penuntun agar kebersamaan hidup berumah tangga itu dapat kekal sampai di surgaNya kelak...
Lalu, menikah juga berarti mencari titik batas dan kemampuan untuk bersabar, berkorban, tenggang rasa, simpati, empati, mengalah, bersyukur.
Menikah adalah sebuah proses panjang hidup dalam negosiasi, kompromi hingga adaptasi.
Lalu, siapa yang layak menanggung derita bersama kita? ceria bersama kita?
Bukan soal anak siapa, jebolan mana, penghasilannyaberapa, sekeren apa, atau canggihnya gimana....
Tapi
Apakah dia dan kita bisa mewujudkan rumah tangga, kelak,menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah dan penuh istiqomah
Memimpin dengan santun. Menegur dengan sabar. Mengayomi dengan ikhlas. Mendengar dengan rendah hati. Memaafkan dengan hati terbuka. Meminta maaf dengan lapang dada
Karena tidak ada artinya semua harta, jabatan, titel, suku, kebangsaan, ketampanan, kecerdasan...
Kalau tidak ada kesabaran,tidak ada tanggungjawab, tidak ada lapang dada, tidak ada komunikasi ,tidak ada canda tawa , tidak ada pengorbanan, tidak ada kepercayaan,
tidak ada prasangka baik
dan
Tidak ada keridhoan Ilahi yang utama
Mampukah kamu merajut cinta dalam cinta padaNya,dalam tilawah bersama ,dalam tahajjud berdua, dalam muhasabah sebelum tidur, dalam menghidupkan sunnah-sunnah manusia tercinta, Rasulullah SAW....
Benar, bahwa kita perlu teman hidup. Benar bahwa kita perlu penghasilan cukup bagaimana bisa hidup sakinah...kalau tidak punya duit-dan tidak tahu darimana akan dapat duit...). Benar bahwa kita merencanakan pernikahan dengan matang. Benar bahwa kita perlu mahar dan tetek bengek lainnya
Tetapi benarkah kita sudah memikirkan calon suami mana yang akan menjadi pelengkap hidup kita? Mengisi kekurangan kita, sekaligus kita isi kekurangannya? Menambah kelebihan kita, sekaligus kita tambah kelebihannya....
Agar hidup kita bahagia, sejahtera, di dunia dan semoga begitu juga kelak di akhirat
Dan ingat...
Begitu pernikahan dimulai
Argonya jalan...
Tiada lagi wali
Tiada lagi pemimpin
Tiada lagi 'penguasa'
Tiada lagi sahabat
Tiada lagi teman
Tiada lagi rahasia
Kecuali
Pada dia, suami kita
Maka, Menikah bukan UMPTN, yang bisa dilakoni secara coba-coba. Diulang tahun depan bila
gagal....karenanya, mandilah, ambil air wudhu, sholat, tilawah, bersihkan hati kamu, bersihkan pikiran, lalu bermunajat kepada Allah, mohon ampun sekaligus mohon petunjuk....
Ambil kertas, tulis ulang semua apa yang ada dalam
hati dan dalam kepala....
Insya Allah
kamu bakalan nemuin jawabannya.
Oke. Love u so much.
Fe'
*Imel dari Jamil. Uni Fe, pinjem suratnya*
Thursday, September 30, 2004
Resensi: Atlas Budaya Islam
Judul : Atlas Budaya Islam; Menelajah Khazanah Peradaban Gemilang
Penulis : Ismail R. Al Faruqi dan Lois Lamya Al Faruqi
Judul Asli :The Cultural Atlas of Islam
Penerbit :Mizan
Harga : Rp. 600.000 (blum lunas cicilannya)
data : 554 hal. Art Paper
Pertama kali lihat buku ini waktu Dompet Dhuafa mengadakan seminar di Club Mandiri, Kebayoran Baru. Dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu lihat judul dan covernya. "Bagus, Mba, buat yang suka baca buku tentang kebudayaan seperti Mba (wew! sok teu!). Buat Referensi" kata bapak yang jaga stand ngerayu. Hmm, dia ga perlu usaha keras ngegombalin saya, karena begitu baca halaman pertama, saya langsung mutusin buat beli.
Ini buku yang paling komprehensif membahas perkembangan Islam yang pernah saya baca. Tidak seperti bukunya Abdul Hadi WM yang ngebahas Islam dari apek estetika budayanya, buku ini bisa dikatakan membahas Islam dari A sampai .... Y kali ya, karena buku ini ga bicara banyak soal kenyataan perkembangan Islam dewasa ini. ya, jelaslah, karena emang bukan kesana arahnya dan juga karena penulisnya, Ismail (imigran asli Palestina) dan Lois Lamya AL Faruqi(mualaf putri dari dramawan Amerika Henrik Ibsen), dua-duanya sudah meninggal pada tahun 1986. Tepatnya Ramadhan 1986, ketika di tengah malam menjelang subuh, sekelompok orang bersenjata menerobos rumah mereka,di Philadelphia (?) membunuh pasangan ilmuwan yang disegani ini dengan tikaman pisau. Betul-betul pasangan yang sehidup semati.
Anyway, ABI secara kronologis terbagi dalam empat bahasan besar; bagian pertama adalah telaah atas realitas sejarah, dimana Islam sebagai agama, budaya dan peradaban dilahirkan.Bagian kedua merupakan pendefinisian tentang esensi peradaban Islam atau tauhid. bagian ketiga merupakan pendalaman bagian kedua, yaitu pembentukan esensi peradaban Islam menjadi sistem gagasan, sistem aktualisasi teladan (sunah Nabi), dan sistem lembaga sosial. bagian keempatnya telaah atas manifestasi Islam dalam tindakan, pemikiran dan ekspresi. ini menyangkut segala macam bentuk ekspresi mulai dari kaligrafi, seni ruang sampai seni qira'ati.
Saya mentok di bab 12 di bagian keempat yang membahas masalah ekspresi ini. Fiuh! pusing bacanya, karena ke belakang, bahasan yang menyangkut aspek teknis manifestasi ekspresi budaya Islam ini makin kumplit dan belibet. Menarik, tapi butuh kerja keras buat menangkap apa makna penggunaan struktur arabesque dalam seni ruang atau fungsi transfigurasi material dalam ornamentasi Islam... huaa! untuk urusan yang nyeni bin teknis gini, saya ga usah diajak-ajak deh! karena emang ga ngerti! cukup jadi penikmat aja.
Seperti buku referensi lainnya, yang jadi persoalan dari buku ini adalah TERJEMAHANNYA, SODARA-SODARA! bahasa-bahasa teknis dan ilmiah bertaburan di sana-sini, yang membuat pembaca awam seperti saya, harus baca berulang-ulang dan mengkaitkannya dengan keseluruhan konteks kalimat buat sekedar menangkap apa maksud semuanya ini. Kayaknya udah waktunya saya mencari kamus bahasa ilmiah terkini.*jadi ingat sama buku wajib kuliah anak Kom, Dennis McQuail yang ribet secara bahasa itu*
secara keseluruhan, ga kuciwa deh, beli buku ini. Bagus buat jadi warisan nanti ke anak-anak. Bintang berapa ya ? empat deh, yang artinya: Yak,Ini Buku Bagus Banget Sekale.
Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tahu untuk bersiap menuju mau ? (Rahmat Abdullah)
"Dan katakanlah: ya Rabbi, tambahkanlah daku ilmu." (QS.20:14)
Penulis : Ismail R. Al Faruqi dan Lois Lamya Al Faruqi
Judul Asli :The Cultural Atlas of Islam
Penerbit :Mizan
Harga : Rp. 600.000 (blum lunas cicilannya)
data : 554 hal. Art Paper
Pertama kali lihat buku ini waktu Dompet Dhuafa mengadakan seminar di Club Mandiri, Kebayoran Baru. Dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama begitu lihat judul dan covernya. "Bagus, Mba, buat yang suka baca buku tentang kebudayaan seperti Mba (wew! sok teu!). Buat Referensi" kata bapak yang jaga stand ngerayu. Hmm, dia ga perlu usaha keras ngegombalin saya, karena begitu baca halaman pertama, saya langsung mutusin buat beli.
Ini buku yang paling komprehensif membahas perkembangan Islam yang pernah saya baca. Tidak seperti bukunya Abdul Hadi WM yang ngebahas Islam dari apek estetika budayanya, buku ini bisa dikatakan membahas Islam dari A sampai .... Y kali ya, karena buku ini ga bicara banyak soal kenyataan perkembangan Islam dewasa ini. ya, jelaslah, karena emang bukan kesana arahnya dan juga karena penulisnya, Ismail (imigran asli Palestina) dan Lois Lamya AL Faruqi(mualaf putri dari dramawan Amerika Henrik Ibsen), dua-duanya sudah meninggal pada tahun 1986. Tepatnya Ramadhan 1986, ketika di tengah malam menjelang subuh, sekelompok orang bersenjata menerobos rumah mereka,di Philadelphia (?) membunuh pasangan ilmuwan yang disegani ini dengan tikaman pisau. Betul-betul pasangan yang sehidup semati.
Anyway, ABI secara kronologis terbagi dalam empat bahasan besar; bagian pertama adalah telaah atas realitas sejarah, dimana Islam sebagai agama, budaya dan peradaban dilahirkan.Bagian kedua merupakan pendefinisian tentang esensi peradaban Islam atau tauhid. bagian ketiga merupakan pendalaman bagian kedua, yaitu pembentukan esensi peradaban Islam menjadi sistem gagasan, sistem aktualisasi teladan (sunah Nabi), dan sistem lembaga sosial. bagian keempatnya telaah atas manifestasi Islam dalam tindakan, pemikiran dan ekspresi. ini menyangkut segala macam bentuk ekspresi mulai dari kaligrafi, seni ruang sampai seni qira'ati.
Saya mentok di bab 12 di bagian keempat yang membahas masalah ekspresi ini. Fiuh! pusing bacanya, karena ke belakang, bahasan yang menyangkut aspek teknis manifestasi ekspresi budaya Islam ini makin kumplit dan belibet. Menarik, tapi butuh kerja keras buat menangkap apa makna penggunaan struktur arabesque dalam seni ruang atau fungsi transfigurasi material dalam ornamentasi Islam... huaa! untuk urusan yang nyeni bin teknis gini, saya ga usah diajak-ajak deh! karena emang ga ngerti! cukup jadi penikmat aja.
Seperti buku referensi lainnya, yang jadi persoalan dari buku ini adalah TERJEMAHANNYA, SODARA-SODARA! bahasa-bahasa teknis dan ilmiah bertaburan di sana-sini, yang membuat pembaca awam seperti saya, harus baca berulang-ulang dan mengkaitkannya dengan keseluruhan konteks kalimat buat sekedar menangkap apa maksud semuanya ini. Kayaknya udah waktunya saya mencari kamus bahasa ilmiah terkini.*jadi ingat sama buku wajib kuliah anak Kom, Dennis McQuail yang ribet secara bahasa itu*
secara keseluruhan, ga kuciwa deh, beli buku ini. Bagus buat jadi warisan nanti ke anak-anak. Bintang berapa ya ? empat deh, yang artinya: Yak,Ini Buku Bagus Banget Sekale.
Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tahu untuk bersiap menuju mau ? (Rahmat Abdullah)
"Dan katakanlah: ya Rabbi, tambahkanlah daku ilmu." (QS.20:14)
Tuesday, September 28, 2004
510
Itu angka keberuntungan saya sekarang. 510 itu metromini kuning, seniornya metromini 509.Yang supir dan keneknya punya perkumpulan namanya personex, perkumpulan sopir (bukan supir) dan kenex (bukan kenek). Yang supir dan kenex (bukan kenek)-nya punya kaos almamater hijau bersalut bisban warna kuning, mirip seragam tim persebaya (bener kan ? kalau ga, yah Arab saudi lah yang pasti pake warna ijo). Yang motonya Bersaing di Jalanan, Bersatu di Pangkalan. Hik,hik ... gokil ga tuh!?)
Pagi-pagi orang-orang akan berkumpul di Pasar Rebo, yang tumpah ruah diguyur hangat sinar matahari, menyipitkan mata memandang ke arah Kampung Rambutan, berharap dia datang. Jangan bicara soal sopan santun, mendahulukan perempuan dan warganegara senior, homo homini lupus itu sah secara teori dan praktik kala 510 menjadi langka.
Kalau 509 itu trayeknya cuma dari Pasar Rebo, keluar di Cilandak dan berakhir di Lebak Bulus, maka sang abang bablas dari Pasar Rebo, gila-gilaan ngebut dijalan tol dan ujug-ujug keluar di Pondok Indah. Lalu tanpa sungkan dan rendah diri, dengan pede ikut ngantri di lampu merah Pondok Indah bareng sama kijang, panther,camry,bmw, volvo sampai beberapa mobil keren yang saya ga pernah lihat iklannya di tivi ataupun di koran.
510 itu yah laiknya angkutan di Jakarta. Hadir buat mengajarkan kita arti sabar (kakak! yang pake kerudung itu! bah, masuklah kau!baris dua-dua, kayak kemarin!) dan itsar (alhamdulillah! ada yang turun! ups,mas yang bertato mau duduk juga ? err ... ga pa pa .. saya diri aja ampe ciputat), qonaah juga kali ye (hu hu hu *sambil bergantung terkatung-katung di 510* ... kapan saya bisa punya camry seperti mereka itu, hu huuu kapan ada 510 yang pake ac huuu huuu ...)
Dulu waktu tahu saya bakal menjalani hari-hari saya bersama 510, sempet shock juga. waktu masih kuliah saya pernah beberapa kali ke Ciputat, tentu aja sebagai anak manis yang belum kenal dunia (ta elah) naik 509 yang masih lumayan beradab. Dan tiap kali 510 lewat berdesing-desing dengan orang-orang yang berjejal, muntah hingga ke pinggir pintu, saya pikir *nein, nein... walau apa yang terjadi, amit-amit jabang bayi mau naik yang begituan, ga sanggup deh!" dan ternyata ... Allah itu punya cara yang manis dan lucu-lucu untuk ngajarin saya banyak hal. Termasuk urusan 510 ini.
Akhirnya Allah amanahkan saya bekerja ditempat yang tiap hari 510 dengan kegilaannya berdesing-desing melintas. Gentar, sebel membayangkan keseharian macam apa yang akan saya jalani. tapi akhirnya waktu itu saya bertekad, "well, 510... jika harus dengan mu, maka denganmulah akhirnya! que sera sera!" saya pikir kenapa saya harus merana? ada lebih dari 50 orang dalam bis itu bisa bertahan menghadapi 510 dan segala keajaibannya. mengapa saya tidak bisa ? ada 50 orang lebih yang sama bertahan untuk sabar berdesak-desakan, dalam keringat dan uap badan orang lain, dalam hardikan kenek, dalam kegilaan supir yang mungkin, somehow, in another life adalah aryton senna. Allahu akbar,i will survive!
secara filosofis 510 itu samalah kayak kehidupan kita. Kadang caranya, prosesnya, jalannya tidak selalu menyenangkan, atau minimal sesuai dengan keinginan kita. Tapi begitu kita fokus pada akhir perjalanan, pada tujuan, barulah disitu kita bisa melihat keindahan nikmat yang Allah berikan. Tujuan itu tentunya kampung akhirat, dunia keabadian dimana keselamatan dan kesengsaraan menjadi kesejatian. Tujuan itu tentunya keridho-an Allah atas segala pilihan-pilihan yang kita buat, sehingga Dia jadikan kehidupan kita adalah rangkaian kebaikan yang berkesinambungan.Nope, i dont need that camry or volvo or else. May be i want it, but it doesn't mean that i need it. Karena bukan itu yang mengantarkan saya menuju sebuah kehangatan rumah atau tempat kerja yang insya allah penuh berkah. Ketika kita berfokus pada itu, kita punya energi untuk menghadapi, menjalani keadaan, seberat apapun itu. Mengubah sesuatu yang pahit, menyedihkan, tidak nyaman, menjadi sesuatu yang nikmat dalam kewajaran bahkan anugerah yang penuh berkah, jika kita pandai memilih sudut pandang.
Dan saya lupa, sejak kapan 510 jadi terlihat indah buat saya. Yah, melajulah dengan kesintinganmu, kedekilanmu, tapi tiap kali dia muncul di kejauhan dari kekumuhan pasar ciputat, 510 menjelma jadi phoenix yang indah dan mistis yang bangkit dari abunya sendiri, dia adalah Achilles, pahlawan perang troya yang akan bertarung, ngebut gila-gilaan di jalan tol. Tapi saya cinta pada siapa yang mengantarkan saya ke segelas air dingin dan bantal hangat di rumah.
ps: belakangan, entah makin terbiasa, entah memang kenyataannya ... tapi kok 510 ternyata makin lowong aja yah ?
Pagi-pagi orang-orang akan berkumpul di Pasar Rebo, yang tumpah ruah diguyur hangat sinar matahari, menyipitkan mata memandang ke arah Kampung Rambutan, berharap dia datang. Jangan bicara soal sopan santun, mendahulukan perempuan dan warganegara senior, homo homini lupus itu sah secara teori dan praktik kala 510 menjadi langka.
Kalau 509 itu trayeknya cuma dari Pasar Rebo, keluar di Cilandak dan berakhir di Lebak Bulus, maka sang abang bablas dari Pasar Rebo, gila-gilaan ngebut dijalan tol dan ujug-ujug keluar di Pondok Indah. Lalu tanpa sungkan dan rendah diri, dengan pede ikut ngantri di lampu merah Pondok Indah bareng sama kijang, panther,camry,bmw, volvo sampai beberapa mobil keren yang saya ga pernah lihat iklannya di tivi ataupun di koran.
510 itu yah laiknya angkutan di Jakarta. Hadir buat mengajarkan kita arti sabar (kakak! yang pake kerudung itu! bah, masuklah kau!baris dua-dua, kayak kemarin!) dan itsar (alhamdulillah! ada yang turun! ups,mas yang bertato mau duduk juga ? err ... ga pa pa .. saya diri aja ampe ciputat), qonaah juga kali ye (hu hu hu *sambil bergantung terkatung-katung di 510* ... kapan saya bisa punya camry seperti mereka itu, hu huuu kapan ada 510 yang pake ac huuu huuu ...)
Dulu waktu tahu saya bakal menjalani hari-hari saya bersama 510, sempet shock juga. waktu masih kuliah saya pernah beberapa kali ke Ciputat, tentu aja sebagai anak manis yang belum kenal dunia (ta elah) naik 509 yang masih lumayan beradab. Dan tiap kali 510 lewat berdesing-desing dengan orang-orang yang berjejal, muntah hingga ke pinggir pintu, saya pikir *nein, nein... walau apa yang terjadi, amit-amit jabang bayi mau naik yang begituan, ga sanggup deh!" dan ternyata ... Allah itu punya cara yang manis dan lucu-lucu untuk ngajarin saya banyak hal. Termasuk urusan 510 ini.
Akhirnya Allah amanahkan saya bekerja ditempat yang tiap hari 510 dengan kegilaannya berdesing-desing melintas. Gentar, sebel membayangkan keseharian macam apa yang akan saya jalani. tapi akhirnya waktu itu saya bertekad, "well, 510... jika harus dengan mu, maka denganmulah akhirnya! que sera sera!" saya pikir kenapa saya harus merana? ada lebih dari 50 orang dalam bis itu bisa bertahan menghadapi 510 dan segala keajaibannya. mengapa saya tidak bisa ? ada 50 orang lebih yang sama bertahan untuk sabar berdesak-desakan, dalam keringat dan uap badan orang lain, dalam hardikan kenek, dalam kegilaan supir yang mungkin, somehow, in another life adalah aryton senna. Allahu akbar,i will survive!
secara filosofis 510 itu samalah kayak kehidupan kita. Kadang caranya, prosesnya, jalannya tidak selalu menyenangkan, atau minimal sesuai dengan keinginan kita. Tapi begitu kita fokus pada akhir perjalanan, pada tujuan, barulah disitu kita bisa melihat keindahan nikmat yang Allah berikan. Tujuan itu tentunya kampung akhirat, dunia keabadian dimana keselamatan dan kesengsaraan menjadi kesejatian. Tujuan itu tentunya keridho-an Allah atas segala pilihan-pilihan yang kita buat, sehingga Dia jadikan kehidupan kita adalah rangkaian kebaikan yang berkesinambungan.Nope, i dont need that camry or volvo or else. May be i want it, but it doesn't mean that i need it. Karena bukan itu yang mengantarkan saya menuju sebuah kehangatan rumah atau tempat kerja yang insya allah penuh berkah. Ketika kita berfokus pada itu, kita punya energi untuk menghadapi, menjalani keadaan, seberat apapun itu. Mengubah sesuatu yang pahit, menyedihkan, tidak nyaman, menjadi sesuatu yang nikmat dalam kewajaran bahkan anugerah yang penuh berkah, jika kita pandai memilih sudut pandang.
Dan saya lupa, sejak kapan 510 jadi terlihat indah buat saya. Yah, melajulah dengan kesintinganmu, kedekilanmu, tapi tiap kali dia muncul di kejauhan dari kekumuhan pasar ciputat, 510 menjelma jadi phoenix yang indah dan mistis yang bangkit dari abunya sendiri, dia adalah Achilles, pahlawan perang troya yang akan bertarung, ngebut gila-gilaan di jalan tol. Tapi saya cinta pada siapa yang mengantarkan saya ke segelas air dingin dan bantal hangat di rumah.
ps: belakangan, entah makin terbiasa, entah memang kenyataannya ... tapi kok 510 ternyata makin lowong aja yah ?
Monday, September 27, 2004
Menjadi Ibu
Cita-cita : Menjadi ibu rumah tangga. Kening saya berkerut. saya amati lagi mahasiswi baru, junior saya, yang siang itu meminta tanda tangan saya. bukan, pernyataan ini bukan ditulis oleh seorang akhwat yang secara bergurau sering dilabeli WO , Walimah Oriented. Bahkan dari akhwat sekalipun, saya belum ketemu sama mereka yang secara official, mencantumkan menjadi ibu rumah tangga sebagai cita-citanya. Wartawan, penulis, dokter, ya. tapi ibu rumah tangga ? padahal sang junior cantik didepan saya, berpenampilan standar anak nongrong MTV.
"Karena jadi ibu itu ga mudah," inti jawaban panjang lebarnya ketika menjawab pertanyaan klise saya; kenapa sih kamu tertarik jadi ibu ? *jiee..., mirip banget ama pertanyaan wartawan gosip yaks?* . Saya kagum seharian itu-ampe sekarang juga sih- dengan keberaniannya mencantumkan cita-cita model begitu. Apa ga khawatir ya di kritik sebagai perempuan ga sadar gender yang terjebak dalam struktur patriarki dimana terjadi penetapan bahwa ranah domestik adalah milik perempuan dan ranah publik adalah teritori laki-laki *hiks, ini tipikal pernyataan mahasiswa yang puyeng dapet mata kuliah tentang gender*
Tapi, saya pikir, ketika dia melakukan pilihan itu secara sadar, merdeka, dan memahami betul arti pilihannya, entah itu sepenuhnya mendedikasikan diri pada keluarga atau berkontribusi dalam kehidupan publik karena kapabilitasnya dalam melaksanakan fardu kifayah-nya, maka sepenuhnya, ia adalah manusia merdeka.
Karena menjadi ibu itu ga mudah. Siapa di dunia yang ga setuju ? saya yakin itu walaupun belum ngalamin sendiri. menempatkannya sebagai cita-cita, sama halnya dengan keinginan kita, cita-cita kita setiap harinya untuk mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah. menjadikan ibu sebagai cita-cita bisa jadi merupakan kesadaran bahwa, seperti halnya menjadi hamba Allah yang baik, itu merupakan sebuah proses being dan bukannya becoming. dalam becoming akan ada garis akhir dimana semuanya akhirnya tercapai, selesai, namun being mengisyaratkan sesuatu yang tidak pernah berhenti untuk menjadi, setidaknya dalam rentang waktu manusia. ia tidak sama dengan cita-cita kanak-kanak kita seperti menjadi wartawan, dokter, insinyur. Karena setelah dewasa, kita dapati bahwa hal itu tidak cukup lagi. Setelah jadi dokter lalu apa ? kalau sudah jadi wartawan mau gimana ?
Karena menjadi ibu tidak mudah. Jawaban simel yang pasti banyak benernya dibanding salahnya. Sebagai seorang anak, ibu saya, menjadi salah satu teladan saya bukan karena semata ia sempurna dan selalu siaga sebagai ibu. ia tidak selalu siap bercerita, mendengarkan atau pun mengerti anak-anaknya. sebagai seorang anak saya menyaksikan pergulatannya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya untuk menjadi seorang ibu. Ia pernah tidak sabar suatu kali, pernah marah suatu kali. ada masanya ketika saya berpikiran bahwa kami tidak akan pernah saling memahami. dan baru kemarin sore saya sadar bahwa itu semua bagian dari perjalanannya menjadi ibu.
Karena menjadi ibu tidak mudah. tentu saja. ia bukan sekedar proses pembuahan, mengandung dan melahirkan, voila! jadilah anda ibu. Anak dan keluarga bukan seperangkat alat elektronik yang datang bersama buku manual penggunaannya. Butuh kecerdasan dan kepandaian untuk selalu menemukan, merumuskan, bahkan kalau perlu mengganti formula lama dengan yang baru. Formula itu bisa berupa cubitan, hukuman, dan dilain kesempatan bisa jadi berupa telinga dan hati yang terbuka. "Didiklah anakmu karena ia akan hidup di zaman yang berbeda denganmu," nasehat sayyidina Ali. nasehatnya mengisyaratkan pada semua yang terlibat dalam pendidikan anak untuk senantiasa awas dan tanggap membaca zaman.
Karenanya, jika seorang ibu saat ini mempertanyakan kemampuannya menjadi ibu, karena begitu mudah terbakar, begitu gampang kehabisan kesabaran oleh kelakuan anak-anaknya, mudah-mudahan tidak ada yang berputus asa, baik dirinya maupun orang-orang disekelilingnya. mudah-mudahan cukup ada kesadaran bahwa benturan-benturan itu, adalah bagian dari perjalanan 'menjadi' mereka. mudah-mudahan tidak ada yang berkecil hati karena dalam proses 'menjadi' , kegagalan dan kesuksesan adalah sesuatu yang bertukar dan beriringan.
*dimuat dimajalah Ummi waktu saya masih semester enam atau tujuh. Diedit lagi, dipendekin lagi seperlunya. Kalau dibaca sekarang ... kesanya sok teu banget yaks ? kek kek kek kek *
"Karena jadi ibu itu ga mudah," inti jawaban panjang lebarnya ketika menjawab pertanyaan klise saya; kenapa sih kamu tertarik jadi ibu ? *jiee..., mirip banget ama pertanyaan wartawan gosip yaks?* . Saya kagum seharian itu-ampe sekarang juga sih- dengan keberaniannya mencantumkan cita-cita model begitu. Apa ga khawatir ya di kritik sebagai perempuan ga sadar gender yang terjebak dalam struktur patriarki dimana terjadi penetapan bahwa ranah domestik adalah milik perempuan dan ranah publik adalah teritori laki-laki *hiks, ini tipikal pernyataan mahasiswa yang puyeng dapet mata kuliah tentang gender*
Tapi, saya pikir, ketika dia melakukan pilihan itu secara sadar, merdeka, dan memahami betul arti pilihannya, entah itu sepenuhnya mendedikasikan diri pada keluarga atau berkontribusi dalam kehidupan publik karena kapabilitasnya dalam melaksanakan fardu kifayah-nya, maka sepenuhnya, ia adalah manusia merdeka.
Karena menjadi ibu itu ga mudah. Siapa di dunia yang ga setuju ? saya yakin itu walaupun belum ngalamin sendiri. menempatkannya sebagai cita-cita, sama halnya dengan keinginan kita, cita-cita kita setiap harinya untuk mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah. menjadikan ibu sebagai cita-cita bisa jadi merupakan kesadaran bahwa, seperti halnya menjadi hamba Allah yang baik, itu merupakan sebuah proses being dan bukannya becoming. dalam becoming akan ada garis akhir dimana semuanya akhirnya tercapai, selesai, namun being mengisyaratkan sesuatu yang tidak pernah berhenti untuk menjadi, setidaknya dalam rentang waktu manusia. ia tidak sama dengan cita-cita kanak-kanak kita seperti menjadi wartawan, dokter, insinyur. Karena setelah dewasa, kita dapati bahwa hal itu tidak cukup lagi. Setelah jadi dokter lalu apa ? kalau sudah jadi wartawan mau gimana ?
Karena menjadi ibu tidak mudah. Jawaban simel yang pasti banyak benernya dibanding salahnya. Sebagai seorang anak, ibu saya, menjadi salah satu teladan saya bukan karena semata ia sempurna dan selalu siaga sebagai ibu. ia tidak selalu siap bercerita, mendengarkan atau pun mengerti anak-anaknya. sebagai seorang anak saya menyaksikan pergulatannya, perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya untuk menjadi seorang ibu. Ia pernah tidak sabar suatu kali, pernah marah suatu kali. ada masanya ketika saya berpikiran bahwa kami tidak akan pernah saling memahami. dan baru kemarin sore saya sadar bahwa itu semua bagian dari perjalanannya menjadi ibu.
Karena menjadi ibu tidak mudah. tentu saja. ia bukan sekedar proses pembuahan, mengandung dan melahirkan, voila! jadilah anda ibu. Anak dan keluarga bukan seperangkat alat elektronik yang datang bersama buku manual penggunaannya. Butuh kecerdasan dan kepandaian untuk selalu menemukan, merumuskan, bahkan kalau perlu mengganti formula lama dengan yang baru. Formula itu bisa berupa cubitan, hukuman, dan dilain kesempatan bisa jadi berupa telinga dan hati yang terbuka. "Didiklah anakmu karena ia akan hidup di zaman yang berbeda denganmu," nasehat sayyidina Ali. nasehatnya mengisyaratkan pada semua yang terlibat dalam pendidikan anak untuk senantiasa awas dan tanggap membaca zaman.
Karenanya, jika seorang ibu saat ini mempertanyakan kemampuannya menjadi ibu, karena begitu mudah terbakar, begitu gampang kehabisan kesabaran oleh kelakuan anak-anaknya, mudah-mudahan tidak ada yang berputus asa, baik dirinya maupun orang-orang disekelilingnya. mudah-mudahan cukup ada kesadaran bahwa benturan-benturan itu, adalah bagian dari perjalanan 'menjadi' mereka. mudah-mudahan tidak ada yang berkecil hati karena dalam proses 'menjadi' , kegagalan dan kesuksesan adalah sesuatu yang bertukar dan beriringan.
*dimuat dimajalah Ummi waktu saya masih semester enam atau tujuh. Diedit lagi, dipendekin lagi seperlunya. Kalau dibaca sekarang ... kesanya sok teu banget yaks ? kek kek kek kek *
Saturday, September 25, 2004
SMS
Saudariku...sesaat ku kepak sayap cinta ku menemuimu
skedar menyapa walau lewat ikatan hati
agar kau tahu
aku mencintaimu hari ini,esok & yang akan datang
MISS U SO MUCH NIY ...
Jreng! pagi-pagi dah ditembak sama rayuan gombal! he he he hati saya selalu berbunga-bunga tiap kali dapet sms-sms cinta yang bergitu mesra dari saudari-saudari saya. Siapa yang butuh pacar kalau tiap hari ada aja yang kirim rayuan 'maut' model begini (err... sebenernya emang ga butuh pacar tapi butuh suami *tersipu*). Atau, coba bayangin gimana rasanya kalau badan ini capek pulang kerja, dan neuron dikepala ini kayaknya ga sanggup lagi menerima informasi, mata dah berat tiba-tiba ...
Aku rindu tatapan sayangmu
hangatnya menyelusup ke tiap sudut hatiku
bahagiakan dengkur tidur dan kerjapan mata di awal hari
selamat tidur keping hatiku
atau
“sekeping hati disana tetap menawanku di penjara cintanya..
menemani sendiriku di tiap titik air mata
dan lelah yang tersandar di dada.. : ‘apa kabar surga?’”
n then ...
“menghitung hadirmu sekeping hatiku..
dalam detak jantung.. dari desir aliran darah.
pada kerjap mata.. dan tiap tarikan napas..
rindu itu menyiksa.”
"Ya ampun ... pada romantis amat sih temen-temenmu ?" kata temen saya yang lain, sambil cekikikan buka-buka inbox hp saya. Yang punya pikiran jail dengan tampang full of curigation, dengan galak nanya, "sapa nih ?" tenang mbak, saya belum ketemu ama makhluk beda alam yang sah secara hukum diperkenankan kirim-kirim yang model begituan kek kek kek ... kalaupun ada ...sudah ditindaklanjuti secara hukum, pasti.
Selama ini saya suka dianggap dan seringkali menganggap saya orang yang romantis. Tapi belakangan jadi makin ragu sama persepsi saya sendiri. Karena begitu dapet sms-sms yang gombal begitu ... gubrak! ga tau mo bales apa. mo bilang ... jika kau lihat bintang ... ih, Peter Pan banget. lagi juga kalo orangnya di pantai, di Lembang or dimana gitu yang bisa ngeliat bintang, lha kalau dipuncak yang udah paciweh gitu ? mana bisa dia ngebedain yang mana bintang yang mana bohlam ?!
Dari sekian sms yang datang, dikit-dikit walau ga valid saya bisa ngebedain, mana yang asli romantis bawaan orok, mana yang sedang 'magang' jadi orang yang lebih romantis. kayak begini ...
Bila kita bersama mengemban amanah dakwah
denganmu kulihat semua berwarna indah
denganmu wahai saudariku...
denganmu ...
love u ... met tidur =)
Ini dikirim sama teman dekat saya yang saya kenal sebagai bagian dari left brain regime. sistematis, logis, dingin (?). Contohnya kita bisa lihat dari kalimatnya. Ada ripitasi yang menandakan dia ga tau mo ngomong apa lagi ( denganmu wahai saudariku ... denganmu ...n then dia stuck.. mo ngomong apa lagi yah ? ya udah selamet tidur aja... hiihi) orangnya sendiri emang simple, kalau ngomong, kalau curhat sama dia yang fokus. Harus ada solusi yang dihasilkan. Gaya komunikasi yang maskulin kan ? (jadi orang yang maskulin ga romantis yah ?)
Atau ada juga yang sekedar 'me too' itu kayak sms dibawah ini, yang udah berapa kali saya terima, tapi dari orang yang beda-beda (duh, mudah-mudahan jadi amal jariah buat yang pertama bikin, karena membahagiakan orang lain dengan sms ini). Err... saya juga masuk golongan yang ini sih, karena itu tadi... mungkin saya romantis secara situasional dan .. err.. personal juga kali ye. Jadinya kelabakan kalau mo ngebales yang beginian *hey, kamu yang dikepala saya, yang suka ngegombal itu, dimana kamu ?!*
pa kabar cinta ? semoga selalu berpeluh rinduNya
pa kabar hati ? semoga selalu bersih dari noda
pa kabar iman ? semoga selalu melangkah maju
selalu ada Allah di tiap nafas kehidupan ..miss u
Yang sedikit std bisa aja bunyinya gini
Have a nice sleep
hope u had a better day for tomorrow
don't forget to pray for me ...
Tapi entah yang dengan susah payah dikarang, entah yang sekadar forward-an, tetep aja bahagia tak terkira, tiap kali sadar ada tali ukhuwah yang cukup kuat diantara hati-hati yang ada, untuk sekedar mengirim kita sebuah sms mesra seperti ini
pa kabar cinta ?
semoga Allah senantiasa menjadikan harimu penuh berkah dan hidayah,
semoga Allah mengampuni segala dosa dan memberimu tempat di surga
haaaaaah ...
senengnya digombalin
*ge sayaaaang .... sms-nya semua ketrima ... ma kasiy ya cinta =)
skedar menyapa walau lewat ikatan hati
agar kau tahu
aku mencintaimu hari ini,esok & yang akan datang
MISS U SO MUCH NIY ...
Jreng! pagi-pagi dah ditembak sama rayuan gombal! he he he hati saya selalu berbunga-bunga tiap kali dapet sms-sms cinta yang bergitu mesra dari saudari-saudari saya. Siapa yang butuh pacar kalau tiap hari ada aja yang kirim rayuan 'maut' model begini (err... sebenernya emang ga butuh pacar tapi butuh suami *tersipu*). Atau, coba bayangin gimana rasanya kalau badan ini capek pulang kerja, dan neuron dikepala ini kayaknya ga sanggup lagi menerima informasi, mata dah berat tiba-tiba ...
Aku rindu tatapan sayangmu
hangatnya menyelusup ke tiap sudut hatiku
bahagiakan dengkur tidur dan kerjapan mata di awal hari
selamat tidur keping hatiku
atau
“sekeping hati disana tetap menawanku di penjara cintanya..
menemani sendiriku di tiap titik air mata
dan lelah yang tersandar di dada.. : ‘apa kabar surga?’”
n then ...
“menghitung hadirmu sekeping hatiku..
dalam detak jantung.. dari desir aliran darah.
pada kerjap mata.. dan tiap tarikan napas..
rindu itu menyiksa.”
"Ya ampun ... pada romantis amat sih temen-temenmu ?" kata temen saya yang lain, sambil cekikikan buka-buka inbox hp saya. Yang punya pikiran jail dengan tampang full of curigation, dengan galak nanya, "sapa nih ?" tenang mbak, saya belum ketemu ama makhluk beda alam yang sah secara hukum diperkenankan kirim-kirim yang model begituan kek kek kek ... kalaupun ada ...sudah ditindaklanjuti secara hukum, pasti.
Selama ini saya suka dianggap dan seringkali menganggap saya orang yang romantis. Tapi belakangan jadi makin ragu sama persepsi saya sendiri. Karena begitu dapet sms-sms yang gombal begitu ... gubrak! ga tau mo bales apa. mo bilang ... jika kau lihat bintang ... ih, Peter Pan banget. lagi juga kalo orangnya di pantai, di Lembang or dimana gitu yang bisa ngeliat bintang, lha kalau dipuncak yang udah paciweh gitu ? mana bisa dia ngebedain yang mana bintang yang mana bohlam ?!
Dari sekian sms yang datang, dikit-dikit walau ga valid saya bisa ngebedain, mana yang asli romantis bawaan orok, mana yang sedang 'magang' jadi orang yang lebih romantis. kayak begini ...
Bila kita bersama mengemban amanah dakwah
denganmu kulihat semua berwarna indah
denganmu wahai saudariku...
denganmu ...
love u ... met tidur =)
Ini dikirim sama teman dekat saya yang saya kenal sebagai bagian dari left brain regime. sistematis, logis, dingin (?). Contohnya kita bisa lihat dari kalimatnya. Ada ripitasi yang menandakan dia ga tau mo ngomong apa lagi ( denganmu wahai saudariku ... denganmu ...n then dia stuck.. mo ngomong apa lagi yah ? ya udah selamet tidur aja... hiihi) orangnya sendiri emang simple, kalau ngomong, kalau curhat sama dia yang fokus. Harus ada solusi yang dihasilkan. Gaya komunikasi yang maskulin kan ? (jadi orang yang maskulin ga romantis yah ?)
Atau ada juga yang sekedar 'me too' itu kayak sms dibawah ini, yang udah berapa kali saya terima, tapi dari orang yang beda-beda (duh, mudah-mudahan jadi amal jariah buat yang pertama bikin, karena membahagiakan orang lain dengan sms ini). Err... saya juga masuk golongan yang ini sih, karena itu tadi... mungkin saya romantis secara situasional dan .. err.. personal juga kali ye. Jadinya kelabakan kalau mo ngebales yang beginian *hey, kamu yang dikepala saya, yang suka ngegombal itu, dimana kamu ?!*
pa kabar cinta ? semoga selalu berpeluh rinduNya
pa kabar hati ? semoga selalu bersih dari noda
pa kabar iman ? semoga selalu melangkah maju
selalu ada Allah di tiap nafas kehidupan ..miss u
Yang sedikit std bisa aja bunyinya gini
Have a nice sleep
hope u had a better day for tomorrow
don't forget to pray for me ...
Tapi entah yang dengan susah payah dikarang, entah yang sekadar forward-an, tetep aja bahagia tak terkira, tiap kali sadar ada tali ukhuwah yang cukup kuat diantara hati-hati yang ada, untuk sekedar mengirim kita sebuah sms mesra seperti ini
pa kabar cinta ?
semoga Allah senantiasa menjadikan harimu penuh berkah dan hidayah,
semoga Allah mengampuni segala dosa dan memberimu tempat di surga
haaaaaah ...
senengnya digombalin
*ge sayaaaang .... sms-nya semua ketrima ... ma kasiy ya cinta =)
Friday, September 24, 2004
soulmate
Di pagi yang masih buta, Dia telah bisikan bahwa kita akan berlayar dalam sebuah perahu berdua. Dan tak ada satu jiwapun di dunia yang dapat menyela tali yang telah ditautkannya pada kaki kita.Berlayar di samudera tak bertepi, kau dan aku membaca gelombang menerjemahkan gugusan bintang.Hingga arah perjalanan menjadi sedikit pasti menuju akhir dunia yang tak abadi. Dan ada saatnya di suatu masa kita terbebas dari perbudakan puisi dan kata-kata.
Belum tibakah saatnya ? masih adakah tugas yang harus dikerjakan ? lihat, senja telah menyelimuti pantai bersama pudarnya burung-burung camar terbang kembali ke sarangnya. siapa yang tahu kapan rantai-rantai akan diputuskan, dan sang perahu, laksana cahaya mentari terbenam yang meredup, lenyap ke dalam gelap malam.
Belum tibakah saatnya ? masih adakah tugas yang harus dikerjakan ? lihat, senja telah menyelimuti pantai bersama pudarnya burung-burung camar terbang kembali ke sarangnya. siapa yang tahu kapan rantai-rantai akan diputuskan, dan sang perahu, laksana cahaya mentari terbenam yang meredup, lenyap ke dalam gelap malam.
Thursday, September 23, 2004
September Setahun Lewat ...
Hari ini satu tahun Bapak meninggal. hiks, ga kerasa dah satu tahun ayahanda bokap pergi melanjutkan perjalanannya. tadi malam, sebelum tidur, sempet kepikiran dan akhirnya bertanya retoris sama mama. "Mah, Bapak lagi ngapain yah sekarang ?" aneh kan ?actually, pertanyaan itu juga kedengeran aneh buat kuping saya sendiri. pertanyaan itu biasanya muncul kalau kakak saya lagi 'ngilang' ke hutan buat penelitian, atau ketika kakak saya yang perempuan pindah ke tempat suaminya, menambahkan satu lagi aura sepi di rumah. Tapi buat orang yang sudah meninggal ? lagi ngapain disana ? sedang ongkang-ongkang kaki menikmati segala amalan baiknya selama dunia ? God, please, say yes.
Sudah hampir tidak pernah bermimpi bertemu Bapak lagi. Dulu, waktu Bapak baru 'pulang', beberapa kali saya bermimpi tentang dia. Tidak bicara, tidak mengatakan sesuatu. hanya diam dan kadang-kadang tersenyum. Wajahnya bersinar kuning langsat, sama seperti dulu ketika meninggal. Pak Taufik, staff IT disini, yang tujuh turunan betawi asli itu bilang"Katanye, kalo kagak ngomong berarti emang bener didatengin, tapi kalau gimane-gimane itu biasanye, jinnye," wuaks!
kalo begitu ? alhamdulillah...
anyhow ...
berpisah, dipisahkan dari orang-orang yang kita sayang lewat kematian, perpisahan atau (ehem) kasih yang tak sampai, ternyata tidaklah seburuk yang dibayangkan. Dulu saya mengira bahwa kematian bapak atau mamah saya, akan jadi sebuah kepedihan yang tak tertahankan. membayangkannya saja sudah bisa membuat saya tersedu, menggigil karena sedih. Saya ingat, waktu kecil dulu saya tidak akan bisa tidur sebelum bapak pulang. Atau ketika bapak tertidur pada saat mengeloni saya, saya akan diam-diam mengintip memandang perutnya yang naik turun. bersiaga, jangan-jangan tidur akan mencuri kehidupannya.
Dan ternyata Bapak saya meninggal.
kepedihannya memang tidak tertahankan. Tapi jauh-jauh hari kami sudah dipersiapkan. Bapak waktu itu banyak mengingatkan bahwa tiap yang berjiwa pasti akan mati. Bahwa tidak ada yang perlu disesalkan, tidak ada yang perlu ditakuti "Bapak, sudah titipkan mamah dan kalian semua sama Allah," dan siapakah sebaik-baik penjaga selain Allah ? sementara itu, Mamah, membantu kami dalam menjalani proses kepulangan itu. Ketika saya menangis karena tidak tahan melihat begitu banyak selang di setiap lubang tubuhnya, Mamah mengingatkan "jangan begitu, kita orang beriman, kita tidak seperti itu kalau diberi ujian ..."
Dan akhirnya Bapak saya meninggal.
tapi ternyata selalu ada kata usai.Tidak hanya untuk pesta, tapi juga untuk sebuah kesedihan. Dan saya yakin, kalau Bapak melihat ini, dia pun tidak akan senang melihat anaknya bermellow-mellow ria dalam sesuatu yang memang sudah jadi kepastian dari Allah. Bapak seorang yang romantis yang dengan lancar bisa menceritakan dari awal hingga akhir cerita pertemuannya dengan mamah saya. Tapi seingat saya, dia tapi tidak pernah terjebak pada kenangan yang melankolik.
well, moral lesson yang diperoleh tahun kemarin, jelas sangat sangat banyak. dari berbagai kehilangan yang saya alami, dari berbagai macam perpisahan yang terjadi, akhirnya Allah mengajarkan saya banyak hal. bahwa kadang pelajaran terbaik tentang kehidupan, justru kita dapat ketika Allah memasukan kedukaan dalam kehidupan kita. Bahwa seberat apapun ujian, Allah tidak akan pernah memberikan ujian yang tidak sanggup kita atasi, bahwa segala kepedihan yang menimpa, bisa jadi adalah bukti kasih sayang-Nya. untuk menghapus dosa, untuk meningkatkan derajat kita dengan pengertian dan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang Ia berikan untuk kita. Belajar tentang apa arti optimisme yang mestinya terpatri di dada setiap orang beriman. belajar percaya pada janji Allah bahwa setelah kesulitan ada dua kemudahan. Ada rahmat bagi orang-orang yang sabar. Dan berkali-kali Allah mengingatkan mereka yang goyah dengan kalimat "dan sungguh, janji Allah itu benar" (inna wa'dallahi haqqu). Dan yang tak kalah penting, pelajaran dari September tahun kemarin adalah ... bahwa kadang kita menderita bukan karena kita mencintai, tapi kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita (quote from anis matta)
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mngucapkan 'Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (2:154-157)
“(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(Al Mulk: 2)
Sudah hampir tidak pernah bermimpi bertemu Bapak lagi. Dulu, waktu Bapak baru 'pulang', beberapa kali saya bermimpi tentang dia. Tidak bicara, tidak mengatakan sesuatu. hanya diam dan kadang-kadang tersenyum. Wajahnya bersinar kuning langsat, sama seperti dulu ketika meninggal. Pak Taufik, staff IT disini, yang tujuh turunan betawi asli itu bilang"Katanye, kalo kagak ngomong berarti emang bener didatengin, tapi kalau gimane-gimane itu biasanye, jinnye," wuaks!
kalo begitu ? alhamdulillah...
anyhow ...
berpisah, dipisahkan dari orang-orang yang kita sayang lewat kematian, perpisahan atau (ehem) kasih yang tak sampai, ternyata tidaklah seburuk yang dibayangkan. Dulu saya mengira bahwa kematian bapak atau mamah saya, akan jadi sebuah kepedihan yang tak tertahankan. membayangkannya saja sudah bisa membuat saya tersedu, menggigil karena sedih. Saya ingat, waktu kecil dulu saya tidak akan bisa tidur sebelum bapak pulang. Atau ketika bapak tertidur pada saat mengeloni saya, saya akan diam-diam mengintip memandang perutnya yang naik turun. bersiaga, jangan-jangan tidur akan mencuri kehidupannya.
Dan ternyata Bapak saya meninggal.
kepedihannya memang tidak tertahankan. Tapi jauh-jauh hari kami sudah dipersiapkan. Bapak waktu itu banyak mengingatkan bahwa tiap yang berjiwa pasti akan mati. Bahwa tidak ada yang perlu disesalkan, tidak ada yang perlu ditakuti "Bapak, sudah titipkan mamah dan kalian semua sama Allah," dan siapakah sebaik-baik penjaga selain Allah ? sementara itu, Mamah, membantu kami dalam menjalani proses kepulangan itu. Ketika saya menangis karena tidak tahan melihat begitu banyak selang di setiap lubang tubuhnya, Mamah mengingatkan "jangan begitu, kita orang beriman, kita tidak seperti itu kalau diberi ujian ..."
Dan akhirnya Bapak saya meninggal.
tapi ternyata selalu ada kata usai.Tidak hanya untuk pesta, tapi juga untuk sebuah kesedihan. Dan saya yakin, kalau Bapak melihat ini, dia pun tidak akan senang melihat anaknya bermellow-mellow ria dalam sesuatu yang memang sudah jadi kepastian dari Allah. Bapak seorang yang romantis yang dengan lancar bisa menceritakan dari awal hingga akhir cerita pertemuannya dengan mamah saya. Tapi seingat saya, dia tapi tidak pernah terjebak pada kenangan yang melankolik.
well, moral lesson yang diperoleh tahun kemarin, jelas sangat sangat banyak. dari berbagai kehilangan yang saya alami, dari berbagai macam perpisahan yang terjadi, akhirnya Allah mengajarkan saya banyak hal. bahwa kadang pelajaran terbaik tentang kehidupan, justru kita dapat ketika Allah memasukan kedukaan dalam kehidupan kita. Bahwa seberat apapun ujian, Allah tidak akan pernah memberikan ujian yang tidak sanggup kita atasi, bahwa segala kepedihan yang menimpa, bisa jadi adalah bukti kasih sayang-Nya. untuk menghapus dosa, untuk meningkatkan derajat kita dengan pengertian dan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang Ia berikan untuk kita. Belajar tentang apa arti optimisme yang mestinya terpatri di dada setiap orang beriman. belajar percaya pada janji Allah bahwa setelah kesulitan ada dua kemudahan. Ada rahmat bagi orang-orang yang sabar. Dan berkali-kali Allah mengingatkan mereka yang goyah dengan kalimat "dan sungguh, janji Allah itu benar" (inna wa'dallahi haqqu). Dan yang tak kalah penting, pelajaran dari September tahun kemarin adalah ... bahwa kadang kita menderita bukan karena kita mencintai, tapi kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita (quote from anis matta)
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mngucapkan 'Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (2:154-157)
“(Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(Al Mulk: 2)
Wednesday, September 22, 2004
DARI FAIZ ...
SURAT UNTUK PRESIDEN BARUKU
Kepada Yang Terhormat
Bapak SBY
Di tempat
Assalaamu'alaikum.
Apa kabar, Pak? Aku berharap Bapak baik-baik saja
seperti aku saat ini.
Bapak, namaku Faiz. Sekarang aku duduk di kelas III
SD. Aku suka sekali
membaca dan menulis. Alhamdulillah aku sudah
menerbitkan dua buku. Tahun
lalu aku mengirim surat pada Ibu Presiden. Kata orang
suratku lucu. Ibu Mega
sempat juga membalasnya.
Bapak sayang, selamat ya sudah dipilih rakyat sebagai
Presiden Indonesia
yang baru. Selain bersyukur, aku tahu Bapak pasti
deg-degan. Soalnya menjadi
Presiden itu kan susah. PR-nya banyak sekali, lebih
banyak dari PR seluruh
murid sekolah di dunia ini.
Aku tahu juga sedikit tentang PR itu, Pak.
Misalnya PR bagaimana membuat
rakyat tersenyum. Kan susah ya Pak. Kalau semua harga
mahal, untuk makan, berobat dan sekolah saja susah,
bagaimana rakyat mau tersenyum?
Apalagi cari pekerjaan pun sukar sekali.
Kudengar di luar negeri banyak tenaga kerja
kita yang disiksa.
Terus juga PR untuk membuat negeri
kita lebih aman.
Agar jangan banyak orang jahat berkeliaran, apalagi bawa
bom segala. Kami takut sekali.
Kalau bisa nanti negeri kita tidak mendapat rangking I
lagi untuk korupsi.
Sedih kalau ingat itu. Padahal teman teman kecilku
banyak yang harus
berjuang di jalanan. Padahal negeri kita kaya.
Makanya
aku harap Bapak bisa
peka dan tegas. Mimpiku sih ingin punya presiden yang
dekat sekali dengan
rakyat.
Tidak malu makan di warung, sering jalan ke
tempat kumuh, ngobrol
dengan orang kecil seperti aku dan sering tersenyum.
Bapak yang ganteng dan pintar,
Betapa berat menjadi presiden yang tumbuh dari duka
lara rakyat. Apalagi
rakyatnya selalu berharap terus seperti aku. Ya
seperti yang Bapak bilang,
Bapak tak bisa berjuang sendirian, tapi bersama kita
bisa! Aku yakin itu!
Aku juga ingat kata Bunda, kalau kita menjadi orang
baik dan punya hati yang
bersih, kita akan dicintai tidak hanya di bumi tapi
juga di langit. Makanya
aku berdoa semoga nanti tak ada lagi airmata duka.
Hanya ada pelangi di mata
kita. Seperti lagu yang sering Bapak nyanyikan itu
loh.
Selamat berjuang, Presiden baruku. Aku akan selalu
mendoakan Bapak. Tapi
kalau Bapak salah, biarpun Bapak Presiden, Doktor dan
Jendral berbadan
tegap, aku boleh menegur ya? Dan Bapak jangan marah
ya, sebab itu aku
lakukan karena cinta.
Jakarta, 21 September 2004
Salam hormat
Abdurahman Faiz
Kelas III SDN 02 Cipayung, Jakarta Timur
Kepada Yang Terhormat
Bapak SBY
Di tempat
Assalaamu'alaikum.
Apa kabar, Pak? Aku berharap Bapak baik-baik saja
seperti aku saat ini.
Bapak, namaku Faiz. Sekarang aku duduk di kelas III
SD. Aku suka sekali
membaca dan menulis. Alhamdulillah aku sudah
menerbitkan dua buku. Tahun
lalu aku mengirim surat pada Ibu Presiden. Kata orang
suratku lucu. Ibu Mega
sempat juga membalasnya.
Bapak sayang, selamat ya sudah dipilih rakyat sebagai
Presiden Indonesia
yang baru. Selain bersyukur, aku tahu Bapak pasti
deg-degan. Soalnya menjadi
Presiden itu kan susah. PR-nya banyak sekali, lebih
banyak dari PR seluruh
murid sekolah di dunia ini.
Aku tahu juga sedikit tentang PR itu, Pak.
Misalnya PR bagaimana membuat
rakyat tersenyum. Kan susah ya Pak. Kalau semua harga
mahal, untuk makan, berobat dan sekolah saja susah,
bagaimana rakyat mau tersenyum?
Apalagi cari pekerjaan pun sukar sekali.
Kudengar di luar negeri banyak tenaga kerja
kita yang disiksa.
Terus juga PR untuk membuat negeri
kita lebih aman.
Agar jangan banyak orang jahat berkeliaran, apalagi bawa
bom segala. Kami takut sekali.
Kalau bisa nanti negeri kita tidak mendapat rangking I
lagi untuk korupsi.
Sedih kalau ingat itu. Padahal teman teman kecilku
banyak yang harus
berjuang di jalanan. Padahal negeri kita kaya.
Makanya
aku harap Bapak bisa
peka dan tegas. Mimpiku sih ingin punya presiden yang
dekat sekali dengan
rakyat.
Tidak malu makan di warung, sering jalan ke
tempat kumuh, ngobrol
dengan orang kecil seperti aku dan sering tersenyum.
Bapak yang ganteng dan pintar,
Betapa berat menjadi presiden yang tumbuh dari duka
lara rakyat. Apalagi
rakyatnya selalu berharap terus seperti aku. Ya
seperti yang Bapak bilang,
Bapak tak bisa berjuang sendirian, tapi bersama kita
bisa! Aku yakin itu!
Aku juga ingat kata Bunda, kalau kita menjadi orang
baik dan punya hati yang
bersih, kita akan dicintai tidak hanya di bumi tapi
juga di langit. Makanya
aku berdoa semoga nanti tak ada lagi airmata duka.
Hanya ada pelangi di mata
kita. Seperti lagu yang sering Bapak nyanyikan itu
loh.
Selamat berjuang, Presiden baruku. Aku akan selalu
mendoakan Bapak. Tapi
kalau Bapak salah, biarpun Bapak Presiden, Doktor dan
Jendral berbadan
tegap, aku boleh menegur ya? Dan Bapak jangan marah
ya, sebab itu aku
lakukan karena cinta.
Jakarta, 21 September 2004
Salam hormat
Abdurahman Faiz
Kelas III SDN 02 Cipayung, Jakarta Timur
God Bless Indonesia ...
yup, looks like the new man has arrive. Biar blum selesai, dari hasil Quick Count, kayaknya Indonesia akan punya presiden baru. Yah, walau tentu aja kuciwa karena bukan pak Amien (yang soleh, pinter dan matanya bagus itu hihihi ...) yang akhirnya naik tapi Indonesia sudah memilih. selamat! selamat. selamat?
Allah Maha Tahu. Harapannya cuma satu. Semoga Dia tidak menghukum segala kelemahan dan kemaksiatan yang kita lakukan dengan memilihkan untuk ummat ini, seorang pemimpin yang dihatinya tidak ada cinta. kepadaNya, ataupun kepada ummat ini.
Allah Maha Tahu. Harapannya cuma satu. Semoga Dia tidak menghukum segala kelemahan dan kemaksiatan yang kita lakukan dengan memilihkan untuk ummat ini, seorang pemimpin yang dihatinya tidak ada cinta. kepadaNya, ataupun kepada ummat ini.
Sunday, September 19, 2004
rapat.. rapat
Hari ahad tapi rapat dikantor. ga pa pa dunk, jadinya itungannya lembur he he he ...
mengevaluasi plus merencanakan lagi program kerja untuk tahun anggaran berikutnya. Disini kami pake kalender hijriyah. Jadi tahun anggaran baru dimulai dari Ramadhan sampe Sya'ban. BTW, emang tahun anggaran berikutnya aku masih disini ?
from the bottom of my heart ? hopefully....
Tapi tetap aja, godaan untuk meloncat dan mencoba sesuatu yang saya pikir "kayaknya saya tercipta untuk itu deh!" kadang masih timbul. walau kemudian dipendam dalam-dalam kalau ingat betapa banyak nikmat-nikmat yang dengan nyata ataupun terang-terangan Allah berikan lewat tempat ini. hey, ingat dong non, dimana lagi tempat kerja yang bisa kasih harga layak, plus shalat berjamaah setiap waktu, plus ceramah dan kultum, plus muhasabah tiap tiga bulan, plus tahsin tiap minggu! feel it's so abundant. Kemewahan yang sangat, sangat, sangat berlimpah, meruap setiap harinya disini. Hanya kadang pandangan manusia kita yang terlalu sempit, membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat anugerah-anugerah dari yang Maha Halus.
wahai pemilik hati, tetapkan hati ini pada agamaMu ...
mengevaluasi plus merencanakan lagi program kerja untuk tahun anggaran berikutnya. Disini kami pake kalender hijriyah. Jadi tahun anggaran baru dimulai dari Ramadhan sampe Sya'ban. BTW, emang tahun anggaran berikutnya aku masih disini ?
from the bottom of my heart ? hopefully....
Tapi tetap aja, godaan untuk meloncat dan mencoba sesuatu yang saya pikir "kayaknya saya tercipta untuk itu deh!" kadang masih timbul. walau kemudian dipendam dalam-dalam kalau ingat betapa banyak nikmat-nikmat yang dengan nyata ataupun terang-terangan Allah berikan lewat tempat ini. hey, ingat dong non, dimana lagi tempat kerja yang bisa kasih harga layak, plus shalat berjamaah setiap waktu, plus ceramah dan kultum, plus muhasabah tiap tiga bulan, plus tahsin tiap minggu! feel it's so abundant. Kemewahan yang sangat, sangat, sangat berlimpah, meruap setiap harinya disini. Hanya kadang pandangan manusia kita yang terlalu sempit, membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat anugerah-anugerah dari yang Maha Halus.
wahai pemilik hati, tetapkan hati ini pada agamaMu ...
Friday, September 17, 2004
ngomongin Torey ....
dah lama banget ga nengokin blog. jadi mutung gara2 selalu ditolak karena paswordnya salah.
hmm... kemarin sakit. Keluhan utamanya demam, sakit dibagian dahi, dan tonsil membengkak.
kemungkinan sih sedikit kecapekan. dr. Yuni bilang "makan aja yang banyak ..." yah si dokter, ada juga demam ga ilang, ndut iya ...
mungkin karena hari Ahad pulang balik jakarta-bogor, isi daurohnya anak akper. rencananya hari selasa mo puasa daud, jadi dari rumah ga sarapan. padahal dari hari senin sore ga makan-makan. ujung2nya pusing dan niatan puasa dibatalin. hah! gotcha! tau sendiri hukum biologis yang berlaku buat attin. ga sarapan artinya masuk angin! boleh deh ga makan seharian, asal pagi keisi. Rabunya diajak mba Yayuk ke makan n pulang dah malam. Dan waktu saya ga kuat nyentuh air karena dinginnya, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah sepuluh malam... baru deh nyadar bahwa ada sam ting wong nih kayaknya. bener aja, semaleman demam dan besoknya otak saya nyerah buat ngasih komando badan ini untuk bergerak ke kantor.Walhasil berbaring seharian di tempat tidur. Alhamdulillah menyelesaikan Kevin-nya Torey Hayden n buku baru Ust. Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah.
Seminggu sebelumnya saya menghadiri ceramah umumnya Torey Hayden, It's My Life di Depdiknas. Buat yang terpesona sama sihir imajinasi JK Rowling, atau detail sejarah dalam petualangan Karl May, jelas Torey itu diluar hitungan. Vita bilang, membosankan, terlalu naratif. well, sometimes real life, indeed not too full of suspense. tapi dalam torey hayden ada kegigihan sekaligus kejujuran akan keterbatasan. pengakuan akan adanya keputusasaan yang secara manusiawi bisa menyergap kapan saja. Justru 'pengakuan' akan keterbatasan diri, penerimaan itu yang justru jadi kekuatan setiap orang untuk terus bertahan menjalani apa yang dicita-citakan. dan waktu saya ketemu orangnya langsung, apa yang saya persepsikan didepan mata, tidak terlalu berbeda dengan apa yang saya persepsikan dari bukunya. Tampil jauh dari kategori modis, Torey tampak seperti ibu-ibu yang biasa ditemui di mall. matanya biru, kecil, namun hangat. Senyumnya tulus. rambutnya tidak berglombang lembut seperti di bukunya, tapi lurus (thanks God, bukan direbonding!) yang semakin menambah kesan bahwa Torey bukan tipikal orang yang mengikuti perkembangan di majalah mode. sama sekali tidak tampil dengan aura intelek, Torey lebih sering membuat kami tertawa dengan bahasa tubuhnya yang lepas dan santai. mereka yang hadir, yang kebanyakan mahasiswa psikologi, psikolog atau mereka yang berkecimpung di pendidikan anak dengan kebutuhan khusus (walaupun yang datang dengan motivasi yang lebih ngepop, minta tanda tangan, seperti saya contohnya, juga banyak) tentu saja antusias bertanya soal teori dan metodologi. Torey dengan rendah hati mengatakan bahwa 'im not part of ur history, ur society, im not even ur religion, i dont even understand ur language. it would be very arrogant for me to come here n said to u; thisthe best way, my way is the best way for u..." intinya dia ngebalikin lagi, bahwa masalah orang indonesia, orang indonesia sendiri yang punya solusinya. apa yang dia terapkan, mungkin berhasil disana, tapi tidak menjamin akan berlaku sama disini. (hah! so listen about that
mr.Bush!) padahal biasanya, bule, entah karena superioritas identitas sebagai negara maju, entah karena self konsep bangsa kita yang begitu jongkok sehingga mendewakan segala yang datang dari mulut bule, selalu tampil penuh teori, cerita yang menyiratkan yang sebaliknya dari apa yang dikatakan Torey.
menatap dia, kemudian mengingat kelakuan presidennya dan geng presidennya, saya jadi teringat pada salah satu bagian dibukunya. "mereka yang berkuasa berpikiran sempit, bodoh, dan kekanak-kanakan." keluhnya pada Dr. Rosenthal. "karena orang yang berpikiran luas, cerdas dan dewasa, terlalu sibuk bekerja" jawabnya. salut for Torey ...
hmm... kemarin sakit. Keluhan utamanya demam, sakit dibagian dahi, dan tonsil membengkak.
kemungkinan sih sedikit kecapekan. dr. Yuni bilang "makan aja yang banyak ..." yah si dokter, ada juga demam ga ilang, ndut iya ...
mungkin karena hari Ahad pulang balik jakarta-bogor, isi daurohnya anak akper. rencananya hari selasa mo puasa daud, jadi dari rumah ga sarapan. padahal dari hari senin sore ga makan-makan. ujung2nya pusing dan niatan puasa dibatalin. hah! gotcha! tau sendiri hukum biologis yang berlaku buat attin. ga sarapan artinya masuk angin! boleh deh ga makan seharian, asal pagi keisi. Rabunya diajak mba Yayuk ke makan n pulang dah malam. Dan waktu saya ga kuat nyentuh air karena dinginnya, padahal jam baru menunjukkan pukul setengah sepuluh malam... baru deh nyadar bahwa ada sam ting wong nih kayaknya. bener aja, semaleman demam dan besoknya otak saya nyerah buat ngasih komando badan ini untuk bergerak ke kantor.Walhasil berbaring seharian di tempat tidur. Alhamdulillah menyelesaikan Kevin-nya Torey Hayden n buku baru Ust. Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah.
Seminggu sebelumnya saya menghadiri ceramah umumnya Torey Hayden, It's My Life di Depdiknas. Buat yang terpesona sama sihir imajinasi JK Rowling, atau detail sejarah dalam petualangan Karl May, jelas Torey itu diluar hitungan. Vita bilang, membosankan, terlalu naratif. well, sometimes real life, indeed not too full of suspense. tapi dalam torey hayden ada kegigihan sekaligus kejujuran akan keterbatasan. pengakuan akan adanya keputusasaan yang secara manusiawi bisa menyergap kapan saja. Justru 'pengakuan' akan keterbatasan diri, penerimaan itu yang justru jadi kekuatan setiap orang untuk terus bertahan menjalani apa yang dicita-citakan. dan waktu saya ketemu orangnya langsung, apa yang saya persepsikan didepan mata, tidak terlalu berbeda dengan apa yang saya persepsikan dari bukunya. Tampil jauh dari kategori modis, Torey tampak seperti ibu-ibu yang biasa ditemui di mall. matanya biru, kecil, namun hangat. Senyumnya tulus. rambutnya tidak berglombang lembut seperti di bukunya, tapi lurus (thanks God, bukan direbonding!) yang semakin menambah kesan bahwa Torey bukan tipikal orang yang mengikuti perkembangan di majalah mode. sama sekali tidak tampil dengan aura intelek, Torey lebih sering membuat kami tertawa dengan bahasa tubuhnya yang lepas dan santai. mereka yang hadir, yang kebanyakan mahasiswa psikologi, psikolog atau mereka yang berkecimpung di pendidikan anak dengan kebutuhan khusus (walaupun yang datang dengan motivasi yang lebih ngepop, minta tanda tangan, seperti saya contohnya, juga banyak) tentu saja antusias bertanya soal teori dan metodologi. Torey dengan rendah hati mengatakan bahwa 'im not part of ur history, ur society, im not even ur religion, i dont even understand ur language. it would be very arrogant for me to come here n said to u; thisthe best way, my way is the best way for u..." intinya dia ngebalikin lagi, bahwa masalah orang indonesia, orang indonesia sendiri yang punya solusinya. apa yang dia terapkan, mungkin berhasil disana, tapi tidak menjamin akan berlaku sama disini. (hah! so listen about that
mr.Bush!) padahal biasanya, bule, entah karena superioritas identitas sebagai negara maju, entah karena self konsep bangsa kita yang begitu jongkok sehingga mendewakan segala yang datang dari mulut bule, selalu tampil penuh teori, cerita yang menyiratkan yang sebaliknya dari apa yang dikatakan Torey.
menatap dia, kemudian mengingat kelakuan presidennya dan geng presidennya, saya jadi teringat pada salah satu bagian dibukunya. "mereka yang berkuasa berpikiran sempit, bodoh, dan kekanak-kanakan." keluhnya pada Dr. Rosenthal. "karena orang yang berpikiran luas, cerdas dan dewasa, terlalu sibuk bekerja" jawabnya. salut for Torey ...
Wednesday, September 08, 2004
JOMBLO
sepi itu
tak pernahkah ia datang diam-diam menyergap hatimu
mengiris kehangatan dan mencelupkannya ke dalam beku ?
aku sedang
dan pedihnya menggoyahkan bulir kesabaranku satu demi satu
-----------------------
beberapa hari ini topik ym ama vita ga jauh dari topik kegemaran para jomblo. soal jodoh. lucu juga kalau mencoba menganalisa fenomena kecocokan 'chemistry', aura and etc dari yang sebuah ikatan yang namanya jodoh. subhanallah
jadi inget ama omongan seorang temen "kalau aja jodohku pake alarm yang langsung bunyi kalau dia mendekat, pasti urusannya jadi gampang"
he he he
Allah pasti tersenyum denger itu semua ...
*buat yang sedang dalam penantian. semoga bisa bersikap iffah untuk sebuah izzah
tak pernahkah ia datang diam-diam menyergap hatimu
mengiris kehangatan dan mencelupkannya ke dalam beku ?
aku sedang
dan pedihnya menggoyahkan bulir kesabaranku satu demi satu
-----------------------
beberapa hari ini topik ym ama vita ga jauh dari topik kegemaran para jomblo. soal jodoh. lucu juga kalau mencoba menganalisa fenomena kecocokan 'chemistry', aura and etc dari yang sebuah ikatan yang namanya jodoh. subhanallah
jadi inget ama omongan seorang temen "kalau aja jodohku pake alarm yang langsung bunyi kalau dia mendekat, pasti urusannya jadi gampang"
he he he
Allah pasti tersenyum denger itu semua ...
*buat yang sedang dalam penantian. semoga bisa bersikap iffah untuk sebuah izzah
Subscribe to:
Posts (Atom)